Bab.10.
Edelweis
***
Abang Riko terkejut mendengar Selly naik gunung sendirian tanpa tim yang biasa mengantar dirinya keatas, Yoga menemuinya kali ini memberikan sejumlah uang yang lumayan banyak supaya, ketua PA itu mau mengantarnya naik ke puncak gunung. karena baru kali ini ia mau naik ke lereng yang dingin itu.
Yoga menyodorkan amplop berisi uang.
" Apa maksudnya ini..." Ia masih heran tujuan Yoga dan rekannya.
" Saya harus ketemu sama, Selly. Dua minggu lalu selly kabur dari rumah dan saya adalah orang yang membantu Selly melarikan diri dari rumahnya. Saya harus bertanggung jawab pada keluarganya, bang..." Yoga berusaha meyakinkan perkataan dirinya jujur dan tidak ada manipulasi.
Bang Rico mengernyit. Ia tidak bersedia dan kembali bangkit.
" Satu minggu ini saya masih harus menuntaskan pekerjaan saya di bengkel. Jadi... bukan saya tidak mau membantu menuntun jalan kegunung, hanya saja..., saya masih punya hutang untuk membereskan motor para langganan saya." Jelasnya.
" Tolonglah. Bang." Bujuk Andi.
Rico diam dan seperti pendiriannya semula ia tidak bersedia.
Mereka bangkit dan memohon didepan rumah paguyuban dan bengkel motor classic miliknya. Ia malah sibuk dengan motor yang sudah dibongkar olehnya dan ia kembali memperbaiki body dan mesinnya. tangannya penuh dengan oli yang hitam dan berminyak.
Yoga mendekatinya ia melihat bahwa bang riko memang tidak mengada - ngada ia tengah membenarkan motor langganannya. Yoga melemparkan tatapan serius padanya.
" Plis, bang. kali ini bantu saya."
Yoga memegang tangan roki, ia menahan beberapa menit menghentikan pekerjaannya.
" Saya tau sebenarnya ini urusan keluarga selly, yang harus menemukan dia, tapi waktu itu saya yang bawa kabur dari rumah sakit. Ibunya menyalahkan saya terus. atau kasih saya peta untuk sampai disana dengan aman bersama teman - teman."
Riko menatap wajahnya.
" Tolong...bang, saya harus menemukan selly segera dan membawanya pulang." Wajahnya sudah hampir putus asa, karena hanya bang Rico yang mengetahui tempat dimana selly berada.
Bang Rico diam saja dan tidak berhenti meninggalkan pekerjaanya yang sedang mengecat body motor.
" Tolong lah bang..." Pinta Yoga Sangat lewat matanya.
Genk yoga mereka hanya melihatnya dan diam dengan harapan bang rico mau membantu mereka. Bang Rico mengeluarkan ponsel miliknya disaku celana dan menelpon seseorang.
" lo bisa kesini gak? Jod...? Perlu yeuh bentar, aya job lah jang maneh." ucapnya ditelpon. Rico memandang mata mereka lalu menutup ponselnya cepat. " kadieu ayeuna, ulah poho."
Kembali ia memasukan kedalam saku celana.
" Duduklah..., nanti jody yang akan membimbing kalian kesana!" jelas Rico dan langsung kembali dengan peralatan bengkel miliknya.
Ia kembali menyibukan diri lagi dengan alat- alat bengkelnya. mereka senyum dan beristirahat menunggu jody.
__________
Setengah jam sudah dibuat menunggu oleh orang yang bernama jody. orang itu belum juga menampakan batang hidungnya. Ia tidak sabar dan hampir berpamitan pulang.
" kalau kita masih diam disini, kapan kita temukan selly. Kita pakai GPS atau google semacamnya cari tempat yang menurut elo hampir sama dengan poto dikotak Selly." Jelas Yoga kesal.
" Sabar...bro. kita tunggu saja." Pinta Jerry.
" tadi kan elo, udah mohon ma bang riko." desis selvy.
" ya, tunggu ajah. mungkin rumahnya jauh."
Yoga kesal dan menyepakan kaki menendang kerikil ke kolam. Terlihat jelas diperhatikan oleh bang Rico, ia mendekatinya.
ia memasang badan dihadapan yoga, membuatnya terpaku.
" Apa hubungan kamu dengan selly..." Tanya Rico tiba- tiba dan mengelap tangannya yang penuh dengan oli motor dengan lap yang kumel dan kotor, bercampur bau minyak tanah.
Yoga diam dan menatap tegas mata bang Rico.
" Saya bukan siapa- siapa..., Selly." tegasnya.
Bang rico hanya mengernyit.
" Oh.." kembali Rico melihat tingkah Yoga. " Kamu lebih mirip pacar Selly waktu dulu. Tapi sayang udah dead..., jadi mau apa kamu nyusul dia, lalu ingatkan dia kembali memori yang udah dikubur, selly selama bertahun-tahun." Jelasnya.
Perkataan itu seolah menusuk. Bagai mata pisau tajam dan ditusukan kena ulu hati Yoga.
" Ta...ta..pi..." ucap Yoga. " Tapi saya harus bawa pulang, selly."
" Anak itu sudah saya bilang untuk pulang setelah pergi ketempat dimana ia mengingat orang yang mirip kamu..., jadi berhentilah mencarinya. " Jelasnya menatap Langit yang masih cerah. " Selly...sudah saya anggap adik saya sendiri. Dari kecil ia anak yang manis dan tidak banyak bicara, semua kelemahanya tidak pernah ia tunjukan, kesedihan ataupun kemarahan, Tapi dengan cara ia bermain tae kwon do, dan mendaki gunung. Ada Rahasia yang ia lemparkan dan diperlihatkan. Saya hafal gadis kecil itu, ia tidak akan pernah berhenti latihan tae kwon do ketika ia marah, ia terus berlatih meski fisiknya terus melemah dan jatuh pingsan. Juga ia tidak akan menangis dihadapan orang lain karena itu adalah dimana ia merasa menjadi mahluk yang paling menyedihkan. Selly akan menangis ketika ia melihat puncak gunung dan berteriak, memanggil tuhan dan ingin ikut bersama Dhio..., coba hentikan kebiasaan gadis itu. Saya ingin anak itu menjadi gadis biasa, bukan gadis yang selalu menahan kelemahannya." Ucap Rico panjang
lebar.
Ia mendegus kesal Selly tidak menuruti ucapanya. " Sebetulnya saya khawatir dengan Selly, Kenapa saya bertanya kamu siapa? barangkali kalau kamu memang pacarnya, memang seharusnya menjaga Selly dan membawanya hingga pulang dan selamat. Ah, anak itu keras kepala." Ungkap Bang Rico.
Yoga Diam, dan langsung duduk dibangku. Ia membenamkan kepalanya.
" Eh..., elo jod, tolong elo anterin. Anak-anak ini ke gunung gede, pangrango. Lewat cibodas ajah. Rute singkat ke air terjun cibeureum." Jelas Rico.
Jody mengangguk.
" Upahnya berapa...?" Tanya Jody.
" Abang mau berapa? saya bayar." Balas yoga pamer kartu Kredit dan atm nya.
" Ck. Ah gue kira bukan bocah ingusan yang mau bayar gue. Taunya bocah yang kaya dan pamer penghasilan bokapnya." Celetuk Bang Jody simple. Kearah Rico dan cenegngesan.
Rico mengangguk dan kembali membewa beberapa peralatan untuk motor langganannya.
" Anak ini yang mau bayar gue...?" tanya jody ke mata rico. Yang hanya dibalas anggukan.
" Anak ini pacar Selly, antarkan dia ketempat Dimana kita selalu menemukan selly disana. Alun- alun mandalawangi. " Ucap Rico sambil menenteng pekakas miliknya.
" Ck..Ck..kalau ke alun-alun itu meskinya gak usah pake pendamping.!" Cetus Tito singkat.
Kilat langsung dijitak oleh Yoga.
" kita berangkat." Jelas Yoga.
Jody mengangguk dan pamit ala persahabatan pada Rico. Salam kepalan tinju dan tos mereka.
***
Tak terasa hampir dua jam dari bandung menuju cibodas, arah perjalanan masih padat merayap. Kini Jody mampir di basecamp untuk melapor pada petugas untuk mendaki ke puncak gunung pangrango. Ia memeriksa para pendaki, disitu ada tertera nama Selly Septiani. Ikut rombongan yang naik ke puncak gunung.
Tas yang mereka bawa diperiksa satu demi satu, salah seorang petugas menyita barang ditas Selvi. Ia menyita alat MCK untuk mandi. Selvi merengek.
" Pak kalau saya gosok gigi gak pake odol...,mulut saya bau dong." Rengeknya.
Bapak petugas itu hanya nyengir dan melihatkan daftar yang tidak boleh dibawa oleh pendaki.
Selvi cemberut.
Yang lain sudah naik keatas dengan Yoga yang seperti memiliki kekuatan yang super power untuk mendaki.
Jody hanya diam dan menyulut Rokok miliknya.
" Bukanya tidak boleh merokok..." Teriak selvi.
Jody nyengir kuda. Karena ia tadi menyelipkan dikaos kalki miliknya. " kalau apa- apa gak boleh yah...kali-kali kita langgar."
Ucapnya meledek Selvi kesel.
Yoga menaiki jalan yang berbatu dan melewati rawa, mereka berjalan sangat hati-hati. Beberapa pos pendakian dengan mode atap untuk istirahat dilewatinya karena ia tidak mau menunda-nunda waktu untuk menemukan Selly.
Kini berada dipertigaan antara lokasi air terjun cibeureum dan puncak gede, pertigaan yang menggiurkan untuk melihat air terjun yang indah, tapi kali ini Jody memberitahukan untuk tidak dulu kesana, dan melanjutkan perjalanan saja. Supaya nanti bisa istirahat di lokasi peristirahatan juga berlindung.
Selanjutnya melewati sumber air panas. Jalur pendakian ini cukup sulit dan licin, mereka harus ektra hati-hati supaya tidak terpeleset dan panas sumber air panas itu cukup mengerikan karena suhunya sekitar 70derajat celcius.
Mereka meringis ketakutan ketika melewati sumber air panas.
Tito mengendikan bahunya.
" Nih, telor bisa mateng.., atau mau nyeduh pop mie dulu bang..." teriak Tito. Meledek bang Jody dan Yoga yang serius.
Tito hanya mendapat tatapan tajam dari bang Jody.
Setelah melewati rute pendakian yang sulit kini tiba di jalan pendakian yang landai dan menurun, mereka berjalan mundur dan asik tanpa harus mendaki menghabiskan tenaga, kali ini mereka bisa menghemat energy dan bermain lompat-lompat ke-tas dan punggung.
Andi melompat bagai anak kecil kepunggung jerry. Tapi hasilnya mereka berdua jatuh dan mendapat erangan dan jitakan dari Jerry.
Selvi tertawa lebar. Terpingkal- pingkal.
Tito mendekati Selvi dan mendekatkan dirinya bersander dipundak Selvi, selvi langsung mendorong Tito Jatuh.
" Ih...iseng ajah..." bentak Selvi. Melihat Tito mencuri kesempatan dengan gaya centil ala alm budi handuk.
Kini mereka diam dipost kandang badak untuk mengisi air minum, karena dipos selanjutnya akan sulit mendapatkan air. Mereka semuanya minum dan membuka camilan dari tas selvi yang langsung diserbu oleh Tito, Andi dan direbut Jerry. Hasilnya Selvi manyun camilannya Raib semua, Dan makan jempol.
Bang Jody meminum suplemen dari Yoga, meminum bersama. Ia kembali meyulut rokoknya.
Bang Jody menjelaskan.
"Ada dua jalur untuk ke puncak gunung gede atau ke puncak gunung pangrango. Selly jelas pergi ke puncak gunung pangrango yang jaraknya lebih jauh satu jam dibanding kearah puncak gunung gede." Jelas Bang Jody.
" Gila...anak itu mendaki sendirian." Ledek Tito. " Serem..banget. gak ada takutmya apa tuh si Selly."
Tito merinding ketika memasuki hutan lebat. Suara burung Asri dan hembusan angin yang dingin meniupkan bulukunduk. Seolah memasuki kerajaan yang tidak dilihat oleh kasat mata.
Suara- suara aneh mulai menelisik dan menjadi mencekam. Bang Jody hanya memberitahukan dan berdesis.
" Jangan sompral, sikap santun lebih baik, atau diam saja..." desisnya ketika berjalan hati- hati selangkah demi selangkah melihat pepohonan besar dan lebat.
Ucapnya membuat merinding ketika melewati hutan lebat menuju puncak gunung Pangrango. Yoga sedikit mengigil ketika udara mulai dingin. Semua memeluk tangan masing- masing. Meski Jerry membuat kesempatan untuk memegang jemari selvi. Tapi selvi menepisnya. Kali ini.
Jerry menatapnya heran, ketika melihat kupluk warna putih dengan jaket tebal warna peach milik Selvi membuatnya begitu menarik perhatian. Ia memegang dadanya yang hampir meloncat.
" Angel..." desisnya kagum melihat wajah selvi berubah menjadi bidadari cantik yang baru ia sadari.
Kontak si Andi gorilla sun pipi jerry seketika. Ia mengecup kening Jerry pula. Membuatnya jerry jijik dan menjerit geli.
Tito cengengesan. Tertawa dibalik mantel tebalnya seperti orang Eskimo, ukuran jaketnya sangat tidak pas, semua ukurannya terlalu kebesaran den kepanjangan, karena tubuhnya sedikit cebol dan pendekar.( pendek dan kekar). Itulah julukan dari orang untuk Tito dan alasan lain kenapa semua cewek disekolah menolaknya.
Yoga nyegir kuda melihat mereka dibelakangnya tidak serius dan main- main.
Jody menghentikan Langkah kaki Yoga, ia mengernyit.
" Ada pacet di kaki elo..." Ucap Jody.
" Arghhh.....ah...ah...." Teriak Yoga ketakutan dan jijik
Yoga meloncat dan teriak geli dan jijik. Kembali." Arghhhh..To..tolong, bang...."
Mereka baru melihat bosnya yang kuat dan sangar itu ternyata takut pacet. Jody mengambil sakar rokok yang ada dimulutnya dengan rokok yang masih menyala.
" Bang...bang...kaki saya mau diapain? Jangan disulut bang..please." Pinta Yoga masih gemetaran dan ketakutan hingga keluar keringat dicuaca begitu dingin. Menghentikan bang Jody yang akan mengambil pacet di betis Yoga.
Ia masih jijik. Mengerang-ngerang jijik.
" Arghhhh......" Teriak Yoga.
Mereka melihat Yoga dan hampir tertawa, tapi Selvi ikutan jijik dan ketakutan, ia melihat seluruh kakinya memastikan tidak ada pacet yang menempel.
'Ikhhhh..." desis selvy.
Jody sudah melepaskan pacet itu dan melumatnya dengan sepatu miliknya. Ia tertawa samar, Yoga masih memejamkan matanya.
" Ayo.." Ucap Bang Jody menyadarkan Yoga untuk segera bergegas kembali. Meneruskan perjalanan untuk menuju puncak pangrango, sekitar satu jam lagi, mereka sudah sangat kedinginan ketika kabut tebal meneglilingi sekitar. Jody diam. Ia menyuruh mereka diam dulu agar tidak tersesat menyalakan api dari ranting berserakan yg kering untuk menghangatkan.
" Daripada kita tersesat lebih baik diam diri dulu untuk sejenak, isi dulu perut dan istirahat untuk segera sampai ke puncak." Jelasnya.
Mereka menurut, dan mengangguk. Hanya yoga terlihat sangat khawatir. Mengingat Selly seorang wanita mendaki sendirian tanpa ada teman dan cuaca begitu dingin dan tidak bersahabat. Seolah mau hujan. Terus terlintas dipikirannya.
" Tenang, Selly itu anak pintar, tadi dilihat dari list nya, ia ikut beberapa rombongan yang naik gunung." Ucap Bang Jody, meringankan rasa khawatir yoga. " Saya juga khawatir." Tambahnya.
Yoga ikut duduk lesehan memandang api unggun kecil menghangatkan tubuh mereka.
" Mau hujan...bang, " Ucap Andi melihat rintik menetes mengenai lenganya.
" Mau dilanjaut kembali, atau kalian mau makan dulu. Isi perut kalian sebelum bara apainya dipadamkan?" Tanya bang jody.
" Lanjut saja, nanti kita makan jika sudah sampai puncak. Bagaimana guys." Tanya Yoga.
Mereka semua mengangguk. Menyetujui usulan yoga, Lebih baik berjalan kembali supaya cepat sampai dari pada masih ditengah gunung lebat dan seram.
Jody mengangguk.
Mereka berjalan lebih cepat agar menemukan tempat peristirahatan, namun tak ada tempat untuk beristirahat selain secepatnya kembali meneruskan perjalanan.
" Pegel, banget!" ringris Selvy.
Selvi cemberut dan mengeluh kakinya pegal.
" Sama, mau gimana lagi inikan Hiking." Jelas Jerry mesra. " Atau mau aq gendong." rayu Jerry.
Selvy cemberut melihatkan bibirnya. Jerry kembali senyum manis pada Selvy yang disebutnya angel.
Semuanya hampir mengeluh kakinya terasa pegal, Tapi ini demi selly dan yoga mereka diam walau sebentar- sebentar diam dan duduk.
" Cepatlah..., nanti keburu hujan." Ucap bang Jody. Kini mereka menempelkan embelan menyebut nama ' bang' untuk menghormati Jody yang lebih tua 5 tahun dari usia mereka.
Senyum mereka merekah, ketika rasa pegal itu dikalahkan dengan pemandangan indah.
Semua berdesis kagum, mengagumi sang pencipta alam semesta. Ada getar dan buih soda meloncat dari d**a menuju jantung. Semuanya bercampur aduk dan terharu. Lihat hamparan bunga edelweiss yang indah dan awan yang semakin dekat.
"Indahnya..." teriak selvy memeluk Jerry kegirangan. Ia masih tidak sadar bahwa Jerry menantikan itu.
Beberapa detik Selvy tidak sadar, lalu ia kembali jika tingkahnya keterlaluan. mendorong tubuh Jerry reflaks.
" Kok, didorong sih, selvy." ringis Jerry.
" Ikh, m***m!" bentaknya.
" Siapa yang m***m, lo sendiri yang peluk gue kegirangan." Jelas Jerry yang membuat wajah Selvy merah seperti udang rebus.
_____
Akhirnya mereka tiba dipuncak gunung pangrango melihat alun- alun mandalawangi. Semuanya menarik nafas panjang. Tidak sia- sia mereka mendaki dengan kaki yang seolah dibebani barbell berkilo – kilo, sekarang mereka menikmati pemandangan yang hampir tenggelam matahari diatas puncak gunung, dengan hamparan padang bunga edelweiss yang tumbuh bagai rumput liar dan indah.
Bunga abadi itu melambai-lambai seolah bernyanyi menyambut kedatangan mereka.
" Cepat kita cari tempat untuk kita bermalam sebelum matahari tenggelam." Perintah bang Jody.
Mereka mengangguk. dan membuka tenda yang akan dipasangkan menjadi tiga tenda. Yang satu jelas tenda milik selvi yang tidak mungkin satu dengan anak lelaki, dan berharap menemukan Selly setelah memasang tenda
" Yang lain pasang tenda dan sediakan kayu bakar, saya dan yoga akan mencari selly. Dia pasti disekitar sini, trakhir aku ingat difotonya ada beberapa ranting dan dekat pohon edelweiss yang paling lebat." Jelas Jody.
" Selly...., Sell..." Yoga berlari mencari satu demi satu pengunjung dipuncak gunung pangrango yang hiking disini juga. Satu perempuan ia tarik dan langsung disebutnya Selly. Satu orang, dua orang ,tiga orang ia mencari selly satu demi satu..., hasilnya bukan selly yang didapat tapi perempuan yang langsung naksir dirinya seketika.
Yoga diam.
Ketika ia melihat seseorang diam didekat jurang dipuncak pangrango, orang itu sedang melihat matahari yang kini tergenlincir kedalam lautan luas dan membuat warna langit menjadi kelabu seketika.
Tidak ada senyum dibibirnya selain menatap langit itu tanpa kedip. Ia memetik bunga edelweiss y. Bunga itu dihirupnya.
Memejamkan matanya kali ini.
Yoga menghampirinya dan langsung berada disampingnya menarik nafas panjang dengan bibir yang siap merekah dan sumringah melihat gadis pujaannya sedang menutup mata seolah berdoa panjang kepada Tuhan- Nya.
Yoga tidak mau membuka suara meski tadinya bang Jody mau berteriak memanggil namanya, Yoga melarangnya ia memberikan isyarat untuk tidak berisik dan membangunkan dirinya sedang meminta harapan dan doa. Ia berharap banyak kali ini. Yoga melihatnya..., Sebuah Doa panjang untuk mendiang kekasihnya.
Selly membuka mata perlahan, detik berikutnya berkedip melihat seorang lelaki dengan senyuman yang diingatnya beberapa tahun lalu, tapi sekarang menjadi dua, bayangan itu ada dua..., orang yang sama dengan prilaku berbeda. Membuatnya terkejut dan tidak berkedip.
Yoga melihatkan giginya.
" Sell..." Ucapnya pelan.
Oh.., apa yang aku katakan barusan. Apa yang aku minta pada tuhan. Dan inikah jawabannya? Selly diam dan hanya berkata dalam hatinya. Orang ini adalah jelmaan dari Dhio, dan sekarang mereka berdua ada dihadapanku seketika.
" Dhio..., apakah kamu senang jika aku bahagia? Tanyanya dalam hati.
Bayangan itu mengangguk dan lalu menghilang. Air mata menetes lembut dari sela ujung matanya. Selly tanpa sadar memeluk tubuh Yoga seketika, dan menangis lembut disaksikan oleh semua teman- temanya, mereka memandang haru. Yoga masih belum berani mengelus rambut selly dan menyampaikan kata- kata. Ia hanya diam saja menunggu reaksi lagi dari Selly jika ia sadar.
Bahwa ia adalah Yoga bukanlah Dhio seperti yang ia bayangkan.
***