"Biv, kamu harus tegas, kamu harus bisa tekan Andrew, mau dibawa kemana hubungan kalian?" Zahra berkata dengan nada serius, tanpa ada sedikitpun mimik muka bercanda di wajahnya, jika sudah seperti ini, berarti dia sedang tidak main-main. Sama seperti dulu ketika dia memarahi yang pernah menaruh hati pada Kaizan.
"Aku bisa apa, Ra. Kami juga belum lama kenal." Jawabku membelia diri.
"Tapi kalian sudah cukup dekat dan pantas bagimu untuk menanyakan itu." Zahra masih bersikeras.
Di hadapan kami, dua mangkok tekwan hangat dan teh manis hangat menganggur menyaksikan kami berdebat. Di luar sana, hujan rintik-rintik menambah syahdu suasana.
"Kenapa kisahku selalu seperti ini ya, Ra? Aku merasa bukan menjadi diriku dengan meminta kejelasan. Aku ingin dia menyatakan sendiri." Sekarang, gantian aku yang melow, Zahra memegang tanganku memberi dukungan.
"Jika Andrew orang yang tepat, Allah pasti akan kasih jalan, Biv."
"Kalau Andrew tidak mengatakannya, berarti memang dia tidak ingin, atau belum ingin. Terus, jika aku bertanya, ya kalau yang kuterima adalah penerimaan, jika penolakan akan sangat memalukan, Ra."
Zahra diam, mungkin dia menyadari jika perkataanku memang ada benarnya. Aku sebenarnya sudah memikirkan ini matang-matang, bahkan aku sudah memberi batas waktu pada hubungan aku dan Andrew. Jadi selama belum sampai batasnya, maka aku tetap berjalan saja.
"Hari ini, dia berangkat ke Singapura, dia di sana sekitar satu pekan. Kita lihat, jika aku memang spesial, dia pasti menghubungiku."
Belum ada lima menit aku berkata begitu oas Zahra, handphone di sebelah tangki bergetar, panggilan masuk dari Andrew. Aku menatap Zahra dan kutunjukkan layar handphoneku yang ada nama Andrew di sana, Zahra mengangguk.
Halo, Ndrew!" Kataku dengan nada yang kubiasa-biasakan.
"Biv, aku baru saja sampai di Changi." Suara Andrew diantara kebisingan, sepertinya dia masih di bandara.
"Oh, syukurlah." Jawabku singkat.
"Kalau nanti aku sudah sampai apartemen aku hubungi lagi ya." Kata Andrew.
"Oke." Jawabku, lalu kututup telepon Andrew.
Aku menghela nafas, semakin bingung dengan apa yang sedang terjadi. Tadi, aku juga bercerita pada Zahra tentang peristiwa penarikan tangan oleh Kaizan, berikut pesan yang ia sampaikan.
"Jadi aku harus bagaimana, Ra?" Tanyaku lagi. Zahra sedang sibuk menikmati tekwan miliknya. Aku mengikutinya segera mengambil tekwan punyaku. Kami sibuk makan sebelum kembali mengobrol.
"Jalani dulu saja lah, Biv." Zahra berkata begitu lalu menyuapkan tekwan terakhir ke mulutnya. Aku mengangguk.
"Mungkin, ini awal dari petualangan cintaku, Ra." Kataku, kami tertawa kompak. "Ohya, bagaimana pendapatmu tentang sikap Kaizan yang aku ceritakan tadi?"
"Dia orang yang misterius, Biv. Aku tidak tahu, entah dia cemburu atau mengatakan kebenaran, tapi selama tidak ada bukti dari perkataannya, bagaimana kita bisa percaya?"
Benar sekali kata Zahra, selama tidak ada bukti, maka pernyataan Kaizan adalah hal yang tidak bisa dipegang.
Setelah selesai makan tekwan, Zahra mengajak jajan siomay, bagi Zahra tekwan tidak mengenyangkan, beda denganku, semangkok tekwan membuat perutku penuh, akhirnya tawaran Zahra kutolak.
Akhirnya, kami pun pulang dengan perasaan lega karena akhirnya makan tekwan juga setelah beberapa lama tidak. Aku sempat mengecek handphone ketika hendak pulang, dan ada pesan Alana di sana.
"Biv, besok aku ingin bertemu." Tulis Alana, biasanya kalau seperti ini dia sedang dalam masalah. Kubalas, "ok!"
"Biv, maaf aku belum bisa membayar perpanjangan kontrak konseling di kantormu." Tulis Ala selanjutnya.
"Tidak masalah, nanti akan disampaikan pada Laila." Jawabku.
***
Hari ini jadwalku penuh sekali, pagi aku mendapat tugas dinas luar yaitu menemani Bu Ervina mengisi sebuah pelatihan manajemen emosi di sebuah kantor pemerintah. Sebenarnya ini bukan tugasku, tapi Pak Ruslam meminta aku ikut. Aku hanya bisa pasrah. Padahal sebenarnya pagi ini, aku ada janji dengan Alana. Jadilah janji itu diundur hingga selepas makan siang.
Ala sudah di kantor ketika aku kembali, dia duduk di sofa lobi sambil sibuk bermain dengan handphone nya.
"Maaf Ala, sudah membuatmu menunggu. Mari kita masuk ke ruanganku." Kataku mendekatinya, lalu berjalan masuk menuju ruanganku. Alana tidak menjawab apapun, hanya membuntuti ku dari belakang.
"Duduklah, aku ambilkan minum sebentar." Baru saja aku hendak keluar menuju dapur, Ala mencegahku.
"Aku tidak haus, Biv. Kau tidak perlu repot-repot mengambilkanku minum" katanya cepat. Aku mengangguk dan segera kembali duduk di kursiku.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku.
"Aku memutuskan untuk bercerai saja, Biv. Aku sudah ada di batas maksimal sabarku." Kata Alana tenang.
"Kamu yakin? Apa yang terjadi?" Jujur aku kaget, setelah perjuangan panjang ini, apakah memang akan berakhir seperti ini?
"Aku yakin, tolong bantu dampingi prosesku, termasuk jika kamu ada rekan di bidang hukum yang kompeten, karena nanti kami sepertinya akan memperebutkan hak asuh Kavya."
"Baiklah, tapi bisa tolong jelaskan dulu padaku apa yang terjadi?"
Alana hanya diam saja.
"Kamu tidak ingin menceritakannya?" Tanyaku lagi.
"Bukan, Biv. Aku hanya lelah."
Aku bisa melihat dengan jelas kelelahan fisik dan mental yang dirasakan Alana. Matanya cekung, rona mukanya tidak segar, dia memang tidak terlihat seperti biasa. Aku berdiri mendekatinya berusaha untuk memberikan sebuah pelukan. Alana menyambut pelukanku. Kami berpelukan erat, dia langsung menangis.
"Aku lelah, Biv. Aku mungkin lebih bahagia jika tak dengan Ghulam, aku akan bebas mengurus diriku sendiri dan Kavya." Ala berkata disela isakannya. Aku hanya bisa menepuk-nepuk punggung nya lembut.
"Tolong aku ya, Biv." Kata Ala lagi setelah melepas pelukan ku. Aku mengangguk.
"Tapi aku minta maaf, aku hanya akan membantumu jika kamu mengambil keputusan dengan sadar, bukan ketika lelah emosi seperti sekarang. Karena, ketika kita sedang dikuasai emosi, kita tidak mampu berpikir dengan jernih."
Alana mengangguk, dia kemudian berpamit dan berjanji besok akan kembali lagi.
***
(Besoknya)
"Kamu berubah pikiran?" Tanyaku. Ala menggeleng.
"Aku masih dengan keputusan yang sama, Biv." Katanya tenang, hari ini dia tampil lebih segar, tidak layu seperti kemarin.
"Kau ingin bercerita sekarang?" Tanyaku, Ala mengangguk.
"Pagi itu aku berpesan pada Ghulam." Ala mulai bercerita. "Aku akan pergi mengurus bisnisku, aku sudah mengatakan mungkin sampai sore bahkan malam, aku titip Kavya padanya. Semua itu, kukatakan baik-baik, dia juga mengiyakan.
Tapi ketika siang menjelang sore, sekitar pukul tiga, dia menelponku marah-marah. Posisiku waktu itu sedang mengaudit banyak hal, aku tau Bisnisku sedang di ujung tanduk. Aku harus segera menyelamatkannya. Aku matikan telepon darinya. Dia menelpon lagi, aku matikan lagi, karena saat itu posisinya aku juga sedang konsultasi dengan bisnis konsultan ku.
Hingga ketika malamnya, aku kembali ke rumah sakit, aku tidak menemukan Kavya di ruangannya. Aku tanya kepada resepsionis, ternyata Kavya dipindah di ruang perawatan intensif. Aku segera berlarian menuju ke sana. Aku menemukan Ghulam duduk di ruang tunggu depan ruang ICU.
Dia menatapku dengan tajam ketika aku datang. Dia berdiri, memelototi ku, pada saat itu posisinya di ruang tunggu hanya ada kami. Jadi dia bebas meluapkan amarahnya padaku. Dia bilang, aku bukan ibu yang baik untuk Kavya, aku tidak ada saat Kavya mencari. Aku egois dan mementingkan diriku sendiri."
Alana menutup ceritanya dengan mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Aku seperti bisa merasakan lelahnya perasaannya diperlakukan seorang suami seperti itu.
"Sekarang, bagaimana kabar Kavya?" Tanyaku.
"Dia sudah membaik, dokternya akan merujuk ke rumah sakit negeri yang lebih lengkap. Besok dia akan pindah. Aku sudah menghubungi pihak rumah sakit dan berkonsultasi tadi, mereka merespon dengan baik."
"Syukurlah." Kataku menanggapi.
"Jadi Biv, apa yang harus aku lakukan ketika menginginkan berpisah dari suamiku?" Alana kembali ke topik itu.
"Kamu bisa mengajukan surat kepada kantorku untuk mengajukan aku sebagai pendamping."
"Jadi seperti itu prosedurnya, Biv?"
Aku mengangguk. Sebenarnya prosedurnya tidak harus seperti itu, tapi aku sengaja mengulur waktu. Barangkali dengan begitu aku akan ada ide untuk berjuang di detik-detik terakhir menuju perceraian mereka. Jujur, aku masih berharap mereka akan berakhir bersatu.
Sebenarnya ini salah, aku sebagai konselor tidak seharusnya melibatkan perasaan ku dalam mendampingi mereka. Tapi aku terlanjur terlibat lebih jauh, dan tidak mungkin berlepas tangan begitu saja. Aku masih membayangkan bagaimana nasib Kavya jika Ala dan Ghulam berpisah.
Padahal aku baru saja merasa lega, hubungan Ghulam dengan ayahnya membaik, kukira itu akan menjadi jalan keluar untuk kebuntuan hubungan Ala dan Ghulam, tapi belum sampai ke titik menuju jalan keluar, sepertinya mereka sudah hendak menyerah.
"Baik, Biv. Aku akan datang lagi besok, akan kubawa surat pengajuan untuk memintamu mendampingiku."
Alana berkata begitu, lalu berdiri dan pamit pergi. Entah kenapa pikiranku pun rasanya lelah sekali. Banyak hal berdesakan kusut di otakku minta untuk diuraikan.