Bab 4 (Rencana yang Tidak Berjalan)

533 Kata
Sore hari setelah jam pelajaran selesai, halaman belakang SMA Angkasa terlihat lebih ramai dari biasanya. Beberapa siswa sibuk memindahkan meja, ada yang membawa cat, ada juga yang mulai memasang dekorasi untuk Festival Sekolah yang akan diadakan minggu depan. Alan, Iden, dan Elyas juga berada di sana sebagai volunteer baru. Alan terlihat memegang gulungan kertas dekorasi sambil sesekali melirik ke arah Gia yang sedang memberi arahan kepada beberapa anggota OSIS. Iden yang melihat itu langsung menyenggolnya. "Lu kerja atau mantengin Gia?" Alan kaget. "Eh… kerja lah!" Elyas yang berada di belakang mereka hanya menggeleng. "Lu kalau mantengin dia jangan kelihatan banget, Lan." Alan mendesah pelan. "Gue cuma lihat sebentar." "Bohong," jawab Iden cepat. Belum sempat Alan membalas, tiba-tiba Gia berjalan mendekat. "Alan?" Alan langsung tegap seperti tentara dipanggil komandan. "Iya!" Gia sedikit terkejut melihat reaksinya. "Kamu bisa bantu bawa kotak dekorasi itu ke aula?" Alan mengangguk cepat. "Bisa! Bisa banget!" Ia langsung berusaha mengangkat sebuah kotak besar yang ada di dekatnya. Namun ternyata kotak itu jauh lebih berat dari yang ia kira. Saat mencoba mengangkatnya dengan penuh percaya diri… BRUKK! Kotak itu terjatuh dan beberapa pita dekorasi berhamburan ke lantai. Suasana di sekitar mereka langsung hening beberapa detik. Elyas menutup wajahnya. Iden berbisik pelan. "Baru lima menit kerja… udah bikin acara sendiri." Alan yang wajahnya mulai memerah buru-buru mengambil pita yang berserakan. "Maaf… tadi licin." Padahal sebenarnya tidak ada yang licin. Gia justru tertawa kecil melihat kejadian itu. "Tidak apa-apa. Aku bantu." Gia ikut berjongkok membantu Alan mengambil pita-pita tersebut. Alan yang gugup malah semakin kikuk. Saat ia mencoba berdiri sambil membawa kotak itu lagi… Kepalanya hampir saja menabrak kepala Gia. Untung saja Gia cepat menghindar. Alan langsung panik. "Maaf! Maaf!" Gia tersenyum menahan tawa. "Kamu kelihatan sangat gugup." Alan menggaruk belakang kepalanya. "Hehe… sedikit." Dari kejauhan, Elyas dan Iden memperhatikan mereka seperti penonton pertandingan. Iden berbisik. "Menurut lu itu kemajuan atau kemunduran?" Elyas berpikir sebentar. "Minimal Gia sekarang tau kalau Alan itu… unik." Beberapa menit kemudian, Alan akhirnya berhasil membawa kotak dekorasi itu ke aula. Ia meletakkannya dengan hati-hati. Namun saat ia berbalik… Kakinya tersangkut kabel lampu dekorasi. Tubuhnya hampir terjatuh lagi, tapi kali ini ia berhasil menahan diri dengan memegang meja. Meski begitu… Sebuah tumpukan balon jatuh tepat di kepalanya. Puluhan balon bergelinding ke segala arah. Beberapa siswa langsung tertawa melihat pemandangan itu. Elyas sampai menepuk-nepuk meja karena terlalu keras tertawa. Iden bahkan sampai duduk di lantai sambil memegang perutnya. "Lan… lu ini bantu festival atau jadi hiburan festival?" Alan yang wajahnya merah seperti tomat hanya bisa menghela napas panjang. Saat ia sedang mengumpulkan balon yang jatuh, tiba-tiba Gia kembali muncul di sampingnya. Ia memungut satu balon dan memberikannya kepada Alan. "Sepertinya hari ini kamu sering sekali membuat kejutan." Alan hanya bisa tersenyum malu. "Iya… maaf kalau malah bikin ribet." Gia menggeleng pelan. "Tidak kok." Kemudian ia tersenyum kecil. "Justru jadi lebih seru." Alan sedikit terkejut mendengar itu. Sementara di kejauhan, Elyas menyikut Iden. "Tuh kan." "Apa?" "Dia ketawa." Iden mengangguk. "Berarti rencana kita mulai berhasil." Alan yang tidak mendengar percakapan mereka hanya berdiri di sana dengan wajah masih sedikit malu. Namun jauh di dalam hatinya, ia merasa senang. Karena untuk pertama kalinya… Gia tertawa bersamanya. Meskipun… sebagian besar karena kekonyolannya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN