Festival sekolah tinggal beberapa hari lagi. Aula SMA Angkasa kini hampir penuh dengan dekorasi warna-warni. Lampu-lampu kecil sudah mulai dipasang, panggung mulai terbentuk, dan para volunteer terlihat sibuk di sana-sini.
Alan berdiri di atas tangga kecil sambil memasang pita dekorasi di bagian atas panggung.
Berbeda dengan hari pertama, kali ini ia terlihat jauh lebih santai.
"Lan, yang kanan dikit!" teriak Elyas dari bawah.
Alan menggeser pita itu sedikit. "Gini?"
"Masih miring!" sahut Iden.
Alan mendesah. "Kalian ini nyuruh tapi gak bantu."
Elyas tertawa. "Kita ini supervisor."
"Supervisor apaan, kerjaannya duduk doang." Namun meskipun mengeluh, Alan tetap memasang dekorasi itu dengan hati-hati.
Beberapa saat kemudian ia turun dari tangga.
Gia yang sejak tadi melihat hasil dekorasi itu mengangguk puas. "Bagus."
Satu kata itu saja sudah cukup membuat Alan tersenyum lebar.
Iden yang melihat dari jauh langsung berbisik ke Elyas. "Lu lihat gak?"
"Lihat apa?"
"Senyumnya Alan."
Elyas menyeringai. "Itu bukan senyum biasa. Itu senyum orang yang lagi jatuh cinta."
Alan berjalan kembali membawa beberapa alat. "Apaan sih kalian bisik-bisik?"
"Enggak apa-apa," jawab Iden cepat.
Gia kemudian mendekati Alan lagi. "Kamu cepat belajar juga ternyata."
Alan menggaruk kepalanya. "Hehe… ya dibantu juga sama mereka."
Gia tersenyum. "Terima kasih sudah membantu festival ini."
Alan menatap Gia sebentar lalu mengangguk. "Iya… sama-sama."
Untuk beberapa detik suasana menjadi agak canggung.
Namun kali ini Alan tidak terlalu gugup seperti biasanya.
Ia bahkan mulai merasa lebih nyaman berbicara dengan Gia.
Di dalam hatinya, Alan merasa usahanya selama ini mulai menunjukkan hasil.
Mungkin…
mungkin saja Gia mulai melihatnya juga.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Tiba-tiba seseorang datang dari arah koridor aula.
Seorang siswa kelas 12 dengan seragam OSIS lengkap berjalan masuk dengan percaya diri.
Beberapa anggota OSIS langsung menyapanya. "Kak Raka!"
Gia juga menoleh. "Oh, Kak Raka sudah datang."
Alan memperhatikan siswa itu.
Tubuhnya tinggi, wajahnya rapi, dan aura kepemimpinannya terasa kuat.
Raka adalah ketua OSIS SMA Angkasa.
Ia berjalan mendekat ke arah Gia.
"Gimana persiapan festivalnya?" tanya Raka.
Gia menunjukkan beberapa dekorasi. "Sudah hampir selesai, Kak."
Raka mengangguk lalu memperhatikan ruangan itu. "Panggungnya bagus."
Kemudian matanya berhenti pada Alan dan teman-temannya. "Ini volunteer baru?"
Gia mengangguk. "Iya."
Raka tersenyum ramah kepada mereka. "Terima kasih sudah membantu."
Alan hanya mengangguk.
Namun ada sesuatu yang membuat hatinya sedikit tidak nyaman.
Raka kemudian menepuk kepala Gia pelan. "Kerja bagus."
Gia tersenyum. "Masih banyak yang harus disiapkan."
Alan yang melihat itu tiba-tiba merasa aneh.
Tanpa sadar ia menoleh ke arah Elyas.
Elyas sudah memperhatikan sejak tadi. "Wah…" bisiknya.
Iden ikut melihat. "Itu siapa?"
"Ketua OSIS," jawab Elyas pelan.
Alan kembali melihat ke arah Gia dan Raka yang sedang berbicara sambil tertawa kecil.
Sebuah perasaan yang tidak menyenangkan muncul di dadanya.
Untuk pertama kalinya sejak ia mulai mendekati Gia…
Alan merasa ada orang lain yang mungkin lebih pantas berada di dekatnya.
Iden menepuk bahu Alan. "Tenang."
Alan menoleh.
Elyas juga ikut berbicara. "Persaingan baru dimulai."
Alan menghela napas panjang.
Perasaannya yang tadi tenang…
kini mulai dipenuhi kegelisahan lagi.
Dan ia tidak tahu…
bahwa masalah yang lebih besar dari ini sudah menunggunya di rumah.