Setelah berpamitan dengan Gerald dan Mama Mayang di dalam, aku keluar dari rumah itu. Dengan berat hati aku melangkah kaki, aku berharap Gerald berlari untuk mengejarku tapi nyatanya tidak. Hal itu mungkin hanya berlaku di sebuah film romantis yang biasa aku lihat.
Kulihat Kak Dimas dan Tania sedang berdiri di luar mobil untuk menungguku. Mereka melihatku dengan wajah yang sangat khawatir terutama Tania. Saat mulai dekat aku berlari ke arah Kak Dimas untuk memeluknya. Aku ingin menumpahkan semua rasa sedihku di d**a bidangnya. Aku ingin berteriak di dalam isak tangisku.
“Hikkss.. hikkss..”
“Nggak apa- apa, Dis. Sabar ya.” Seru Kak Dimas sambil membalas pelukku erat, ia juga Tania mengelus- elus punggungku erat.
“Keterlaluan, Gerald!!” ucap geram Tania yang sepertinya ingin masuk ke dalam rumah. Namun aku merasakan tangan lain Kak Dimas menahannya.
“Kamu udah agak baikkan?” tanya Kak Dimas saat sudah merasa sedikit tenang. Aku melepaskan pelukku dan menghapus air mataku.
“Lanjut ke bandara ya.” Ajaknya lagi yang di jawab sebuah anggukan kecil olehku. Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan menuju Bandara.
Satu setengah jam kemudian..
“Kak, aku sama Tania berangkat ya, Titip Mama sama Papa kalau ada apa- apa kabari aku ya, Kak.” Pamitku padanya saat pengumuman keberangkatan kami tiba.
“Iya kamu jaga diri baik- baik ya di sana. Jangan lupa sering- sering telefon ke rumah.” Ucapnya sambil menepuk bahuku. Aku yang masih ingin bersama Kak Dimas langsung memeluknya erat tubuhnya.
“Kamu jangan ke pikiran Gerald terus ya. Fokus sama bisnis Cafe kamu ya. Suatu saat kalau jodoh nggak akan kemana, Dis. Kalau nggak jodoh kamu pasti dapat yang lebih baik.” Ucap Kak Dimas yang membuat aku lebih tenang.
“Terima kasih ya, Kak.” Kataku sambil tersenyum ke arahnya sesudah melepaskan peluknya.
“Iya sama- sama adikku sayang.” Seru Kak Dimas sambil mencubit kedua pipiku. Aku pun cemberut kesal dibuatnya.
“Maaf ya.”
“Eheem, aku kok berasa obat nyamuk ya.” Celetuk Tania sambil tersenyum melihat kami. Aku dan Kak Dimas pun menoleh ke arahnya.
“Apa sih Calon Kakak Ipar?” ledekku padanya.
“Lo nih, yuk ke pesawat.” Ajak Tania.
“Yakin nggak mau pamitan dulu sama aku?” seru Kak Dimas kepada Tania.
“Heem, aku tunggu di pintu masuk ya, soalnya aku nggak mau jadi obat nyamuk.” Seruku lagi sambil menarik koperku dan meninggalkan keduanya. Aku masih berharap lelaki itu datang dan menahan kepergianku tapi itu rasanya hanya sebuah angan.
# # #
Sesampainya di Bali, aku dan Tania langsung beristirahat di sebuah Villa keluarga milik keluargaku. Villa ini jarang kami kunjungi, hanya beberapa kali dan itu pun hanya di akhir tahun di setiap tahunnya. Selama kami tinggal di Jakarta, Villa ini di rawat oleh sepasang pasutri (Pasangan suami istri) yang umurnya setara dengan kedua orang tuaku yaitu Bibi Ira dan Pak Rudi. Mereka bekerja dengan orang tuaku sejak aku duduk di bangku sekolah dasar.
Tempat ini sangat nyaman karena berada dekat dengan pantai. Jauh dari suasana bisingnya ibukota. Udaranya pun masih sangat sejuk dan asri. Mungkin aku akan betah untuk tinggal di tempat ini. Sebenarnya lokasi Villa ini tak jauh dari lokasi tempat pernikahan aku dan Gerald dahulu tepat saat semuanya baik- baik saja tapi sayang mungkin tempat itu akan menjadi saksi cinta Gerald dan Marissa jika tidak di ubah oleh mereka.
Matahari mulai terbenam, langit sore kali ini sangat cantik membuat aku tak henti untuk bersyukur saat menikmatinya tepat di balkon kamarku yang mengarah ke arah pantai.
“Dis, kamu udah bangun?” tanya Tania saat sudah duduk di sampingku. Ia menarik kedua tangannya ke atas untuk meregangkan otot- otot tubuhnya sambil menguap.
“Udah, belum lama sih. Kok kamu udah bangun?”
“Aku ke bangun karena laper.. Hehe” serunya sambil tersenyum malu.
“Yaudah makan yuk, tapi mandi dulu enaknya. Mau kamu dulu apa aku nih?” tawarku padanya.
“Aku dulu ya, Dis. Udah lengket banget badanku soalnya.” Jawabnya cepat sambil beranjak pergi.
“Dis, ini Sim card yang kamu minta kemarin buat apa sih?” tanya Tania sambil memberiku sebuah bungkus sim card yang masih tersegel.
“Terima kasih ya calon Sahabat sekaligus calon Kakak Iparku.” Aku meraih bungkus tersebut sambil tersenyum semanis mungkin.
“Kenapa pake ganti nomer segala?”
“Oh ini selain sinyalnya emang bagus buat di sini, aku mau buka lembaran baru tanpa Gerald, Tan.” Jelasku.
“Kenapa kamu yang harus repot sih? Kalau nanti pada mau hubungi kamu kayak vendor segala macam bagaimana?” keluh Tania kesal denganku.
“Kan, ada kamu. Nanti kamu kasih aja nomor baru aku bilang aja nomornya hangus.” Jawabku santai sambil memasang sim card baruku di dalam ponselku.
“Heem terserah deh.” Serunya lagi sambil berjalan pergi meninggalkanku. Aku pun langsung meregistrasikan nomor tersebut dan menghubungi kedua orang tuaku. Alasan aku mengganti nomor ponsel yang baru, aku hanya tidak ingin Gerald atau pun WO yang bersangkutan menghubungiku. Karena walau aku sendiri belum sepenuhnya melepas Gerald tetapi aku ingin perlahan menyembuhkan hatiku sambil fokus dengan cabang baru Cafeku ini. Aku tak ingin terlalu lama berlarut- larut dalam lautan kesedihan ini. Aku ingin sekali bangkit menjadi diriku yang dulu. Diriku yang selalu ceria dan bersemangat.
Lima belas menit pun berlalu, Tania keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menempel di kepalanya. Aku beranjak dari balkon menuju koperku untuk mengambil beberapa pakaianku.
“Tan, nanti tolong masukin nomor baru aku ya di grup w******p Cafe.” Pintaku padanya saat ia sedang duduk di meja rias.
“Siap bos, kebetulan aku baru ingat kalau Arya minta nomor kamu tuh.” Seru Tania.
“Hah, buat apa? Apa ada masalah di Cafe?” tanyaku yang bingung.
“Nggak tahu juga sih, tapi kayaknya kalau ada masalah di Cafe dia pasti tanya ke aku dulu kan.” Jelas Tania sambil menepuk- nepuk wajahnya.
“Terus ada apa ya? Ya udah kasih aja nggak apa- apa.” Aku beranjak berdiri mendekatinya.
“Tapi bisa jadi dia mau deketin kamu secara kamu kan sekarang jomblo.”
“Deketin gimana? Ngaco deh.”
“Beneran, soalnya dia yang paling khawatir apalagi pas terakhir kamu ketemu Gerald di Cafe dan masuk pakai muka sembab begitu.” Jelas Tania lagi.
“Udah ah jangan gosip, aku mandi dulu deh.” Aku pun meninggalkan Tania.
“Tapi aku setuju kok kalau sama Arya kan dia udah baik, cakep lagi.” Ledek Tania sambil sedikit berteriak hingga aku yang di dalam kamar mandi masih bisa mendengarnya. Aku, akui kalau selain Tampan Arya itu baik dan juga ramah. Dia juga selalu membuatku tertawa dengan sikap jenakanya hingga aku selalu senang dan nyaman saat berada di dekatnya. Tapi entahlah saat ini aku masih ingin mengobati hatiku yang sedang hancur berkeping- keping.