#75 Menjenguk Kavya

1574 Kata
Aku diam seribu bahasa sepanjang perjalanan. Perasaanku bercampur aduk, masih teringat jelas dua kalimat yang diucapkan Kaizan. "Tentu saja dia datang, dia kan kekasih putra mahkota Hizi Corp." Dan "Aku tidak akan menyakitimu apapun, aku hanya ingin bilang, Andrew bukan orang baik untuk kamu. Dia orang baik, tapi tidak untuk kamu." Dua kalimat itu terus menerus menggema di telingaku, seperti sepotong lagu yang kau putar berulang-ulang di mp3-mu. Apalagi Andrew sengaja tidak mengajakku bicara, mungkin dia melihat aku tidak ada mood untuk mengobrol. "Sudah sampai." Suara Andrew memecah lamunanku, mobil Andrew sudah menepi di depan pagar rumahku. Aku menghela nafas, lalu beranjak turun. "Biv!" Andrew memanggilku ketika aku baru saja membuka pintu mobil. "Iya?" Jawabku. "Maaf ya, sudah membuat kamu tidak nyaman." Katanya kemudian, aku menggeleng. "Tidak apa-apa." Jawabku lalu turun, aku tidak menoleh pada Andrew lagi untuk melambaikan tangan seperti biasa, aku sedang malas berpura-pura, aku tidak ada kekuatan untuk berbasa-basi. Bahkan sepertinya mobil Andrew baru berjalan lagi ketika aku sudah masuk dan menutup pintu rumah. "Haii!! Gimana?" Ibu mendongakkan dari kepala beliau dari benang-benang sulam di tangannya. Beliau menaruh peralatannya itu, dan berjalan menyambutku. "Kenapa? Kok ditekuk begitu mukanya?" Tanya ibu, aku menggeleng. "Ternyata acara tadi adalah makan malam keluarga besar Hizi Corp. Bu." Kataku tidak bersemangat, aku berjalan di arah sofa, dan menjatuhkan diri di atasnya. Ibu duduk di sampingku. "Wah, cocok dong kostum yang ibu pilihkan." Ibu malah membahas baju. "Bukan masalah kostum ibu sayang. Tapi aku benar-benar malu di sana tadi. Andrew menggenggam tanganku erat ketika kami masuk, banyak mata tertuju pada kami. Ada Kaizan dan teman-temanku yang lain tentunya di sana. Dan Kaizan mempermalukan ku dengan mengatakan pada teman-teman bahwa aku adalah kekasih putra mahkota Hizi Corp. karena itulah aku datang ke acara itu meskipun sudah bukan karyawan. Tidak cukup sampai di situ. Kaizan menemui secara sembunyi-sembunyi, dia Manarik tanganku ketika aku ke toilet sendirian, dia mengatakan padaku bahwa Andrew bukanlah orang yang baik untukku." Aku mengakhiri cerita dengan menutupkan tapak tangan pada wajahku, ibu di sampingku hanya dia menyimak. Entah ibu paham atau tidak, tapi tentunya beliau tahu, aku sedang galau. "Sayang, makan malam itu menjadi makan malam yang kurang menyenangkan bagiku." Ibu merangkul pundaku, aku mengangguk lagi. "Kenapa Kaizan memperlakukan ku seperti itu, Bu?" Tanyaku, kutatap wajah ibu serius. Ibu menggeleng. "Ibu tidak tahu, Nak. Tapi jika yang dia katakan adalah kebenaran, maka dia orang yang peduli padamu." Jawab ibu. "Tapi selama ini, Andrew sangat baik padaku. Dia bahkan juga berteman baik dengan Kaizan, mengapa Kauzan tega mengatakan hal seperti itu tentang temannya." Ibu menggeleng lagi. Merangkul pundakku semakin erat. Kepalaku tiba-tiba pusing ingin tidur, aku meminta izin pada ibu untuk segera ke kamar. Tapi, sesampainya di kamar nyatanya aku tidak segera bisa tidur. Pikiranku melanglang buana kemana-mana. Banyak sekali pertanyaan bermunculan, apakah aku jujur saja pada Andrew agar menemukan jawaban dari pernyataan Kaizan? Tapi tentunya itu hanya akan mengadu domba mereka. Atau aku tidak pedulikan saja kalimat Kaizan tadi, tapi bagaimana kalau kata-katanya berisi kebenaran? Aku terus bertanya-tanya dalam hati sampai tertidur sendiri. *** Hari ini, aku berencana menjenguk Kavya, kemarin gagal karena aku mendahulukan Andrew yang mengajak ke acara. Aku sedikit menyesal kenapa tak kutolak saja ajakan Andrew kalau tahu acara itu adalah makan malam keluarga Hizi. Ala mengabariku, jika jam besuk hanya sampai pukul lima sore, jadi setelah pulang kantor, aku harus bergegas berangkat. Pukul empat lebih seperempat, aku sudah memarkir mobil di depan rumah sakit. Cukuplah waktu empat puluh lima mebit untuk melihat Kavya, batinku. Tadi, aku juga sudah memesankan kue coklat untuk Kavya melalui ojek online. Aku berjalan melalui koridor dengan bersemangat, aku harus menularkan semangat kepada Alana, hubungan mereka sudah memiliki progres yang baik, batinku. Aku meniti jalan sesuai yang diarahkan mbak resepsionis di depan tadi. Ruang Delima Nomor Delapan. Tapi baru sampai ruang nomor tujuh, aku dikejutkan dengan pintu yang terbuka dengan kasar di ruang depan. Ala dan Ghulam keluar dari sana, mereka berjalan searah denganku, jadi tak melihat aku yang di belakangnya. Awalnya, aku ingin menyapa mereka, tapi kuurungkan karena sepertinya mereka buru-buru dan terlihat seperti sedang bertengkar. Pintu ruang delapan terbuka, kulihat Kavya berbaring di atas ranjang. Di ruangan itu, dia tergolek sendiri, aku hanya bisa menggeleng, bagaimana bisa Ghulam dan Alana meninggalkan Kavya sendirian dalam keadaan pintu terbuka. Kuletakkan kue coklat bawaanku di meja sebelah ranjang. Begitu aku menaruhnya, mungkin suara tas kresek dari box kue itu membangunkannya. Kavya membuka mata, mengerjap-kerjap lalu melirik ke arahku. Kulambaikan tangan ke arahnya, dan dia tersenyum. Gadis kecil itu terlihat pucat, badannya terlihat kurus dari sebelumnya. Kepalanya masih terbelit perban dengan bercak darah. Rambut yang biasanya terkuncir dua, kini tergerai berantakan. Dia berusaha duduk, aku membantunya. Dan begitu duduk, dia merentangkan tangannya ke arahku, meminta peluk. Kupeluk gadis itu erat sekali. Aku bersyukur dia masih hidup setelah kecelakaan itu. Kasihan sekali, sekecil ini ikut menanggung sakit karena kelalaian orang tuanya."Kavya sudah sembuh?" Tanyaku setelah dia melepaskan pelukan. Dia mengangguk kencang dan tersenyum memperlihatkan giginya yang putih dan kecil-kecil. "Mau makan kue coklat. Tante Bivi bawa kue coklat." Aku menunjuk ke arah box kue di atas meja, dia mengangguk lagi. Kupotong kue dan kuambil sepotong dan kusuapkan pada Kavya, dia menerimanya, lagi mengangguk-angguk tersenyum. Tapi belum sampai sepotong kue itu habis, Kavya tiba-tiba teriak, dia kesakitan sambil memegangi kepalanya, dia terus teriak dan menangis, bahkan berusaha memukul kepalanya tapi tangannya kutahan. Aku bingung apa yang terjadi, apa yang harus kulakukan. Lalu kulihat telepon jaringan yang menempel di dinding. Aku segera mencari daftar nomor ruang perawat, sementara Kavya terus menangis, aku segera menelpon perawat dan kuminta untuk memanggilkan dokter yang merawatnya. Perawat datang dengan cepat, dia menenangkan Kavya, tapi Kavya terus menangis, seseorang berseragam dokter lalu menyusul masuk. Perawat perempuan itu memegangi Kavya, dan dokter menyuntikkan cairan entah apa, mungkin anti nyeri atau yang lain. Setelah itu, seketika Kavya tenang, dia menjadi lemas dan entah tertidur atau apa, dia menutup matanya. "Apa yang terjadi dengan dia?" Tanyaku ketika dokter itu merapikan alatnya. "Ada luka dalam jaringan syaraf otaknya, yang mungkin akan kembali kambuh ketika dia melakukan aktivitas yang melelahkan. Dimana orangtua pasien?" Tanya dokter itu, aku menggeleng. "Aku menjenguknya dan menemukannya sendirian di sini." Dokter dan perawat itu berpamit dan mereka memintaku menghubungi orangtua pasien agar tidak meninggalkannya sendirian. Tapi belum sampai dokter dan perawat keluar dari kamar, Ghulam dan Ala masuk. Mereka kebingungan melihat kami, terutama aku. Dokter dan perawat mengangguk kepada mereka, lalu tetap berjalan keluar tanpa merasa perlu menjelaskan sesuatu kepada Ala dan Ghulam. "Kalian darimana?" Tanyaku, Ghulam dan Ala masih terbengong bingung dengan apa yang terjadi. "Apa yang terjadi, Biv?" Tanya Ala, dia mungkin melihat bantal dan selimut berantakan bahkan tercecer di lantai. "Aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian, apa yang kalian pikirkan, sampai kalian tega meninggalkan putri kecil kalian sendirian, tanpa perlu menutup pintu. Dan dia kambuh ketika aku datang, dia kesakitan, dia teriak menangis, aku memanggil dokter, laku dokter menyuntikkan sesuatu, lalu dia kembali tertidur. Ala terkejut mendengar penjelasanku, dia menggeleng tidak percaya, Ghulam juga. Ala bahkan menutup mulut dengan tapak tangannya. "Kalian kemana tadi?" Tanyaku lagi, diantara mereka tetap tidak ada yang menjawab, mereka kompak menunduk menghadap lantai, persis seorang murid yang ketahuan mencontek saat ujian dan tidak punya alasan untuk menjawab. "Baik, tidak apa-apa kalau kalian tidak ingin menjawab. Sekarang jam besuk hampir berakhir, aku pamit pulang dulu. Aku doakan semoga Kavya lekas pulih." Aku berjalan melewati mereka, Bivi membuntuti ku. "Biv!" Kata Ala sambil mensejajari langkahku. "Iya." Jawabku. "Terimakasih sudah datang." Kata Ala berhenti melangkah, aku ikut berhenti. "Sama-sama, itu bukan sesuatu yang luar biasa." Kataku. "Apakah kalian baik-baik saja?" Tanyaku lagi, kini, kami benar-benar berhenti di tengah jalan, bersyukur tidak ada orang yang lewat. "Tadi pagi, aku mendapat berita buruk tentang Bisnisku, Biv. Butikku rugi ratusan juta, ini karena kelalaianku. Aku lupa tidak memanaj mitra yang masih aktiv atau tidak, aku tidak melakukan rewarding, upgrading, dan eliminasi sejak beberapa bulan terakhir. Puncaknya sekarang, penjualan kami menurun drastis, barang kami digudang menumpuk, dan aku tidak siap menghadapi ini, Biv." Air mata Alana berlinangan sambil mengatakan itu. Kutepuk-tepuk pundaknya untuk memberi dukungan. Kami selanjutnya berjalan pelan menuju parkiran. Ala melanjutkan ceritanya. "Di situasi seperti saat ini, aku hanya butuh dukungan, Biv. Ghulam saat aku jaya, sama sekali tidak mendukungku. Tapi, ketika aku jatuh, dia bersorai menyalahkanku. Aku selalu salah dimatanya. Tadi, kami keluar sebentar untuk membayar administrasi rumah sakit, Kavya memang belum diizinkan pulang, tapi peraturan rumah sakit, ketika telah mencapai nominal tertentu, maka kami harus membayar separuhnya. Separuhnya, Biv. Uangku tidak ada untuk itu. Tabunganku habis untuk menalangi gaji karyawan. Aku tidak ada waktu untuk menjual perhiasan atau kendaraan, aku minta Ghulam melakukannya, tapi dia tidak mau. Jadi tadi kami meminta bagian administrasi untuk menunda pembayaran kami. Itulah kenapa kami bertengkar tadi, Biv." Aku melongo mendengar cerita Alana. Mengapa ada saja tantangan hubungan mereka. Sekarang, saat Ghulam telah mulai membaik, kini Alana yang mengalami guncangan. Dan, aku mengerti kesulitan Alana, dia pasti pikirannya bercabang, dia tidak mungkin meninggalkan Kavya untuk mengurus bisnisnya. "Besok, kami berencana menjual tanah, tanah yang kami gadang-gadang untuk warisan anak-anak kami nanti." Alana berkata sambil menatap langit, seperti mencari sesuatu di sana. "Aku tidak bisa banyak membantu tentang ini, Ala. Aku hanya bisa berdoa semoga semua segera terlalui." Alana mengangguk mendengar pernyataan ku, kami berpelukan untuk memberi kekuatan padanya. Sekarang, rasanya hubungan kami bukan sebatas konselor dan klien, namun seperti adik dengan kakak. Aku berpamit dan minta Ala segera kembali ke kamar Kavya, Ala mengangguk, dia mengantarkanku dengan tatapan kosong. Aku berdoa, semoga Tuhan memberinya kekuatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN