ARROW GUN (Part One)

597 Kata
Sewangi aroma kopi yang masih mengendap di kepala, memory itu belum jua raib pun sirna. Tak ada angin, tiada hujan, suamiku--Franz, tumben ... tengah asik memainkan stetoskop di dadanya yang sialan mantap! Hadeeuh ... napa dia make jas dokter tanpa kemeja daleman, sih? Ckckck .... "Lagi ngapain, Bang? Koq, meriksa jantung sendiri?" tanyaku, nyaris tersedak lantaran dadanya yang bidang dan perut six pack-nya itu memang sebelas dua belas dengan roti sobek. "Adudududu ...," batinku, ngilu-ngilu sedap. "Ngga ... cuma ...," balasnya datar, tanpa ekspresi. Dahiku sedikit mengernyit. "Cuma apa?" "Cuma ingin meriksa. Ternyata ... jantungku masih bergetar hebat dan selalu menyebut namamu." Jantungku auto bergetar hebat mendengar penuturannya. Serasa digedor-gedor bocah bangor. "Anyiiing ... sa ae, dokter sinting satu enih!" batinku dalam hati seraya cengengesan en nyaris saja air terjun tumpah ruah alias ingus meler dari kedua lubang hidung lucknutku. Hihii .... . . . My friend called me Karin. Yup. Namaku Karina Zubaedah binti Rohim. Gadis asli Betawi, berhidung mancung dikit, yang brojol dan numpang beol di Jakarta. After a haircut, kemudian rambutku direbonding dan di-highlite di sebuah salon terkemuka lantai 7 di salah satu mall ternama, now it's time ... rambutku dikeramas dan dibilas. Hmmm ... sungguh, nikmat bukan kepalang tatkala rambut sebahuku dibasuh dengan pancuran shower yang sungguh menyejukkan ubun-ubun. Pijatan lembut hairstylist pada rambutku melarungkan sampan kenangan itu. Masih kental dalam memoryku sewaktu Bang Franz berceloteh soal cinta. Ia bilang ketika kita jatuh cinta, tubuh akan memproduksi banyak hormon endorfin yang dapat menurunkan hormon stres yang disebut kortisol. Salah satu efeknya pun bisa mencegah munculnya jerawat dan membuat wajah jadi tampak lebih cerah. Ah, aku rada skeptis soal itu. Buktinya, walaupun tiap kali kumemandang wajahnya, bahkan hati kecil ini jatuh ribuan kali padanya, tetap saja jerawat mungil sialan itu kerap muncul. Bermukim tak jauh dari hidung, pipi, pun keningku. Huh! Sial! "Kau tahu, Karin?" "Apa?" kataku ketus. "Jatuh cinta juga bisa meningkatkan kekebalan tubuh, lho!" seloroh Bang Franz. "Hilih!" batinku blas tak percaya. "Kamsud?" tanyaku sambil mencari harta karun di lubang hidungku. "Jadi gini, Karin ... pasangan yang gak fakir asrama eh fakir asmara ... hehe ... or in other words 'sedang dimabuk asmara', kondisinya akan jauh lebih sehat dan gak gampang jatuh sakit," timpalnya ketika itu sambil menyeruput secangkir espresso hangatnya. "Koq, bisa?" tanyaku penasaran. "Hehe ... Karin ... Karin ... itu bisa terjadi kalau pasangan yang saling jatuh cinta itu saling support dan menyemangati untuk menjaga pola hidup sehat, serta rutin berolahraga bersama." Aku pun manggut-manggut sambil sesekali menyesap secangkir ice green tea matcha latteku. "And then? Anything else?" ujarku. Senyuman menawannya kian mengembang sialan. "Jatuh cinta juga ampuh dalam menurunkan tekanan darah." "What? Ciyuss?" Kedua mataku rada membelalak. "Hu'um. Pasangan dalam pernikahan bahagia memiliki tekanan darah yang lebih rendah dibandingkan individu yang jomblo alias yang masih berstatus lajang." "Hmm ... I see," kataku dengan mimik rada cengok. "Jadi ... perasaan bahagia saat jatuh cinta bisa menjaga kestabilan tekanan darah. Well, begitulah. Bahkan juga sanggup dalam mempercepat pemulihan. For examples, jika terdapat luka, itu bisa lebih cepat sembuh pada pasangan yang memiliki hubungan yang stabil dan saling mencintai." Jujur, aku berdecak kagum mendengar penuturannya. Ia pun menegaskan, "Sedangkan pada pasangan yang punya hubungan buruk, lukanya butuh waktu lebih lama untuk sembuh. Hal ini bisa disebabkan karena cytokine yang diproduksi seseorang saat sedang ditimpa duka lara, merasa sedih atau tatkala kesepian melanda. Seseorang ataupun pasangan yang sedang jatuh cinta dan bahagia, kandungan cytokine-nya lebih rendah, sehingga bisa mempercepat proses pemulihan atau penyembuhan luka." "Sue bener, nih, orang! Pantas saja dia menjadi dokter dalam usia yang masih terbilang muda," sahutku dalam hati. -BERSAMBUNG-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN