''Aku juga harus pergi,'' ucap Xavier yang sekarang sudah berdiri di depan pintu balkon membelakangi kami. Ntah sejak kapan pintu itu terbuka. Aku tidak ingat, karna memang tidak pernah melakukannya. Kami semua hanya diam, tidak merespon. Tidak ada yang mau, atau mungkin berani mengatakan apapun untuk menyambut ucapan selamat tinggal dari pria jahat itu. Kalaupun ada, pasti hanya kalimat makian untuk mengusirnya yang akan keluar, dan itu pasti mempunyai resiko yang besar yang tidak sebanding dengan kepuasan hati yang didapatkan. Aku sudah mengalaminya tadi. ''Aku akan bekunjung nanti.'' Xavier berbalik, menyapu kami semua dengan dengan wajah datar yang justru telihat mengerikan. ''Saat itu aku tidak ingin betemu dengan pengkhianat, karna mungkin tidak akan ada lagi diskusi tentang

