Papa krmbsli melsnjutksn ceritanya setelah cukup lama tidak ada jawaban dariku. Dia kembali menekankan bahwa keadaan saat itu sangat sulit, rasanya sudah tidak ada pilihan lain lagi yang bisa dilakukan. Apalagi Mama terlihat semakin depresi dengan berbagai kesulitan lain yang datang silih berganti.
Papa mengatakan kalau pertemuan pertamanya dengan Xavier tidak seperti bayangan refrensi buku yang dia temukan, semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada permintaan aneh apapun yang diminta olehnya. Xavier hanya meminta Papa untuk berjanji memenuhi satu permintaanya suatu saat nanti.
Tidak berselang lama semenjak petemuan dan perjanjianya dengan Xavier, perlahan kehidupan Papa mulai berubah. Tawaran pekerjaan dari berbagai perusahaan besar, proyek yang selalu sukses dikerjakan, bahkan Papa sampai mempunyai perusahaan sendiri yang tentu saja secara otomatis menaikkan kembali kelas sosial Mama saat itu.
Namun, ternyata ini adalah strategi licik dari seorang Xavier yang dimaksudkan oleh buku itu. Dia akan lebih dulu membuat korban nyaman dan bergantung padanya, barulah kemudian dia akan meminta imbalan di akhir yang mau tidak mau harus di penuhi oleh Si korban
''Imbalan apa yang diminta oleh Xavier kepada Papa?''
Papa sepertinya terkejut mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba, wajah yang sebelumnya terlihat lebih tenang tiba-tiba menunduk. ''Xavier meminta kakakmu,'' ucapnya kemudian sambil menggenggam tangan Mama.
''Kakak?'' Lagi-lagi jantungku kembali dibuat terkejut dengan fakta baru yang di sampaikan Papa, padahal selama ini aku mengira bahwa aku adalah anak tunggal.
Papa mengangguk.
''Lalu ada di mana kakak sekarang? Apa Xavier membawanya?''
''Papa tidak tahu ada dimana kakakmu sekarang, dia tiba-tiba menghilang sesaat sebelum Xavier datang.''
Kejutan macam apa lagi ini? Kenapa sekarang Papa mengatakan kalau Kakak menghilang begitu saja? Bahkan, Xavier juga belum sempat membawanya. Astaga … sebenarnya apa yang sudah terjadi pada keluargaku di masa lalu? Kenapa semuanya bisa serumit ini?
'
''Apa kejadian itu yang menyebabkan Xavier marah dan mengutukku?''
Papa menggeleng. ''Xavier memang sangat marah saat itu karna menganggap kami sudah melanggar perjanjian dengannya, tapi apa yang kamu alami sekarang itu bukanlah bagian dari kemarahan atau hukuman darinya.''
''Jadi bukan Xavier yang sudah mengutukku? Lalu siapa yang melakukannya? Dan apa hubunganya kutukan ini dengan penyihir itu? Kenapa aku harus dijodohkan dengannya?'' Aku kembali mengajukan banyak pertanyaan kepada Papa, semua fakta baru ini sugguh belum bisa dicerna oleh kepalaku.
Lagi-lagi fakta mengejutkan lain diungkapkan oleh Papa untuk menjawab pertanyaanku tadi. Papa menceritakan bahwa setelah kejadian hilangnya putri pertama mereka, Xavier meminta hal lain sebagai pengganti yang beruntung bisa dipenuhi Papa waktu itu walaupun hampir mngorbankan nyawanya.Saat kutanyakakan penganti apa yang diminta Xavier, Papa menolak untuk menjelaskan dan hanya mengatakan kalau saat itu mereka sangat beruntung karna Xavier bersedia memaafkan dan melepaskan mereka.
Masalah baru justru muncul saat Mama melahirkanku. Aku mengidap penyakit aneh yang sangat sulit disembuhkan, sudah berbagai upaya pengobatan terbaik dilakukan untuk mencoba menyelamatkanku waktu itu, tapi semuanya sia-sia. Bahkan, semakin hari keadaanu terlihat semakin parah, dan lagi-lagi membuat Mama kembali depresi karna takut akan kehilangan putrinya lagi.
Di saat rasa putus asa atas segala usaha yang tidak juga terlihat hasilnya, Papa kembali meminta pertolongan kepada Xavier untuk menyembuhkanku, dan penyihir itu kembali bersedia mengabulkannya.
Akan tetapi, ada perbedaan dengan sebelumnya ketika Xavier meminta imbalan di akhir setelah bantuannya di berikan. Kali ini dia langsung menyampaikan syaratnya di awal yang akan menjadi imbalan baginya nanti. Penyihir itu mengatakan kalau dia akan datang menjemputku saat sudah cukup dewasa untuk dijadikan istrinya, dan menanamkan simbol aneh itu sebagai perisai untuk menjauhkanku dari orang-orang yang mendekati, sekaligus sebagai pertanda bahwa dia akan datang menjemputku.
Aku sungguh tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang setelah mendengar semua cerita yang disampaikan Papa. Ntah siapa yang harus bertanggungjawab dan patut disalahkan dalam masalah yang sudah terlanjur terjadi ini. Apakah Papa dan Mama yang sudah menggunakan cara yang salah untuk menyelamatkan hidupku, Xavier bodoh yang sudah mengabulkan permohonan mereka dengan syarat tidak masuk akal, atau malah aku sendiri yang memang tidak seharusnya selamat dan hidup di dunia ini.
''Terimakasih karna Papa sudah mau menceritakan semuanya, Allena pamit mau ke kamar sekarang.'' Aku bangkit dari sofa, lalu berlari menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi ke belakang walaupun Mama berkali-kali memanggil untuk mencoba menghentikanku.
Brukk! Karna terburu-buru dan tidak memperhatikan jalan, tanpa sengaja aku menbarak seorang pelayan yang mengakibatkan seluruh nampan berisi buah yang dibawanya terjatuh berserakan di lantai.
''Maafkan Allena, Bi.'' Aku mengambil beberap buah yang berserakan, lalu meneyerahkannya kembali kepada wanita berseragam hitam putih itu. ''Bibi tidak apa-apa?'' ucapku kemudian sambil menyentuh bahunya.
''I~iya, Non. Bibi tidak …'' Kalimat pelayan itu terhenti saat tiba-tiba saja dia ambruk di hadapanku, wjahnya juga perlahan berubah memerah seperti terbakar.
''Bibi! Apa yang …''
''Maaf, Nona. Biar saya saja yang melakukannya.'' potong Mike yang tiba-tiba saja muncul bersama beberapa pelayan lainnya dari belakangku.
''Apa yang terjadi padanya, Mike? Kenapa dia tiba-tiba saja menjadi seperti itu?'' tanyaku panik saat kepala pelayan itu sudah bersiap untuk mengangkat wanita itu.
''Mike, kamu tahu kan yang harus dilakukan? Cepat selamatkan pelayan itu sekarang sebelum terlambat,'' Aku terkejut dan langsung menoleh saat mendengar suara bernada alto yang anya dmiliki oleh satu-satunya pria di rumah ini barusan, sepertinya Papa dipanggil oleh pelayan yang ada di belakang yang mengiringinya.
Rasa panik dan tidak mengerti dengan keadaan seketika langsung bertambah saat Papa sampai turun tangan dalam masalah ini, karna selama ini hanya masalah darurat tertentu saja yang membuat pelayan sampai berani memanggil Papa di ruang kerjanya.
''Allena, kamu harus ikut Papa sekarang,'' tambah Papa kemudian melihatku sebelum akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkanku.
Aku mengikuti Papa untuk kembali masuk ke ruang kerja yang beberapa menit lalu baru saja kutinggalkan, lalu kembali duduk di tempat yang sama seperti tadi. Hanya ssaja sudah tidak ada Mama lagi di ruangan ini, mungkin sedang menenangkan diri ke taman seperti yang biasa dilakukannya saat sedih. Mama … maafkan aku.
''Allena, hal ini lah yang menyebabkan Papa melarangmu untuk menyentuh Mama waktu itu,'' ucap Papa pelan hampir tak terdengar.
''A~apa maksud Papa?''
''Simbolnya.''
Degh! Jantungku yang memang sudah tidak berdetak secara stabil sejak dari tadi menjadi semakin sulit di kendalikan sekarang saa mendegar kata itu lagi. ''Apa ini yang menyebabkan sikap semua orang berubah, Pa? Semua orang akan mengalami hal yang sama dengan pelayan tadi jika aku menyentuhnya?''
Papa menangguk, kemudian menunduk setelah melihatku. ''Iya, Xavier tidak memperbolehkan seorang pun untuk menyentuhmu setelah kemunculan simbolnya. Itu adalah salah satu isis dari perjanjian yang sudah kami sepakati sebelum menyembuhkanmu dulu.''
Apa? Jadi aku tidak boleh menyentuh siapapun lagi sekarang?