Symphony Bunga lily

1570 Kata
Bab.5 Symphony bunga lily *** " Eh, Udah tau belom? Selly hari ini masuk rumah sakit." Ucap Metha Anak kelas III IPA 2. Ia bercerita ditengah kelas dan hingga koridor sekolah sebelum sepuluh menit sebelum bel masuk. Ia lebih tepat disebut pembawa kabar berita hotnews disekolah. Hingga sampai ditelinga gerombolan Yoga. Si Tito berjingkrak – jingkrak mengetahui kalau Selly masuk rumah sakit. Tangan nya yang masih di gips membuat ia berucap syukur dan mengelus gipsnya. " Syukurin.." Tempo hari Selly berhasil memutarkan lenganya dengan jurus Te kwon do miliknya. Hingga Tito mendapatkan perawatan luka patah tulang. Dan berhasil di uap oleh Yoga supaya tidak melapor masalah ini ke kepala sekolah atau guru PKS. " Syukurin..., Biar tau rasa tuh anak baru." Rutuk si Tito berucap Syukur dibawah pohon Seri. Genk Yoga masih nongkrong dibawah pohon dengan Andi dan Jerry juga gitar tua dari moyang nya si Andi. Memetik gitar mengalunkan lagu- lagu yang mereka pikirkan. Kali ini Andi memetik gitar dengan melody Keny G. Lagu shimphony. Yoga Diam Dengan seribu bahasa. Ia hanya memutar bola basketnya dengan jari – jari membuat free style. Tak ada kata seperti biasanya dan menyumpahi anak songong macam Selly. Kali ini Yoga diam. Andi Jerry mereka bernyanyi dengan alunan lagu klasik dengan handal andi memetiknya, dari irama keirama. Yoga masih diam, ia masih melihat bola basket diputar – putar dijarinya. Mendengus kesal dan entah apa yang ia pikirkan. Ia tak tahu apa isi pikirannya kali ini. " Selly, cewek itu.." desisnya. Tanpa suara Yoga mengingat Selly si anak baru, yang membuat dirinya deg-degan. Entah ada apa dengan mata Selly, ketika ia melemparkan tatapan benci , kosong, dan dingin, justru itu yang membuat Yoga menyukainya. Mata Selly, yang selalu menyemburkan tatapan benci dan beku. Tak ada reaksi seperti cairan kimia. Berbuih, mengembung, dan melihatkan reaksi lainnya. Mata itu semakin membuatnya rindu. Yoga bangkit, ia berjalan menuju lapangan bola basket. Melakukan satu shoot kedalam ring basket. Satu Shoot bola berhasil masuk. Itu membuat dirinya lebih percaya diri untuk lebih mendekat lagi pada Selly. " Yes. Kita jenguk si putri es.." Ucap Yoga tegas. Ketiga temannya menatap aneh tingkah Yoga, lalu kembali saling tatap antara andi, Jerry dan tito. mereka bertiga mengangkat alis aneh. masih duduk dibawah pohon seri. Andi menghentikan petikan gitarnya. Tito berhenti mengunyah snack yang di berikan oleh adik kelas yang naksir Yoga. Ia hampir saja tersedak mendengar ucapan manis keluar dari mulut Yoga Yang selalu meracau dan membuat kacau. " Asik...kita kerjain lagi anak baru." Teriak Tito girang dan kembali berjingkrak." Cihuy.." Yoga menaikan kedua alis tebalnya, menatap heran ekspresi mereka. "kita jenguk..lah, ngak.., lo ngak boleh! kerjain anak baru. Gue mau jenguk dia..., mau liat Ekspresinya kalau liat muka gue. berubah atau mukanya itu tetep jealeous. atau selama ini dia suka gue tapi pura - pura." ucap yoga cengengesan. " Atau ia akan terpesona sama ketampanan gue, kalau gue jenguk.ha.ha.ha " Ucapnya pede dengan mengangkat kedua kerah baju miliknya. Percaya diri 100% kalo selly bakalan seneng ia jengukin. Mereka bangkit segera. Ehemmmm..hmmmm Melihat guru killer sudah berada dibelakang punggung Yoga dan siap menjitak kepala siswa yang keluar kelas karena gurunya sedang absen dan hanya memberikannya tugas. Pak Ridwan sudah siap dengan penggaris kayu miliknya. Tito, Andi udah kocar kacir melihat pak Ridwan. Dan langsung menuju kelas yang sudah setengah jam lalu mulai. Jerry kena pukulan di kepala oleh pak Ridwan. Ia belum berhasil kabur karena melihat Yoga yang masih santai dengan melihat wajah Pak Ridwan. Yoga mengejek dengan tatapannya. Melihat pak Ridwan hanya mendengus. " Kamu Itu, Cepat masuk!!" Bentaknya kesal. Yoga hanya memamerkan giginya dan berjalan santai. Pak Ridwan menggelang kepala. Kalau saja ia anak orang biasa mungkin penggaris kayu itu sudah mendarat juga dikepala Yoga. Ia hanya menyumpahi anak itu dan menggerutu kesal. Melihat yoga hanya santai padahal ia sudah duduk dikelas III. Bagaimanapun ia seorang pelajar dan bukan seorang gangster di sekolah. " Hei..., Yoga! Bapak peringatkan kamu sekali lagi. Jangan salahkan saya kalau nilai kamu merah dan tidak lulus dalam ujian. Apa kau pikir semua bisa dibeli oleh uang." Ucap Pak Ridwan. Yoga hanya melihat Raut wajah pak Ridwan. Tanpa kata dan hanya senyum kecut melebar dibibirnya. Ia melenggang begitu tenang. *** Bel sudah berbunyi, Selvi merencanakan menjenguk Selly sehabis pulang dengan bu Suci. Mata Selvi mengarah kepojokan dimana tempat para gangster duduk. Selvi menelan ludahnya. Melihatkan mata yang aneh dari wajah Yoga. Sudah dari sejak masuk jam kedua dipelajaran pak Ridwan. Yoga tak hentinya menatap bangku Selly. Ia terus mengamati bangku itu. Padahal penghuninya malah berada di rumah sakit. "Guys..., kita kerumah sakit ya." Ucap Selvi. Metha malah menggendikan bahunya dan sinis. Melihatkan bahwa ia tidak bersedia menjenguk Selly dirumah sakit. Tempo hari ia sebal dengan Selly karena menolak menjadi anggota cheers. Metha mau menambah anggota cheers karena Selly terlihat cantik dan menarik. Namun sayang Selly lebih menyukai tae kwon do. Tawaran itu ditolak mentah – mentah oleh Selly. Selvi mengambil tas dan mengajak Herlin juga Mia perwakilan kelas. Yang lain memang tidak bersedia melihat Selly dirumah sakit. Karena belum mengenal Selly, juga tidak respect dengan Selly yang tidak mau bergaul dengan yang lainnya. Selly memang terlihat seperti selfish, tidak senang bergaul dan menempatkan dirinya didunianya sendiri. langkah kaki mereka terhenti di depan ruangan kelas III IPS2. Melihat Metha udah jegat Selvi dan Mia yang mau menemui bu Suci keruang guru, biar mereka bisa ikut gratisan naik mobil bu Suci. " Eh... bilang sama tuh Selly si jagoan. Jangan macem-macem sama, gue.." Ancam Metha. Selvi memajukan dadanya. Melihatkan bahwa Selvi tidak pernah takut ancaman Metha. "Sory..., gue gak takut sama elo kerempeng. Asal lo tau..., harusnya elo yang takut sama Selly. Kemampuan tae kwon do nya udah gak diraguin lagi. INGAT.." Balas Selvi. " Minggir lo..." Metha menerobos tubuh Selvi hingga Selvi terbentur dinding kelas. Aldo sudah melihatnya dari kejauhan. Ia berlari kecil dan melihat lutut Selvi yang terkena bangku kayu disisi dinding. " Ngak pa-pa kan?." Tanya Aldo. Langsung ditepis oleh Selvi dan menjauhkan dirinya. " Gak Usah peduliin gue. Mana cewe baru elo..., bukannya si Cacing itu biasanya nempel sama lo. Kayak permen karet." Ucap Selvi Kesal. " Sel..., Gue nyesel. Maafin gue..., bisakan..., kita balikan lagi." Pinta Aldo penuh dengan mata Spechless. Selvi bangkit dan tidak melihat lagi kearah Aldo lalu lurus menuju ruangan guru. Ia mengacuhkan permintaan Aldo. Hingga beberapa kali Aldo mengejarnya, tapi ditepis kembali oleh Selvy. Mia memepercepat langkahnya bersama Selvy. Hingga Aldo diacuhkan dan tidak digubris kembali oleh Selvy. Mia cengengesan. Lalu saling bertatap muka dan melirik wajah Aldo kesal. " Rasain, lo. Aldo." ________ Bu Suci sudah menunggu Selvi dan Mia. " Kalian hanya berdua saja...?" Tanya Bu Suci hanya melihat Selvi dan Mia. " yang lain sudah jalan ke rumah sakit atau..." Bu Suci masih bertanya. " Yang lain tidak bersedia jenguk. Mungkin ada keperluan.." Jawab Selvi. Melihat Mia hanya diam dan mengangguk saja. " Baiklah.." Bu Suci mengambil tasnya, Diikuti oleh Mia dan Selvi, menuju parkiran membuntuti bu Suci dibelakang. Selvi memberi kabar pada Selly Bu suci mau menjenguknya. Tak Ada jawaban sama sekali dari ponsel Selly hanya di read saja. Ia mulai kesel selly balik lagi gak care. *** " Om..., Firman. Selly di kamar mana?" selvy menemukan Ayah tiri Selly di koridor dekat poli dokter kandungan. Menghampiri Ayah tiri Selly begitu ramah. " Selvy." Ia membuka kacamatanya. " Selly ada diruangan anggrek." jawabnya. " Bentar ya, om mau keruang operasi dulu, sudah ditunggu." Pamitnya. Om Firman mempertegas langkahnya. Rupanya hari ini ia sedang ada pasien diruang bersalin untuk Caesar makanya ayah tiri nya pergi tergesa - gesa karena pasien caesar, sudah diruangan operasi. Mereka masuk kedalam lift menuju lantai dua, diruangan VIP Selly dirawat. Selvy mendengus dan mia menarik nafasnya karena ia sedikit fobia dengan lift yang tertutup. Lift Itu hampir tertutup. Tiba- tiba genk itu masuk dan memaksa masuk dalam lift. Mata bu Suci membelak melihat gerombolan tukang rusuh itu masuk lift. Selvy langsung beraut wajah aneh dan mia hanya mengernyit. " Mau apa kalian kesini.." Tanya bu Suci heran. Ia Ingat betapa mereka tukang buat onar di sekolah. " He..He.." Andi, jerry, Tito Dan Yoga hanya melihatkan gigi mereka dan iklan pasta gigi. Seketika. Tak ada penjelasan lagi pertanyaan dari bu Suci selain pamer gigi. Mereka diam. Yoga Diam beberapa detik dilift, sebelum tiba di lantai2. Ia terlihat Santai. Memakai topi putih, dengan dimasukan kedua lengan kedalam saku celana lebarnya ala kulot. Ia diam dan mengangkat kedua alisnya pada bu Suci, sambil mengunyah permen karet. " Awas!ya. kalian kalau bikin rusuh. Ini bukan sekolah yang kalian kuasai. Ini Area bebas. Jadi kamu tidak bisa semena-mena lagi." Ancam Bu Suci pada Yoga dan temen gengnya. Mereka Semua mengangguk mendengar perkataan Bu Suci sebagai ultimatum. kali ini mereka mangut bagai sapi ompong tak lagi bertaring. Yoga hanya nyengir kuda kearah Selvi. " Hai, selvy.." sapa yoga sok akrab. Selvi menggendikan bahunya. Ia menatap Yoga aneh. Melihat manusia paling jahil, tukang onar, dan tidak berperasaan hadir dirumah sakit untuk melihat Selly si anak baru yang baru beberapa hari hadir di sekolah. *** Berulang ulang selly memutar kotak musiknya dengan dentingan indah, ia memejamkan matanya untuk berkhayal betapa indahnya mimpinya. kotak musik itu terus berputar memutarkan suara indah hingga ia mulai sadar dengan suara langkah kaki yang kini ada dihadapan wajahnya. Mata itu terbuka perlahan, melihat senyuman baris gigi dengan lesung pipit, yang menyambutnya hangat. senyuman yang selalu ia rindukan dari pemilik kotak musik yang selalu ia putar berulang sebelum tidur. " dhio.." desisnya pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN