Bab.9
Kamu dan kamu
***
" Dimana kamu, Sell.."
Yoga duduk meneguk air mineralnya, meringankan tenggorokannya yang kering kehausan, sejak tadi pagi ia berjalan sepanjang jalan. Mulai arah puncak hingga kota Bandung. Mereka memasang poster Selly persis iklan rokok dan ditempel ditiap sudut. Dinding, pagar rumah orang. Tiang listrik dan tempat tempat keramat lainnya terutama Station dan halte bis.
Yoga tidak bisa menemukan lokasi tinggal nenek Selly yang disebutkannya sewaktu mengantarnya pulang, rumah itu hanya karangan selly semata pada kenyataanya, nenek selly sudah lama sudah meninggal.
Ia masih duduk dan menikmati sebotol teh yang rasanya familiar, mengipaskan poster Selly yang dicetak oleh kenalannya. Foto yang ia Upload dari f*******: Selly.
" Yoga..., Lo diem ajah. Bantuin lagi dong selebarin ke orang nih." teriak selvi kesal. ia ikut duduk disamping yoga minum teh botol.
Yoga mengangkat kedua bahunya dan menggendikan, ia tidak bersedia untuk membantu menyebarkan posternya. Ia tetap konsisten tidak banyak bicara dengan orang asing dan tetap menempel poster saja di mana- mana.
" Kemana si Tito.." Matanya mengedar kejalanan. Andi melirik padanya.
Yang lain masih sibuk menempelkan semua poster Selly yang menjadi buronan.
" Kamar Mandi." Jawab Andi sambil nge-lem poster Selly di dinding deket warung di belokan arah cihampelas bandung.
"Tuh_anak lama banget. Buang hajat kali, ya... hahaha..." Tawa Jerry. Sambil membetulkan topi putih miliknya yang mirip Yoga.
Yoga melangkah kearah warung dekat kamar mandi dan toilet umum. Langkah kakinya pasti memasuki kamar mandi kecil yang cukup untuk satu badan dengan ember yang sudah kotor dan berlumut. Bau pesing menyembur kental melalui hidung. Menusuk tajam dengan semua aroma yang tercampur.
" Eh..., kribo cepetan. Kita mau jalan lagi nih. Sekalian kita kegoa jepang." Teriak Yoga. " Cepet...wooy." Tambahnya lagi. Kesal didalam kamar mandi hanya terdengar suitan dan siulan si Tito.
Yoga keluar dari Wc umum masih diam menempelkan tubuhnya ke dinding. Sambil meminum teh botol yang tersisa. Melihat tali sepatunya yang tidak pas ikatan. Ia membetulkan tali sepatu kanan miliknya, membungkuk membetulkan tali sepatunya.
Tito keluar membetulkan celana dan melihat sebagian celananya basah.
" Basah..."
Melihatkan celana nya basah dan nyengir. Yoga bangkit neloyor kepalanya.
" Awww..."
Tito meringis sakit.
" Eh, Itu Selly..." Teriak Tito. " Tuh..tuh..disana.."
Yoga berlari kearah jalan seketika mengejar sesorang yang sedang berada diseberang jalan. yoga berlari sekuat tenaganya, sambil meneriakan namanya.
" Sell...selly, tunggu.."
Selly jalan dan menyetop mobil dengan jemarinya. ia berdiri dengan jaket jeans dan celana jeans. Melihatkan senyuman pada supir angkot.
" Selly..."
Selvi berlari kearah Yoga membenarkan apa perkataan Tito. Sosok itu telah pergi menggunakan Angkot menuju jalan dago. Jerry masih terengah- enggah. Andi masih berlarian membawa poster lalu menempel asal ke dinding WC. mereka saling berkejaran ke arah yoga.
" Be..., be...,ner. Selly tadi ada diangkot. Gue liat." Ucap Jerry gelagapan
" Ayo..., kejar. " Teriak Selvi. Tidak sabar melihat yang lain hanya jalan ditempat saja.
Yoga mengejar Angkot dimana selly berada.
" Selly..selly.."
Selly sama sekali ngak nyadar kalo ia sedang dikejar teman - temannya, mereka meneriaki angkot. abang supir cuman liat dari spionnya ia merasa aneh. ia berdecak kesal.
" Sell..., Selly...Selly...'' Teriak mereka setengah kelelahan udah ngak kuat lagi buat ngejar angkot yang gak mau berhenti. tambah Jerry udah KO, ia berhenti memegangi dadanya yang mulai sesak, nafasnya setengah setengah, ia liat Selvi yang langsung rebahan di trotoar. Nafas mereka sangat tidak beraturan.
" nyerah.."
" Ah_gila. Yoga masih ngejar tuh_ mobil." Selvi kecapean dengan nafas yang tersenggal senggal. ia mengipas ngipas wajahnya yang mulai keringetan dan merah karena panas.
" Bang berhenti.." teriak yoga ia berusaha mencoba menepuk angkot. Tito sudah menepi dan memegangi lutut dan keringat mengalir di dahi dan lehernya. Ia menyeka keringatnya dengan handuk yang selalu dibawa di lehernya ala kernet bus metromini.
Selvi dan Jerry menghampiri lagi Tito.
" udah ngak bakalan kekejar, to.."
Mereka mengangguk, lalu mata mereka melotot liat si Andi yang sudah enak lesehan duduk di caffe dengan minuman yang baru datang dari pelayan caffe.
"Weuy..enak banget, lo. "
Andi nyengir.
" Mana Yoga.."
Andi melambai - lambaikan tangan pada mereka supaya mereka ikut istirahat, sekedar meluruskan kaki dan mengganjal rasa lapar mereka.
" yuk, ah. kita ikutan si goril ajah duduk disana, gue haus."ajak selvy.
Mereka jalan saling gandeng, karena lelah berlari. tanpa disuruh mereka mengambil kursi masing - masing, liat si andi udah enak dan seger sama minuman orange jus nya.
Andi memutar mutar sedotannya.
" nanti juga ketemu, kita tunggu yoga disini."
"Tuh si Selly budeq kali ya..." Ucap Tito kesal. Ia meremas botol minum dengan sekuat tenaga.
Plakk..
Selvi memukul kepala Tito dengan daftar menu yang ada di meja reflaks.
" Sembarangan." Selvi kesal membela Selly adalah sepupunya.
"Yoga pergi kemana ya?" Jerry heran melihat Yoga belum balik dan ikut nongkrong di caffé seperti mereka. ia mencoba nelpon yoga.
" drrrrrrrrrr.drrrrrrrrr.drrrrrrrrrrrrrrr "
Satu panggilan dari ponsel Jerry, ngak diangkatnya. Mobil diparkirkan jauh dari jangkauan mereka.
Greengggggg...
Suara motor terhenti didepan caffe.
Ia melempar topinya ke meja. Yoga tiba dengan kesal dan dibantu oleh ojek.
" Shit..., Shittt..!!" Kesal Yoga hampir membuang topi putih kesayangannya.
Mereka diam memandangi wajah Yoga merah.
" Lo sempet ngobrol sama Selly..." Tanya Selvi langsung dan melihat wajah Yoga yang terlihat kesal.
Yoga diam memandang Selvi yang berdiri mengenakan kaos peach dan jeans biru.
" Terus.." Ucap selvy tidak sabar menanti ucapan yang akan keluar dari mulut Yoga yang kelu. Dan langsung di gandeng Jerry supaya lebih tenang dan menceritakan semua.
Yoga mengangguk. Ia kembali melihat Selvi.
" Gue..., gue gak tau mau ngapain lagi. Selly malah nampar gue..., dia benci gue."
" Masa..., Enggak... mungkin, Gue hafal Selly. Dia gak pernah benci sama elo, Selly memang menutup diri dari semua." Bantah Selvi. Mengetahui kenapa Selly bersikap dingin seperti itu.
" Maksud lo apa?." Tanya Tito.
Selvi duduk dan melihat mereka tengah memandangi selvi penuh harap. Penuh harapan Selvi mau cerita kenapa Selly selalu bersikap dingin dan tidak pernah mau di bantu oleh orang lain.
" Oke, gue cerita.."
Selvi menarik nafasnya panjang, lalu meminum jus alpukat yang datang dengan roti panggang. Mata mereka masih serius memandang Selvi hingga Selvi merasa aneh dan risih. Apalagi tatapan Jerry yang membuat Selvi mulai grogi.
" Apa sih kalian..." Ucap Selvi mulai risih dengan Empat pasang bola mata menatapnya dengan tidak sabar.
" Lo..., enggak mau cerita. Selvi..." Ucap Andi udah kesel lalu diseruputnya jus orange miliknya.
" Oke..." Selvi menahan tangannya supaya mereka sabar untuk mendengar cerita Selly. Selvi masih enggan untuk bercerita. " Maaf...ya sell." Ucapnya dalam hati, meminta maaf pada Selly.
" Selly..., kenapa menjadi seperti itu kalian bener mau tau?" Ucap Selvi memastikan ceritanya tidak garing seperti kacang yang Renyah dihadapan mereka.
Mereka semua mengangguk ngak termasuk Yoga, Ia malah menyeringai Selvi ia belum yakin, bisa ajah kali ini selvi ngarang cerita. Lalu Selvi malah melotot kearahnya.
" Kalau kalian percaya itu sudah membuat gue lega, tapi kalau kalian semua gak percaya itu terserah."
Mereka duduk menatap Selvi membuka mulut untuk bercerita kisah masa lalu yang membuat dahulu Selly begitu bahagia. Selvi masih diam dan mengaduk jus alpukat miliknya. Entahlah seolah ia enggan bercerita. Tapi adakalanya beban itu dibagi dan tidak hanya dipikul sendirian oleh Selly.
"apaan sih lo, to..pegang - pegang "
Tito mengelus lembut Rambut Selvi membuat Selvi merah dan malu lalu menepisnya lembut. Yoga berdecak seolah ini hanya gurauan Selvi yang berniat membuang waktu.
Yoga bangkit lalu Selvy Reflaks menarik lengan yoga.
" Tunggu ..., Gue ceritain." Ucap Selvy Singkat.
Mata Yoga menunggu suara yang meluncur dari bibir Selvy. Mata Selvy terlihat serius dan yoga kembali duduk.
" Kenapa Selly seolah benci elo..." Ucap Selvy tegas dengan mata membulat kearahnya. Membuat Yoga menggeleng pelan dan tidak pasti.
" Karena Gue ganteng kan..." Ucap Yoga singkat.
Sejenak Diam selvi akhirnya menarik nafasnya.
" Karena Dhio mirip elo..., Cowo selly yang udah Dead." Cetus Selvy singkat lalu menarik bibirnya kecut. " Hegh..., gak nyangka sewaktu gue lihat foto yang dikasih Selly waktu itu. Saat ia buka kotak rahasia miliknya selly liatin foto Dhio sebelum meninggal. gue tau itu foto sama Selly waktu digunung gede. gue ngak pernah liat selly sebahagia itu, ia bener - bener bahagia. waktu Dhio gendong Selly dipunggungnya. "
" Apa hubungannya sama gue.."
" karena elo sama dhio mirip banget, kalo bisa dibilang elo kembar, padahal gue tau ngak mungkin dhio itu sodara kembar elo kan."
" Gue gak percaya..., bos gue gak mungkin ada kembarannya.'' Tito menggeleng tidak percaya. " yang bener lo, sel.."
" kalian boleh gak percaya gue. Setelah kematian Dhio yang hanyut disungai itu. Selly seolah terpukul dan terus menyalahkan diri sendiri, latihan tae kwon do tak kenal waktu dan lelah, melepas rasa bersalah karena ia terus disalahkan oleh orang tua Dhio. karena dhio meninggal ketika menunggu selly. Kalau elo bukan kembaran dhio, pa mungkin elo Doppelengger? Hakh..., itu awalnya mustahil. Setelah gue lihat lagi dari Selly. Ternyata benar Dhio hidup kembali jadi orang b******k dan berandalan suka nyiksa siswa disekolah." Jelas Selvy. Mengingat pertama kali reaksi Selly melihat Yoga jalan di koridor dan berbuat semena mena, datang telat dengan kelakuan brutal. Itu mengingatkan dirinya pada Dhio yang kalem dan sopan juga smart.
" Oh_jadi begitu.'' Ucap yoga langsung meraba wajahnya.
" Selly pertama kali liat wajah elo, udah shock. Makanya ia benci banget liat wajah elo, terus elo deketin Selly terus bantu melarikan diri. Gue udah nyangka kalau Selly bakal kena Trouble hatinya lagi. Padahal sewaktu dijakarta ia sudah sangat sembuh dengan ia bisa menghilangkan hatinya mengingat pacar nya tergeletak kaku dan putih terbawa arus. Elo tau butuh berapa dokter untuk nyembuhin hati selly. ia sempat depresi.."
Mata mereka menggeleng dan tidak tahu.
" Selly hampir gila dan stress lalu bunuh diri, ia selalu dibayangi oleh hantu Dhio. Ia dianggap gila waktu itu, Tapi ia jujur dan cerita. Ia meyakinkan bahwa arwah Dhio belum tenang hingga sekarang, gue juga belum tahu kenapa..., Besok adalah tepat hari kematian Dhio."
Selvy menepuk jidatnya keras.
Plakk
" ya, ampun gue lupa?" wajahnya langsung serius pada wajah mereka yang masih minta jawaban lagi. " besok kan tanggal 13 maret itu peringatan kematian dhio, selly pernah cerita."
" Cerita apa? " selang yoga.
" kalo ia pengen ke puncak gunung tiap khari kematiaannya. kita temui Selly disana. Ia pasti naik gunung lagi. Gue gak tahu tujuan selly di Bandung. Tapi sekarang gue inget. Dikota ini ada perkumpulan anggota tae kwon do, juga anak- anak yang suka hiking ke gunung. Para pecinta alam. Asal kita temui namanya Riko ketua paguyuban pecinta alam. Kita pasti tahu lokasi selly besok." Ucap Selvy tegas.
" kenapa ngak ngomong dari kemarin, kita kan bisa siapin buat hiking."
" terus gimana besok kita bolos lagi?" mata selvy mulai kaca - kaca, melihat yoga hanya mengangguk.
" Ck..ck..sel..love you"
Andi berdecak kagum melihat Selvi semakin lama semakin manis dan cantik. Ia lalu memanyunkan senyum ala gurame yang ditangkap jijik oleh Selvy lalu dibuangnya ke tong sampah.
" Oke.." Ucap yoga diam dan melihat empat bola mata menatapnya serius. " keburu gak guys kita hiking. Kalau Riko yang elo sebut disini itu kakak temen gue. Kita samperin Riko kerumahnya."
" Tapi..." Ucap mereka berempat.
" Apa?"
Mata Yoga melotot. Mereka melihatkan dompet masing masing. Dengan pasrah.
" Gue beliin perlengkapan hiking kita, disini banyak kan outletnya. Pilih yang kalian suka. Asal Selly ketemu. Gue mau pasung dia dilapangan basket." Ucapnya tegas. " tujuan kita adalah nemuin selly, kita seret dia depan mamanya."dengusnya.
Mereka berdecak kagum dan berjingkrak bisa Shopping pakaian dengan uang yang Yoga tawarkan. Dan paling tagihan kartu kreditnya meledak dan kena semprot oleh ayahnya.
***
Gila – gilaan semua kawannya mencoba jaket tebal hangat untuk naik gunung, sepatu, sweater, syal, kupluk kepala dan lainnya juga tenda untuk berkemah dan keperluan lainnya.
Selvi paling asik milih sana-sini ditemani Jerry yang asik dengan penampilan Selvi nanti digunung. Semua memborong keperluan mereka. Yoga hanya memilihkan satu mantel tebal untuk Selly. Warna biru tua dengan bulu lembut di sekitar leher.
Selvi melihatnya Yoga membeli untuk Selly. Ia hanya nyengir lalu kembali menggendikan bahunya dan senyum kelinci pada Jerry. Entah apa yang membuat Selvi malah asik dengan jerry begitu juga dengan si playboy. Ia menyukai selvi yang manis dan manja.
mereka selesai memilih pakaian dioutlet saatnya kembali ke mobil kerumah Riko.