Brak!
Suara keras setelah beberapa kali dobrakan berhasil membuat daun pintu terbuka lebar, memunculkan Mike, beberapa orang pelayan, kemudian Mama dan Papa yang berdiri dengan wajah yang sama-sama melihat ke arahku.
''Allena! Sayang!'' Mama berteriak keras seperti ingin berlari mendekat padaku, tapi tangan Papa yang berada di samping membuat langkah Mama terhenti.
''Mama! Tolong Allena!'' Aku berteriak semakin ketakutan, terduduk di lantai, sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Ular merah besar yang hanya berjarak dua meter di hadapanku ini sungguh sangat mengerikan.
''Tuan … lepaskanlah putri kami, kasihanilah dia, janganlah anda menyiksanya seperti ini.'' Papa melihat pria asing yang dari tadi masih berada di tempat yang sama –- duduk di kursi dekat kasurku itu dengan wajah memohon, kedua telapak tangan disatukan diletakkan di dadanya. ''Tuan, tolong kasihani putri kami, jauhkan Shira darinya,'' tambah Mama kemudian yang juga melakukan hal yang sama.
Tuan? Kenapa Mama dan Papa memanggil orang itu dengan sebutan Tuan? Selama ini tidak pernah sekalipun dua orang yang kutahu paling mempunyai kedudukan tertingi di mana-mana itu menghambakan diri kepada orang lain. Siapa orang itu? Lalu siapa Shira? Maksud Mama ular ini?
Pria itu hanya diam, masih dengan wajah datar melihat Mama dan Papa. Aku mulai membenci wajah itu. Sombong. Siapapun dia, aku yakin dia bukanlah orang yang baik. Tidak ada satupun orang yang kukenal selama ini hanya diam saja tidak merespon permohonan seseorang, apalagi diirngi dengan air mata seperti yang Mama lakukan.
''Menjauhlah!'' Aku kembali berteriak saat ular merah itu tiba-tiba saja mendekat, hembusan napas baunya bahkan sudah terasa di wajahku. Sekilas aku melihat mata merahnya seakan sedang mengancam menatapku lebih parah dari tadi. Apa yang terjadi? Apakah dia marah karna aku sudah memaki tuannya?
''Tuan, hamba mohon …'' lirih Mama yang saat ini tidak bisa lagi terlihat olehku. Ular ini terlalu dekat, menutup wajah dengan kedua telapak tangan bahkan belum cukup menghilangkan ketakutanku yang semakin bertambah.
''Shira, tenanglah.'' Ini terdengar seperti suara pria sombong itu, nadanya datar dan terkesan dingin. Anehnya, beberapa saat kemudian aku merasa Si napas bau itu sudah menjauh, dan itu benar. Saat kuturunkan telapak tangan, ular itu sudah tidak sedekat tadi.
''Kalian berdua juga sudah melanggar perjanjian, harus dihukum.'' Suara datar itu terdengar lagi, tapi kali ini lebih dingin.
''Ma~maaf, Tuan. Apa yang anda maksudkan?'' tanya Papa kelihatan gugup masih dengan sikap yang sama seperti tadi. Menghambakan diri.
Sebenarnya apa yang terjadi antara Papa dan pria itu? Perjanjian apa? Mama juga bahkan sudah tahu nama ular bau ini. Sebenarnya apa yang sudah terjadi di antara mereka? Apa hanya aku yang terlihat seperti korban di sini tanpa tahu apa-apa? Situasinya jadi membingungkan.
''Shira, semua pengkhianat adalah milikmu. Bersenang-senanglah.''
Setelah mendengar ucapan pria dingin itu, tiba-tiba saja tubuh Shira berubah menjadi ular-ular kecil seperti yang pertama kali kulihat. Sebagian dari mereka merayap cepat ke arah Mama dan Papa, berkumpul di depannya, lalu berubah menjadi Shira baru di sana. Sekaranag ada dua ular besar merah mengerikan di kamar ini, dan keduanya sama-sama terlihat tidak ramah.
''Tu~tuan, ampuni kami. Kami sungguh tidak mengerti dengan apa yang anda bicarakan.'' Papa semakin terlihat ketakutan, Mama memeluknya. Sepertinya lebih ketakutan dariku. Itu wajar Shira yang di sana terus saja mendekat ke arah mereka dengan mulut yang terbuka. Itu lebih menakutkan dari yang hanya diam menatap di depanku.
''Mama!'' Aku berteriak keras untuk kesekian kalinya saat ular itu tiba-tiba saja melingkarkan tubuhnya di tubuh ramping Mama, setelah sebelumnya berhasil melepaskan pelukan Papa darinya. Aku ingin ke sana, tapi Shira yang di sini terihat tidak mengijinkan.
''Pa~pa …'' lirih Mama terlihat sangat kesakitan, Shira pasti tidak hanya sekedar ingin memeluk tubuhnya.
''Tuan … hamba mohon, lepaskan Helen. Hamba benar-benar tidak mengerti kesalahan apa yang sudah kami lakukan. Kasihanilah kami …'' Kali ini Papa sampai berlutut, memohon kepada pria asing itu dengan wajah yang terlihat sangat panik. Aku seperti tidak mengenal Papa sekarang.
''Alexander, kamu sudah dua kali mengghilangkan putrimu sebelum menyerahkannya padaku.''
''Apa maksud anda, Tuan? Putriku ada di sana. Allena. Dia tidak hilang seperti yang anda katakan.''
Apa maksud ucapan Papa? Pria itu tadi menuduh Papa sudah menghilangkan kedua putri yang seharusnya diserahkan padanya? Sebenarnya pembicaraan apa yang sedang kudengar? Namaku di sebut, tapi aku sama sekali tidak mengerti situasinya.
Eh, tapi tunggu dulu! Perjanjian, menyerahkan, situasi, sikap Papa … apa jangan-jangan pria sombong ini adalah … Xavier? Penyihir yang sudah menanamkan kutukan agar aku mau menikah dengannya? Dia … adaah orangnya?
Jantungku yang sudah tidak stabil dari tadi terasa semakin menjadi-jadi sekarang. Ada perasaan baru yang terasa di tengah rasa takut berubah menjadi kotoran dari perut Shira. Marah? Benci? Mungkin dua rasa itulah yang lebih besar sedang kurasakan. Pria yang terlihat tidak punya hati sedang duduk di sana itu adalah sumber penyebabnya. Dia adalah sumber masalah. Orang itu sudah merusak segalanya.
''Xavier! Kamu kejam! Tidak punya perasaan! Angkuh! Sombong! Aku tidak akan pernah sudi untuk menjadi istrimu! Pria jahat sepertimu bahkan tidak pantas untuk menikah dengan wanita manapun di dunia ini!'' Aku berteriak keras meluapkan segala hal yang kurasakan sambil menatap tajam pada pria yang mungkin bernama Xavier itu. Aku tidak peduli jika makian ini akan membuat Shira kembali marah dan menelanku. Dia harus mendegar semuanya, makian panjang yang bahkan belum pernah kusampaikan pada siapa pun selama ini.
Hening. Tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari lisan semua orang yang ada di kamar ini. Semuanya diam, memperhatikanku dengan tatapan yang sama, kecuali Xavier. Pria sombong itu masih saja bertahan dengan wajah datarnya yang menyebalkan, seakan semua makianku tadi tidak didengar olehnya. Itu membuatku yakin bahwa semua kalimat tadi itu memang benar. Dia tidak punya perasaaan.
''A~Allena …'' Kata pertama yang terdengar diucapkan oleh Papa memecah keheningan, dari tatapanya bisa kupastikkan kalau ia sangat terkejut dengan sikapku tadi. Aku juga. Ini adalah kali pertama.
''Apakah kalimat seperti itu yang diajarkan Alexander untuk menyampaikan ucapan terimakasih, kepada seseorang yang sudah dua kali menyelamatkan nyawamu?'' Xavier melihatku dengan manik bola hitam itu lagi. Terlihat datar, tapi seperti sorotan tajam meminta penjelasan.
''Tidak.'' Aku balik menatapnya serius penuh keyakinan. ''Kalimat itu hanya khusus kurangkai sendiri untuk orang sepertimu.''
''Akh!'' Mama berteriak keras, tubuh besar Shira yang membelitnya terlihat bergerak seperti mempererat cengkraman. Menyebalkan! Aku lupa kalau Mama sedang dalam pelukan ular itu sekarang.