Tangisan Ala tumpah di pelukanku, badannya berguncang-guncang dan ia tergugu cukup keras seperti anak kecil menangisi mainan yang rusak. Aku tahu, semua itu menyiratkan bahwa hatinya benar-benar terluka. Ia menangis cukup lama, lama sekali ia tak melepas pelukannya. Entah kenapa pada saat itu, aku juga ikut menangis, rasa sedih yang Ala tampakkan sangat menular. Kami menangis bersama.
"Biv, kenapa kau ikut menangis?" Begitu melepas pelukan, Bivi terheran menyadariku ikut menangis.
"Aku tidak tahu." Kataku sambil menghapus air mata yang terus menetes. Air mata Ala sudah berhenti, tapi matanya masih merah dan berair dan wajahnya masih sembab. "Aku hanya ikut merasakan apa yang kamu rasakan." Lanjutku kemudian.
"Terimakasih Biv." Ala memasang mimik muka mellow dan memegang pundak ku. "Aku tidak tahu harus bayar berapa untuk semua ini?" Lanjutnya, aku tertawa kecil masih sambil mengusap air mata yang terus jatuh.
"Kau harus membayar ku mahal." Godaku.
"Asal tidak sampai menjual aset atau berhutang ya Biv." Jawab Ala. Kami tertawa, masih sambil berlinang air mata.
"Ala, maafkan aku untuk bertanya ini." Ait mata Ala sudah tidak lagi menetes, ia tampak lebih tenang, ia menyimak ku baik-baik. "Kenapa kamu membawa koper besar dan kenapa kamu kesini? Maaf, aku hanya ingin tahu."
Ala terdiam sebentar, aku khawatir salah bicara dan membuatnya menangis lagi. Tapi tidak, sejenak kemudian, setelah mengatur posisi duduknya, ia berkata "Aku hanya menggertak Ghulam. Setelah peristiwa anniversary di caffe itu, besoknya pertengkaran-pertengkaran kami masih panjang. Dan puncaknya adalah malam ini."
Ala menghentika ceritanya, ia menoleh pada jam dinding di kemarku. Waktu menunjukkan pukul 22.00. Aku tidak merasa mengantuk karena sepanjang siang kuhabiskan untuk tidur.
"Kita lanjut besok ya Biv, kamu butuh istirahat." Ala berkata begitu sambil berdiri, ia memunguti tissu-tissu bekas yang tercecer di atas kasur. "Maaf, kamu harus mendengar ceritaku di malam-malam seperti ini, padahal kamu harus istirahat."
Aku menggeleng mendengar ucapannya. Entah, terlepas dari tugasku sebagai konselornya, aku memang tulus dan ingin membantu Ala. "Aku sudah baik-baik saja, kau tak perlu khawatir. Kita lanjutkan besok ceritanya, susullah Kavya, nanti dia terbangun."
Ala pergi dari kamarku. Ia meninggalkanku dengan pikiran penuh pertanyaan. Aku bingung dengan diriku sendiri mengapa sedalam ini memikirkan masalah klien. Apa ini berlebihan?
Segera kumatikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur. Tapi suasana remang tetap tak membuatku mengantuk. Pikiranku masih benar-benar hidup. Melalang buana kemana-mana. Tentang Ala yang baru saja keluar dari kamarku, tentang bagaimana tanggapan orang lembaga perihal Ala yang menginap di rumah, tentang pekerjaan denga Hizi, dan tentang Kaizan.
Kutoleh sebentar beberapa makan yang masih tertata cantik di meja sebelah kasur. Ada dessert box dan minuman, aku berniat memasukkannya ke dalam kulkas agar tidak basi dan bisa disantap besok, tapi masih malah bergerak. Pikiranku justru tertuju pada, apakah memang seperti ini kebiasaan Hizi? Apakah Kaizan sengaja melakukan ini agar menarik perhatianku? Kututup rapat-rapat telingaku agar tidak berpikir begitu.
Memang, terkadang sekalipun kita tahu ini tidak baik memikirkan sesuatu tentang itu, tapi sebuah pikiran bisa datang begitu saja tanpa meminta pertimbangan kita.
Lalu pikiranku beralih pada Ala. Kisah cinta Ala dan Ghulam yang penuh teka-teki yang belum bisa kurangkai jawabannya. Semakin lama, bukan semakin jelas, justru semakin kabur.
Setelah hampir satu jam berusaha tidur, aku putuskan untuk menyerah dan bangun menyalakan lampu kamar. Kucari buku-buku di rak kamar yang bisa dibaca agar begadang malamku ini bermanfaat.
Hampir semua buku di rak sudah pernah k****a habis. Atau k****a separuh karena kurang menarik. Aku memilah-milah novel yang mungkin bisa k****a ulang. Lalu tanganku menyentuh buku bersampul kuning. Buku karya John Gray yang kubeli akhir tahun kemarin di bazar buku.
John Gray memang salah satu ilmuan favoritku di bidang psikogi. Karyanya terutama dalam membahas kisah percintaan laki-laki perempuan sangat menarik. Ilmiah namun sangat relate dengan kasus sehari-hari.
Akhirnya kuputuskan membawa buku berjudul Beyond Mars and Venus. k****a beberapa halaman awal dan aku menjadi sangat antusias.
Aku duduk bersila di atas kasur, mengambil bantal sebagai alas baca, dan mulai menekuri lembar-lembar buku.
Setelah hampir satu jam membaca aku merebahkan diri dengan pikiran menerawang, ada lampu yang menyela terang di otakku. Perihal kasus percintaan Ala dan Ghulam. Sepertinya ini menyangkut bab yang dijelaskan dalam buku yang k****a ini. Menyangkut karakter maskulin dan feminim yang terkikis dalam diri mereka.
Di tengah-tengah moment asyik membaca, terdengar suara sandal berjalan menuju kamar. Gawat! Sepertinya ibu hendak ke kamar untuk mengecek kondisiku. Aku melompat meraih saklar lampu dan secepat kilat menekan off, menarik selimut dengan tergesa dan pura-pura tidur. Tapi sayang, aku merutuk dalam hati, aku lupa menyalakan lampu tidur. Kamarku gelap gulita. Semoga ibu tidak curiga.
Ibu membuka pintu kamar, tampak cahaya lampu ruang tengah menerobos masuk di kamarku yang gulita. Ibu berdiri lama di depan pintu. Sepertinya merasa aneh karena aku tidak pernah tidur dalam keadaan gulita. Ibu lalu berjalan masuk kamar, menyalakan lampu tidur di meja samping kasur lalu mendekatiku, menempelkan punggung tangan di pipi dan dahiku.
Ibu duduk di kasur, membenahi selimut yang tadi kupakai sekenanya karena buru-buru. Ibu duduk lama tidak kunjung beranjak, sepertinya ibu tahu aku hanya pura-pura tidur. Aku menunggu ibu pergi, tapi ibu tak kunjung pergi. Ibu menungguiku.
Kucuri-curi pandang dengan menyipitkan mata, ibu sedang memandangiku, memandangi wajahku, sesaat kemudian tangan ibu sepertinya tak sengaja menyapu buku yang tergeletak di sampingku.
Lama sekali ibu mematut sampul buku itu. Lalu beralih memegang tanganku. Mengelus punggung tanganku, meletakkan buku di meja dan berdiri beranjak pergi keluar. Aku menghela nafas lega.
Seperginya ibu dari kamar, aku masih tak kunjung mengantuk, pikiranku beralih pada apa yang baru saja k****a dari buku John Gray, aku terfokus pada sebuah kalimat. "Seorang Laki-laki tidak menampakkan lagi kasih sayangnya dan berperilaku sebaliknya bukan karena berkurang cintanya, melainkan karena cidera maskulinitasnya."
Apakah Ghulam cedera maskulinitasnya? Apa mereka berdua cidera karakteristik masing-masing pribadinya. Apakah Ghulam dan Ala masih memiliki rasa cinta yang besar? Mengapa mereka berdua mudah sekali berganti perasaan dengan sangat drastis? Mengapa mereka begitu saling membenci?
Aku tiba-tiba memiliki energi yang besar untuk segera menyelesaikan semua teka-teki ini. Ala dan Ghulam pantas bahagia dalam cinta mereka. Mereka harus bahagia, terutama Kavya.
Lalu aku mulai menyusun, apa yang bisa kulakukan mulai besok. Besok aku masih izin dari Hizi untuk pemulihan, aku bisa berbincang lebih banyak dengan Ala. Aku bisa menggali untuk menemukan lebih banyak potongan puzzle kasus Ala dan Ghulam. Meskipun ku tahu, ada banyak sekali puzzle yang harus kutemukan untuk kurangkai.
Pertama, besok aku harus tahu mengapa Ala kabur kesini. Mengapa ia tidak memilih hotel untuk menenangkan diri. Dia punya banyak uang, bahkan bisa keluar kota dengan sangat mudah.
Dan sekarang, aku harus mencari tahu bagaimana interaksi mereka di media sosial. Aku duduk mencari handphone lalu segera membuka f*******:. Ku ketika nama Alana, ada beberapa akun, kupilih yang paling update untuk kutelusuri.
Ala tidak menampakkan apapun di media sosial. Hanya foto romantisme mereka yang terakhir diunggah beberapa hari lalu, foto Kavya sedang bermain, foto produk baju brand miliknya, foto liburan ke Bali, foto keluarga besar, sudah. Tidak ada yang menarik atau memberikan suatu kunci. Aku beralih pada laman i********: milik ala. Wow followernya banyak sekali hingga belasan ribu, mungkin itu customer brand fashion nya. Ala sangat aktif berinteraksi di kolom komentar feednya. Tidak ada tanda apapun selain itu.
Kututup media sosial Ala, dan beralih pada Ghulam. Aku mengingat-ingat nama lengkap Ghulam. Dan sama sekali tidak ingat, coba saja kuketikkan Ghulam di kolom pencarian. Dan tidak ada clue yang menunjukkan itu adalah Ghulam suami Ala. Apakah Ghulam tidak memiliki media sosial? Ah apa mungkin..
Kubuka i********: Ala lagi, barangkali disana Ghulam pernah tertandai di sebuah postingan. Ya, aku benar, Ala menandai Ghulam dengan nama akun Irsyani Sadetil. Pantas saja tak kutemukan di manapun. Aku langsung berselancar ke laman media sosial Ghulam.
Media sosial Ghulam isinya penuh dengan kegiatan LSMnya. Dia sedang rapat, sedang berkegiatan, sedang menjadi pembicara, sedang makan dengan rekan-rekannya, sedang naik kapal dengan rekan-rekannya, dan lain-lain. Diantara ratusan foto yang pernah ia upload. Hanya ada beberapa foto Kavya, tidak ada Ala sama sekali. Entah aku tidak menemukannya atau memang sudah lama sekali Ghulam tidak meng-upload foto bersama Ala. Entah Ini dari dulu seperti ini, atau Ghulam menghapusnya akhir-akhir ini saja saat bermasalah dengan Ala? Aku membatin sendiri.
Kemudian aku secara random membuka percakapan di kolom komentar salah satu foto yang pernah diunggah Ghulam beberapa bulan lalu. Di sana Ghulam tampak sangat aktif berbalas komentar, dengan beberapa rekan dan ada rekan wanita juga. Rekan wanita itu yang paling banyak berbalas komentar dengan Ghulam. Entah kenapa aku jadi penasaran dengan akun bernama Farisha Sinaga. Akhirnya aku pun meluncur untuk stalking profil rekan perempuan Ghulam itu.
Dari foto profilnya, dia biasa saja, masih jauh cantik Ala, ah aku menepuk dahi, aku kan memang tidak sedang menuduh Ghulam berselingkuh. Perempuan itu memang jauh dibanding Ala, tapi dia terlihat manis dan pintar. Di biodata media sosial perempuan itu tertulis bahwa dia bekerja di tempat yang sama dengan Ghulam, sebagai sekertaris. Seingatku, Ala pernah bilang kalau Ghulam adalah ketua umum. Aku mangut-mangut.
Tidak banyak yang mencurigakan di akun media sosial perempuan itu. Terlihat dari foto-foto yang ia posting, memang dia memiliki jiwa sosial tinggi. Dan, dari percakapan dengan oranglain di akun media sosial itu, kusimpulkan, dia masih single.
Aku terus berlayar di media sosial perempuan itu dengan rasa penasaran. Hingga jauh di bawah, tepatnya hampir setahun lalu, ia mengunggah foto berdua saja dengan Ghulam. Dia mengucapkan ulangtahun kepada Ghulam! Dadaku bergemuruh, bagaimana seorang perempuan bisa dengan santai mengunggah foto berdua dengan suami orang sekalipun itu hanya ucapan selamat ulang tahun.
Di foto itu, tampak mereka seperti sedang di kantor, meskipun foto itu jelas berdua, banyak orang di sekeliling mereka, mungkin rekan kerja Ghulam sedang memberi surprise. Foto itu memiliki caption "Selamat ulang tahun Pak Bos, semoga makin jaya!"
Aku segera penasaran untuk membuka kolom komentar, ada puluhan komentar di sana. Salah satunya Ghulam, dia hanya mengucap terimakasih, yang lain mengucap selamat ulangtahun kepada Ghulam, tidak ada yang begitu mencurigakan.
Aku diam sebentar mematut layar handphone ku. Berpikir apakah Ala mengenal perempuan ini. Lalu segera ku check media sosial Ala, perempuan itu mengikuti Ala tapi Ala tidak mengikuti balik. Apakah ini berarti Ala tidak mengenal perempuan ini?
Kugeser lagi layar handphone ku ke bawah, aku merasa penasaran dan berharap menemukan 'sesuatu' lagi. Dan benar, aku menemukan perempuan itu mengunggah foto beberapa orang sedang makan di suatu tempat makan seperti lesehan, dan ada Ala dan Kavya di sana. Ini berarti Ala mengenal perempuan ini? Tapi mengapa dia tidak mem-follow balik perempuan ini? Apakah Ala menyembunyikan sesuatu dariku?
Tidak banyak komentar di foto itu, Ghulam tidak pernah absen dengan berkomentar emoticon jempol. Foto itu sudah lama, mungkin satu setengah tahun lalu, mungkin saat itu Ala dan Ghulam masih harmonis.
Aku geser terus ke bawah, dan tidak menemukan lagi sesuatu yang istimewa. k****a sejenak dari setiap tulisan atau caption dari perempuan itu, dia terlihat pintar dari tulisannya, dan hangat dari caranya berbalas komentar dengan orang lain.
Aku tidak bisa menuduh Ghulam berselingkuh karena memang tidak memiliki bukti. Tapi, aku bisa mengambil kesimpulan besar, bahwa Ghulam memang sangat mencintai dunianya. Bahkan jika Ghulam diminta untuk memilih Ala atau pekerjaan, sepertinya dia akan kesulitan memilih.
Ini tidak menjadi masalah besar ketika dulu Ala belum sejaya sekarang. Belum memiliki popularitas, belum banyak uang dan masih bergantung pada Ghulam. Tapi ini kemudia menjadi masalah ketika keadaan berbalik. Bahkan Ala lebih berkilau daripada Ghulam. Apakah Ghulam merasa tersaingi? Mungkin iya, mungkin juga tidak.
Jam dinding menunjukkan pukul 01.20. Mataku sudah mulai panas dan kepalaku pening, tapi pikiranku penuh. Banyak sekali rencana yang tersusun di kepala ku yang akan kulakukan besok. Paling tidak aku sangat lega karena badanku sudah terasa sangat baik dan besok aku memiliki waktu sehari lagi untuk memikirkan masalah ini.
Kumatikan lampu kamar, kuaktifkan mode pesawat di handphone dan kupasang alarm pukul 05.00 pagi agar aku bisa bangun terlebih dulu sebelum ibu ke kamar untuk membangunkan ku. Jangan sampai aku telat bangun lalu ibu tahu kalau aku begadang. Ku tarik selimut dan berniat segera tidur, namun belum sampai tertidur, ku dengar lagi suara sandal ibu.
Ahh ibu mengecekku lagi, mengecek pipi dan dahi dengan punggung tangan, lalu mendesah lega. Mungkin didapatinya badanku sudah tidak panas. Tidak lama kemudian ibu pergi dari kamar, aku tersenyum dan bersyukur memiliki ibu yang sangat memperhatikanku. Lalu aku tertidur.