keputusan

1008 Kata
''Sayang! Bertahanlah …'' Papa  berdiri mendekati Mama dengan wajah panik, melihatku sebentar, lalu kembali berlutut di hadapan Xavier. ''Tuan … tolong lepaskanlah Helen. Kasihanilah kami …''   Aku terdiam, baru menyadari situasinya semakin sulit akibat perbuatanku tadi. Ada rasa bersalah melihat Mama yang semakin terlihat kesakitan. Papa yang kembali merendahkan diri memohon juga menimbulkan rasa sakit  di dalam sana. Xavier, dia benar-benar licik! Pasti dia tahu aku sudah tidak takut mati ditelan Shira, makanya  dia  melakukan hal itu pada Mama.   ''Lepaskan Mama!''   ''Dia tidak bisa mengajarkanmu  etika yang baik, juga sudah membiarkanmu hampir mati. Helen Alexander harus dihukum,'' jawab Xavier melihatku.   ''Hampir mati? Apa maksud anda, Tuan?''   Xavier diam saja tidak menjawab pertanyaan Papa. Dia hanya melihat Papa sebentar, lalu kembali melihatku seakan memberi isyarat  jawaban pertanyaan Papa ada padaku   Diam, menunduk, hanya itu yang bisa kulakukan saat mata Papa menatap meminta penjelasan. Aku sungguh tidak menyangka semuanya malah akan menjadi seperti ini. Aku hanya ingin mengakhiri semua yang jelas-jelas sudah berakhir. Hanya itu..Apa keputusan itu adalah sebuah kesalahan?   Kenapa semuanya malah terasa semakin sulit? Aku merasa takdir seakan semakin membenci dengan terus memberikan hukuman tanpa akhir. Apakah ini  bayaran dari hidup sempurna yang dulu sudah kudapatkan? Apakah memang seperti ini kehidupan yang sebenarnya? Tidak akan berakhir sebelum semuanya seimbang antara kebahagian dan penderitaaan?   Ya, sekarang aku baru sadar semuanya tidak bisa berakhir begitu saja.  Kesempurnaan kebahagian harus dibalas impas dengan penderitaan yang juga sempurna. Keinginan untuk mengakhiri tadi ternyata adalah awal pembayaran yang harus kulakukan, dan kedatangan Xavier adalah cicilan pelunasannya.   Mama kembali berteriak. Shira sepertinya serius akan meremukkan tulang-tulang wanita  ramping itu  sebelum ditelan,  menambah rasa sakit kepada korban seperti yang diperintahkan oleh tuannya. Aku sunguh tidak sanggup melihat ini. Mama adalah Mama. Aku masih sangat menyayanginya, walaupun mungkin seorang Nyonya Helen Alexander sudah membenci  Allena Kirana Alexander terkutuk ini sekarang.   ''A~aku akan mengikuti apa yang kamu inginkan.''    Xavier tersenyum tipis terlihat licik menatapku. ''Aku adalah seorang yang jahat, angkuh, tidak punya perasaan, dan tidak pantas menikah dengan wanita manapun di dunia ini. Kamu yakin?''   Aku terdiam, merasa tertampar dengan makian sendiri. Xavier, dia benar-benar licik! Andai bukan karna Mama, pasti sudah kumaki lagi dia melebihi yang tadi. Ntah kenapa melihat wajah datarnya yang angkuh itu selalu bisa menimbulkan kosakata baru yang tidak pernah kugunakan sebelumnya. Aku tidak mau  menjawabnya. Dia pasti sengaja menyindir tadi.   ''Shira, waktu bersenang-senang sudah habis. Akhiri hidup Helen Alexander sekarang,''   Teriakan menggema dariku dan Papa  seketika terdengar saat tiba-tiba saja Shira  berubah  menjadi lebih besar, lalu memasukkan Mama ke dalam mulutnya. Tangisku pecah, bulir bening  itu kembali tumpah melihat pemandangan mengerikan  yang sedang terjadi di depan sana. Perlahan tubuh Mama masuk ke dalam tubuh sekor ular besar merah yang mengerikan, tinggal separuh, hingga tak tersisa. Habis.   Hening, tidak ada lagi kata yang mampu kuucapkan sekarang. Semua orang yang ada di ruangann ini juga sama. Mama sudah … ini salahku. Aku yang sudah berteriak memaki Xavier, membuatnya marah sampai tersinggung, sehingga pria angkuh jahat itu melampiaskannya pada Mama.   Degh! Jantungku sekan berhenti berdetak, mataku melebar, menyadari saat tiba-tiba saja pria angkuh yang sebelumnya terlihat sedang duduk di sana sekarang sedang berjongkok di sampingku. Manik mata hitam seorang iblis tidak punya hati sedang menatapku tanpa rasa bersalah ssedikitpun. ''''Shira benar-benar akan melakukan hal itu kepada Helen Alexander, jika kamu terus saja membuatku menunggu jawaban tadi lebih lama,'' bisiknya kemudian yang  seketika langsung menimbulkan getaran aneh di sekujur tubuh.   ''Apa maksudmu? Bukankah Mama sudah …'' Belum sempat aku menyelesaikan kalimat dan rencana untuk memakinya, Xavier memberi isyarat agar kembali melihat ke depan. ''Mama!''  Aku berteriak lagi saat melihat wanita dengan gaun merah maroon yang paling kusayangi itu sekarang masih berada di dalam belitan Shira. Masih utuh, walaupun masih terlihat kesakitan.   Apa yang terjadi? Bukankah tadi Shira sudah menelannya? Aku melihat dengan jelas proses mengerikan itu sampai tubuh Mama habis tak tersisa, berpindah ke dalam perut ular yang terlihat menggembung. Lalu, kenapa sekarang Mama masih … apa semua yang kulihat tadi adalah mimpi? Atau jangan-jangan itu adalah … sihir?                          Harusnya aku sudah sadar kalau semua yang terjadi memang sudah tidak biasa dari awal. Pria asing yang tiba-tiba datang yang katanya mengusir dewa kematianku ini adah Xavier. Seorang penyihir yang kekeuatannya sudah menjadi legenda. Mempunyai monster peliharaan seperti Shira dan menciptakan ilusi seperi yang tadi kulihat pasti hanya sebagian kecil dari kekuatan luar biasa yang selau dielukan pemujanya.   ''Bagaimana jawabanmu?'' Xaver kembali bertanya, membuatku tersentak dari lamunan.   ''A ~ aku yakin ingin mengikuti semua keinginanmu, tapi beberapa hal mungkin harus didiskusikan terlebih dahulu,'' jawabku sedikit gugup tanpa melihatnya. Jarak kami terlampau dekat, dan apa yang tadi sempat terlihat sudah sangat cukup membuatku mengerti dengan siapa berurusan sekarang. Semoga dengan memberikan garansi dari keputusan ini bisa memperkecil resko yang mungkin terjadi nanti   '''Diskusi?''   Aku mengangguk, masih tidak mau melihatnya. ''Butuh pertimbangan sebelum melakukan sesuatu yang mungkin tidak ingin dilakukan.''   ''Kamu sudah berniat menjadi pengkhianat bahkan sebelum menyetujuinya?''   Degh! Kenapa dia bisa tahu apa yang sedang kurencanakan? Apa seseorang yang berhati jahat memang begitu mudah mengetahui niat tidak baik seseorang? Pria ini sungguh mengerikan, berurusan dengannya butuh kehati-hatian yang sangat tinggi. ''Tentu saja tidak,'' ucapku berusaha setenang mungkin agar terlihat lebih meyakinkan.   ''Baiklah, seseorang pernah mengatakan kalau  berdiskusi beberapa hal dengan wanita yang akan menjadi teman tidur pasti cukup menyenangkan. Aku setuju.'' Xavier bangkit dari jongkoknya, berjalan meninggakanku setelah sebelumnya tersenyum aneh.     Apa yang tadi  pria jahat itu  katakan? Te~teman tidur? Tubuhku tiba-tiba saja gemetar, rasa merinding pun ikut terasa saat mendegar kata yang belum pernah kudengar sebelumnya. Apalagi kata tidak pantas itu keluar dari lisan seorang pria asing jahat nan angkuh yang sedang mengancamku dengan seekor ular besar. Itu tidak wajar!   ''Shira, tugasmu sudah selesai. Kembalilah,'' tambah Xavier ketika melewati ular besar yang membelit Mama tanpa melihatnya.   Seakan seekor monster jinak yang sangat takut pada tuannya, Shira langsung melepaskan tubuh Mama yang sudah terkulai lemas dan langsung disambut oleh Papa,  berubah menjadi ular-ular kecil, bergabung menjadi satu dengan sekelompok besar di hadapanku, lalu menghilang begitu saja setelah cahaya merah menyilaukaan memenuhi tubuh mereka. Lenyap tak bersisa.   Aku berharrap hilangnya Shira bukanlah bagian dari permainan sihir Xavier seperti tadi.                        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN