Let me know

2871 Kata
Bab.4. Let Me know *** Hari ini hari sabtu, matahari masuk kedalam celah kamar Selly samar yang masih tertutup gordyn, ia berusaha menatap matahari itu meski menembus kedalam retina matanya, melihat cahaya keemasan yang datang menghampirinya hangat. Ia menggeliat hampir menutupi wajahnya dengan selimut. Wajahnya masih melihatkan betapa nyenyaknya tidur malam ini. Ia masih tiduran dan enggan untuk bangun. Seingat nya jika di Jakarta ia tengah sibuk dengan kelas tae kwon do atau ditempat persembunyian didekat bibir sungai ciliwung. Ia akan duduk ditepian sungai yang keruh, melipatkan kertas seperti perahu dan menghanyutkannya, kedalam sungai, kembali selly berkedip membayangkan bayangan yang datang menghampirinya seseorang yang lama ia kubur didalam hatinya, berusaha ia lupakan, namun hasil bayangan itu selalu menjelma, menghantui dirinya meski ia sembunyi sekalipun, bayangan itu semakin dekat dan begitu dingin Menyentuh seluruh kulit dan lenganya. Ia membelak. Bergumam dan ketakutan. " Pergi. Pergi! Aku bilang pergi..!!" Ia berusaha memejamkan matanya tapi masih dirasakan sentuhan yang begitu dingin membelai rambut. Meninggalkan sensasi bulu kunduk merinding. " Dhio.." Desis Selly tanpa Suara. Lalu ia kembali meloncat dari tempat tidurnya membuka gordyin, melihatkan seisi kamar yang kini terang benderang. Tanpa ada sosok halus lagi menghantuinya. Ia kembali memeluk kedua lututnya, mengigit kedua kuku dan gemetaran. membelak, berusaha mati - matian melupakan. Dan terima kenyataan bahwa sosok itu telah pergi 4 tahun lalu. " Ini pasti bayangan lagi atau halusinasi. Ngak..,mungkin! Dhio kembali lagi." Ucapnya gemetaran dan masih ketakutan akan seseorang yang telah tiada berkorban untuknya, seseorang yang gigih, tak pernah menyerah, selalu menemani harinya di Jakarta. " Ini pasti karena aku, Melihatnya lagi." Desisnya. " Kotak surat, Dhio." Ia teringat sekotak kayu yang diberikan mamah nya dulu untuk menyimpan foto-foto ayah yang sudah meninggal, Disimpan dikotak tersebut. Tak pernah dipajang, meski hasrat keinginannya kuat untuk memajang foto almarhum ayah nya, Selly menahan untuk tidak membuat ayah tirinya sedih. Selly amat mengagumi sosok om Firman yang selalu baik terhadap nya, meski ia bukan ayah kandung. Bola matanya memutar keseluruh ruangan. Ia mulai mengingat terakhir kali menyimpannya. " Dimana ya?" Ingatnya. Masih berusaha mengingat kembali kotak kayu. Ia mendengus kesal. " Dimana Sih." Gumamnya kesal. " Waktu itu aku simpan dibawah tempat tidur. Ia masih mencari kotak kayu pelitur itu dibawah tempat tidur, Tapi tak ia temukan, diatas meja belajarnya pun tak ada. " Tuh Disini juga ngak ada." Lirihnya. Ia mulai kesal bercampur mau menangis. Kembali Ia mencari diatas lemari dekat koper yang ditumpuk ini juga masih belum ditemukan. Hanya ada debu diatas koper. Dan tas yang ditumpuk tidak terpakai. Ia kembali melangkahkan kaki menuju rak buku disudut kamar dan dekat gantungan baju di dinding. Selly mencarinya satu persatu diangkat novel dan buku- buku pelajarannya tapiu benda itu masih tidak ada. Ia menarik nafasnya panjang dan masih berusaha mengingat kembali kotak yang mengkilat itu terakhir disimpan. " Apa ada yang buang. ya?" Masih mencoba menahan lirih yang akan siap meledak dan tangisan karena sebagian nyawa hidupnya ada didalam kotak pelitur kayu tersebut. kerongkonganya terasa kering, menahan rasa sedih dan matanya hampir menangis, karena mengingat kotak itu adalah harta karun baginya, harta paling berharga di banding yang lainnya, ia keluar kamar seperti kesetanan. Selly ingat jika hanya mamahnya yang berani membuang benda dikamarnya. Ia berlari kekamar mamah yang sudah rapi. " Ngak mungkin." Desisnya. Selly menghentikan langkah didepan pintu kamar mamah yang dilihat sudah rapi. Tak mungkin disimpan kotak itu dikamar mamahnya, Karena didalam kotak itu adalah foto dimana masa kecil Selly begitu bahagia bersama Almarhum ayahnya dan mamah dahulu. " Ck." Selly berdecak kesal. " Dimana.." lirihnya berat. Ia tak tau harus kemana mencari kotak itu. Selly berdiri ditangga, Lalu duduk begitu saja dan menenggelamkan kepala diatas lutut. Masih mengenakan piyama. " Lho, Lho..., Anak itu. Ngapain tidur. Ngelindur apa." Gumamnya. Sambil melihat Selly tertelungkup diatas lututnya. Mamah menghentikan langkahnya dan diam beberapa detik, mengamati putri sulungnya. " Sell.." Panggilnya. Selly tidak menggubris atau menoleh sama sekali. Mama mengenyitkan kedua alisnya dan langsung menaruh dua piring nasi goreng yang sudah ia buat didapur dan yang akan dipindah ke meja makan. Beberapa detik mamah kembali dibawah tangga, dan menaiki tangga dengan cepat. Mencolek – colek Selly yang seperti masih bermimpi. "Sell, kamu kenapa?" Tanya mama dengan lembut, melihat selly masih memeluk kedua lutut nya ditangga menghalangi om firman yang hendak turun. " Papa, mau turun jadi kehalang." Tambahnya. Selly mendongkak, ia melihatkan wajah kepada mamah. Dengan Raut penuh kesedihan dan membuat mamah Novi menyeretnya. " Pagi, pagi udah bikin bad mood mama. Cepat Cuci muka kamu, mandi lalu sarapan!." Ucapnya kesal. Selly masih mengikuti langkah mamah menyeretnya, hingga keluar taman dekat dapur dibelakang. Ia mulai menepis lengan mamah. Menghentikan langkahnya seketika. "Berhenti berakting!" Ucap Selly." Berhenti berakting kalau mamah peduli, Selly!." Suara tajam Selly langsung nyembur kewajah mamah Novi. Selly meringis ketika mama sengaja mencengkram lengan Selly kembali. " Mama, boleh sakiti aku? Tapi jangan sakiti hati orang lain!" Ancam Selly. Plak! Mama Novi menamparnya. Mata Selly kembali tajam dan dingin. " Ini ngak sakit, maa..! dibanding mama nyakitin ayah dan Om. Plak. Novi kembali menamparnya lagi. Selly kembali senyum. Ia menyeringai wajah mamanya. "Jaga ucapanmu, sopan sedikit dengan mamah yang megeluarkanmu dari rahim mama!!" Matanya melotot dan tajam kearah mata Selly. " Dimana kotak kayu milikku. Kemana mamabuang itu! " Ucapnya setengah teriak. " Kotak apa!!" Jawab mama. " benda usang itu sudah kubuang, Untuk apa disimpan foto- foto orang mati!." Selly diam. Ia menahan air mata yang muali membendung kelopak matanya. "Apa semua nya baik-baik saja?" Tanya om firman, melihat mereka tengah berpelukan dan tak lagi mendengar suara teriakan Selly. "Mah, berhenti berakting!!" Ucap selly singkat dan menyeringai mamanya. Mama Novi Hanya senyum kecut. Mata Selly masih menyimpan sejuta pertanyaan, "Dimana mamah buang kotak kayu , milik aku?! hartaku, Maaaaa!!!!." Suara selly berhasil dibungkam Novi dengan tangan nya. Karena teriakanya akan mengundang kecurigaan pada Firman. Selly begitu membenci mamahnya, karena mamah hanya akan menghabiskan uang ayah tirinya itu untuk bersenang-senang. "Dimana kotak,nya?" Pinta nya lirih dan lemah, menguraikan air matanya kali ini, Selly begitu sangat kehilangan, ia sangat sedih kehilangan kotak tersebut, ia menangis seperti anak kecil, meminta, memohon kotak harta nya dikembalikan. " Tolong, maa. Mama boleh benci Selly, buang Selly, tapi jangan benda itu. Mah.." Pintanya kembali dengan tangis yang sudah tidak bisa lagi ia bendung. "Cari di gudang!! Mungkin itu belum dibuang oleh bi Nur!!!"Cetusnya. Dan kembali masuk kedalam rumah meninggalkan Selly sendirian dengan isak tangisnya. Selly Masih berlutut dan menangis terisak isak, ditaman arah dapur. Selly bangkit, ia berlari kearah gudang yang terdapat dipojokan, dekat taman belakang dapur. Yang masih terkunci dengan gembok. Ia mulai meyeka air matanya dengan telapak tangan dan memutar kedua bola matanya, melihat sekeliling taman hanya ada rumput, tak ada batu bahkan palu yang ia inginkan. Untuk membuka gembok. Ia tidak mau meminta kembali kunci gudang pada bi Nur atau mama. Ia tidak mau menunjukan wajah sembabnya pada ayah tirinya itu. Selly melihat barbell milik ayah tirinya, langkah nya langsung dipercepat dan di sambar nya. Barbell tersebut. Ia memukul- mukul kunci gembok seperti maling, sekuat tenaga dengan barbell yang berat. Sekali pukulan itu dengan barbell tak berhasil membuka gagang kunci itu terbuka, kedua kali masih sama, ketiga kali kunciannya sedikit mengangga dan ke empat berhasil dibuka nya. Senyumnya mulai mengembang. " Berhasil." Desisnya girang. Selly langsung membuang barbell dan langsung menendang pintu yang kokoh dan berhasil membuka pintu itu. Brak. Pintunya terbuka, Selly memasuki sebuah ruangan yang penuh debu, hingga ia harus menahan nafasnya beberapa detik ketika masuk. Ia mengatur nafasnya pelan. Bau ngengat dan kecoak begitu tajam menusuk indra penciuman, barang –barang luar biasa menumpuk digudang itu. Barang- barang yang sudah sedikit rusak tapi masih bisa diperbaiki. Selly mengambil sepeda mini miliknya 5 tahun lalu, sebelum ia bisa mengendarai motor, sepeda dengan keranjang depannya penyok, karena ia jatuh menabrak drum dijalan, dan berhasil lututnya sobek dan dijahit, meninggalkan bekas luka pada pemiliknya. Diusapnya benda itu yang membuat dirinya terbaring di Rs selama dua hari, benda itu masih diusapnya meski banyak debu yang tebal dan menempel. Ia kembali menerawang seisi gudang yang gelap, ia raba, debu yang sudah hampir satu centi menyelimuti benda-benda usang dan menempel ditangan nya. Membuat kelima jarinya berwarna abu abu, lalu meniupnya. Matanya masih menerawang keseisi ruangan, mencari sebuah kotak kayu pelitur, kotak yang berbau khas kayu jati, ia membongkar lukisan yang sudah sobek dan memindahkannya, melihat lihat barangkali kotak itu disimpan, dan ditumpuk disitu, Tapi hanya membuatnya menarik nafas meski bernafas membuat dirinya sesak. Mencium debu yang beterbangan. Selly kembali mendengus, Ia ingat bi nur belum mengeluarkan isi gudang dan masih berharap banyak kalau kotak itu kembali ditemukan olehnya. " Dimana, ya.." Ucapnya kembali, masih mengedarkan pandangannya kesekeliling benda – benda yang ditumpuk. Ia melihat rak buku yang dipenuhi tumpukan Koran yang sudah hampir hancur digigit kecoak dan dijadikan alas tidur oleh tikus yang mencicit, bau air seni tikus, menyergap langsung menyemburkan bau yang menyengat. Ia memindahkan lipatan Koran, disingkirkannya lipatan Koran itu yang berada dirak paling bawah, membongkar nya lalu membuang Koran kotor dan hancur. Meski setengah jijik, ia memindahkan Koran itu karena baunya sudah tak tertahan. " Argrghhhhhh...." Teriak Selly sendiri . Kecoak mengerayangi tangannya yang keluar dari Koran yang hancur, ia menjerit dan membuang kecoak itu dan reflaks diinjak nya, melihat kecoak menggeliat kesakitan dan mati tepat dikaki Selly. " Maaf ya...." Desisnya. Ia merasa kasihan pada kecoak yang mengagetkan dirinya dan berhasil membuatnya tadi jantungan. Selly duduk memandangi kecoak disisa waktu kehidupannya, saat meluruskan pandangan nya ia melihat kayu yang menjadi ganjal rak buku usang. Kotak yang ia cari. " Itu kotaknya." desisnya sumringah. Tapi kotaknya dipakai sebagai ganjal lemari rak buku, yang sudah rusak kaki-kaki nya, sebelah. Selly kembali tersenyum sumringah.ia telah menemukannya kembali, ia begitu bahagia melihat cat yang masih mengkilat dari kotak kayu pelitur yang kuno. Selly mendorong tumpukan Koran, kardus penuh buku-buku usang milik ayah tirinya dan benda-benda yang terbuat dari kayu lain menghalangi. Ia memindahkan barang- barang yang menghalanginya yang membuatnya kesulitan untuk mengambil kotak itu. Dan Ia tak memperdulikan sarang laba-laba yang kini berada di rambut nya, berhasil menempel menghiasi rambut yang terurai sebahu. Selly menarik kotak itu dengan hati – hati. Menahan lemari dengan tangan kiri dan bahunya. Agar patahan kaki lemari itu diganti dengan tumpukan beberapa buku yang akan digeser setelah kotak itu ter-ambil. "Ah_ketemu! !ini dia ..." Selly masih berusaha agar lemarinya kembali tegak dengan beberapa buku sebagai ganti kotak yang ia ambil. Matanya berbinar dan diusapnya kotak itu bagai kucing yang memerlukan tuannya datang memberi makan, Selly jongkok berusaha mendorong rak lemari dan mengangkatnya. Menganti dengan beberapa tumpuk. Masih sekuat tenaga ia menggeser lemari kayu itu, Tapi hanya berhasil menggeser lemari itu beberapa centi saja, selanjutnya lemarinya terhalang oleh sepeda yang berada tepat didepan pintu gudang, selly hampir putus asa, Tapi bi Nur melihat gebrak gebruk digudang berhasil menarik perhatian nya ketika selesai mencuci dan menjemurkan di halaman belakang dekat gudang. "EH_huss_hussss, ada kucing ya? meowww,,,meowwww,, pus,, pussss,,,,,,,!!!!!!!!" Suara Bi Nur menirukan suara kucing yang biasa ngacak – ngacak tempat sampah atau gudang. Bi nur mengendap endap mengintip siapakah yang sedang berada digudang. " Darrrrrr!!" Teriak Selly mengangetkan. Tepukan dari Selly berhasil membuat jantung nya hampir copot dan kena serangan jantung seketika, menangkap d**a supaya ritme nya kembali normal. "Asstagfirullah!!!!" Berulang kali ia menyadarkan jantungnya kembali yang hampir copot. Bi Nur masih jantungan dan mengulang kembali latah ucapannya. "Non, Sell. Non Selly. Ternyata!!" Ucap bi Nur masih setengah ketakutan gemetaran. Melihat wajah Selly yang terengah-engah dengan dahinya penuh keringat bercucur kesela dahi, mengalir lembut kepipinya. "Bantuin saya, ambil kotak itu!!!" Tunjuk Selly. Pada ganjalan dibawah rak buku. " please ya, bi." " Ah, Iya siap. Non." Bi Nur langsung mengacungkan jempol, dan segera membungkuk membantu mengangkat lemari. Agar Selly bisa mendapatkan kotak itu. "Pake aba- aba ya..., non. Soalnya berat banget." Ucapnya masih setengah menahan berat dengan kedua tangannya. Selly menghitung 1-3. " Oke. Satu, Dua, Tiga!". Selly menahan Lemari dan menarik kotak kayu miliknya. dan kotak itu berhasil ditariknya. Ia berucap syukur dan hampir menangis, tangis haru, dengan mencium kotak itu yang sedikit kotor berdebu. Selly melihat kotaknya masih terkunci. Ia senyum. " Sudah non, bibi sudah tidak kuat lagi. Apa sudah diganjal kembali patahanya." Tanya bi nur dengan keringat yang bercucuran didahinya. Selly mengangguk kearah bi Nur. " Sudah, bi." Jawabnya singkat. Masih memeluk kotak tersebut. "krekkkkkk,,,,,krekkkkk,,,,krekkkk' "krekkkkkk,,,,,krekkkkk,,,,krekkkk' " Bibi turunkan ya." Selly kembali mengangguk dan mencoba membantu mensejajarkan kembali ganjalan lemari dengan beberapa buku tebal. " Bentar bibi mau cari kayu lagi ya, deket sini buat ganti ganjelnya." Ucapnya buru-buru pergi dan mencari kayu deket dapur bekas tukang membuat tambahan kitchen set. Bi nur memungut beberapa, dan segera kembali menuju gudang. Ia melihat Selly masih dalam posisi semula mengelap kotak itu dan mengeluarkan kalungnya, melepaskan liontinnya dan siap membuka kotak kayu jati miliknya. "krekkkkkk,,,,,krekkkkk,,,,krekkkk' "krekkkkkk,,,,,krekkkkk,,,,krekkkk' Suara kayu yang hampir patah, terdengar jelas ditelinga bi Nur ia melihat lemarinya mulai goyang, mulutnya tak bisa lagi bersuara. Melihat Selly tengah duduk dan masih memeluk kotak kayu milik nya. Cuuppp... dan menciuminya. "AWASSSSS_!!! NON ..., SELLL_" teriak Bi Nur dipintu. Brakkkkkkkk.... Selly melihatnya lalu memutar leher melirik lemari. Hanya beberapa detik selly tak bisa menghindar. Perkataan bi Nur bagai bom meledak dan tak berhasil dijinakan, ucapannya seperdetik terlambat, terlambat membuat Selly bangkit dan menjauh, menghindar dari rak buku yang berat, sebuah lemari kayu menimpa selly. Menindih tubuh Selly dengan kotak kayu dipelukannya, tubuh Selly sekilat langsung tertindih dan tergeletak, darah dari dahi nya mulai mengalir membanjiri lantai gudang. " Argrghhhhhh... Non...!!!." Teriak bi Nur. Langsung berlari menuju tubuh Selly dibalik lemari, berusaha mengangkatnya supaya tidak terlalu menindih tubuh selly. " Tolong! Bapak, Ibu, Tolong Non. Selly.!!" Teriak Bi Nur kalap. Ia masih setengah mengangkat lemari yang tertindih dari tubuh Selly. Berusaha menyingkirkannya. Suara benda jatuh itu berhasil membuat mama Novi dan suami nya keluar. Melihat kearah gudang. Melihat bi Nur menangis sesegukan berusaha menarik lemari yang menindih gadis yang berumur 16 th. Firman seketika langsung membantu bi Nur mendirikan rak itu, mama Novi hanya diam di pintu mematung dan langsung lemas, ketika melihat darah yang mengalir dari lantai hingga pintu gudang, ia merasa bersalah melihat putri nya tergeletak. Warna darah itu begitu pekat dan banjir menuju pintu. "Se ..., Selly...." ucap novi parau, terbata-bata, menahan sekuatnya supaya tak menangis, masih menahan air mata nya yang keluar dan berusaha menyadarkan dirinya bahwa ini adalah mimpi. waktu kini terasa berhenti berputar dan hanya berhenti pada wajah Selly yang sudah tertutup darah. " Huaaaaa...." Teriak Novi Histeris. Ia menangis sejadinya. " Selly, sayang.." " Sudahlah, mah. Jangan buat keadaan semakin panik. Ayo kita bawa Selly kedalam mobil. Ambil Kunci mobil. Papa di meja!." Teriak Firman. Firman menggotong tubuh Selly dan langsung membawa tubuh itu kemobil, lalu dilarikan kerumah sakit. Bersama mama Novi. Bi nur masih menangis digerbang, ia merasa bersalah pada anak majikannya, tak sempat memperingatkan Selly yang tengah asik memeluk kotak. Bi nur hanya memeluk kotak kayu dipangkuan nya berharap pemilik kotak kayu tersebut masih sempat membuka kotaknya. Dan memandangi rahasia dibalik kotak itu, kotak yang membuat bi Nur penasaran. Kotak yang membuat Selly harus bergelut dengan maut kali ini. Kringgggggg....kringgggggg...kringggg Suara telepon dari dalam ruangan tamu berdering, tuan rumah semuanya sudah pergi keluar mengantarkan Selly kerumah sakit, mungkin telepon itu penting, mungkin juga telepon itu dari majikan dirinya, bi nur berlari sekilat dari teras hingga ruang tamu. Menyambar gagang telepon. Dengan nafas terengah- engah dan sedikit sesegukan. "Ya hallo_?"' Suara bi Nur masih gemetaran dan terisak isak, berusaha tabah dengan kejadian yang baru menimpa majikan nya. "Hallo, bi. Selly ada..." Tanya dari luar telepon."Ini Selvy, bi." "Oh ..., Neng Selvy." Suara bi Nur semakin terisak-isak dan terbata-bata, ia semakin keras ketika suara selvy menyebutkan nama Selly. "Hallo bi ....Nur. Ada apa?" Tanya Selvy, kembali tak sabar, menunggu jawaban yang belum di jawab bi nur. "Bi, bi, bi, Nurrr_?" "Ya ..., neng. Non Selly tadi ketimpa lemari kayu digudang, bibi gak tahu kalau non selly. Selamat atau keritis, neng_" bi nur kembali menangis sejadinya ditelepon. "Non Selly, ngambil kotak kayu, digudang , karena susah!! Bibi ngangkat lemari itu ,kotak kayunya berhasil diambil non Selly, tapi karena lemarinya udah pincang, pas bibi kembali nurunin lemari seperti semula, terus ambil beberapa kayu. Lemarinya malah oleng nimpa non Selly, neng_?" lirihnya "Terus ..., gimana keadaan Selly, bi." Teriak Selvy dari telepon yang melekat di kuping bi nur. "Bi ..., bi gak tau." Jawabnya. "kotak kayu nya ada dimana, bi Nur?!" Tanya Selvy lagi. "Jaga baik-baik kotak Selly, itu rahasia Selly juga harta karunnya. Bi. " Jelas Selvy, seolah ia akan pergi langsung kerumah sakit Bogor. "Emang dalam nya apa, neng_?" tanya bi Nur. " Yang Jelas Bukan emas bi, pastinya. Itu ada surat terakhir dari Dhio. Juga surat cinta Selly untuk Dhio, kalau gak salah ada foto-foto allmarhum ayah nya bi. Ok ..., udah dulu ya bi, aku mau kerumah sakit!! om firman udah kabarin Selly baik baik ajah, hanya kepala nya yang tertimpa dan sobek, sama bahu nya agak retak!!. Jelas selvy yang baru mendapat pesan singkat di ponselnya. Dah salammualaikum." Bi nur terdengar diam ketika Selvy menyebutkan isi kotak itu. ia hanya berfikir fikir, hanya karena surat cinta dan foto allmarhum ayah nya membuat ia gila, kesetanan mencari kotak yang isi nya terbilang sampah, bukan harta karun seperti emas dan permata. Tapi bukankah kenangan dari seseorang itu adalah harta yang berharga. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN