Setelah beberapa jam di rumah Tania, akhirnya aku dan Kak Dimas memutuskan untuk pulang karena hari sudah malam. Butuh waktu sekitar kurang lebih tiga puluh menit untuk sampai ke rumah. Sesampainya di pekarangan rumah kami, aku melihat ada sebuah mobil yang tak asing bagiku. Aku keluar dari mobil dan memperhatikan mobil itu lebih dekat hingga memastikan nomor plat mobil tersebut.
“Dis..” panggil Kak Dimas sambil menepuk bahuku saat ia sudah berada dekat denganku. Aku menoleh kaget ke arahnya.
“Ini mobil Gerald bukan sih, Kak?” tanyaku pada Kak Dimas untuk meyakinkan. Kak Dimas lalu memperhatikan mobil itu dan juga melihat nomor plat mobil tersebut sama seperti yang aku lakukan tadi.
“Iya kamu bener ini mobil, Gerald. Tapi kenapa dia ada di sini malam- malam begini? Tanya Kak Dimas setelah membenarkan pertanyaanku. Aku menganggkat kedua bahuku dan kedua tanganku untuk menyatakan ketidak tahuan alasan sebenarnya lelaki itu datang.
“Kamu yakin nggak janjian sama dia?” tanya Kak Dimas lagi.
“Beneran nggak, Kak.” Jawabku mantap namun aku teringat ponselku. Apakah ia sempat menghubungiku tadi? Aku merogoh ponselku yang berada di dalam tas. Dan saat ponsel sudah ada ditanganku, ku dapati ponselku mati mungkin karena tenaga batrai ponselku habis.
“Gimana?” tanya Kak Dimas.
“Hehehe.. mati, Kak,” jawabku sambil menujukkan ponselku yang memang mati total. Kak Dimas yang merasa gemas dengan tingkahku mencubit pipiku. Aku yang merasa kesakitan langsung menjauhkan tangan Kak Dimas dari wajahku.
“Sakit tahu, Kak.” Gumamku kesal. Kak Dimas hanya tertawa melihatku yang cemberut saat mengatakannya.
“Maaf, yaudah yuk masuk siapa tahu Gerald kesini ada hal yang penting yang mau di bicara. Atau mungkin bisa aja kan kepalanya kebentur sesuatu dan mulai inget sama kamu.” Seru Kak Dimas yang membuatku semangat.
“Ayo..” Kataku sambil merangkul lengan Kak Dimas. Mungkin bisa saja apa yang Kak Dimas katakan bisa benar- benar terjadi bukan. Tak ada yang tak mungkin walau aku sendiri tak begitu yakin mengingat kejadian siang tadi di restoran bersama Tania.
“Eh ini anaknya.” Seru Mama saat kami berdua sudah memasuki ruang tamu. Mama berdiri dan menghampiri kami berdua dengan sumringah.
“Dis..” panggil lelaki itu saat ia melihatku. Aku memasang raut wajah bingung dengan kehadirannya. Ia segera mendengkat ke arah kami. Kak Dimas melepaskan tanganku yang masil memeluk lengannya. Aku menoleh ke arah Kak Dimas dan secara bersamaan Gerald memelukku erat.
“Aku minta maaf sama kamu, Dis.” Katanya begitu meyakinkanku. Aku masih diam mematung melihat perubahan lelaki itu yang selama ini terlihat dingin dan cuek kini kembali memelukku. Apakah benar keajaiban benar- benar terjadi? Aku bertanya- tanya dalam hati.
“Kamu minta maaf soal apa?” tanyaku.
“Aku minta maaf karena ternyata selama ini aku kehilangan sebagian ingatan kamu dan menyakiti kamu.” Jelasnya yang membuatku masih tak percaya. Aku melepaskan pelukannya dan melihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada raut menyesal di wajahnya.
“Ingatan kamu beneran udah kembali?” tanyaku lagi untuk kembali meyakinkan.
“Heem, Dis kamu masa nggak percaya sama Gerald?” Tanya Mama padaku. Aku menoleh ke arah Mama yang sedang tersenyum.
“Kalau gitu aku mau ke Kamar dulu ya.” Pamit Kak Gerald sambil meninggalkan kami.
“Yaudah Mama juga mau masuk ke dalam kamar juga udah agak ngantuk soalnya. Kamu temenin Gerald ya.” Pamit Mama sambil tersenyum.
“Tapi, Ma..”
“Kamu harus percaya sama Gerald, sebelum kamu pulang dia udah ceritain semuanya sama Mama dan Papa.” Tambah Mama.
“Iya lagian kamu harusnya seneng dong. Gerald sudah mengingat kamu.” Tambah Papa sambil berdiri dan meninggalkan kami.
“Ya udah kalian ngobrol aja dulu sambil duduk. Mama pergi dulu ya.” Kata Mama lagi sebelum akhirnya benar- benar meninggalkan kami.
“Ayo duduk, Ge.” Ajakku sambil berjalan mendekat ke sofa dan di susul olehnya.
“Aku masih belum benar- benar percaya kamu bisa secepat ini inget sama aku. Padahal beberapa hari ini aku coba buat kamu inget semuanya tapi kamu nggak bisa.” Jelasku padanya yang kini duduk di hadapanku.
“Aku juga nggak tahu kenapa ingatan aku bisa datang dan pergi seperti ini. Tapi mungkin ada hubungannya juga sama selama ini kamu dan Mama bantu aku buat ingat itu semua.” Jelasnya yang membuat aku diam untuk mencerna setiap kata- katanya. Dia tidak salah tapi mungkin apa yang terjadi memang benar. Tapi entah kenapa hatiku masih ragu untuk mempercayai hal ini.
“Aku mau kita buka lembaran baru lagi ya. Lupakan yang kemarin anggap aja nggak pernah terjadi apa- apa.” Kata Gerald sambil menggenggam kedua tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Ia juga menatapku dengan penuh harap, berusaha meyakinkan aku kalau ia benar- benar serius dengan permintaannya.
“Terus Marissa gimana?” tanyaku.
“Setelah ingat semua hal ini, aku langsung memutuskan hubungan kami.” Jawabnya.
“Dengan semudah itu kamu mutusin dia? Tapi apa dia juga semudah itu terima keputusan kamu?” aku melemparinnya dengan beberapa pertanyaan yang memang aku tahu betul bagaimana wanita sifat wanita itu.
“Awalnya sih dia nggak terima tapi kan sekarang aku udah inget kamu lagi.” Katanya lagi yang kembali menggenggam tanganku semakin erat. Hatiku bimbang haruskah aku percaya atau tidak percaya. Aku berusaha menepis rasa raguku dan menggantinya dengan rasa cintaku sebagai jaminan untuk mempercayainya. Bukankah mungkin ini memang perasaanku saja yang memang mengaitkan dengan logika saja. Tapi entahlah yang terpenting kekasihku sudah kembali.
“Gimana sekarang kamu percaya sama aku?” tanyanya yang memecah sesaat keheningan diantara kami.
“Iii.. Iii.. Iya aku percaya sama kamu.” Jawabku yang terasa sangat berat untuk mengatakannya. Mendengar jawabanku, ia langsung memelukku erat.
“Terima kasih, Dis.” Serunya dengan nada bahagia. Aku juga ikut merasa senang hingga akhirnya perlahan aku membalas peluknya. Pelukkan yang selama ini selalu aku rindukan. Pelukkan yang selalu membuat aku nyaman saat aku sedang bersedih.
“Kalau begitu, sekarang aku pamit ya karena ini sudah malam dan aku mau kamu langsung istirahat.” Pamitnya dengan wajah yang terlihat sumringah setelah ia melepaskan pelukkannya. Kini ia merubah posisinya dari duduk menjadi berdiri.
“Iya, kamu juga hati- hati ya pulangnya. Nanti kalau udah sampai hubungin aku.” Kataku sambil sama- sama berjalan menuju pintu utama untuk mengantarnya.
“Besok kamu masih ke kantor?” tanyanya sambil mengandeng tanganku.
“Enggak.. aku udah berhenti dari sana. Emang kenapa?” tanyaku padanya.
“Heem ada acara?” tanyanya balik.
“Nggak ada. Kenapa sih?” tanyaku lagi.
“Besok siang mau nggak kita jalan- jalan terus nonton. Kan udah lama kita nggak pergi bareng sebagai pasangan.” Ajaknya yang membuat aku kali ini benar- benar sangat bahagia. Benarkah laki- laki yang ada di depanku ini adalah Gerald Aditya calon tunanganku dulu?
“Dis, kok melamun?” serunya yang membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum ke arahnya dengan rona wajah bahagia. Hatiku seketika berbunga- bunga kembali.
“Eemm.. Nggak apa- apa kok. Oke sampai ketemu besok ya.” Kataku saat kami benar- benar sudah sampai di depan pintu utama.
“Yaudah aku pulang dulu ya. Besok aku jemput saat jam makan siang.” Pamitnya lagi dan kali ini ia berjalan menuju mobilnya yang tak jauh dari pintu utama rumah ini. Ia sempat tersenyum dan melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil dan benar- benar pergi.