pria asing

1020 Kata
Aku terbangun dengan posisi sedang terbaring di atas sebuah kasur King Size yang terasa sangat nyaman, dengan selimut tebal hangat yang menutupi seluruh tubuh. Di sudut kiri terdapat sebuah jam besar bergaya klasik yang terlihat mewah, itu mengingatkanku pada hadiah yang diberikan Papa dulu saat … eh, tunggu dulu! Jamnya, kasur nyamannya, selimut tebal lembut ini, dan juga ruangan berwarana merah muda ini … ini kan kamarku! Apa yang terjadi? Kenapa aku malah tidur di sini? Apa rohku masih gentayangan di kamar ini walaupun sudah mati?   ''Sudah sadar?''   Seketika aku langsung menoleh ke kanan saat mendegar suara seseorang barusan, tertegun beberapa saat melihat pria dengan bola mata hitam yang sedang melihatku dengan wajah datar. ''Kamu Dewa Kematian yang datang menjemputku?''   Pria itu memalingkan wajahnya sebentar, lalu kembali melihatku dengan ekspresi yang sama seperti tadi. ''Dewa Kematian? Aku sudah mengusirnya.''   ''Kamu mengusir Dewa Kematiannya?''   Pria itu hanya diam, seolah sedang mempertontonkan wajah lumayan tampan itu saja di depanku.   ''Jadi, aku belum mati? Tapi, bagaimana bisa? Bukankah tadi aku sudah …''   ''Jangan lakukan hal bodoh seperti itu lagi. Berbahaya, juga sangat tidak pantas dilakukan.''   Apa maksudnya orang  ini? Kenapa dia melarangku? Dia siapa? Kenapa bisa berada di sini? Astaga … sebenarnya apa yang sudah terjadi? Apa dia benar-benar sudah mengusir Dewa Kematiannya dan menggagalkan usahaku ingin mati tadi?   ''Perg … ukh!'' Aku meringis kesakitan  saat ingin menggerakkan tangan kanan untuk mengusir pria asing ini. Perih. Seluruh badan juga terasa sangat lemas tanpa tenaga. Apa gagal mati malah akan berdampak lebih buruk seperti ini?   ''Kamu kehilangan banyak darah tadi, butuh waktu yang cukup lama untuk memulihkannya. Jangan terlampau banyak bergerak, itu paasti akan membutmu pulih dengan cepat,'' jelasnya masih dengan nada datar melihatku. Itu membuatku makin kesal.   ''Kamu siapa? Tidak perlu sok peduli padaku! Kamu tidak tahu apa yang udah terjadi, semuanya juga begitu. Aku tidak ingin pulih! Aku tidak ingin sembuh!'' Aku berteriak keras dengan sisa tenaga yang kumilki pada pria asing ini. ''Aku … aku, ingin mati saja. Semuanya sudah berakhir,'' lirihku pelan diirngi air mata yang lagi-lagi ikut serta ingin bicara.   Pria itu hanya diam. Dia hanya menatapku datar dengan manik bola hitam itu lagi, seakan  teriakanku tadi tidak di dengar olehnya. Sudahlah. Aku tidak peduli,  setidaknya dia mengerti untuk tidak mengajakku bicara seperti tadi.   Cukup lama kami berdua terdiam tanpa mengatakan apapun. Aku larut dalam segala rasa sakit yang kembali mulai terasa. Sakit di hati, juga seluruh badan. Harusnya aku sudah tidak merasakan semua ini, tapi pria asing ini sudah merusak semuanya. Dia sudah menggagalkanku untuk mati.   ''Hey! A~apa yang kamu lakukan?'' Aku terkejut saat tiba- tiba saja pria asing itu sekarang malah menggengam tangan kananku. ''Lepaskan! Tidak sopan! Lagipula kamu bisa celaka!''   Pria asing itu hanya diam, tangannya juga begitu. Beberapa aaat kemudian tiba-tiba cahaya merah  muncul lagi, mengelilingi kami, setelahnya menghilang begitu saja tanpa terjadi apapun. Aneh, tidak ada rasa panas seperti sebelumnya yang kurasakan, malah sekarang tubuhku sudah jadi lebih baik.   ''Jaga dirimu, jangan lagi terluka sampai aku kembali, atau kamu akan menerima hukuman lebih parah dari ini nanti,'' ucapnya datar tapi dengan sorot mata  tajam yang berbeda dari sebelumnya.   Aku terkejut mendegar ucapannya barusan, ada rasa takut yang tiba-tiba muncul saat melihat tatapan mengerikannya tadi. Itu  sebuah ancaman, kan?    Sebenarnya orang ini siapa? Apa yang dia inginkan?   Tunggu dulu!  Ini kenapa dia baik-baik saja? Bukankah tadi dia sudah menyentuhku? Bahkan tidak hanya menyentuh,  mengggengam lama, dan … aku yakin dia juga yang mungkin menggendong atau menyeretku  ke atas kasur ini. Seharusnya dia sudah pingsan dan berwajah merah seperti Bibi Pelayan.   ''Ka~kamu siapa?'' Suaraku bergetar, bayangan satu  nama seseorang yang menjadi penyebab semua ini tiba-tiba berputar di dalam kepala. Kuharap pria ini bukanlah orangnya.   Tok! Tok! Tok!   Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan dari baik pintu, membuatku langsung mengalihkan pandangan dari manik hitam pria yang masih saja menatapku datar. Siapa yang datang? Apakah seseorang yang akan memastikan bahwa aku sudah mati? Dia pasti kecewa. Aku gagal melakukannya.   ''Sayang,  Ini Mama. Kamu baik-baik saja? Bisa kita bicara sebentar?''   Degh! Jantugku berdebar dua kali lipat saat mendegar suara dari balik pintu, lisan terasa kelu untuk mengatakan apapun, setelahnya bulir bening itu terasa mulai mengalir lagi dari sudut mata. Kenapa baru sekarang Mama datang? Sudah setengah jam berlalu jika aku berhasil mati tadi. Terlambat. Sudah tidak ada lagi waktu yang tersisa untuk bicara, dan aku sedang tidak baik-baik saja.   ''Terluka tidak hanya mengeluarkan darah, tapi juga air mata. Kamu sudah melanggar perintah, harus dihukum.''   Aku hanya diam, memandangi pintu, tidak peduli dengan ucapan pria tadi. Terserah saja apa yang mau dia lakukan.  Bukankah semuanya sudah terasa seperti hukuman bagiku sekarang? Aku bahkan tidak mengerti kesalahan apa  yang sudah kulakukan, tambahan satu lagi darinya  tidak akan berpengaruh apapun. Sama saja. Aku sudah mati.   ''A~apa yang … '' Aku menyingkapkan selimut yang menutupi badan, mataku tebelalak saat melihat sesuatu yang bergerak-gerak merah merayap sudah memenuhi separuh tubuh. ''Ular!'' teriakku keras  melompat turun dari kasur.   ''Allena! Sayang! Apa yang terjadi? Buka pintunya!'' Teriakan Mama dari balik pintu terdengar panik. Kenapa Mama tidak bisa masuk? Bukankah pintunya tidak dikunci? Selama ini aku juga tidak pernah melakukannya.   Rasa takut semakin memuncak saat ular-ular merah kecil itu juga ikut  merayap turun mendekat, berhenti tepat di hadapanku, lalu tiba-tiba saja berubah menjadi seeokor ular besar merah menyala sedang berdiri yang bahkan lebih tinggi dariku.   ''Mama! Tolongin Allena!''     ''Allena! Apa yang terjadi di dalam sana! Allena!'' Kali ini pintu seperti dipukul dengan keras, mengiriingi teriakan Mama yang terdengar semakin panik.   Ular  besar itu mendekat lagi, matanya merah menyala bercahaya melebihi warna tubuhnya menatapku seolah mangsa lezat  yang akan segera masuk ke dalam perut panjang meliuk itu. Mengerikan. Apa kegagalan mati pertama agar supaya aku bisa menjadi cemilan sore hari makhluk ini?  Astaga … mati dengan meninggalkan tubuh untuk dikenang mungkin lebih terlihat keren, daripada harus hilang dan berakhir menjadi kotoran dari perut makhluk monster ini.     Prang!   Tanpa sengaja aku menjatuhkan vas bunga  di atas nakas, pecahan kristal beserta bunga mawar segar kesayangan  sekarang berserakan di lantai masih terlihat basah. Aku tersudut. Kamar dengan luas bahkan lebih besar dari ruangan di kampus tempatku belajar ini terasa sangat sempit sekarang. Apa yang harus kulakukan? Apa aku sungguh akan mati sekarang?                                                    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN