Bang Franz memang tipikal lelaki yang enggan mengalah dan pantang menyerah.
Selama ia merasa benar, ia akan tetap kekeuh, teguh dengan pendiriannya. Senantiasa mempertahankan argumennya. Maka dari itu, kendati aku dan dirinya kerap berdebat soal apapun, aku lebih memilih memposisikan diri bak mahasiswi yang sedang mendengarkan penjelasan seorang dosen, ketimbang capek meladeninya.
Rebahan sambil menikmati pijatan refleksi oleh jemari lembut hairstylist memang menenangkan hati. Shampo, ditambah elemen vitamin dan dinginnya air shower yang merambati seluruh partikel rambut dan sel pori-pori makin mengademkan isi kepala. Jiwaku serasa berkelana, di mana ingatanku melanglang buana. Mengembara menikam gundah gulana.
Dulu, Bang Franz pernah mengalami gegar otak. Tulang belikatnya retak, senasib dengan pinggul, dan tulang rusuknya yang nyaris patah akibat musibah kecelakaan lalu lintas. Porche-nya terhantam bumper truk tronton dari belakang sewaktu melaju di jalan TOL. Alhasil, sedan sportnya ringsek. Rusak berat. Untung saja, air bag-nya berfungsi normal. Kendati fatal, ia masih sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Meskipun saat itu kondisinya cukup parah, namun ia pantang menyerah. Ia tetap menyelesaikan studi kedokterannya di Friedrich Alexander Universitat Erlangen-Nurnberg, Jerman. Perjuangan dan kegigihannya mengingatkanku akan sosok almarhumah nenek yang sangat kucintai.
My grandma--Siti Rodiah, is a slut, or in other words a f*****g prostitute. l***e. Yup! p*****r!
Pelacur yang karib dengan berbagai ukuran belut listrik!
Edan memang! Bagaimana tidak? Pertengahan tahun 1946, Mayor Jenderal Moestopo pernah membentuk sebuah pasukan yang dilibatkan dalam 'psywar' (perang psikologi). Suicide squad tersebut terdiri dari barisan para maling, copet, dan p*****r/WTS (w****************a) yang sebagian besar diambil dari Yogyakarta, Surabaya, dan Gresik.
Kebetulan ketika itu nenekku memang berdomisili di Jogja, ikut dengan mucikarinya. Ia terpaksa masuk ke dalam lembah hitam dan melakoni dunia perselangkangan nan b***t itu oleh sebab kebutuhan hidup. Saat itu kondisi perekonomian memang carut marut. Tak berselang lama, para b******n beserta sekumpulan pelaku dunia hitam yang direkrut kemudian diajari keterampilan, kedisiplinan, dan tentu saja ilmu perang.
Tak tanggung-tanggung, Moestopo mengangkat para instruktur militer untuk membimbing langsung para pencopet, maling dan WTS tersebut. Salah satunya adalah Kolonel T.B. Simatupang. Hari demi hari pun berlalu. At last, Moestopo dipindahkan ke front terdepan di Subang, Jawa Barat. Bersamanya ikut pasukan TERATE (Tentara Rahasia Tertinggi) yang terdiri dari dua unit : BM (Barisan Maling) dan BWP (Barisan Wanita p*****r) yang berjumlah sekitar 200 orang. Mereka kemudian ditugaskan menyebar di kota Bandung. Pasukan TERATE berhasil menjalankan misi 'psywar' mereka, di mana BM banyak sekali membawa persenjataan dan pakaian ke markas TNI. Bahkan, kerap membawa bendera tiga warna dari depan markas Belanda. Sedangkan BWP--para bunga ranjang tersebut, including my grandma berhasil membawa banyak informasi pasukan Belanda dari 'cinta satu malamnya'. Mereka memang terdiri dari para pemberani. Sungguh bernyali.
Namun, lambat laun kedisiplinan mereka mulai lumer. Alih-alih mengacaukan keamanan wilayah pendudukan musuh dan melemahkan moril tentara Belanda, kehadiran BM (Barisan Maling) dan BWP (Barisan Wanita p*****r) justru berimbas negatif ke basis para gerilyawan. Penyakit kotor/penyakit kelamin/penyakit seks menular banyak menjangkiti pasukan gerilyawan akibat menjalin kasih dengan BWP, sedangkan BM tak lagi selektif dalam menjalankan operasinya. Tidak cukup puas beroperasi menjalankan misi di wilayah pendudukan, wilayah rakyat dan basis gerilyawan sendiri pun mereka sikat! Bahkan, Mayjend. Moestopo sempat kehilangan satu koper pakaiannya. Lantas, siapa lagi kalau bukan salah satu pasukan BM pelakunya? Logis, bukan?
Akhirnya, beberapa waktu sejak kejadian itu, Moestopo memutuskan untuk menarik kedua unit andalannya tersebut dari front dan membubarkannya. Maka, sejak saat itu, berakhirlah kiprah para maling, copet, dan WTS dalam revolusi.
Kendati demikian, andil para milisi BM dan BWP di masa silam yang tragis dan kelam tetap terkenang. Jasanya takkan pernah terlupakan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Mamaku menceritakan hal tersebut padaku sejak kududuk di bangku sekolah dasar hingga kuberanjak dewasa. Gila memang. However, well ... that's life. Like it or not, aku memang keturunan seorang p*****r.
-BERSAMBUNG-