Sekolah Baru

2015 Kata
Alona melihat Alfian yang tengah duduk di depan kamar apartemennya. "Pak Alfian...bangunlah! "Alona...kamu sudah pulang? "Sudah..mari kita masuk saja,tidak baik anda berada didepan pintu saja." Alona meletakan barang belanjaannya Alfian duduk dia hanya memandang Alona yang sedang menaruh belanjaan nya. "Em...pak Alfian...mau minum apa?" "Apa saja" Alona membuatkan minuman lemon Alfian tetap diam tak seperti biasanya sering bicara. "Silahkan di minum...itu rasanya seperti perasaan saya terhadap pak Alfian?" Bisa dibayangkan rasa lemon tanpa gula,Alfian tetap menghabiskan minuman yang rasanya sangat masam. "Wah....anda bukan tipe laki-laki yang menyerah terimakasih sudah meminum rasa yang ada dalam hati saya karena gelas itu kosong seperti itulah perasaan saya saat ini" "Kamu memaafkan saya!" "Tentu tuan Alfian" "Ini plester untuk luka anda...lain kali janganlah membuat orang lain kecewa anda sudah saya maafkan hari ini saya ingin tidur siang" "Oh...ya baiklah ...saya akan pergi dari sini" Tanpa kata Alfian pergi dari kamar 101 Alona bersikap demikian dia ingin menjauhi Alfian karena Alona tidak ingin mencintai laki-laki dari kalangan dinasti Ke esokan paginya Alfian dilarikan kerumah sakit Alona yang ingin berangkat kesekolah mengetahui Alfian di dorong di kursi roda. "Tunggu....ada apa ini security?" "Tuan Alfian mengalami diare yang menyebabkan kehilangan banyak cairan nona" "Terimaksih pak informasi nya" Alona mencari tau apa yang terjadi kepada pak Karim. "Pak setelah mengantar saya tolong cari informasi tentang Alfian finnara Wang" "Apa nona ada masalah denganya" "Tidak pak...cari tau saja dan jangan bilang ke ayah...karena ini rahasia." Mereka melanjutkan perjalanan ke sekolah baru SMA swasta,Alona di sana sekolah dengan berbagai macam kalangan kelas menengah atas,anak-anak dari para pebisnis hingga pekerja kantoran. "Wa....kami merasa terhormat sekali nona Alona sekolah disini" "Terimakasih" Alona sempat heran kenapa kepala sekolah bilang seperti itu apakah dia tau kalau Alona dari kerajaan. "Pak Karim,kenapa kepala sekolahnya begitu ramah?" "Maaf nona saya mendaftarkan nona sebagai anak pengusaha properti" "Hm..." Alona melanjutkan belajarnya di hari pertama dia sekolah masuk kelas III MIPA Alona mendapati anak-anak yang pendiam dan jenius guru MIPA mempersilahkan Alona masuk. "Baik... anak-anak perkenalkan siswi baru namanya Alona semoga kalian bisa berteman baik dengan Alona" Pelajaran di mulai seperti biasanya Alona adalah gadis jenius dia selalu mengerjakan soal dengan mudah. "Kring" Jam istirahat Alona memakan bekal yang ia buat. "Ehem anak baru ya?boleh saya duduk disini!" "Silahkan..." Alona hanya diam dan meneruskan makanya dan tiba-tiba anak yang di hadapan Alona makanannya di tampel sebelum duduk. "Klontang...." Suasana kantin hening. "Siapa yang suruh kalian duduk di tempat kami hah!"  Kenapa kalian masih tetap...disini! menajamkan mata dan mengebrak meja. Alona bangkit dan pergi dari meja itu dia melihat temanya yang ada di depannya menangis dan gemetar. "Marilah kita pindah nanti akan aku ganti makananmu jangan sedih" Alona mengajak teman yang baru dikenalnya itu. Lantas anak lelaki itu sebal dengan sikap Alona yang diam saja tidak minta maaf. "Heh...anak baru...kenapa Lo gak minta maaf!" Alona tidak mendengarkan kata-kata nya,lantas pindah meja dan pergi memesankan makanan baru untuk teman barunya. tiba-tiba Alona merasa ada yang mengikutinya,Alona balik badan dan benar saja,anak laki-laki yang jahat itu mengikutinya. "Kamu masih tidak terima karena saya enggan meminta maaf" "Iya...karena selama ini gak ada seorangpun yang berani sama gue!sok jagoan. "Saya tidak pernah merasa salah dengan sikap dan tindakan saya tadi di sekolah ini kantin milik semua siswa dan warga sekolah!" "Lo itu tau apa!gue bilang gue yang berkuasa di sekolah ini!jangan harap Lo bisa seenaknya bebas berkeliaran duduk atau melawan padaku." "Dias...!" Datang seorang wanita menghampiri Dias . Ya Dias adalah anak dari pemilik yayasan sekolah sumbangsihnya dalam kegiatan amal selalu membuat warga sekolah sungkan dan hormat terhadap ayahnya,sayangnya sikap anaknya tak sebaik ayahnya,Dias adalah anak yang arogan, keras kepala,dan berkuasa. "Apa sih kamu menganggu saja!" Alona memilih pergi dari kantin dan duduk di taman bersama teman barunya Adila. "Terimakasih...kamu sudah menolongku" "Harusnya kita tidak boleh takut mau itu penguasa atau pemilik sekolah ini kalau kamu gak salah ngapain takut" "Selama ini tidak ada yang berani dengan Dias Adiwiyata Alona dia anak pemilik yayasan" "Iya...aku sudah tau?" "Kamu tau tentang Dias!apakah kamu juga anak orang berkuasa?" "Bukan..tenang saja,saya anak orang berkuasa atau orang biasa,tetap saya akan berani jika memang tidak salah." Alona melanjutkan makanya dan mengobrol dengan Adila. Ya...dia Adila anak III IPS dari keluarga pedagang buah-buahan.  Bel masuk jam ke 2,Alona hendak duduk tapi dia melihat keraguan dengan kursi di bangku duduknya,semua murid masuk kelas,tapi Alona memilih berdiri di sebelah bangkunya. "Ehem....kamu kenapa tidak duduk?" "Maafkan saya ibu Alma....sepertinya bangku saya jika saya duduki akan oleng dan membuat saya terjatuh, saya melihatnya dari kayu yang patah" Lantas gurunya mendatanginya dan menaruh buku yang di bawanya dan ternyata benar kursi itu jatuh dan berantakan. "Astaga!siapa yang berani melakukan ini semua?jawab!!! "Maaf Alona...itu nama di name tex kamu ya...good job...kamu benar-benar jenius." Lantas Alona di ambilkan bangku baru dan pelajaran di lanjutkan. Bel pulang sekolah Alona bertemu dengan Adila. "Alona...kamu tau gak,Dias di panggil ke ruang kepala sekolah!" "Oh iya...kenapa!" "Sepertinya dia berbuat ulah lagi,sayangnya kalau di panggil gitu tidak di hukum,semua guru disini tidak berani karena sungkan sama pak Adiwiyata." "Alona!kepala sekolah memanggilmu" "Oh iya... terimakasih" Alona pergi ke ruang kepala sekolah sebelum pulang. "Permisi Bu!" "Masuk ananda Alona silahkan duduk." Alona memandang ada dias juga di sana. "Begini...ananda Alona kami melihat cctv di ruang kelas III MIPA dan bangkumu telah di sabotase oleh ananda Dias,tolong jangan di perpanjang masalah ini biarkan saja masalah ini bergulir diam." Alona tersenyum dan mengatakan. "Hm...anda sungguh luar biasa Dias...membungkam semua orang dengan kesalahanmu...mereka hanya memikirkan bagaimana cara mereka hidup tapi kamu membuat mereka tertekan dengan keegoisanmu" Lantas Alona beranjak dari kantor kepala sekolah. Kepala sekolah binggung dengan Alona yang tiba-tiba berani berkata seperti itu kepada anak pemilik yayasan. Alona pergi dari sekolah dia merasa sudah tidak punya waktu banyak untuk istirahat,jam pukul 14.00. "Maaf ya pak...lama menunggu saya karena tadi saya di suruh kekantor kepala sekolah" "Saya tau nona apa yang terjadi pada nona di sekolah semua mata-mata tuan membicarakan keadaan nona di sekolah dan kejadian di kantin maupun di kelas nona, nanti pasti di tindak lanjuti masalah nona." "Tunggu...pak Karim...tolong bilang sama ayah hidup bermasyarakat itu pasti ada masalah,saya tidak mau masalah ini membuat orang lain menjadi tahanan atau menjadi tersangka, biarkan saya menyelesaikan masalah saya sendiri untuk apa ayah masih membantuku kalau dia menganggap ku bukan putrinya?" "Baik nona akan saya sampaikan pesan anda" "Oh iya pak,bagaimana keadaan Alfian?" "Tuan Alfian di rawat di rumah sakit nona" "Bisakan saya menemuinya tanpa pengawasan?" "Maaf nona...sepertinya tidak biasa karena di sana selalu ada penjaga, apakah nona mengenalnya?" "Dia tinggal di sebelah kamar saya pak Karim...dan kemarin saya yang memberinya minum air lemon" "Astaga....nona membuatnya masuk rumah sakit!nona anda akan mendapat masalah...biarkan tuan tau masalah ini nona" "Tenanglah...saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri" "Pak Karim... terimakasih untuk antar jemput saya sekolah. Ingat ya pak semua masalah saya jangan sampai ayah tau" pak Karim kembali ke istana,Alona bersiap untuk bekerja. ************** "Hay...Alona...sudah siap dengan pekerjaan hari ini! "Tentu..selamat beristirahat ?" "Bye Alona..." Dila berpamitan dia rekan kerja Alona sebagai kasir sift pagi. "Ehm...nona saya mau pesan coffe late...tanpa gula" "Hah...em...baik tuan Rama" Ih kenapa dia ada disini...batin Alona. Rama tak henti memandangi Alona,Hingga diza datang. "Ehem...pandanganya fokus ke kasirku... kamu mengenalnya Rama?" "Dia pernah sekolah di sekolahku" "Oh yah....tapi di profilnya dia anak seorang supir" "Iya dia memang anak seorang supir...dan aku juga tidak tau rahasia apa yang dia simpan. Nona MISTERIUS. "Em...aku juga sempat berfikir begitu sih...dia baik dan sopan sekali...tutur katanya mencerminkan dia seperti seorang putri." "Permisi tuan...ini pesanannya" "Alona...tunggu " Alona memejamkan mata berharap tak akan ada yang di tanyakan lebih jauh lagi...lantas Alona memasang senyum dan membalikan badanya. "Iya tuan diza" "Em...duduklah...bukankah dia teman sekolahmu... "Maaf tuan diza...saya di sini untuk bekerja dan sekarang adalah jam kerja saya" Alona menolak secara halus permintaan diza lantas diza hanya mempersilahkan Alona untuk kembali bekerja. "sorry ram...,aku tidak bisa membuat pegawaiku tertekan jadi aku biarkan dia kembali bekerja" "Tidak masalah...nanti aku akan temui dia selesai di bekerja" Malam berganti pukul 22.00 Alona bersiap pulang selesai menuntaskan laporan keuangan hari ini. "Permisi tuan diza ini laporan keuangan hari ini." "Baiklah...em tunggu Alona kamu tinggal di mana,di profilmu tidak ada alamat jelas" "Saya tinggal di apartemen garden Palma" "Oh....oke...dekat berarti ya,berani pulang sendiri?" "Tentu tuan saya sudah terbiasa? permisi." Alona pergi dari ruangan diza Alona keluar dari pintu cafe ada Rama yang sudah menunggunya di situ. "Alona...bisa kita bicara?" "Tentu tuan Rama silahkan anda bicara" "Apa kabarmu Alona...?" "Baik tuan" "Kamu ingat sahabatmu Yumna?" "Tentu tuan,apa ada masalah dengan Yumna?" "Dia di keluarkan dari sekolah karena telah menjahili Alona putri Amerta dengan air satu ember diguyurnya saat pelajaran olahraga berlangsung" Alona menepis mata dan berfikir kasihan sahabatku itu kenapa dia melakukan hal bodoh itu. "Apa alasan Yumna melakukan hal itu kepada putri Amerta" "Dia ingin balas dendam atas kesakitan mu karena yang menjatuhkan pot secara sengaja adalah putri Amerta itu" "Baiklah tuan Rama...besok saya akan mencoba menemui Yumna,saya undur diri...ini sudah terlalu larut tuan Rama permisi." "Biarkan aku antar?" "Tidak tuan.. terimakasih...jalan menunju tempat tinggal saya cukup untuk berjalan kaki" Alona meninggalkan Rama dan Alona kembali ke apartemen nya dan sekilas melihat kamar 101 kamar Alfian. Alona ingat dengan Alfian. "Pukul 22.30 apakah Alfian masih di rumah sakit?" "Gruk...gruk..." pesan masuk. ini nomor siapa?! tolong di jawab karena terakhir kali putraku menghubungi dirimu... "Astaga...ini tuan finanara..., dia menelpon sudah 23 panggilan dari jam 15.00 tadi" "Gruk...gruk...panggilan masuk..." "'hah...dia video call,aku harus bagaimana ini!" Alona kebingungan tapi Alona siap dengan konsekuensinya... "Ah...em...em..." Tiba-tiba Alona di kejutkan di dekap dari belakang Alona tidak bisa berkutik karena tangan di borgol dan kakinya juga di borgol Alona meronta tapi dia tidak bisa bicara mulutnya tertahan kain penyumbal Alona di tutup matanya dengan kain perasaan Alona kini binggung. Dalam hati Alona merasa ketakutan,ada orang-orang jahat yang ingin mencelakainya,hingga dia sampai di suatu tempat dan di dudukan di sebuah ruangan,penutup mata,mulut dan borgol di lepaskan. "Hah...hah...hah..." Alona mengambil nafas... dia merasa pengap. "Selamat datang di istana kami nona Alona..." turunlah seorang laki-laki seumuran dengan ayah Alona. Dalam hati Alona berkata ya tuhan dia raja finanara Wang Alona hanya terpaku dan terdiam melihat sosok terkenal raja yang Arif dan bijaksana itu. Alona berdiri dan memberi penghormatan. "Selamat malam raja finanara...maafkan saya,kita bertemu dengan situasi seperti ini saya hanyalah anak seorang supir saya tidak punya masalah dengan kerajaan manapun." "Ha...ha..ha...Alona...Alona...,kamu terlalu menutupi identitas mu!kamu ini anak Amerta...kenapa harus bilang anak supir,lantas aku akan percaya!" "Maaf raja...mungkin raja salah...saya Alona anak supir sedangkan yang saat ini di istana Amerta adalah Alona putri raja Amerta." Alona menjelaskan dengan tegas tanpa gugup. "Tenanglah...biar aku jelaskan apa yang aku ketahui,kamu adalah Alona...anak Amerta aku ingat sekali dengan kejadian 2th yang lalu...kamu pernah tidak sengaja menabrak ku di istana Amerta kamu habis berlatih pedang. "Agh...saya...!" "Sudahlah...kamu tidak perlu menjelaskan...wajahmu juga masih sama dengan yang aku lihat 2th yang lalu. Alona binggung ada yang mengenalnya lantas Alona mencoba pergi dari sana tapi Alona di halangi dengan para penjaga. "Alona...!!" Alona menoleh ternyata itu adalah ayahnya. Alona terkejut. "Iya tuan Amerta....maaf saya malam2 berada disini karena tiba-tiba memang di bawa kesini..mohon tuan tidak memecat ayah saya pak karim" Alona memohon kepada raja Amerta... Alona tidak di anggap anak Alona tetap dengan pendiriannya mengatakan bahwa dia adalah anak pak Karim...supir raja Amerta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN