Beberapa hari ini, aku sibuk parah. Aku keluar rumah pukul 05.00 dan pulang pukul 21.00. Aku menggarap psikotest dengan dengan beberapa klien, membuat dan mempresentasikan hasilnya, konseling, mengisi acara sebagai narasumber, rapat project bersama Hizi, tinjau lapangan, menghubungi dan bertemu beberapa stakeholder, mengecek segala persiapan, dan lain sebagainya.
Ibu berkali-kali mengingat kanku, jangan lupa makan, jangan begadang, jangan capek-capek, aku selalu menjawab, "Siapp Ibu!" Nasehat ibu memang selalu kuturuti, aku tidak lupa makan, tidak begadang, tapi aku mungkin kalau tidak capek dengan kondisi pekerjaan seperti itu.
Hingga malam ini, ketika selesai mandi, aku melihat jam dinding pukul 21.20. Perutku rasanya mual sekali, aku berlarian ke kamar mandi lagi, kumuntahkan semua isi perut. Aku muntah seperti tidak ada henti-hentinya, hingga berakhir mengeluarkan cairan yang sangat pahit.
Begitu selesai muntah, tubuhku lemas, kepalaku pusing, badanku mulai meriang panas dan dingin. Ibu mengetuk pintu kamar berulang-ulang, baru bisa kubukakan ketika aku selesai muntah.
"Kamu kenapa?" Ibu mengecek dahiku dengan punggung tangannya, lalu keluar sebentar dan segera kembali dengan segelas air hangat. "Kayaknya kamu masuk angin. Ayo naik ke kasur, ibu selimuti."
Aku menuruti perintah ibu, berbaring di kasur dan ibu menyelimuti kaki hingga leherku, lalu mematikan AC. Setelah membaluri perut, leher, dan kaki dengan minyak herbal merek tertentu ibu bangkit dan mengatakan, "Ibu bikinlah jahe hangat dan madu dulu." Aku mengangguk saja, menurut.
Malam itu, ibu tidur di sebelahku, selalu begitu ketika aku sakit. Aku tidak bisa tidur semalaman karena kepalaku pusing sekali dan tubuhku menggigil. Beberapa kali ibu mengecek dahiku secara berulang. Lalu beliau keluar untuk mengambil plaster kompres demam.
Ya, akhirnya aku tumbang, di hari ke sepuluh setelah resmi bergabung dengan project Hizi. Ya, tepat lima hari sebelum acara besar pertama, yaitu launching program.
Pagi itu, aku masih meringkuk di balik selimut, ibu berkali-kali menawari menyuapiku bubur ayam buatan ibu sendiri, tapi aku belum juga berselera, padahal kalau sedang sehat, aku bisa habis dua mangkuk sekali makan.
"Kamu sudah izin tidak masuk kantor?" Ibu bertanya sambil memijit kakiku. Aku mengangguk. "Kalau ke team kamu di Hizi?" Ibu bertanya lagi, aku menggeleng. "Kenapa?"
"Aku berharap nanti sore bisa sembuh dan datang ke Hizi untuk membantu teman-teman persiapan."
"Bivi...ibu tahu kamu bukan melakukan ini karena uang, tapi karena rasa tanggung jawab. Tapi kamu tidak boleh dzalim sama diri sendiri. Kamu butuh istirahat, penuhi hak tubuh mu untuk sembuh." Aku diam saja mendengar kalimat ibu. "Ayo, mau tidak mau, kamu harus makan!" Nada ibu terdengar semakin tegas, beliau membimbingku untuk duduk dan bersandar ranjang. Aku menurut saja, tiga suapan berhasil masuk, hendak suapan keempat, aku mual lagi. "Sudah Bu, nanti lagi."
Hingga sore, keadaanku mulai membaik, aku minta ibu menyiapkan air hangat, tapi bukannya menyiapkan, ibu justru memarahaiku. Bahkan bila perlu, ibu sendiri yang akan menelpon Kaizan untuk meminta izin. Yasudah, aku akhirnya menurut.
Selepas magrib, Kaizan menelpon, aku gugup mengangkat, ibu memperhatikan dari kursi seberang kasurku membuatku semakin salah tingkah.
"Iya, Kaizan?" Suara saat itu benar-benar lemah, aku ingin kelihatan bersemangat tapi badanku sedang tidak bisa kompromi.
"Halo Bivi, aku benar-benar minta maaf kalau menganggu waktu istirahat kami, ada beberapa dokumen yang sangat perlu tanda tangan kamu, aku kirim via email ya, tolong dicek." Suara Kaizan dari seberang telepon terdengar dilembutkan, aku tahu, dia pasti tidak enak menyuruhku dalam keadaan sakit, tapi tidak ada pilihan lain.
"Okay, nanti aku cek! Aku yang minta maaf tidak bisa maksimal di akhir-akhir."
"Never mind, ini bukan mau kamu, kan? Tunggu ya, team Hizi mengirimkan bingkisan melalui ojek online."
"Eh, tidak usah! Kalian tidak usah repot-repot."
"Ini sudah semestinya kok, sekali lagi, mohon maaf menganggu, selamat malam!"
Kaizan menutup teleponnya. Ibu mendekat dengan wajah penasaran. "Dia bilang apa?" Aku hanya tersenyum, tidak bisa menyembunyikan bunga-bunga yang sedang bertaburan di hatiku. Aku masih menatapku menunggu jawaban.
"Tidak, Bu. Kaizan bilang, team Hizi akan mengirimkan sesuatu untukku melalui ojek online."
"Woww… team Hizi apa Kaizan sendiri?" Jawaban ibu spontan dengan mata berbinar.
"Ibu???"
Ibu tertawa lalu berdiri mengelus pundak ku dan berjalan keluar.
Tidak sampai setengah jam setelah itu, seseorang mengetuk-ketuk pagar kami, terdengar sangat keras. Ibu segera keluar, aku sudah membatin kalau itu Abang ojek.
Dan ternyata benar, ibu kembali dari depan dengan membawa sebuah tas besar.
"Apa itu, Bu?"
"Mana ibu tahu?"
Ibu lekas menaruh tas itu di atas kasur agar aku bisa meraihnya. "Ibu buka ya?" Tanyanya kemudian, aku mengangguk.
Pertama sebuah surat ucapan bertulis, "Selamat makan! Get well soon!" Tertanda team Hizi. Lalu ibu mengeluarkan dua buah bento box, sepertinya dari restoran Jepang. Lalu dua botol minuman herbal homemade, ibu membaca tulisan di botol itu, "Lemon grass, honey, and lemon. Wah bagus nih! Ibu juga mau." Lalu ibu mengeluarkan lagi beberapa kemasan buah-buahan yang dikemas terpisah, anggur merah, apel merah, dan strawberry. Sesudah itu, ibu mengeluarkan lagi dua buah dessert box, yang satu berwarna coklat tua dan coklat muda, yang satu hijau dan kuning.
"Wah, banyak sekali, mereka perhatian ya!" Ibu berceloteh sendiri sambil merapikan isi bingkisan itu. "Mau disuapin yang apa dulu?" Tanya beliau kemudian, aku menunjuk bento box, "Tidak usah disuapin Bu, kita makan bareng di atas kasur."
Aku dan ibu makan bersama di atas kasur. Dulu ketika aku kecil, ibu selalu memarahiku ketika makan di atas kasur, sekarang ibu tidak pernah memarahiku lagi. Ibu ikut makan dengan lahap. "Mengapa mereka mengirim dua? Apakah yang satu untuk ibu?"
Aku mengangkat bahu, karena aku sendiri juga tidak tahu.
Team Hizi, khususnya panitia project ini adalah teman-teman baru bagiku, termasuk Kaizan. Aku tidak pernah cerita apa-apa kepada mereka tentang privasi. Mungkin ini kebetulan saja.
Setelah makan, aku membuka laptop karena ibu izin istirahat di kamarnya. Aku lega karena selama ibu di kamarku, gerak-gerikku diawasi, aku kesulitan mengontrol pekerjaan.
Ketika aku sedang asyik menekuri layar laptop, handphone ku berdering. Alana? Mengapa dia menelpon malam-malam begini?
"Halo, Ala?"
"Biv…" Suara Ala terisak-isak di seberang telepon, aku kaget, ingatanku kembali pada peristiwa kapan hati di caffe. Ada apa lagi ini?
"Iya, kamu baik-baik saja?"
Ala tidak menjawab, hanya isakan yang terdengar. Aku menunggu sebentar hingga Ala tenang.
"Ala?" Kutanya lagi ketika dia mulai hening.
"Aku sekarang di mobil, di depan rumah kamu."
"Ha???" Aku kaget bukan main mendengar jawabannya.
"Aku dan Kavya, kami tidak ada pilihan lain kecuali kesini, Biv." Ala kembali terisak, aku masih shock mendengar jawabannya.
"Okay, kalau gitu, kamu langsung masuk saja, aku minta ibu bukakan pintu ya."
Aku berteriak memanggil ibu dan bercerita sejenak tentang Ala. Ibu segera ke depan, dan tak lama kemudian, kembali bersama Ala, Kavya, dan sebuah koper besar milik mereka.
"Bivi, kamu lagi sakit?" Ala mendekat lalu duduk di ujung kasur, dekat kakiku. Kavya diam saja memandangiku.
"Sepertinya masuk angin, sekarang sudah mendingan kok." Aku mengatur posisi duduk. "Kalian darimana? kok bisa malam-malam kesini?"
Aku melirik koper di samping Ala, dia melihat arah pandanganku. Ala diam menunduk ke bawah. Dia menangis lagi.
"Jangan ditanya-tanya dulu, biarkan Ala tenang, biar antarkan mereka ke kamar tamu saa ya."
Ibu membimbing Ala dan Kavya ke kamar tamu. Aku masih terheran, empat tahun menjadi konselor, baru kali ini ada klien menginap di rumahku dan diterima seperti saudara oleh ibuku.
Apa yang terjadi sebenarnya, mengapa begitu cepat naik turun dinamika hubungan Ala dan Ghulam. Kukira masalah Ala dan Ghulam sudah berakhir, nyatanya, bahkan aku pun belum menemukan titik terang apa masalah mereka apalagi mencari jalan keluar untuk menolong mereka.
Pukul 21.00 aku keluar kamar, badanku sudah mulai membaik meskipun tubuhku masih seperti melayang, aku ingin mengambil air hangat di dapur. Begitu selesai mengambil air minum dan hendak kembali ke kemar. Pintu kamar tamu terbuka. Ala keluar lalu mendatangiku.
"Biv, aku tadi tidak kuat bercerita di depan Kavya. Sekarang dia sudah tertidur."
"Ayo kita ke kamarku."
Aku membuntuti ku dari belakang. Dia ikut masuk kamar dan duduk di kasur sepertiku. Dia tidak sungkan, dan aku memang menerima saja. Ala adalah klien pertama yang berani seakrab ini padaku. Bahkan temanku, Zahra pun terakhir dua tahun lalu menginap di sini.
"Aku tidak memaksa harus segera bercerita, La. Kamu bisa bercerita kapan pun kamu siap." Kataku mengawali percakapan.
"Sekarang aku sudah siap, Biv." Ala membenarkan posisi duduknya, kini ia sempurna menghadapku. Dia sudah mengganti bajunya dengan piyama setelan berkain satin lengan panjang. Aku, masih dengan kaos lengan panjang dan training yang belum kuganti sejak tadi pagi.
"Aku kesini karena, Ghulam hendak membawa Kavya pergi dariku." Tatapan Ala menerawang ke atas. "Aku takut, Biv. Aku tidak mau berpisah dengan anakku." Lanjutnya.
"Tapi mengapa? Apa yang membuat dia berbuat seperti itu. Maaf, Minggu lalu, aku melihat kalian di sebuah caffe."
"Summer Caffee? Kamu di sana?" Ala memotong perkataan ku. Aku mengangguk menanggapi. "Itulah malam dimulainya pertengkaran itu, Biv. Ohya, kamu melihat kami saat apa?"
"Baru keluar dari mobil, dan aku hendak pulang. Aku tidak menyapa kalian karena aku buru-buru dan tidak ingin mengganggu moment bahagia kalian."
Ala terdiam, dan dia menatapku dengan pandangan beda ketika mendengar kalimat terakhir yang kuucapkan.
"Kamu benar, Biv. Malam itu seharusnya moment bahagia. Aku memesan sebuah ruang khusus untuk acara kami. Hari itu kalau kamu tahu, Biv. Hari itu adalah anniversary pernikahan kami. Aku menyiapkan kado, aku memesan dekorasi , mengundang beberapa teman dekat kami, aku ingin memberinya kejutan.
Malam itu, mungkin selepas kamu melihat kami keluar dari mobil, kami memesan minuman dan makanan ringan di meja pengunjung. Ruang VIP yang sudah kusewa belum selesai di dekor, ini salahku sih, memesan dekorasi di tempat baru, mereka mengecewakan, sudah bukul 19.30 mereka belum selesai. Teman-temanku kukirimi pesan agar jangan masuk Caffee dulu.
Wajah Ghulam begitu tidak tenang, berkali-kali dia mengecek handphonenya, dia kelihatannya ada pekerjaan lain tapi memaksakan diri dan sebenarnya dia punya pilihan tempat makan lain, tapi aku sudah terlanjur menyewa dan memesan tempat dan makanan. Aku sudah menghubungi banyak pihak. Aku tahu, dia kurang sreg dengan tempat itu karena kurang privat. Ya, tapi kan tujuan utamaku di ruang VIP yang belum siap.
Aku kehabisan akal merayu Ghulam untuk menunggu, ah masak kejutan itu akan gagal. Orang-orang dekorasi mengatakan sepuluh menit lagi. Aku menawarinya jalan keluar sebentar, dia tidak mau. Pada saat itu, ketika team dekor hampir selesai, itulah puncak kesabaran kami. Kesabaran Ghulam menunggu, serta kesabaran ku merayunya menunggu.
"Sudahlah, Ala! Aku ada pekerjaan yang lebih penting dibanding duduk-duduk tidak jelas di Caffee seperti ini!" Nadanya meninggi, raut mukanya merah padam. Ia terlihat menahan kesal. Pada saat itu, aku masih menyabar-nyabarkan diri.
"Aku ada kejutan untukmu, hari ini anniversary pernikahan kita. Apakah kamu tidak ingat?" Nada suara kulembutkan, aku memegang dadanya tapi tanganku ia tepis. Saat ia menepis tanganku itulah hatiku sakit sekali.
"Aku ingat, iya aku ingat, kamu sudah membahasnya beberapa hari lalu. Tapi aku ada kerjaan penting!" Mendengar jawaban Ghulam, runtuh sudah benteng kesabaran ku.
"Pergilah kalau kamu mau, tidak usah kamu hiraukan aku dan Kavya lagi." Kalimatku terhenti di sana karena Ghulam mengangkat telepon begitu saja tanpa menghiraukanku. Aku sebenarnya mau bilang, aku menyiapkan ruang pesta VIP dan mengundang teman-teman kita. Tapi Ghulam tidak memberiku kesempatan bicara.
Air mataku berjatuhan. Kavya yang sedari tadi duduk manis menikmati kentang goreng pun terhenti menyaksikan kedua orangtuanya bertengkar. Beberapa teman memberi panggilan telepon. Mereka sudah di mobil dan siap masuk. Sekilas aku mengecek pesan masuk di handphone. Tim dekorasi juga sudah siap, semua sudah siap.
"Maaf, aku harus pergi!" Begitu selesai bicara di telepon, Ghulam berkata demikian.
"Jangan Ghulam, semua sudah siap, ayo!"
"Sorry, Ala! Ini penting sekali." Ghulam berlarian keluar, dia pergi menggunakan mobil. Meninggalkan aku dan Kavya tanpa memikirkan bagaimana cara kami pulang.
Teman-teman kami datang, menghampiri aku dan Kavya yang masih berdiri di dekat meja. Aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya meminta mereka menuju ruang VIP.
Aku menangis semakin menjadi ketika masuk ruang VIP. Semakin sakit melihat segala dekorasi, makanan, kue, dan kado yang belum sempat kuberikan. Masih utuh, belum sempat dan tak akan berguna lagi. Teman-temanku bingung mengapa aku menangis dan bertanya-tanya dimana Ghulam.
Malam itu adalah malam paling menyedihkan setelah malam dimana aku menginap di rumah sakit karena tak diizinkan menemui anakku. Jika waktu itu aku tersakiti dan memeluk diriku sendirian. Sekerang banyak teman mengerubungi ku, tapi aku justru semakin sakit karena merasa dikasihani.
Kavya memelukku erat. Dia selalu kasihan melihatku menangis, apalagi saat itu aku menangis sampai tergugu.
Aku menyuruh teman-temanku makan hidangan yang sudah kupesan, tapi mereka menolak. Aku paham, siapa ada yang berselera makan saat yang punya hajat berduka berlinang air mata.
Aku akhirnya meminta petugas Caffee untuk membungkus makanan sesuai dengan temanku yang datang. Setelah itu aku menyuruh mereka pulang.
Aku menyerahkan sisa makan dan kue pada Tim dekorasi dan orang-orang Caffee. Aku tidak memarahi Tim dekorasi yang membuat semua ini berantakan karena sudah tidak punya energi.
Setelah itu, aku menuntun Kavya pulang. Kami pulang dengan memesan ojek online."
Ala menyeka air matanya untuk kesekian kali. Di dekat ia duduk, tampak tisu bekas berserakan. Kudekati dia, kupeluk dengan erat. Dia semakin tergugu dan balas memelukku.