Amarahku

1090 Kata
Beberapa hari ini aku mengurung diriku di dalam kamar. Bukan karena aku ditahan untuk tidak keluar rumah melainkan di dalam diriku masih ada amarah dan kecewa pada Papa yang membuatku tak ingin menemui beliau atau siapa pun. Beliau juga beberapa hari lalu mampir ke kamarku untuk minta maaf kepadaku namun hanya dari balik pintu. Aku tidak membenci beliau, hanya saja hatiku sakit saat aku harus kembali mengingat beberapa hal yang membuatku terasingkan sebagai anaknya. Aku selalu menjadikan sosoknya sebagai panutan dalam berbisnis tapi ah sudahlah derai air mata ini juga tak henti menetes setiap kali mengingatnya. “Dis, ada Tania nih dateng. Kamu keluar ya.” Pinta wanita paruh baya yang tak lain adalah Mama. Beliau sosok yang tak henti berusaha membawakan makanan untukku, hingga beliau rela selalu memasak makanan kesukaanku. Aku segera turun dari ranjangku dan berjalan menuju pintu. “Gladis..” seru Tania sambil memelukku saat pintu terbuka. Sesaat aku terdiam heran kenapa wanita ini bisa sampai di rumahku. “Kamu kenapa kesini?” tanyaku sambil melepaskan peluknya. Kali ini aku sedang tidak ingin benar- benar bercanda atau tersenyum walau barang sedikit saja. Aku menatapnya dengan tatapan dingin karena moodku yang masih berantakan. “Jangan dingin begitu dong, sayang. Tania kesini karena dia khawatir sama kamu loh.” Kata Mama sambil merangkulku. Aku membuang nafas panjang. “Iya, Dis. Aku denger dari Kak Dimas kalau kamu nggak mau keluar kamar.” Kata Tania dengan nada yang terdengar putus asa. Seketika aku merasa bersalah sudah bersikap tidak adil padanya yang sudah peduli padaku seperti ini. Padahal bisa di bilang ia pasti sangat sibuk tapi ia rela datang untuk mengetahui keadaanku. “Yaudah oke, aku minta maaf ya.” Kataku sambil tersenyum tipis. “Nah kalau gitu, Mama pamit dulu ya ke bawah buat minum untuk Tania. Oh ya Tan, ajak Gladis jalan- jalan ya.” Pamit Mama yang diakhiri dengan sebuah permintaan. Aku yakin kali ini Mama benar- benar mengkhawatirkan diriku yang terlihat terpuruk seperti ini. Walau tidak separah dulu waktu aku benar- benar hampir kehilangan Gerald. “Yaudah ngobrol di dalem yuk.” Ajakku saat suasana diantara kita mulai mencair. “Dis, sebenernya aku kesini mau ajak kamu jalan- jalan sekaligus mau tanya soal kejadian hari itu.” Ajaknya. Aku menoleh ke arahnya, bingung dengan perkataannya diakhir kalimat tadi. “Kejadian hari itu?” “Lanjut nanti aja ya, aku mau kamu sekarang ganti baju dulu.” Katanya sambil mendorongku mendekati lemari pakaian. Sedangkan ia kembali duduk sambil memainkan ponselnya. Aku pun menurutinya mencari beberapa baju di dalam lemari dan pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka dan mengganti pakaianku karena memang tadi pagi aku sudah mandi. Sesampainya kami di salah satu restoran, kami langsung mencari tempat duduk yang memang berada di outdoor dan dekat dengan pemandangan yang berada di kolam renang. Kami juga memesan beberapa makanan dan minum. “Dis, habis ini kamu mau apa?” tanya Tania yang membuka obrolan saat aku masih sibuk mengotak- atik ponselku dari tadi saat berangkat hingga sampai di restoran. “Aku?” kataku yang kaget dengan pertanyaan itu. Aku meletakkan ponselku diatas meja. Mengusap wajahku kasar dan putus asa. Aku sendiri bingung apa yang harus aku lakukan setelah ini. Cinta, pekerjaan, serta Papaku sendiri seakan berjalan semakin menjauh dan asing. Mataku berhenti di satu titik, melihat sebuah keluarga yang kala itu sedang asyik bermain air. “Aku pengen rasanya bahagia tapi aku nggak bisa. Aku udah kehilangan segalanya.” “Kamu masih bisa bahagia kok, Dis. Cuma belum nemuin aja jalannya untuk bahagia.” Tania menggengam tanganku yang tergeletak dimeja. “Aku sebenernya capek harus terus begini di depan Papa aku berusaha jadi anak yang membanggakannya. Di depan Gerald aku harus jadi orang lain yang berusaha meyakinkan posisiku yang sebenarnya. Aku pengen menyerah begitu aja tapi nggak bisa.” “Tes..” air mataku menetes satu demi satu membuat aliran sungai yang semakin lama akan semakin deras. Layaknya hujan yang membasahi bumi. Membuat aku semakin ingin tenggelam dalam sebuah lautan. Namun saat tangis itu mulai pecah, tepat beberapa meja dari kami aku melihat Gerald baru saja datang dengan Marissa dengan wajah sumringah. Aku segera menghapus air mataku. Emosiku kembali bergejolak, hingga di sadari oleh Tania. Gadis itu menoleh ke balik punggungku dan terpenjerat kaget. “Itu bukannya, Gerald? Tapi sama si..” ucapnya terputus saat aku berjalan menghampirinya. “Gerald!!” panggil dengan nada yang sedikit menekan saat aku sudah sampai di meja mereka. Keduanya menoleh ke arahku. Marissa tersenyum ke arahku, sementara Gerald bangun dari tempat duduknya. “Kamu ada di sini juga?” tanya lelaki itu. “Kenapa kamu nggak balas pesan aku daritadi?” tanyaku. “Dia lagi sama aku. Lagian mana mungkin sih dia mau balas pesan kamu.” Tambah Marrisa yang membuatku semakin kesal mendengarnya. “Kamu tuh, emang bener- bener nggak mau peduli soal aku yang hilang tanpa kabar beberapa hari ini! Kamu lebih milih pergi sama wanita ini! Wanita yang jelas- jelas dulu ninggalin kamu buat laki- laki lain, Ge.” Kataku yang membuat beberapa mata yang menatap ke arah kami. “Kalau kamu nggak inget sama aku. Setidaknya aku mohon peduli sama aku sedikit aja, Ge.” Tangisku kembali pecah. Lelaki ini seakan tak ingin tahu dengan keadaanku beberapa hari lalu. Ponselku beberapa hari ini boleh mati tapi selama itu juga tak aku dapatkan satupun pesan atau sebuah panggilan darinya. “Dis..” panggil Tania sambil merangkulku. “Lebih baik kamu segera bawa temen kamu ini pergi.” Seru Marissa. Tania yang ikut geram menyiram wanita itu dengan segelas air putih. “Berhenti!!” kata Gerald yang mulai buka suara. “Aaaarrrgghhtt... dasar kalian wanita gila!!” kata Marissa kesal sambil berusaha mengeringkan rambutnya dengan beberapa helai tisu. “Lebih baik kalian pergi!!” usir lelaki itu sambil terlihat marah. “Ge, sadar dong! Gladis ini tunangan kamu! Bukan wanita pelakor ini!” tambah Tania dengan sedikit berteriak kearah mereka sambil menunjuk Marissa. “Tan, ayo pergi.” Ajakku. “Tapi, Dis.” Aku segera menariknya pergi dari tempat itu, sambil menatap tajam lelaki itu. Namun tak lupa kami mengambil tas di meja kami dan membayar makanan yang belum sempat kami makan tadi. “Dis, siapa sih wanita tadi? Kenapa keadaan Gerald semakin parah begini?” tanya Tania yang masih kesal saat kami sudah berada di dalam mobil. Tania perlahan mulai menyalakan mobilnya dan keluar dari area parkiran. “Dia itu mantannya, Ge. Marissa namanya.” Jawabku sambil menatap keluar jendela. “Apa??” kata Tania yang mendadak menghentikan mobilnya lalu di sertai sebuah klakson dari belakang mobilnya. Ia pun berusaha meminta maaf kepada pengemudi yang berada di belakang. “Tan, kamu bisa bawa mobil nggak sih?” kataku yang juga kaget. “Maaf abisan denger nama itu nggak asing.” Katanya sambil melanjutkan perjalanan. Kali ini ia terlihat lebih hati- hati. “Apa aku aja yang bawa mobilnya.” Tawarku. “Jangan- jangan. Nanti yang ada kita masuk pemakaman lagi.” Jawabnya yang membuatku tertawa geli. Ia pun menoleh kearahku dan sama- sama tertawa lalu kembali fokus menyetir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN