18# Batas

2009 Kata
Aku melonjak kaget dari tidurku mendengar suara alarmku sendiri. Dan lebih kaget lagi ketika tahu, jam sudah Menunjukkan pukul 06.00 pagi. Astaga! Aku kesiangan. Ya, pukul 06.00 adalah kesiangan versi peraturan rumah kami. Aku segera bangkit menuju kamar mandi. Namun begitu aku berdiri dan hendak berjalan, kepalaku berdenyut-denyut hebat, aku merasa lantai kamar bergoyang-goyang, aku mencari pegangan lalu duduk kembali di kasur. Ini pasti efek begadang semalam. Aku selalu begini jika kurang tidur. Ibu membuka pintu kamar dan masuk bersama nampana berisi s**u coklat dan nasi goreng yang lengkap dengan telur mata sapi, kacang polong dan bawang goreng yang melimpah kesukaanku. Telur mata sapi buatan ibuku sempurna seperti buatan chef di hotel-hotel berbintang. Tapi aku sedang tidak fokus dengan itu, aku gelisah karena takut ibu tahu aku begadang semalam. "Kamu tidak perlu ke meja makan untuk sarapan. Ibu bikinkan favorit kamu. Ibu taruh meja ya." Aku hanya bisa mengangguk dan sedikit bingung. Apakah aku tidak terlihat baru saja bangun tidur? " Jangan lupa dihabiskan, biar bisa segera pulih. Ibu kembali ke meja makan menemani Ala dan Kavya makan di sana." Aku mengangguk lagi. Sejenak kemudian, ibu pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Apakah ibu pura-pura tidak tahu kalau aku baru bangun. Tumben ibu tidak mengomel, apa karena aku sakit? Aku berdiri pelan-pelan, pusing di kepalaku sudah mulai berkurang. Aku berjalan perlahan menuju kamar mandi. Seusia cuci muka dan sholat subuh yang kesiangan, kubuka jendela kamar dan duduk di kursi sebelah meja. Menghirup udara basah dari luar bercampur asap nasi goreng buatan ibu yang masih mengepul. Seketika aku lapar. Baru separuh kulahap nasi goreng ibu. Ibu, Ala dan Kavya beramai-ramai masuk kamar. "Biv, ibu mau ke pasar sebentar, dan Ala mau ikut mengantar ibu. Kamu tidak apa-apa kan di rumah sendiri?" Aku menatap mereka semua secara bergantian. Apa-apaan ini, klienku datang ke rumah untuk menginap, lalu paginya pergi jalan-jalan bersama ibukku. Apakah ini wajar? Ibu dan Ala memang banyak sama-nya. Karakter mereka serupa, mudah akrab dan senang berbicara. Sehingga wajar jika mereka seperti menemukan teman baru. Tapi Ala kan klienku, bukan teman ibukku. "Ala harus ikut?" Tanyaku kemudian, aku hanya merasa aneh dengan keakraban mereka. Temanku paling akrab pun tidak ada yang sedekat itu dengan ibu. "Aku ingin jalan-jalan, Biv. Tapi kalau kamu tidak mengizinkan, aku tidak jadi ikut." "Emmm...tidak apa-apa, ikutlah, aku tadi hanya kaget." Jawabku kemudian, perasaan aneh masih menyelimuti pikiranku. Ibu, Ala dan Kavya pergi ke pasar, menggunakan mobil Ala. Ibu biasanya pergi ke pasar naik ojek online. Meskipun aku di rumah, aku tidak pernah mengantar ibu, meskipun ada satu sepeda motor atau sepeda angin di rumah, ibu tidak pernah memakainya. Pasar yang mereka tuju tidak jauh dari rumah, mungkin tiga kilometer. Aku tidak khawatir mereka bagaimana-bagaimana, aku hanya tidak biasa ibuku sedekat itu dengan klien ku. Segera kulahap habis nasi goreng di piring dan segelas s**u di sampingnya, lalu meraih handphone untuk menelpon Zahra. "Ra…" "Haloo Biv, kamu sudah sehat? Aku ada rencana kesana sore nanti. Kamu mau dibawain apa? Sate Padang, soto Lamongan, pempek, terang bulan?" Zahra sudah nyerocos sebelum aku mengatakan apapun. Temanku itu memang begitu. "Tekwan aja, di langganan kita ya..Ra, ada yang lebih penting untuk aku omongin." "Oke! Apa itu?" "Alana menginap di rumahku bersama anaknya. Dia bertengkar dengan suaminya." "Ha??" Zahra menjerit saking kagetnya, bisa kubayangkan ekspresinya pasti sambil melongo dan matanya membulat. "Ra...kamu yakin ini tidak berlebihan?" "Aku nggak tahu, Ra. Ini makanya aku mau minta pertimbangan kamu. Sekarang dia keluar sama ibu ke pasar." "Ha??" Zahra terkejut lagi dengan nada yang sama. "Buat apa?" "Aku nggak tahu, mereka bilang ingin Ljalan-jalan, dan ibukku antusias, aku jadi tidak enak melarang." "Emm...kayaknya Alana perlu kamu beri batasan, Biv. Kamu konselornya, bukan temannya. Ya meskipun baiknya kamu berposisi seolah teman dalam profesimu, tapi aku khawatir ini berdampak tidak baik dalam proses konseling. Apalagi sampai menginap. Kita baru beberapa bulan terakhir mengenalnya, Biv." "Iya, Ra. Kamu bener, aku harus memberinya batasan. Di sela percakapan dengan Zahra, pagar besi depan rumah di pukul-pukul seseorang. Sepertinya ada tamu. Aku mematikan telepon, dan berjalan malas ke depan. Apa mungkin tukang sampah, apa waktu bayar iuran sampah? Aku mengintip dari jendela kaca. Tampak sebuah mobil sedan abu-abu terparkir di depan pagar. Siapa itu? Aku menyipitkan mata, memastikan siapa orang yang berdiri di belakang pagar. Karena kami hanya perempuan berdua saja di rumah ini. Kami perlu mengecek terlebih dulu siapa tamu kami sebelum membuka pintu pagar. Tapi siapa itu? Laki-laki dengan celana jeans dan kaos hitam. Astaga! Apakah itu Ghulam? Aku mengingat-ingat lagi wajah suami Alana. Ya, benar itu Ghulam. Bedanya, sekarang dia memakai kacamata warna gelap. Dia seperti sedang menelepon. Apa yang harus kulakukan? Aku belum bersepakat dengan Ala apakah aku boleh memberitahu Ghulam bahwa Ala dan Kavya di sini, atau tidak. Aku kembali ke kamar untuk menelpon Ala. Panggilan pertama tidak diangkat, jangan-jangan Ala meninggalkan handphone di dalam mobil. Aku menghembus nafas lega ketika panggilan kedua akhirnya diangkat. "Ala, sepertinya ada Ghulam di depan rumah." Suara di seberang ramai sekali. Ala sepertinya kesulitan mendengar suaraku dengan jelas. Dia mematikan telepon, lalu mengirim pesan, memintaku mengirim voice note saja. "Ala, sepertinya ada Ghulam di depan rumah." Setelah mengirim pesan suara, aku berharap-harap cemas karena Ala tak kunjung membalas dan Ghulam di depan rumah juga tak kunjung pergi. Aku duduk di ruang tamu, mengawasi Ghulam dari jauh. Aku hanya khawatir dia memaksa masuk dengan naik pagar kami yang tidak terlalu tinggi. "Bilang saja aku tidak di sana dan kamu tidak tahu aku dimana." Enak sekali Ala bilang begitu. Kalau begitu, aku berbohong dong! Pikiranku sejenak berkemelut. Ghulam bisa saja tidak percaya begitu saja. Di sini integritas ku dipertaruhkan. Ketika sisi-sisi pikiranku sedang saling bersitegang, pesan suara dari Ala masuk ke handphone ku. "Aku mohon maaf, Biv. Aku sungguh minta tolong padamu. Jangan sampai Ghulam tahu aku di rumahmu." Huftt...belum ada titik temu dari pergumulan pikiranku. Kulihat lagi Ghulam di depan rumah, ia tampak berbicara dengan seseorang. Itu Pak Sumilah, tetangga yang rumahnya beda dua rumah dari rumahku. Aku tetap gamang memutuskan, apakah aku akan keluar, atau tetap bersembunyi di dalam rumah. Ghulam mengetuk-ketuk lagi pagar besi rumahku, suaranya berdenting keras sekali. Dia pasti yakin, ada seseorang di dalam rumah, karena mobilku juga terparkir di depan rumah. Ok, baiklah, aku akan keluar menemuinya. Aku masuk kamar dulu untuk berganti pakaian. Mana mungkin aku keluar menemui laki-laki dengan piyama pendek yang sudah tidak ganti dari kemarin pula. Begitu melihatku keluar dari pintu rumah, kulihat siratan wajah lega dalam mimik muka Ghulam, dia tidak sabar menungguku membuka pagar. Terutama ketika aku harus memilih beberapa kunci yang cocok untuk membuka pagar. Ya, pagar rumah ini selalu terkunci, ketika kami di rumah atau sedang keluar rumah. "Ada yang bisa saya bantu?" Kataku begitu pagar terbuka, dan Ghulam tepat berdiri di hadapan ku. Dia membuka kacamatanya. "Apa kau tahu kemana Alana membawa Kavya?" "Kau suaminya, seharusnya kau lebih tahu daripada aku." "Jadi kau tidak tahu?" Aku hanya diam, mencari-cari kata yang pas agar Ghulam tidak curiga. Kutatap mata laki-laki itu dengan berani. Dialah laki-laki yang kutelusuri media sosialnya tadi malam. Dan sekarang, kukira sangat besar kemungkinan jika dia melakukan perselingkuhan dengan rekan kerjanya. Ghulam cukup tampan, wajahnya berwibawa, dan dia ketua organisasi nasional. "Apakah Ala menghubungimu?" Melihatku hanya terdiam, Ghulam bertanya lagi. "Ya, dia sambil menangis menghubungiku. Namun dia belum menceritakan semua yang terjadi." "Apa kau perlu tahu semua yang terjadi?" "Ya, aku konselornya. Aku perlu tahu apa yang seharusnya aku tahu." "Tolong katakan, dimana Ala dan anakku?" "Apa kau sangat ingin tahu?" "Ya!" "Untuk apa? Biarkan Ala menenangkan diri, beri dia waktu." "Jadi kau tahu dimana dia?" "Aku konselornya. Dan aku berhak untuk menjaga privasi nya. Maaf aku tidak bisa memberi tahumu." Aku hendak masuk ke dalam pagar rumah, tapi Ghulam menahanku, tangannya menahan pagar besi sehingga tidak bisa menutup. "Tunggu, ku mohon, aku hanya ingin menjelaskan sesuatu pada Alana." "Sesuatu?" Tanyaku. Ghulam mengangguk. Sesuatu yang sepertinya belum kutahu, sesuatu yang hendak diceritakan Ala tadi malam dan tidak jadi karena hari sudah larut. "Jelaskan nanti saja, nanti ketika Ala sudah siap. Kupastikan dia dan Kavya baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Lanjutku kemudian. "Biv! Kau harus segera menghubungiku! Atau minta Ala mengangkat telepon ku." "Nanti aku menghubungi mu." Ghulam sudah tidak lagi menahan pintu pagar, dia membiarkanku menutup dan mengunci pagar. "Aku mohon maaf jika ini tidak sopan, tapi aku tidak terbiasa menerima tamu laki-laki di depan rumah." Ghulam mengangguk. Aku membalas anggukannya lalu masuk ke dalam rumah. Aku menghela nafas lega begitu menutup pintu rumah, ku lihat lagi ke luar dari jendela. Ghulam sudah tidak ada, tapi mobilnya masih terparkir di sana. Kulihat handphone ku, Ala menelpon beberapa kali. Dan mengirim beberapa pesan suara. "Biv, bagaimana? Apakah Ghulam sudah pergi?" "Biv, kami hanya akan pulang ketika Ghulam sudah pergi. "Biv, tolong cepat balas." Hufttt...aku heran kenapa Ala sangat tidak mau bertemu suaminya dan terlebih dia membawa ibukku bersamanya dan mengatakan tidak akan pulang sebelum Ghulam pergi. Ini yang dikatakan Zahra melewati batas. Tidak kubalas apapun karena hatiku menjadi geram dengan Alana. Pukul 11.00, Ibu dan Ala datang. Membawa beberapa keranjang besar dan tas keresek berisi macam-macam sekali alat, barang rumah tangga, dan bahan makanan. Aku duduk di ruang tengah, menghadap lapton ditemani segelas jus buavita mangga dan dessert box yang dikirimkan Hizi kemarin. "Biv, aku minta maaf jika jadi rumit begini. Aku yg minta maaf menyebabkan kamu berbohong." "Aku tidak berbohong." Aku tidak menoleh Ala, mataku tetap tertuju pada layar laptop. "Biv, apakah kau marah?" Ala bertanya lagi, kini dia memegang lenganku. "Aku tidak marah, Ala. Aku hanya tidak ingin ibukku terlibat dalam persoalan apapun dengan klienku. Aku minta maaf mengatakan ini. Tapi semoga kamu mengerti mengapa aku melakukan ini." Ala terdiam, wajahnya merah padam. Ibu mengamati kami dari dapur. Tidak berkomentar apapun. Kavya bersama ibu membongkar belanjaan dan sibuk menata kotak-kotak s**u uht di dalam kulkas. "Baiklah, aku akan bicara yang sebenarnya nanti padamu." Aku menoleh kepada Ala. Airmatanya menetes, ada perasaan menyesal dalam dadaku atas perlakuan ku barusan. Ala berdia, dan berjalan ke kamar. Aku menoleh kepada ibu. Beliau masih menatap ke arahku. Begitu tahu Ala pergi, beliau mendekat. "Ibu sudah menduga kalau kamu tidak suka kami berangkat bersama ke pasar tadi." Ibu berkata lembut sekali, karena ibu tahu hatiku sedang tidak enak. "Bukan masalah itu ibu." "Iya, ini pekerjaan yang terlalu jauh memasuki ranah privasimu. Kamu ingin menjaga ibu." Ibu merangkul lenganku. Aku tersenyum. "Kita biarkan Ala tenang, dia klienmu di kantor, tapi kita bantu dia di luar kantor sebagai seorang teman. Sebagai seorang manusia yang peduli dengan manusia lain. Dia tidak tahu harus kemana dan pada siapa mengadu." Aku menatap wajah ibu, ibu benar sekali. Ala memang terlalu jauh melewati batas pribadiku. Dia melibatkan keluargaku, tapi dia tidak jahat, dia tidak merusak apapun, dan dia butuh ditolong. Aku mengangguk. Ibu kembali ke dapur, melanjutkan beberes barang-barang belanjaan. "Ini semua yang bayarin Ala tadi. Ibu sama sekali tidak keluar uang, bahkan dia membelikan banyak hal yang ibu tidak ingin beli dan tidak tahu butuhnya kapan." Ibu tertawa kecil, rona mukanya bahagia, memilah-milah bahan makanan ke dalam kontainer untuk selanjutnya dimasukkan kulkas. "Kayaknya kulkas kita nggak muat." Ibu tertawa kecil lagi. Di sisi kanan kiri ibu, tampak tumpukan snack dan buah yang banyak sekali. Bahkan ada beberapa snack dan buah yang sepertinya ibu belum pernah beli. Kavya berlarian ke arahku, menyerahkan sekotak minuman yogurt dengan tangan kanan dan tangan kiri memegang s**u uht coklat untuk dirinya sendiri. "Segaa!" Setelah kotak minuman yogurt itu kuterima, dia memberiku kode bahwa dengan meminum itu aku akan merasa lega atau segar. Aku mengangguk dan segera kuminum beberapa teguk, kuberikan mimik muka penuh kesegaran dan kuacungkan jempol padanya. Dia tertawa girang. Dia lalu menarik-narik tanganku menuju dapur, dia menunjukkan padaku apa yang tadi dia beli. Beberapa kotak es krim, snack anak-anak, permen, keripik kentang, dan masih banyak yang lain. "Ate Biv..ate Biv." Dia menunjuk dadaku, aku tidak paham persis apa yang dia maksud. Tapi sepemahaman ku dia akan membagi semua itu denganku. Kuacungkan jempol padanya. Ahh Kavya, dia manis sekali. Tidak semestinya jiwa sesuci ini menanggung derita jika ayah dan ibunya berpisah. Dia berhak tumbuh bahagia. Dia berhak memiliki keluarga yang utuh dan lengkap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN