Sebuah Rahasia

1139 Kata
Akhirnya kami mampir ke apartemen milik Tania. Di apartemen ini wanita itu tinggal sendirian karena ia disini merantau berbeda denganku, sedangkan keluarganya berada di bandung. Sesekali ia meminta cuti panjang untuk sekedar mengunjungi keluarganya. Aku berdiri di tepi balkon sambil menghirup udara yang sudah tercampur polusi. Sore itu suasana bising yang ramai dengan jalan yang sudah sesak di penuhi mobil karena memang sudah waktunya jam pulang kantor. “Nih minum dulu sambil nunggu makanan kita dateng.” Kata Tania yang membawakan segelas air jeruk dingin yang kelihatannya tampak menyegarkan. Aku menenggakkan minuman itu sampai habis tak bersisa. Segelas air jeruk itu mampu melegakan dahaga ditenggorokanku yang sempat kering karena sempat berteriak tadi. “Haus ya abis marah- marah.” Ledeknya yang membuatku tersenyum. “Apaan sih..” “Jadi cewek tadi yang bikin hubungan kalian yang udah kacau, jadi makin kacau lagi?” tanyanya dengan nada sedikit meninggi sambil menoleh ke arahku. Aku mengangguk pelan ke arahnya. Membenarkan apa yang memang sudah ia lihat hari ini dan yang sempat ia pertanyakan tadi. “Tapi kok bisa sih? Mereka ketemuan lagi?” tanya Tania yang aku jawab dengan wajah tidak tahu sambil mengangkat kedua tanganku. Aku berjalan ke kursi yang ada di balkonnya. Sambil menenggak kembali minuman yang dibuatnya. “Kamu tahu waktu pagi- pagi aku ke Cafe dan mendadak pamit itu kemana?” aku memberikan sebuah pertanyaan yang di jawab dengan raut wajah bingung. Ia sempat terdiam, sepertinya ia sedang kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu. “Sepulang dari Cafe aku keliling kota berjam- jam cari Gerlad yang nggak tahu ada dimana. Mana belum sarapan, apalagi makan siang saat itu modal minum sebotol air mineral. Itu masih bisa aku tahan, tapi pas aku ke rumahnya tiba- tiba aja itu cewek ada disana.” Jelasku yang merasa sangat kesal mengingat hal itu. Hingga saat menjelaskannya aku kembali terbawa emosi. “Saat itu aku bener- bener kaget kenapa bisa. Dan yang lebih parahnya aku diusir saat Ge kesakitan buat mengingat semua hal tentang aku, dia dan hubungan aku sama dia.” Kataku yang diiringi rasa putus asa saat menceritakan kejadian yang mungkin tak pernah terjadi selama hidupku. “Gila!! Fix bener- bener gila tuh mereka, Dis.” Katanya sambil berkali- kali menggelengkan kepalanya. “Kamu nggak mau gitu, berusaha ngelepasin Gerald?” tanya Tania yang membuatku kaget dan meletakkan gelas diatas meja yang berada diantara kami berdua. Aku mengambil nafas dalam, pasalnya pertanyaan ini selalu aku dengar dari beberapa orang termasuk dari mulut Tania sendiri. “Eh, kenapa? Apa aku salah ngomong ya?” tanya Tania yang merasa canggung. Tinngg... Suara bel apartemen Tania tiba- tiba memotong obrolan diantara kami. Mungkin makanan yang kami pesan baru saja tiba. Aku bangkit dari tempat dudukku dan tersenyum ke arahnya. Sebelum berjalan membuka pintu, Aku merentangkan kedua tanganku untuk mereganggkan otot badanku yang sempat tegang sesaat. “Waktunya makan, aku yang ambil pesanannya ya..” kataku sambil berjalan menuju pintu. “Yaudah aku siapin alat makannya ya..” Tawar Tania sambil berjalan mengikutiku. Kami terpisah saat ia memasuki dapur, sementara aku masih berjalan lurus. “Halo sayang..” seru orang tersebut sambil melemparkan peluknya ke arahku. “Aku tuh kangen banget sama kamu. Sehari aja nggak ketemu kayak setahun deh. Oh ya, apa kamu berhasil bawa Gladis jalan- jalan hari ini?” tanyanya yang masih memeluk tubuhku erat. “Sayang..” panggil Tania kepada lelaki yang memelukku. Lelaki itu sontak saja melepaskan pelukknya saat ia sadar kalau ia sedang salah orang. “Gladis..” panggil laki- laki itu yang tak lain adalah Kak Dimas, kakakku. Aku tersenyum saat wajahnya terlihat memerah karena malu. Entah apa yang selama ini mereka sembunyikan dariku, hingga aku benar- benar tidak tahu ada hubungan apa diantara keduanya. Aku berjalan masuk, diikuti olehnya yang menutup pintu. “Dis.. Kakak bisa jelasin kalau..” Ting.. Suara Bel apartemen Tania kembali berbunyi. Entah siapa yang datang, bisa saja kali ini pengantar makanan yang datang. Aku berbalik ke arah Kak Dimas dengan wajah cemberut. “Biar Kakak yang bukain pintu.” Tawar lelaki itu yang berusaha mencairkan suasana diantara kami. Lelaki itu berbalik sementara aku kembali berjalan masuk menuju ruang tamu. Aku sempat melewati Tania yang masih diam sambil menunduk. “Jadi sejak kapan kalian sembunyi- sembunyi kayak gini?” tanyaku dengan kedua tangan saling menyilang didepan d**a. Ada rasa sedikit kesal memang, namun akhirnya aku bahagia kedua orang yang aku sayangi bisa bersama. Sempat terbesit di dalam pikiranku barusan untuk berpura pura marah kepada keduanya. Aku ingin menjahili mereka berdua yang sedang merasa ketakutan. Kini keduanya duduk di hadapanku dengan merundukkan pandangan mereka takut. “Kita baru jadian setahun yang lalu. Niatnya mau kasih tahu kamu habis kamu nikah tapi keadaan berkata lain makanya kita sengaja nggak kasih tahu kamu dulu.” Jelas Kak Dimas yang menatapku dalam, berharap aku mempercayainya. “Apa setahun?” kataku kaget. Selama ini aku benar- benar sama sekali tidak mengetahui hubungan mereka berdua. Entah aku yang hanya sibuk dengan kehidupanku atau apapun itu. Aku masih berusaha untuk terlihat sedang marah. “Dis, aku minta maaf jujur awalnya aku bener- bener mau kasih tahu soal ini tapi keadaannya selalu tidak memungkinkan. Aku minta maaf ya.” Lirih Tania memelas, seakan ia merasa sangat bersalah padaku. “Semoga hubungan kalian langgeng ya..” kataku memberi selamat sambil tersenyum. Keduanya menatap heran pada sikapku barusan. Namun Tania langsung mendekati dan memeluk diriku. “Oh syukurlah kamu nggak marah sama kita.” Katanya yang merasa sangat lega. “Marah sih enggak Cuma rada kesel aja kenapa aku kalian sembunyi- sembunyi kayak gini? Tapi aku sadar pasti kalian punya alasan kan.” Keduanya tersenyum ke arahku. “Jadi kapan kalian bakalan nikah?” tanyaku yang membuat keduanya saling menatap satu sama lain. Sambil menunggu jawaban mereka aku meraih plastik yang berisi makan yang sudah kami pesan tadi. Aku merasa sangat lapar, cacing di perut juga sudah saling berdemo. “Tapi apa nggak apa- apa kalau kita nikah duluan?” tanya Tania dengan nada khawatir. “Nggak apa- apa justru aku malah seneng kok. Oh ya aku sambil makan ya udah laper soalnya.” Tawarku sambil menunjuk makanan yang sedang aku makan. “Rencananya sih tahun depan tapi kayaknya bakalan di majuin.” Tambah Kak Dimas sambil merangkul Tania mesra. Membuatku iri saja, andai Gerald ada disini. “Bagus, tapi apa Mama dan Papa udah tahu?” tanyaku. “Belum, kamu tahu kan mau ngomong sama Papa tapi aku lagi dicecer terus.” Kata Kak Dimas dengan nada putus asa. “Berarti kamunya juga harus lebih semangat lagi Kak buat tunjukin kamu mampu buat kerjain tugas kantor lebih baik dari sebelumnya. Apa kamu mau Tania kelamaan nunggu malah diambil orang.” Ledekku yang membuat Tania tertawa, sementara Kak Dimas langsung cemberut. “Iya.. Iya..” “Jangan iya.. iya aja beneran loh ya. Tapi tunggu jadi selama ini yang di..” aku menghentikan obrolanku dan merogoh ponselku yang ada di tas. Aku teringat postingan Kak Dimas di sosial media miliknya yang memposting sosok wanita yang tak asing bagiku. Walau sosok itu nampak dari belakang tapi yakin kalau itu Tania sahabatku. “Jadi ini foto Tania kan?” kataku sambil menjukkkan sebuah foto. Keduanya melihatnya dan tertawa ke arahku. Baiklah kali ini aku benar- benar tertipu oleh Kakak dan sahabatku sendiri. Chapter 14
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN