Pertandingan membawa luka

2020 Kata
"Alona....raja Finnara tau kalau kamu adalah putriku." "Hm...lantas...untuk apa anda begitu menggebu-gebu untuk membuang saya dari istana" "Kamu sendiri yang pergi dari istana" "Sudahlah ayah...saya tidak tau kenapa anda membuat konspirasi dengan membodohi orang-orang di sekeliling anda agar percaya dengan cerita anda, mulai saat ini saya bukanlah putrimu hingga saya bisa menunjukan kepadamu saya bisa menjadi orang sukses." Alona berlari pergi dari istana Finnara ayahnya menangisi penyesalannya telah membuang putrinya,raja Finnara mengetahui masalah yang terjadi di keluarga Amerta karena mereka adalah teman baik. "Sudahlah...putrimu adalah anak baik'...untuk saat ini dia tidak akan pernah mau mendengarkan mu, tapi saat nanti tiba dia berumur 20th dia akan mengerti apa yang kamu lakukan ini adalah benar" "Ya...hanya saja aku sedih melihat penderitaannya di sekolah dan di di hina serta di kucilkan dari orang-orang biasa" Alona berlari dan ada Alfian yang menghentikan langkah nya. "Ah...maaf saya tidak melihat anda" Alona berdiri dan ternyata yang ditabraknya adalah Alfian. "Bagaimana kabarmu...apakah kau merindukanku...?sehingga kamu ada di istana Finnara" Alona memalingkan pandanganya. "Jangan terlalu gampang menduga,anda terlalu percaya diri." Alona tetap mencoba pergi tapi Alfian lebih membuatnya tertahan disana Alfian menarik tangan Alona dan dibawahnya ke taman dan didudukan Alfin duduk di di bawah Alona. "Kamu tidak merasa menyesal telah membuatku sakit dan Anfal!" "Saya tidak tau anda akan langsung sakit,saya setiap Minggu konsumsi lemon tidak ada masalah" Alona sewot dan melakukan pembelaan. "Oke...sayang sekali kenapa tuhan memberikan saya kesempatan hidup,padahal kalau boleh memilih dari pada aku melihat orang yang aku cintai lebih baik aku mati karena aku tidak perlu melihat sakit di tolak" "Heh...tuan Alfian! Alona berdiri dan marah kepada Alfian. "Anda itu terlalu memandang hidup dari sudut pandang anda saja,bukankah Anda punya segalanya,ayah anda adalah raja terbaik di dinasti kita, lantas kurang apa dalam hidup anda hah!" Alona mengeraskan suaranya mengebu-gebu dengan kata-kata nya. "Sut...!jangan teriak-teriak...nanti para penjaga mendengar ini semua" "Hah...saya tidak takut sama penjaga anda,sudah tuan Alfian ini sudah malam,saya sungguh sangat lelah pikiran saya sedang kalut dan banyak yang harus saya selesaikan,karena hidup yang sebenarnya adalah menjadi orang biasa" Alona hendak pergi tapi Alfian memeluknya. "Tolong.... jangan tolak aku!aku hanya ingin memelukmu,aku rindu dengan wangi rambut ini...1menit saja" Alona tertahan dia merasa nyaman tapi dia punya keraguan yang besar Alona menutupi perasaanya dengan menginjak kaki Alfian. "As...m...!sakit Alona!" Alona hendak tersenyum tapi Alfian mendekap tubuh Alona lagi dan melancarkan aksinya mencium Alona lagi dan lagi. saat Alona hendak mengigit bibirnya Alfian ,justru Alfian yang mengigit bibir Alona dengan lembut. Alona hendak terlena tapi dia punya batas.Alona mencoba memberontak dan memukul perut Alfian hingga lepas cengkraman Alfian melipat tangan Alona. "Dasar buaya!jangan cium saya lagi hi...h" Alona merasa jijik dan malu-malu Alona berlari tapi Alfian tidak mengejarnya,karena dia tau pasti di depan ada supir kerajaan amerta. "Pak Karim...anda disini?" "Nona Alona!anda sedang ada masalah nona?" "Tidak...ada pak,permisi saya mau pulang" "Biarkan saya yang mengantar nona" "Saya naik taxi saja" "Ehem...mana ada taxi malam begini nona Alona" Alfian menghampirinya, Alona menajamkan matanya dia merasa bersalah. "Pak Karim...antarkan saya saja" Alona bergegas masuk kemobil Alfian hanya tersenyum memandangi Alona yang kikuk. Disepanjang perjalanan Alona merasa lelah dan mengantuk sekali,dan pak Karim terpaksa membawanya ke istana Amerta karena paling dekat adalah istana Amerta. "Maaf tuan saya membawa ona kesini karena nona tertidur" "Hm...tidak apa-apa,penjaga....ambilkan selimut...!" Perintah raja Amerta...dia mengendong putrinya itu turun dari mobil Alona sangat lelah hingga dia tidak sadar ayahnya membawanya masuk kekamar Alona. "Tidurlah nak,semoga...kemarahamu segera membaik,baru beberapa hari kamu sudah sangat sekurus ini dan semakin lusuh" *************** keesokan paginyaAlona bangun dan mendapati dirinya berada di kamarnya. "Selamat pagi nona..kami sangat merindukan nona...mari spa nona sudah kami siapkan" "Tunggu!kenapa saya ada disini?" "Maaf nona...tuan yang membawa nona dari mobil saat nona tertidur"dalam hati alona menyesal kenapa dia tertidur ya sudahlah kapan lagi ada kesempatan rileks hari ini. Alona merasa tubuhnya lebih segar lagi, tiba-tiba alina datang. "Wah...wah...wah... Upik...abu...kembali pulang!bukankah....lebih nyaman tinggal diistana dari pada di luar istana!" Alina mengejek Alona. "Kamu...yang tidak sadar...diri...kamulah Upik abu,kamu menyangka kamu adalah putri raja,hah...mimpimu terlalu dini Alina,kamu hanya di manfaatkan oleh ayahku" "DIAM kamu...!hi ih..." Alina menjambak rambut Alona dan Alona tidak tinggal diam dia membalas Alina dengan tendangan di kakinya. "Agh..." Alina terjatuh. "DENGARKAN aku baik-baik Alina...jangan menjambak rambut ...lebih baik kita bertarung pedang, samsak tinju atau takewondo!!" "Hi ih...kurang ajar kamu!awas ya...akan aku balas perbuatanmu nanti" Alina pergi dengan kesal karena kakinya sakit. "Kami rapikan saja nona rambutnya" "Tidak usah...trimakasih" Alona melangkahkan kakinya pergi dan mengambil tasnya di meja. "Nona Alona!" Alona memandang orang yang memanggilnya itu dia adalah Alfian.. Alona tetap berjalan melanjutkan langkahnya,tapi Alfian memegang tanganya. "Anda ini...gak ada habisnya godain saya!" "Pasti...karena saya selalu di tolak saat saya meminta baik-baik" "Hah...anda terlalu naif tuan Alfian,biarkan saya pergi,saya sudah tidak ada urusan lagi di istana ini" "Kamu akan tetap berurusan dengan istana ini,kamu adalah pewaris tahta raja Amerta" "Bye!"Alona melambaikan tangan dan meninggalkan Alfian. Alona memilih untuk naik taxi. Hari ini alona sudah sangat terlambat kesekolah. Jam sudah pukul 07.00 Alona sampai di gerbang sekolah. "Hah...hah...untung...lah" Alona berlari kekelas dia duduk langsung karena jam pelajaran akan dimulai. "Ya tuhan...cairan apa ini benar-benar...keterlaluan!" "Pagi anak-anak,hari ini silahkan di buka halaman 32" "Maaf Bu...boleh saya ijin ke toilet?" "Silahkan" "Maaf Bu...saya hari ini tidak bawa baju ganti,lihatlah seragam bawahan saya" semua murid di kelas terkejut ada cairan tinta hitam di rok yang di pakai Alona. "Dias!saya geram dengan manusia itu!" Guru Alona marah seakan memang setiap kejahilan dias lah biang keroknya. "Alona...ambil di UKS baju ganti yang bisa dipakai,kita urus masalah ini nanti saat pulang sekolah" Alona pergi ke UKS dia mendapati Dias yang tertawa di belakang Alona Alona tidak menghiraukannya karena Alona lebih memilih untuk belajar dan segera lulus sekolah waktu ujian hanya tinggal 1bulan lagi. "Wah...wah...nona Alona...anak tukang properti ha..ha...ha..ha..,mau cari baju bekas ya nona... tuh di sampah banyak...jangan harap di UKS ada!" Alona sudah mulai geram Alona memilih menantang Dias saat pulang sekolah adu kepintaran dan ketangkasan. "Eh...kalau saya kalah terserah mau kamu apa saya ikutin." "Tapi kalau kamu kalah tanda tangani surat belajar menjadi anak baik dan tidak jahil kepada warga sekolah" Dias menyepakati tantangan Alona. Setelah pulang sekolah ada bola basket dan kertas ujian matematika tanpa ada kecurangan Alona mempersilahkan guru matematika membuat soal yang sangat sulit. "Baik kita mulai tantangan dari Dias dulu"kata guru olahraga. Semua siswa dan guru menyaksikan pertandingan tersebut dan ada ketua yayasan juga. Perit...! Lomba matematika di mulai waktu hanya 30 menit menjawab 30 soal semua siswa berharap Alona bisa menyelesaikan soal matematika itu karena mereka berharap bisa sekolah dengan tenang tanpa gangguan Dias. "Saya sudah selesai Bu ini" Alona menyelesaikan soal dalam waktu 15 menit,terlihat Dias yang kebingungan menjawab soal.Dias mencoba mengambil calkulator tapi dia tidak temukan. "Hah...sial..." Dias mengumpat. "Aku harus bisa...untuk mengalahkan kesombongannya Dias...demi para siswa siswi dan guru" Waktu ujian matematika sudah selesai Dias marah dan menendang meja. "Oke...baiklah...hari ini gue buktiin basket ini gue yang menang walaupun dengan cara kasarpun gue harus bisa menang! Dias merencanakan sesuatu untuk melukai Alona. "Prit...babak pertama..." Dias melancarkan aksinya di lapangan dia adalah pemain yang handal dalam basket tapi permainannya kasar dan membahayakan. "Agh..." Alona di jegal,alona tetap bangkit walaupun kini dia telah kehilangan 1 score. "Ayo Alona... Alona... Alona..."suara sorak sorak pendukung yang tanpa di minta mengema di seluruh sekolah. "tuhan...bantu aku untuk menang kali ini walaupun...aku harus curang karena dia juga main kasar" saat Alona akan melempar bola masuk ke ring Dias menghalanginya dan hendak menjegal lagi alona tapi Alona sudah tau taktik itu dia menghindar dan merendahkan badan dan mencetak 1 score,2 score dan hampir 10 score. Dias mengumpat kesal karena dia kalah. "Bagaimana Dias....anda menyerah?" "Hm...kamu memang licik...!" Di menit terakhir Alona di dorong oleh Dias tapi tangan kanannya menahan tubuhnya dan bola masih digenggamnya,Alona sekuat tenaga menahan tangannya yang cidera dan melemparkan bola di menit terakhir dengan 20 score. Semua orang bahagia Alona menang Dias marah- marah dan mendapatkan sangsi dari ayahnya sendiri karena sekalu buat ulah. "Ye.. Alona,kamu benar-benar hebat!" "Em...iya...trimaksih untuk semua dukungan kalian" Alona menahan sakit di pergelangan tangannya dia tetap berusaha biasa dan segera pergi untuk bekerja hm sudah sangat terlambat untuk bekerja tuhan berikan aku kekuatan untuk saat ini Sesampainya di apartemen Alona berganti pakaian mencoba mengoles salep pereda sakit,padahal tangan Alona sedang memar dan bengkak,lututnya juga terluka. "Uh...ini benar-benar nyeri sekali,aku tidak ada waktu untuk istirahat...bisa-bisa aku di pecat dari pekerjaanku." Alona tetap pergi bekerja. "Selamat sore..selamat datang di cafe diza...silahkan pilih menunya" "Em...mbak...saya minta coffe late gula 1 sendok saja,coffe s**u dan camilan roti bakarnya ya mbak" "Siap...di tunggu sebentar Terimaksih kakak,ini totalnya" Alona tetap tersenyum walaupun dia benar-benar kesakitan. "Ya tuhan...kenapa tidak bisa ku tahan,agh...ini benar-benar membuatku ingin pingsan aku sudah tidak kuat lagi." Brak..pyaar! Gelas terjatuh,Alona pingsan dan di tolong bartender dan teman pengantar minuman. "Permisi pak diza...Alona tak sadarkan diri" "Apa"!diza berlari dan melihat Alona sesegera mungkin Alona di bawa ke rumah sakit. "Alona...bangunlah...kamu kenapa!"diza binggung,dia juga melihat tangan Alona cidera dan bengkak. "Ya tuhan...apa ini yang terjadi?" "Maaf pak tadi dia baik baik saja setelah melayani pembeli dia pingsan secara tiba-tiba" Sesampainya dirumah sakit diza binggung harus menelpon siapa. "Ya...aku telpon istana Amerta saja" Hallo.. bisa bicara dengan supir keluarga Amerta? saya tidak tau namanya yang jelas putrinya bernama Alona sedang berada di rumah sakit... Selang 30 menit pak Karim dan raja Amerta datang. "Oh...suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda raja Amerta"diza menundukan badan . "Ya...Sudah...sudah Mana Alona?" "Maaf raja...mungkin salah faham dengan telpon saya...yang cidera adalah putri bapak supir anda karena saya tidak tahu namanya saya bilang ayah Alona supir" Pak Karim maju dan bilang bahwa dia ayah Alona. "Saya adalah ayah Al...Alona tuan...diza, maafkan saya telah merepotkan tuan untuk mengurus putri saya" "Tidak masalah...pak...Alona adalah karyawan saya di cafe" "Apa cafe! "Em...benar Raja..." diza menelisik heran kepada raja Amerta yang begitu cemas dengan keadaan Alona. "Tidak mengurangi rasa hormat saya....kenapa raja begitu mengkhawatirkan Alona?" "Oh...aku terkejut ku pikir dia alonaku yang terbaring sakit...ternyata anak pak Karim."raja Amerta mencoba tenang. "Kalau begitu pak Karim...saya kembali kepertemuan...jagalah putrimu dengan baik" Diza tak jadi curiga karena dia melihat raja sudah tenang dan meninggalkan Alona,ya dia memang putri supirnya dalam hati Diaz. "Permisi...keluarga nona Alona!" " Ya dokter saya ayahnya...bagaimana kondisi putri saya!" "Pergelangan tangan Alona sungguh memprihatinkan...sudah terlalu lama di biarkan dan banyak luka yang kami temukan,ada hantaman keras mengakibatkan memar di perut Alona dan kondisi perutnya tidak terisi makanan,kakinya juga terluka di lutut ada sobekan. "Ya tuhan... apa yang telah terjadi" pak Karim menangis terduduk bersimpuh,diza pun tak kalah syok atas kejadian yang tidak ia ketahui. "Maaf tuan diza apa terjadi sesuatu di tempat Alona bekerja?" "Tidak pak Karim...saya tadi tidak mengetahui kenapa Alona,menurut karyawan saya Alona sejak datang memang terlihat pucat." Gruk...gruk.. "Maaf tuan...saya permisi ke toilet dulu" "Silahkan pak...nanti kalau Alona siuman saya akan menjaganya." "Terimakasih tuan..."dan pak Karim terburu lari ke toilet mengangkat telpon dari ayah Alona raja Amerta. "Iya tuan" "Bagaimana keadaan Alona!" "Nona Alona sepertinya ada masalah di sekolah tuan... ini semua akibat dari sekolah" "b*****h!!cepat selesaikan cari siapa yang melukai putriku" "Baik tuan...saya akan menelpon mata-mata di sekolah..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN