Melepasnya

1119 Kata
Kemarin adalah hari yang berat untukku, karena harus menelan pil pahit berakhirnya hubunganku dengan Gerald. Namun dalam semalam aku berusaha untuk segera bangkit dari kesedihan ini walau memang tak bisa kupungkiri jika hal itu sulit. Tapi jika aku bersedih, dan dia tertawa bahagia untuk apa di teruskan kesedihan ini? Semalam aku memutuskan untuk menetap di Bali dalam kurung waktu yang tak bisa aku tentukan. Aku meminta ijin kepada kedua orang tuaku dan juga Kak Dimas. Awalnya mereka melarang namun setelah aku jelaskan maksud dan tujuanku yang beralasan untuk mengembangkan bisnis Cafeku dan Tania barulah mereka setuju dengan catatan aku harus sering mengabari. Semalam juga aku mengemasi beberapa barang yang berhubungan denganku dan Gerald termasuk beberapa foto dan video liburan kami yang sering aku tonton itu, semua barang tersebut aku masukkan ke dalam sebuah kotak persegi yang rencananya akan kuberikan untuk Gerald. Aku sudah tidak peduli dengan semua barang- barang itu, entah mau di simpan atau di buang olehnya. Siang ini aku diantar oleh Kak Dimas untuk berangkat ke bandara. Namun tak lupa Kak Dimas menjemput Tania. Tapi sebelumnya aku memutuskan untuk menepati janjiku untuk mampir ke rumah Gerald. Lagi- lagi dalam semalam pun aku menyerahkan urusan WO( Wedding Organizer) atas nama Gerald. Walau beberapa persen ada hasil jerih payahku di dalam pembayarannya yang sudah lunas tersebut, tapi aku lagi dan lagi berusaha mengikhlaskannya. Ya anggap saja ini kado terakhirku untuknya. “Kamu yakin mau mampir kesini?” tanya Tania memegang tanganku saat kami sudah sampai di depan rumah Gerald. Aku tersenyum lalu mengangguk perlahan. “Aku temenin ya?” tanya Tania khawatir. Aku memegang erat tangannya. “Kamu nggak usah khawatir aku bisa sendiri, ini urusan aku sama Gerald. Aku nggak mau nantinya malah semakin sulit.” “Tapi..” “Sayang, percaya sama Gladis dia pasti bisa selesaikan masalahnya. Kamu tunggu di mobil aja ya bareng aku.” Celah Kak Dimas. “Betul kata Kak Dimas tuh. Yaudah aku pamit sebentar ya.” Pamitku keluar dari mobil sambil membawa kotak persegi berwarna hitam. Saat aku menekan bel di pintu utama Gerald menyambutku dengan senyuman yang terlihat semringah. Senyum bahagia yang jujur tanpa kebohongan yang aku rasakan kembali. Tapi sayang senyum itu adalah kesedihanku yang sangat mendalam. “Ayo masuk, Dis.” Sapanya hangat padaku. “Ini buat kamu.” Kataku seraya memberikan kotak berbentuk persegi itu padanya. “Apa ini?” tanya penasaran. “Kamu buka kalau aku udah nggak ada disini.” Pintaku padanya karena aku masih berharap agar ia semakin penasaran dengan isi kotak tersebut. Tak bisa kubohongi kalau dalam hatiku masih berharap ia bisa segera mengingatnya. “Oke..” “Mana Mama?” tanyaku cepat karena tak ingin mengulur waktu yang semakin mendesakku untuk segera berangkat ke bandara. “Mama ada di kamar, Ayo aku antar.” Ajaknya sambil menarik tanganku menuju Kamar Mama Mayang yang tak jauh dari ruang tengah di lantai satu rumah ini. “Tunggu..” aku menghentikannya saat ia ingin ikut masuk dan membuka pintu kamar Mama Mayang. “Kenapa?” tanya Gerald cepat. “Kami tunggu di sini aja dulu ya, aku janji aku bakalan Bicara sesuai apa yang kamu mau. Tapi kamu jangan kemana- mana ya, habis ini aku bakalan bicara sama kamu sebentar.” Pintaku. “Heem.. Baiklah tapi jangan lama ya soalnya aku ada janji sama Marissa.” Jelasnya yang membuatku sedikit kesal mendengar nama itu di sebut olehnya. Tak bisakah ia meluangkan waktu sedikit saja untukku? Paling tidak ini yang terakhir kalinya. Aku hanya mengangguk, mengiyakan apa yang ia pinta. Setelah itu aku memutar gagang pintu itu, lalu masuk ke dalam kamar Mama Mayang. Beliau sedang melihat sebuah album foto di salah satu ujung tempat tidur. Beliau tersenyum kalau melihatku masuk ke dalam kamarnya, seakan beliau sudah menunggu kedatanganku. Ia menepuk sebelah bagian ranjangnya mengajakku untuk duduk bersama. “Mama lagi apa?” tanyaku membuka obrolan diantara kami. “Mama lagi lihat- lihat foto masa kecil Gerald waktu masih ada almarhum Papanya.” Seru beliau sambil menunjukkan foto masa kecil Gerald. Aku pun menikmati pemandangan itu, terlihat sangat lucu dan tampan. Setelah melihat foto di satu halaman lain, aku kembali membalik halaman berikutnya yang tak kalah seru. “Ada apa kamu kesini, Sayang?” tanya Mama yang membuat aku kembali tersadar dengan tujuan awalku kesini. “Aku kesini mau pamit, Ma. Soalnya aku mau ke Bali buat buka cabang Cafe baru di sana, Ma. Doakan ya semoga usahaku lancar.” Pintaku untuk di beri restu oleh beliau. “Pasti, Sayang.” Seru beliau cepat sambil memegang wajahku dan tersenyum. “Tapi, Ma. Aku mau minta sesuatu sama Mama.” “Apa yang bisa Mama bantu?” “Aku mau Mama restui pernikahan Gerald sama Marissa ya karena aku..” aku berusaha menahan air mataku tapi tetap saja tumpah. “Aku mau menyerah dengan hubungan ini.” Lanjutku bersama aliran sungai di pipiku semakin deras. Mama yang mengetahuinya langsung memelukku dan mengelus punggungku. “Enggak apa- apa sayang. Kamu tetap anak Mama yang terbaik.” Lirihnya sambil menghela nafas yang cukup panjang. “Tapi aku udah gagal, Ma.” “Nggak, Dis. Kamu tetap yang terbaik buat Mama kok. Justru dengan begini Mama jadi tahu kalau kamu sayang sekali dengan anak Mama walau kamu berat melepaskannya untuk yang lain.” Ucapan itu semakin membuatku semakin terisak. Pasalnya Mama dan aku selalu berharap untuk menjadi pasangan Mertua dan Menantu yang saling menyayangi tapi harapan itu kandas dengan adanya insiden ini. “Tapi ada satu hal lagi, Ma.” Aku menarik tubuhku untuk lepas dari beliau. “Apa, Sayang?” “Tolong Mama pastikan kalau saat mereka menikah nanti, mereka berdua menggunakan WO yang sama ya, Ma. Dan aku minta jangan beri tahukan keberadaan aku nanti di Bali walau termasuk nomor telefon baruku ya, Ma.” Pintaku lagi. “Tapi, kalau ingatan Gerald kembali dan mencari kamu?” “Walau pun itu terjadi jangan pernah beri informasi apa pun sama dia ya, Ma. Aku percaya kalau jodoh pasti akan di pertemukan bagaimana pun itu cara.” Jelasku yang akhirnya dipahami oleh beliau. Aku pun kembali memeluk erat beliau seakan aku akan pergi jauh darinya. Setelah adegan haru tadi Mama mengantarku keluar dari kamarnya menemui Gerald yang sedang duduk di ruang tengah. Lelaki itu berdiri sembari melemparkan senyumnya ke arah kami. “Ge, mohon kamu tepati janji kamu ya. Pakai WO yang memang sudah kita siapkan.” Ucapku yang sudah berada di hadapannya. “Iya, Dis. Makasih ya sekali lagi.” Katanya seraya menggenggam kedua tanganku. “Sebentar..” aku melepaskan tanganku yang di genggam olehnya. Aku melepaskan cincin tunanganku dengannya dan memberikan kepadanya. “Aku balikin cincin ini ke kamu. Entah nanti mau kamu pakai untuk acara pertunangan kamu atau kamu jual terserah. Dan kotak itu..” aku menunjuk sebuah kotak persegi yang kubawa tadi yang diletakkannya di meja. “Sebelum kamu buang benda yang ada di dalamnya, aku mau kamu melihatnya satu per satu saat kamu senggang ya.” Pintaku lagi yang di jawab anggukkan olehnya. “Boleh aku peluk kamu, Ge?” ijinku kepadanya yang di sambut dengan tangan terbuka olehnya. Aku pun langsung memeluk erat dirinya. Aku merasa sangat nyaman di pelukan kami saat ini. Andai ini bukan pelukan kesedihan untukku melainkan peluk kebahagiaan untuk kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN