Nerveous

946 Kata
Bab.6 Nerveous *** " Hai, Sell.." Wajah itu tepat dihadapan Selly saat membuka matanya. satu menit selly masih serius memandangi wajah yoga, ia berdesis pelan yang tak didengar yoga sama sekali. kotak musik itu berhenti melantunkan denting lagi. selly meneguk ludahnya seketika, mencoba senyum saat seseorang yang ia pandangi bukanlah orang yang sama. " elo.." " ketus banget sih, sama orang yang niat baik jenguk. lo. anak baru." selly mendengus. lalu ia senyum kearah lain melihat geng yoga dan bu suci berdiri senyum. " Hai...selly..." Mereka melambai ke arah Selly yang terbaring, genk yoga yang pamer gigi ala pasta gigi cap kecoak sumpah maksain banget itu senyum mereka. Selly menatap aneh wajah yoga dan gengnya mengunjunginya dirumah sakit. Si Tito melambai- lambai dengan ekpresi palsu. Selly berusaha ramah pada mereka melihat bu Suci muncul dengan bunga dan parcel buah mendekatinya. " Ini dari kami..." Ucap Bu Suci. " Gimana kondisi kamu? Kenapa tidak hati-hati sih. Sell..." ucap bu Suci. " Makasih ya, bu. " jawabnya. " Kalian sudah repot- repot datang." Ucapnya ramah. Yoga menatapnya penuh kehangatan melihat selly bisa juga ramah dan tersenyum manis bahagia, wajahnya tertangkap basah oleh selly. Selly mendengus kesal, tapi ia masih mencoba ramah. karena berandal itu mau menjenguknya yang sedang sakit, setidaknya ia harus berucap terima kasih atas kunjungannya. " Ikhhsh.." ringis selly. Ia mencoba bangkit dengan menahan bahunya. Yoga Reflak membantunya untuk duduk bertahan. ia mulai salah tingkah saat tidak sengaja membantu selly untuk duduk. " Tadi Ibu ketemu sama Yoga, jadi ibu ajak dia kesini.., maaf kalau ibu ajak dia, sell.." Ucap bu Suci. Selly mengangguk. tanpa dipersilahkan Selvy duduk ditepian bed selly. " Terima kasih sudah menyempatkan datang menjenguk saya. Makasih semua..., Ibu Suci, Selvi, Mia, Tito..., Sori ya. Gegara gue..tito harus digips. Andi, Jerry, Yog..thanks kalian udah jenguk gue.." " nah, gitu dong. suit kan kalo lo baik sama kita." ucap yoga. " tapi ngak usah kepedean juga kali." ketus selly. " Selly, maaf, ibu ngak bisa lama-lama disini, karena ibu ada kelas disekolah lain satu jam lagi." pamit bu suci, ia mengusap kepala selly. " Cepat sembuh. ya." Bu Suci bangkit karena masih ada kelas mengajar disekolah lain. Ia pamit meninggalkan Selvi dan Mia. Yoga masih diam dan duduk di sofa. Genknya malah sibuk melihat chanel televisi. Sedang diputarkan beberapa berita siang hari. Mereka diam dan menyimak apa yang di beritakan lalu sudah nya bersorak riuh dan kesal memaki berita. Huuuuuuuu..huuuuuuu payah " Kenapa sih kalian gak pulang..." teriak Selvi kesal melihat mereka, malah bikin rusuh ruangan, berantakan, makanin buah yang seharusnya buat orang yang sakit. melempar- lempar biji jeruk dengan mulut mereka berantakan." kalian tuh...ikhhhh...nyebelin tauk." kesalnya hampir melotot karena snack ringan diembat juga sama si galing Tito. " Selvi.., ntar gue antar pulang." Ajak jerry. Yang wajahnya lebih kalem. Suaranya sexy juga tubuhnya altletis. " tenang ada abang." ucapnya serius. " Ciee...cieee...mentang-mentang udah putus ma Aldo terus nolak lagi balikan sama Aldo. Eh, dapet gebetan nih.." Ledek Mia melepaskan apa yang dilihatnya sekarang. Jerry mulai Pe-de-ka-te-in Selvi. Padahal Ia juga Suka sama jerry dari awal masuk sekolah. " Udah..tuh si jerry kasih lampu ijo."tambahnya girang. " paa-an lo sih, mia. bikin berita hoak ajah.."wajahnya merah, diliatin jerry dalam. " paan sih, lo..jerr.."ucapnya kewajah jerry yang sengaja buat selvy Ge-er. " Udahlah...Mia, bilang ajah lo jealous ma gue. Jerry..., Sorry ya. kalo gue nolak ajakan elo. Tapi terima ajah tuh si Mia, Udah naksir elo semenjak MOS dulu." Lempar Selvi melihat Mia mati kutu dan mengigit bibirnya lalu keluar ruangan dikejar si Andi dan disusul dengan Tito. " Eeeh... Tunggu gue." Teriak Tito nyusul dan keppoin semua nya. Selvi Pamit. Dia mau dijemput sama Haikal di depan lobby. " Gue pamit, sel. Cepet sembuh ya..., dasar lo ceroboh. Gegera kotak lo bisa celaka. Lain kali gak usah cari lagi tuh kotak. Kasih ajah sama bibi lo. Ia nangis histeris. Dikira kotak elo isinya perhiasan semua nyatanya..." Mata Selly hampir melotot melihatkan kalau diruangan tidaklah hanya berdua saja. Ia sedang ditemani Yoga yang menatap mereka heran. "Ups..., Bye. Gue cabut. Lain kali kita naik motor lo lagi." Ucap Selvi memakai tas gendongnya lalu membenarkan rambut sepinggang dengan rambut dipotong ala korea style. Yoga Bangkit dari sofa. Selly semakin risih wajahnya dilihatin terus yoga. Ia berusaha tidur dan tidak banyak bicara, ia kembali memutar kotak musiknya. " Sori..., Gue enggak bawa apa-apa buat elo." Ucap Yoga. " Ngak, pa-pa. asal lo cepet pergi juga gue udah bersyukur." " Gue mau tanya satu hal sama, lo. apa gue sejelek itu dimata lo, hingga elo merem terus, atau elo takut sama gue?" Selly Diam dan tidak menanggapinya. Lima menit Yoga masih berdiri disamping Selly melihat wajah Selly lembut dan melihat matanya terkatup. Yoga melihat infusanya sudah mengering dan darah malah naik kedalam selang infusan. Tapi Selly hanya diam. Yoga berlari keluar. Memberitahukan kepada perawat. " Sus..sus..itu infusannya, darah.."paniknya. " oke, baik.." Perawat itu seketika menurut dan dibawanya infusan baru. Selly masih diam dan tidur. Darah nya kini naik hingga masuk ke infusan kosong. Perawat itu menggantinya. Mata Selly terbuka saat perawat itu menutup pintu dan keluar. " Gue enggak butuh bantuan elo disini. Keluar dari ruangan gue, gue mau sendiri." Usirnya. " jujur gue lebih baik sendirian saat ini." Tito dan Andi berada di depan pintu melihat Yoga diperlakukan seperti itu dan hanya diam. Mereka saling bertatapan aneh. " Kali ini pasti ada yang salah sama otak Yoga. ngak biasanya tuh bos kita kek gitu ya.." Desis mereka. Yoga keluar dan berjalan gontai. Kembali melihat Selly yang tidur dan berusaha senyaman mungkin tidur. Tanpa ada yang menemani dirinya. Baru kali ini ia ditolak habis habisan sama cewek. yoga malah menggaruk kepalanya, kesal. " cewek aneh." kesalnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN