Night With You

1051 Kata
Bab.11 Night with you ***  Malam bertabur bintang kini bagai permadani indah digalaksi alam semesta, rasi bintang begitu terang, meski dingin menusuk kulit bagai jarum, Yoga memberikan jaket untuk selly tapi selly menolaknya, hingga dpakaikan oleh selvi dan baru menurut. " Maaf merepotkan kalian..." " Ngak bakal nyangka kan kalau elo ngak kabur, kita hiking digunung. Mana dibeliin baju sama, yoga." " Elo tuh, harusnya bersyukur punya Temen baru kayak Tito, Andi , Jerry, dan Yoga. Meski elo anak baru yang nyebelin. Tapi elo beruntung. Mereka bela-belain kesini hanya demi elo." Tito menggeleng. " Ck.ck..., bukan buat elo, Sell... tapi buat, yoga." Celetuknya jujur. Selly melemparkan senyuman pada Tito. " Thanks ya.." Ucapnya hangat. Bang Jody hanya diam dan membuat kopi yang hangat untuk dirinya minum. Disusul Tito yang keppo dan tidak kalah untuk membuat kopi dan menghangatkan tubuhnya. " Bang, sering kesini juga..." Tito basa-basi. Bang Jody mengangguk dan tidak banyak bicara ia hanya diam dan menyeruput kopi hitam miliknya. Semua diam didepan api unggun dan mengghangatkan diri. Selly diam dan tidak banyak bicara. Ia masih diam dan malu. Selvi kembali membuka percakapan. " Pulang kerumah, gue gak tahan disalahin sama tente Novi terus." Ucap Selvi kesal. " Maaf..., gue tau kok. Ini bakal nyusahain semua orang." Ucapnya. Selvi mengangguk. " Kasian Yoga..., dia rela korbanain semuanya demi elo, Sell...'' Selly Diam dan hanya memeluk kedua lututnya. " Ada perasaan aneh hinggap dihati gue, selvi. Entah ada apa dengan, yoga. Hingga dhio mengangguk agar aku mau memberikan harapan untuknya. Seolah ia meminta aku untuk bahagia." ucap selly spontan. " Baguslah, dhio... gak lagi hantuin elo. Dan itu yang membuatnya damai." Cetus Selvi. Selly diam lalu memandangi langit. Tiba- tiba yoga datang duduk mensejajarkan dengan selly, membuat selvi angkat kaki seketika, ketika Jerry memberinya Isyarat untuk dekat dengan dirinya. Dan berdesis " Sini, sini..." desis Jerry. Selvi mengendap-endap pergi tanpa sepengetahuan Selly dan bertukar posisi dengan Yoga. Selly meliriknya. Lalu diam dan hening. " Kenapa enggak hubungin gue ..." Yoga membuka pembicaraanya " Makasih ya.." Selly menerobos matanya dan berkaca-kaca. " Makasih udah sejauh ini nyari gue.." tatap selly pada bola mata Yoga tanpa basa- basi. Ia merasa bersalah. " Sell..gue..." terputus karena, tangan yoga digenggam oleh selly seketika. Yoga diam membeku dan gemetaran. Ini untuk pertama kalinya ia digenggam langsung oleh selly. Ritme jantungnya berubah drastic menjadi super kencang tak beraturan. " Maafin..., sifat gue selama ini." sesalnya Yoga diam dan wajahnya merah. ia masih memaku memandangi wajah selly dengan senyumnya. Tito saling jitak- jitakan sama Andi, soalnya ia enggak bisa jitak kepala bang jody, jadi Andi lah sasarannya. Bang jody melihatnya dan senyum mengacungkan kopi kearah mata Selly yang melihat ia sedang dipandangi oleh beberapa mata. Tapi ia sangat santai tidak gemetaran malah ia senyum. Yoga diam tidak bersuara selain senyum sumringah dari mulutnya. " Gue khawatir elo. Sell, tiap hari elo jadi kebencian buat diri gue sendiri. Gue enggak seharusnya bawa elo lari dari rumah sakit dan biarin elo pergi ngendap endap keluar dari rumah elo. Begitu aja." Selly menggeleng. Masih menatap matanya. " Itu bukan salah elo..., maaf selama ini pasti nyokap gue datangin elo. Maaf..., gue enggak mau nyusahin lagi. Makasih udah bantu gue...tapi... mulai saat ini anggap gue enggak pernah ada dalam hidup elo." Pinta Selly. Senyum Yoga menyurut dan kembali diam. Ia mengernyit. Matanya tajam melihat mata Selly yang berkaca- kaca. " Apa karena gue mirip sama mantan elo yang udah dead?" Ia mendengus kesal, upaya jeripayah nya menemukan selly hanya ini balsannya. Begitu menyakitkan. ia kembali diam. " lo masih mencintai nya? masih, lo kenang tiap tahun digunung ini. Sekedar untuk menghirup edelweiss dan kembali pada hidup palsu elo..!!"Tegas yoga " Sell, Gue ngak kenal elo. Tapi dari bicara elo yang dingin elo sebenarnya butuh bahu orang lain, butuh seseorang yang bisa membuat elo nyaman, dan berbagi keluhan. Elo cuman anak 16 tahun. Jadi jangan berlagak elo dewasa dan kuat bisa tahan sendiri." Bentak Yoga. Selly diam dan hampir menjatuhkan air matanya. " Kalau Iya kenapa? gue enggak mau tragedy itu terulang lagi. Jadi jauhi gue..." pintanya. Yoga Reflaks menarik lengan Selly dan langsung mendekapnya. Satu menit Selly diam melihat matanya yang tajam lalu. Selly mendorongnya hingga jatuh. Yoga mengerang. Mencoba menarik lagi Selly tapi kini Selly malah menjatuhkannya ala jurus tae kwon do. " Jauhi gue..." Ucap selly singkat. Dengan ancaman dimatanya. Yoga menggeleng dengan jawaban pasti " Ngak. Elo butuh orang untuk bersandar. Please..., bisa enggak elo jadi cewe yang biasa, yang suka lelaki." Jelas Yoga. "Lo pikir, gue enggak normal? Hakh..., gue normal suka dengan jenis yang namanya cowo, tapi hati gue udah tertutup." Cetus Selly singkat. " Itu alasan kamu ajah. Sell !. Elo terlalu takut untuk memulainya." Lempar Yoga berusaha bangkit dan duduk menengadah melihat Selly dengan mantel yang ia belikan untuknya. " Jika memang gue takut..., terus. lo mau apa..." Tantangnya. " Gue bisa bahagian elo..." Jelas Yoga. " Elo juga nak 16 tahun. Jadi jangan pikir yang lainnya." Sembur Selly. " Setidaknya elo nyoba untuk buka hati." " Lo pikir gue takut untuk memulai, membuka hati gue, gue ngak takut. Untuk patah hati dan semacamnya. Yang gue takutin adalah sesuatu yang buruk akan menimpa orang yang pernah gue sayangi." " Ok, Jadi mulailah. Jadi pacar gue." Tembak Yoga. Selly diam lalu tersenyum. Senyum samar. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Yoga. " Elo...pacar gue.." Tanya Selly . " kalahin dulu gue dipertandingan nanti baru elo bisa jadi cowok gue..." ancamnya. Yoga nyengir. Dan menyanggupi Permintaan Selly. " DENGER GUE TEMEN-TEMEN..., INI TANTANGAN DARI SELLY. KALAU GUE BISA KALAHIN DI HUT SILIWANGI SEMINGGU LAGI, KATANYA DIA MAU JADI...PA_CAR_ GUE..." Teriak Yoga Yakin. Mereka bertepuk tangan tapi bang Jody malah menggeleng. Yoga menarik kembali lengan Selly kini Selly tidak menepisnya dan hanya melihat lengannya. " Jangan terlalu yakin..., elo bisa kalahin gue..." Ucap Selly. " Peduli setan! Itu alasan elo doang..., Sell" Ucap Yoga dan langsung melepaskan genggaman dirinya dan kembali pada api unggun didepan tenda miliknya bersama bang Jody. Malam menjadi Romantis ketika Si Andi meminjam gitar dari tenda sebelah mahasiswa dari Jakarta yang naik Gunung juga. Kini petikan gitarnya membuat melody indah yang ditujukan untuk mereka berdua. Selly senyum dan berusaha menikmati keindahan bersama. Mencuri pandangan melihat wajah Yoga yang mengingatkannya 4 tahun Lalu. Dhio memegang gitar dan menyanyikan lagu untuk dirinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN