Aku tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan sekarang. Pernyataan tidak masuk akal yang disampaikn Papa barusan sangat cukup membuatku kehilangan kata-kata. Rasanya bagai sebuah batu besar yang jatuh dari langit tiba-tiba menimpa dan membuatku mati seketika. Bahkan, lebih parah. Fakta ini lebih buruk dari kematian.
''Allena.''
Aku hanya diam. Bukan karna tidak mendengar panggilan Papa, tapi karna memang sudah tidak tahu lagi bagaimana caraku meresponnya.
''Maafkan Papa, Allena. Semuanya sangat sulit saat itu.''
Aku masih diam. Bahkan, ketika nada suara Papa sudah mulai berubah.
''Maafkan Papa …''
Ingin sekali rasanya aku mengatakan kepada pria baik yang paling kusayangi ini bahwa permintaan maafnya sama sekali tidak kuperlukan. Maksudku, Papa tidak harus melakukan itu. Semua sudah terjadi. Permintaan maaf tidak akan bisa merubah apapun.
Harapan akan semua kembali seperti dulu sudah tidak ada lagi. Semuanya sudah hancur, pupus, bersama dengan munculnya simbol kutukan ini. Aku adalah seorang putri yang terkutuk. Hal apa lagi yang mungkin terjadi lebih buruk dari ini? Ya, tidak ada.
Ntah bagaimana caranya aku melanjutkan hari setelah ini. Tidak boleh menyentuh siapapun? Itu mustahil! Aku mungkin bisa tidak melakukannya jika berada di rumah, tapi tidak di luar. Aku harus pergi kuliah, menyelesaikan tugas akhir, melakukan banyak hal bersama Bella, dan bertemu dengan … Kak Andrew. Berada dua minggu di rumah sudah sangat cukup membuatku merindukan semua itu.
Masih terbayang dengan sangat jelas dalam ingatan saat Kak Andrew menggengam tanganku ketika kami sedang kehujanan tiga minggu lalu. Itu adalah kali pertama yang tidak di sengaja, katanya. Walaupun begitu, aku tetap merasa bangga atas keberhasilan rencana yang disarankan Bella untuk menunggunya pulang dari main basket hari itu. Apa kali pertama itu sekaligus menjadi yang terakhir untukku?
Apakah aku benar-benar harus melupakan semua mimpi yang sudah hampir terwujud ini sekarang? Mimpi menjadi seorang gadis berpendidikan yang bisa diandalkan untuk meneruskan bisnis Papa? Mimpi bersama Kak Andrew yang sudah sejak lama kukagumi dalam diam? Hanya karna … kutukan? Kutukan aneh dari seorang penyihir yang ingin mennjadikanku istri?
Astaga … apakah begitu sulit menemukan seorang wanita di dunia ini? Atau setidaknya yang sebangsa penyihir juga? Kenapa Xavier bodoh itu malah memilihku? Aku tidak mau! Dan tidak akan pernah mau menerimanya.
''Apa Allena tidak boleh keluar dan pergi ke kampus lagi, Pa?'' Bibir yang dari tadi berusaha untuk tidak terbuka ini akhirnya bicara juga. Kuharap hal yang sama tidak sampai terjadi pada bendungan air yang ada di bawah mataku sekarang.
Kali ini Papa yang diam, kedua tangan yang ntah sejak kapan menutupi wajah tampannya itu masih tetap di tempatnya. Apa Papa masih merasa bersalah padaku? Atau justru Papa sudah tidak mau melihat putri terkutuknya ini lagi?
''Pa … Allena sama sekali tidak menyalahkan Papa atas semuanya. Allena hanya … '' Ucapanku terhenti digantikan oleh air mata yang mendesak ingin bicara. Melihat Papa seperti ini membuat hatiku semakin terasa sakit berkali lipat dari tadi. ''A~Allena pergi, Pa,'' lirihku kemudian.
Lagi-lagi aku keluar dengan air mata dari ruangan Papa, hanya kali ini tidak ada suara panggilan Mama mencoba menghentikan. Jujur, aku berharap Papa yang melakukannya, tapi ternyata memang tidak akan ada lagi harapanku yang terkabul. Membuatku semakin yakin semuanya benar-benar sudah berakhir.
Aku berjalan dengan sangat hati-hati menuju kamar, sepertinya semua pelayan yang berselisih jalan denganku juga melakukan hal yang sama. Semakin terlihat jelas raut ketakutan di wajah mereka melebihi sebelumnya. Itu wajar. Mungkin jika berada di posisi mereka, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku harus mulai membiasakan diri dengan perlakukan ini sekarang.
Sesampainya di kamar langsung kuhempaskan tubuh ke kasur, menatap langit-langit merah muda di atas sana diiringi hembusan napas berat yang ntah sudah berapa kali kulakukan. Setelahnya bulir bening itu mengalir lagi Ya, semua sudah berakhir. Kamar ini adalah penjara bagiku sekarang dari semua orang.
Kulirik jam model klasik besar yang selalu berdiri tanpa penat di sudut kamar, jarumnya menunjuk ke angka dua. Itu berarti sudah dua jam aku meratapi nasib ini sendirian, semakin menyedihkan karna tidak ada yang datang menghibur. Ma, Pa, kalian di mana? Apakah kalian sungguh membenciku sekarang? Apa ini definisi sayang yang tadi Papa jelaskan? Dengan meningalkanku sendirian menghadapi akibat perbuatan kalian di masa lalu?
Menyedihkan! Sungguh menyedihkan! Memangnya apa lagi yang bisa kuharapkan? Allena, kamu itu sudah dikutuk. Apa hal buruk yang menimpa pelayan tadi tidak cukup membuatmu sadar? Semua sudah berakhir. Berhentilah berharap. Itu hanya akan berakhir sia-sia, karna memang sudah tidak akan ada lagi hal baik yang terjadi setelah ini.
Apa aku … mati saja? Semua sudah berakhir, kan? Bukankah sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan? Kutukan ini membuat semua orang yang sekarang takut perlahan akan membenciku, Papa dan Mama juga sudah melakukannya. Apa lagi yang harus kupertahankan? Ya, tidak ada.
Lihat? Keadaan saja seakan memotivasi dengan menyediakan pisau kecil itu di sana. Aku tersenyum miring mengekspresikan semua skenario yang seperti sengaja direncanakan, meraih benda tajam kecil itu, lalu menggengamnnya kuat. Rasanya tidak menyangka benda tajam yang tadi pagi kugunakan untuk memotong roti isi selai strawberry, akan bermandikan selai merah lain yang keluar dari nadiku sebentar lagi.
Ma, Pa, Mike, Bel, Kak Andrew … Allena pegi, ya. Kalian semua pasti akan lebih baik tanpa Allena yang terkutuk ini. Allena sayang sama kalian semua.
Lagi-lagi aku tersenyum miring setelah meletakkan sehelai kertas di atas kasur. Lucu memang, aku masih bisa melakukan hal seperti itu sebelum mati, padahal mereka mungkin saja merasa senang atas kepergianku. Setidaknya pamit sebelum pergi itu lebih terlihat sopan, kan? Pesan yang disampaikan Mama saat pertama kali keluar dari rumah ketika berumur empat tahun ini masih tidak bisa kulupakan.
Aku meringis merasakan perih yang mulai terasa di pergelangan tangan, pisau yang tadi mengkilap sekarang sudah berlumuran darah, jantungku berdegup dengan kencang mengiringi proses menyakitkan yang sebelumnya bahkan belum pernah kubayangkan.
Di saat semuanya terasa semakin menyakitkan, tiba-tiba saja cahaya merah aneh itu datang lagi. Sama seperti malam itu, hawa panas kembali menyelimuti ruangan. Apa lagi yang di inginkan cahaya ini padaku? Apa ingin masuk ke tubuhku dan meninggalkan simbol baru lagi? Terserah saja. Aku sudah tidak peduli, lagipula aku sudah mau mati. Rasa sakit ini sudah semakin terasa. Ya, semua sudah berakhir.
''Bodoh! Apa yang kamu lakukan?'
Eh? Siapa yang bicara? Cahaya merah ini membuatku tidak bisa melihat apapun dengan jelas sekarang. Apa itu Papa? Tidak mungkin! Suaranya berbeda. Apa mungkin itu adalah Dewa Kematian yang biasa menjemput orang-orang saat ingin mati? Siapapun itu, aku sudah sangat siap sekarang. Sekarang adalah waktuku.
Aku sudah tidak tahan. Semuanya … Allena pergi.
''Hey, bertahanlah!'' Kalimat terakhir yang bisa kudengar dengan jenis suara yang sama, setelahnya sudah terdengar apa-apa. Semua gelap.