Setelah Alana keluar dari ruang kerjaku, aku bengong sendirian di sana. Aku ada beberapa pekerjaan untuk membuat draft laporan hasil test kepada klien, tapi aku belum tergerak mengerjakannya. Pikiranku masih ada pada perkataan Alana yang beberapa saat lalu kudengar.
"Aku lelah, Biv. Aku mungkin lebih bahagia jika tak dengan Ghulam, aku akan bebas mengurus diriku sendiri dan Kavya."
Mungkin Alana benar, dia memang bisa jadi lebih bahagia tanpa Ghulam. Tapi mengapa aku yang tidak rela? Aku seperti punya insting, dimana kasus klienku harus kuhentikan. Aku seperti punya alarm dalam batinku untuk menentukan, mendukung mereka berpisah atau terus berjuang. Dan kali ini, alarmku belum berbunyi, hatiku mengatakan untuk masih terus memperjuangkan rumah tangga Ala dan Ghulam. Ah, apa mungkin instingku sudah tidak berfungsi?
Aku mencoba mencari-cari cara, apa lagi yang kira-kira bisa kulakukan. Aku membuka dokumen mereka, yang hampir semuanya merah dan justru mengindikasikan perpisahan. Aku melihat dokumen foto, aku menemukan pencerahan di sana. Di dalam foto saat pertemuan Ala Kavya dengan pak Sadetil tempo hari. Ya, aku harus menghubungi Pak Sadetil, barangkali beliau ada jalan keluar untuk masalah ini.
***
"Mereka memutuskan bercerai?" Tanya Pak Sadetil setelah berbasa-basi. Dalam telepon denganku, malam ini.
Aku memutuskan menelpon beliau saat keadaan emosiku lebih tenang, dan saat ini ketenangan hanya ku dapat di rumah, di kamarku.
"Aku tidak tahu apakah Ghulam tahu tentang ini atau belum. Tapi tekat Alana untuk menggugat cerai suaminya sudah bulat."
Pak Sadetil diam, keheningan menyelimuti percakapan kami. Mungkin Ayah Ghulam sedang berpikir apa yang harus ia lakukan untuk menebus kesalahan pada anak semata wayangnya itu. Sebenarnya inilah kesempatannya.
"Besok, Bapak akan ke kantor kamu." Akhirnya Pak Sadetil berkata begitu. Sejujurnya, aku memang mengharapkan kehadiran beliau, untuk sekedar konsultasi. Segera kuiyakan tawaran beliau, dan kami pun mengakhiri percakapan.
Aku segera membatalkan pertemuan besok dengan Alana. Aku tidak ingin dia tahu rencana pertemuanku dengan ayah mertuanya. Dia bisa menolak jika tahu.
"Iya, Biv?" Suara Ala dari seberang telepon begitu panggilan ku tersambung padanya.
"Aku minta maaf, aku besok ada janji penting dengan seseorang. Apakah kita bisa bertemu lusa?" Kataku to the point.
"Biv, bukan kah aku hanya perlu mengantar surat pada Laila?"
"Emmm tidak Ala, surat itu juga harus ada tanda tanganku. Nanti akan kukirimkan contohnya ya." Aku mengarang cerita, mencari alasan agar Ala tak jadi ke kantor besok.
"Ooh, baik.. baik. Berarti lusa ya. Untuk form pengajuannya, aku tunggu ya, Biv."
Alana menutup teleponnya, aku lega. Besok sepertinya, aku harus bertemu dengan Pak Sadetil di tempat lain, karena bisa saja, Ala tiba-tiba datang ke kantor, dia kan kadang sulit ditebak.
***
Aku sudah membuat kesepakatan dengan Laila, jika Ala datang ke kantor maka kuminta Laila untuk memberi tahu jika aku ada janji dengan kolega di luar. Pun aku meminta izin pada Pak Ruslam terkait ini.
Aku memesan sebuah restoran sederhana di pinggir kota. Bisa dibilang, restoran ini adalah rumah makan tua yang kelihatannya Ala tidak akan pergi kesana. Aku memang segitunya menjaga kelancaran pertemuanku dengan Pak Sadetil kali ini, karena inilah kesempatan terakhir kami, memperjuangkan pernikahan Ala dan Ghulam. Meskipun mereka, dalam posisi sudah menyerah.
Pak Sadetil berangkat dari rumahnya pukul tujuh, artinya ia baru akan sampai tempat pukul sembilan atau lebih. Jadi, pukul sembilan, aku baru berangkat dari rumah menuju lokasi, aku sengaja tidak ke kantor karena memang dinas luar.
Aku sampai restoran pukul sembilan dua puluh menit, mobil Pak Sadetil sudah terparkir di depan rumah makan itu. Aku segera masuk dan kutemukan mereka sedang makan.
"Ayo, Nak. Sini-sini, kita makan dulu. Tadi ibu belum sempat masak, jadi kami belum sarapan." Bu Ulaimi ramah menyambutku, di hadapan mereka beraneka hidangan. Sebakul nasi, sepiring ikan lele, sepiring tahu dan tempe, satu toples kecil rempeyek, sayuran rebus dan sambal pecel dalam mangkok. Mereka sedang menikmati nasi pecel.
"Saya sudah sarapan, Bu. Silakan Bapak Ibu menikmati makanannya dulu, saya pesan minuman saja." Jawabku.
Mereka makan sambil bercerita perjalanan mereka tadi. Seru sekali karena diceritakan dengan antusias. Perjalanan bagi sebagian orang memang hal yang sangat menyenangkan.
"Nak, Biv. Kita langsung pada pokok pembicaraan saja ya."
Pak Sadetil meminta karyawan restoran untuk mengambil piring dan alat makan kotor dari meja kami, jadilah yang tersisa hanya gelas-gelas minuman kami yang sisa separuh.
"Saya sangat berterimakasih Bapak Ibu berikan hadir atas undangan saya." Kataku menjawab.
"Kami yang harus terima kasih. Kamu berjuang untuk anak dan cucu kami." Bu Ulaimi yang menjawab.
"Saya tidak tahu, bagi saya, mereka pantas untuk diperjuangkan keutuhan rumah tangganya." Jawabku.
"Itulah harapan besar kami, Nak." Kata Pak Sadetil. "Dan sekarang, kita berjuang bersama memikirkan jalan keluar itu."
Sedikit banyak, tadi malam ketika telepon, aku sudah bercerita tentang masalah yang baru-baru ini menimpa Ala dan Ghulam.
"Menurut Bapak dan Ibu, apa yang harus kita lakukan?" Kataku, lalu kami saling diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Ada yang harus diperbaiki dari hidup mereka." Kali ini Bu Ulaimi yang bicara.
"Apa itu, Bu?" Tanyaku. Tentunya aku setuju dengan pernyataan ini, hanya aku ingin jawaban yang lebih spesifik dari ibu mertua Alana ini.
"Ibadahnya barang kali." Jawab beliau.
"Bukan hanya ibadah, Bu. Mereka seperti kurang rekreasi, mereka terlalu spaneng dengan hidup."
"Ya, itu juga sih, Pak. Tapi mereka juga butuh saling menyentuh, saling melembuti, saling tertawa bersama." Timpal Bu Ulaimi. Pak Sadetil mangut-mangut.
"Lalu bagaimana ini, Pak Bu?" Tanyaku bingung dengan saran mereka.
"Nak, aku tahu kamu ingin memperjuangkan mereka. Tapi seperti yang Bapak pernah bilang, mereka harus punya batas. Nah, ini saatnya memberi batas kepada mereka." Pak Sadetil menjelaskan, aku menyimak.
"Maksud bapak?" Tanyaku.
"Ya, di beri batas, satu pekan, dua pekan, atau satu bulan mereka melakukan sesuatu, baru mereka boleh bercerai."
"Sesudah mereka melakukan syarat-syarat?" Tanyaku, aku sedikit banyak punya gambaran yang dimaksud Pak Sadetil, hal seperti ini memang ada dalam ilmu modifikasi perilaku.
"Ya, tepat sekali. Ini usaha terakhir kita, dan perjuangan terakhir mereka juga. Kita beri waktu tiga puluh hari. Ya, kukira paling ideal tiga puluh hari itu. Dan ini adalah tugas kamu, kamu yang memberi PR kepada mereka. Ya, sesekali PRnya dari saya juga boleh.
PR itu berisi tentang hal yang harus mereka lakukan bersama, atau harus kerjakan bersama, ini semacam terapi selama tiga puluh hari bagi mereka, bagaimana?"
Mataku berbinar mendengar penjelasan Pak Sadetil, ide beliau benar-benar berlian. Alana dan Ghulam memang belum pernah kuberi tugas secara praktikal seperti ini. Zahra pernah melakukan seperti ini untuk terapi anak kecanduan game, pecandu rokok, pecandu film p***o, dan lainnya. Tapi aku sama sekali tidak kepikiran untuk menggunakan metode ini pada kasus pernikahan.
"Bagaimana Bapak bisa menemukan ide secemerlang ini?" Tanyaku, Pak Sadetil terkekeh, ia mengambil gelas kopinya yang sudah dingin lalu menyeruputnya.
"Ha ha ha." Pak Sadetil menjawab pertanyaanku dengan gelak tawa. Aku ikut tertawa.
"Tapi, Pak. PR apa saja yang kita berikan pada mereka?" Tanyaku setelah tawa beliau reda.
"Itu kau lebih pandai, Nak. Ya, sesekali Bapak akan sumbang PRnya, begini-begini Bapak juga guru yang pernah memberi PR." Lagi-lagi tawa Pak Sadetil meledak, kali ini aku dan Bu Ulaimi tertular.
"Baiklah, kita rancang sekarang ya, Pak." Kataku.
"Baiklah, ibu urun yang pertama." Kali ini, Bu Ulaimi yang berbicara.
"Apa, Bu? Biar saya catat." Kataku sambil mengambil notebook.
"Bukan maksud ibu menggurui, beri mereka PR untuk sembahyang tepat waktu dan berjamaah, apapun kondisi emosi mereka, sedang marahan atau tidak, mereka harus tetap sholat bersama."
"Baik, itu hari pertama ya, Bu." Kataku sambil mencatat. Bu
"Hari kedua." Kali ini Pak Sadetil yang berbicara. "Mintalah Ala dan Ghulam untuk mengosongkan segala agenda mereka, mereka harus cuti dari semua kegiatandan fokus pada diri mereka masing-masing."
Aku mangut-mangut, PR yang sangat tepat bagi Ala dan Ghulam, batinku sambil mencatat.
"Hari ketiga, meminta Ala untuk memasak makanan terbaik kesukaan Ghulam dan meminta Ghulam berterimakasih padanya. Meminta Ghulam mengusir katak (hewan yang paling dibenci Ala) yang telah kita setting berada di kamar mandi Ala."
Aku dan Bu Ulaimi tertawa, terdengar konyol, tapi sepertinya memang cara seperti itu bisa menumbuh cinta di masing-masing mereka.
"Hari keempat, meminta mereka untuk berinisiatif saling meminta maaf, ada salah atau tidak, atau saling menawarkan bantuan (diperlukan atau tidak) dan mengucapkan terimakasih ada ataupun tidak kebaikan pasangannya." Kali ini usul dariku, dan aku yang mencatat sendiri, mereka langsung mengangguk kencang.
"Hari kelima, meminta mereka pergi makan berdua ke tempat mereka pertama kali berkencan. Hanya berdua, tanpa anak. Lalu memesan makanan yang sama seperti yang mereka pesan delapan tahun lalu, saat mereka pertama kali berkencan" Bu Ulaimi mengusulkan ide, aku sigap mencatat.
Kami hanyut dalam keseruan menyusun kurikulum hingga ke- tiga puluh hari untuk Ala dan Ghulam. Bermacam hal yang nik, seru, haru dan penuh romantisme telah kami rancang, dengan pemikiran dan pengalaman Pak Sadetil dan Bu Ulaimi serta kusesuaikan dengan keilmuanku juga Aku heran, Pak Sadetil dan Bu Ulaimi sangat bagus ilmunya dalam bidang ralationship, mereka tahu dengan baik cara-cara menumbuhkan cinta laki-laki dan perempuan. Ya, mungkin mereka tidak belajar dari bangku kuliah, seminar, atau buku-buku. Tapi mereka belajar langsung dari kehidupan.
Pukul satu siang, kami selesai merancang semuanya. Dan kami, akhirnya memesan makan siang di sini juga. Pertemuan dengan Pak Sadetil dan Bu Ulaimi hari ini sangat menyuntikkan semangat bagiku. Mereka partner yang baik dan mempertahankan rumah tangga Ala dan Ghulam.
Aku berharap, semoga usaha kami berbuah manis. Entah meskipun bagaimana nanti hasilnya, tapi kami tidak akan menyesal karena telah berjuang.