#74 Family dinner

1843 Kata
"Biv, nanti aku jemput kamu di rumah ya, bukan di kantor. Kamu bisa siap-siap, aku mau ajakin kamu ke acara kalau ibu izinin." Baru sepuluh menit pesan pertama Andrew k****a, pesannya sudah berganti. Yang aku suka, dia selalu bilang ketika mengajakku, kalau ibu izinin. Berarti dia tahu adab dan sopan santun. "Okay!" Selepas jam kantor, aku buru-buru pulang. Aku segera mandi dan segera sibuk mencari baju yang tepat untuk dipakai untuk pergi bersama Andrew. Aku penganut minimalism, jadi bajuku memang tidak banyak. Aku selalu menjual bajuku yang kukira tidak akan kupakai lagi, meskipun kadang menyesal karena ternyata masih butuh, aku masih sering melakukannya. Hingga saat ini, saat sering kali Andrew mengajakku keluar, aku kebingungan memilih baju, baju-baju lamaku sudah kujual atau sama ibu dikasihkan putri rekanbya. Ya masak baju yang kupakai itu-itu saja ketika bertemu Andrew. "Pakai baju mana dong, Bu." Aku sudah lelah mengobrak Abrik lemari, tidak ada yang sesuai dengan hatiku. "Emang acaranya apa?" Tanya ibu. Saat ibu tanya begitu, aku baru sadar, aku tidak tahu Andrew mengajakku ke acara apa, bagaimana kalau dia ternyata hanya mengajakku makan di mall, atau bagaimana kalau makan malam bersama koleg, atau acara resmi semacam pernikahan. "Apa perlu kutanya dulu, Bu?" Pertanyaan dari ibu kujawab dengan pertanyaan juga. Tapi sayang, mungkin Andrew sedang menyetir, dia tidak mengangkat panggilan dariku. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, pasti sebentar lagi dia sampai. "Tidak diangkat, Bu." Aku menggigit bibir, bingung. "Yaudah pakai yang netral saja, dress." Ibu berjalan mendekati almari ku, memilih-milih sebentar, lalu mengambil salah satu dress berwarna putih gading, aku pernah memakainya sekali di acara pernikahan salah satu klien. "Apa nggak terlalu resmi, Bu?" Tanyaku. "Ya, paling tidak, memakai baju sedikit resmi ke mall tidak masalah dari pada memakai blouse yang biasa kamu pakai ke mall untuk acara makan malam bersama jajaran direksi Hizi Corp." Aku mengangguk-angguk, ibu benar. Paling tidak, itu win-win solution yang akan menyelamatku dari rasa malu. Benar dugaanku, janjian pukul tujuh, Kaizan datang pukul tujuh kurang lima. Dia memang anak didikan Hizi. Untung aku sudah siap. Aku hanya berdandan seperti biasa, dengan perbedaan menambahkan sedikit blush-on di pipi dan maskara. Andrew sedang di teras duduk bersama ibu menungguku. Ketika aku aku keluar rumah, dan berjalan menuju mereka, kurasakan tatapan Andrew tidak lepas dari memandangku. Dan jujur, ini membuatku sangat grogi, mengapa dia menatapku seperti itu? "Yuk!" Kataku. Andrew segera berdiri untuk menyalami ibu lalu berpamit, dan berjalan keluar. Aku membuntutinya. Dia membukakan pintu mobil untukku. Saat itu, aku merasa seperti seorang putri kerajaan yang sedang dijemput pangeran. "Kita mau kemana? Tadi aku menelpon buat tanya, tapi kamu nggak angkat, aku tidak salah kostum kan?" Kataku begitu mobil Andrew berjalan meninggalkan rumahku. Kalau kuamati dari penampilan Andrew memang kustumku tak salah. Andrew memakai setelan celana dan kemeja, hitam dan jas warna cream. Membuatnya tampil lebih segar. "Family dinner, Hizi Corp." Jawab Andrew santai. "Hah??" Aku kaget mendengar jawaban Andrew, makan malam bersama keluar besar Hizi Corp? Berarti akan ada Kaizan, Rindani dan teman-teman yang kukenal lainnya. Aku pernah mendengar ini dari Rindani, jajaran petinggi Hizi sekali dalam setahun menggelar family dinner, biasanya mereka menyewa gedung besar untuk makan-makan karyawan kantor yang bukan pabrik. Jadi ada sekitar lima ratus karyawan makan malam bersama. Perasaan ku tiba-tiba berubah menjadi aneh, aku tidak siap. Aku diam saja tidak menanggapi perkataan Andrew, pikiranku sedang sibuk sendiri. Apa yang harus kukatakan pada orang-orang yang kukenal di sana nanti, terutama jika mereka melihatku datang bersama Andrew. "Ndrew, aku malu." Kataku kemudian. "Kenapa malu? Di sana pasti banyak yang kamu kenal." Jawab Andrew. "Justru itu. Aku turun di sini aja ya, aku nggak jadi ikut." Kataku memelas. Andrew tertawa. "Sejak kapan seorang psikolog ternama kota ini bernama Bivisyani menjadi orang yang tidak percaya diri." Andrew tertawa lagi, aku tidak ikut tertawa, aku tegang. "Ndrew, serius." Kataku dengan mimik muka serius. Andrew berhenti tertawa. "Kamu nggak punya alasan untuk malu, Biv. Kamu sempurna." Andrew menatapku sejenak, dia letakkan tangan kirinya di atas pundakku memberi keyakinan. Jantungku berantakan diperlakukan seperti itu. Akhirnya, sampailah kami di sebuah hotel bintang lima, makan malam keluarga Hizi Corp. akan digelar di sini. Aku hanya pasrah, aku berjalan mengikuti Andrew dengan sedikit lunglai. Begitu berada di pintu hall hotel itu, Andrew berhenti, aku jadi ikut berhenti juga. Kutengok dia, dia fokus menghadap depan. Dan tanpa kuduga, dia meraih tanganku dan menggenggamnya. Dia berjalan sambil menggenggam tanganku erat. Aku kebingungan, hanya bisa pasrah mengikutinya. Terlihat jelas bagiku, beberapa orang sengaja mengamati kami, kemudian saling berbisik, mungkin bergosip. Andrew tidak perlu mengisi daftar hadir atau menerima kartu sovenir, dia berjalan melenggang tanpa dicegat oleh penerima tamu. Mereka justru mengangguk hormat pada Andrew, aku hanya bisa ikut mengangguk. Kami terus berjalan ke tengah, melewati jajaran meja-meja berbentuk lingkaran yang dikelilingi kursi, rata-rata sudah berpenghuni. Aku bersyukur, sejauh ini belum melihat orang yang ku kenal. Kami tiba di meja yang masih kosong. "Duduk dulu di sini. Aku menemui orang sebentar." Aku pun duduk, dan Andrew pergi. Seperginya Andrew, aku seperti anak kecil kehilangan ibunya di acara arisan, semua orang bercakap-cakap, aku hanya terdiam sendirian, mengamati sekeliling. "Bivi!?" Dari jauh kulihat Rindani melambaikan tangan, dia berjalan mendekatiku. Aku membalas lambaian tangannya dengan sedikit ragu. "Sama siapa? Kamu diundang juga?" Tanya Rindani setelah kami saling cipika-cipiki, aku diam tidak menjawab. "Andrew ya?" Tanyanya lagi, aku mengangguk. "Aku malu banget, Rin. Jujur, aku tadi tidak tahu kalau diajak kesini." Kataku jujur, Rindani duduk di dekatku. "Kenapa malu?" "Ya jelas malu dong, siapa aku datang kesini? Pasti aku nggak ada juga di daftar tamu." "Tapi kamu kesini diajak langsung sama yang adain acara ini. Ngapain juga malu. Gabung sama anak-anak, yuk. Itu, di meja sana." Rindani menunjuk sebuah meja sedikit jauh dari sini, aku menggeleng. "Andrew memintaku menunggu di sini " Jawabku. "Jadi, kalian sudah berpacaran?" Tanya Rindani, aku menggeleng. "Kamai hanya berteman, Rin." Jawabku. Rindani mengernyitkan dahi, tidak percaya. Ketika aku dan Rindani sedang asyik ngobrol, Andrew datang. Dia menyapa Rindani lalu memintaku untuk ikut dengan dia. Aku melambaikan tangan ke arah Rindani dan berjalan membuntuti Andrew. Andrew membawa kami ke bagian hall yang paling ujung, ternyata ada bagian dalam hall yang sangat luas itu yang dibatasi dengan pagar pendek, sependek lutut. Meja dan kursi di sana tidak banyak. Aku baru menyadari jika yang masuk ke sana hanyalah petinggi dan keluarga Hizi Corp. Dan, Kaizan ada di sana. Meskipun tak melihatnya secara lansung, mataku dapat menangkap bahwa Kaizan melihat ketika kami datang, untung kami tidak sedang bergandengan tangan seperti tadi. Kaizan mempertemukan aku pada Pak Wayan dan istrinya. Aku menyalami mereka dengan takzim, tapi kami tidak duduk bersama mereka karena kursi di meja mereka sudah penuh. Dan aku bersyukur karena itu. Kami duduk bersama empat orang lain, yang sepertinya juga petinggi Hizi, Andrew akrab dengan mereka, tapi aku tidak kenal. Jika tamu lain mengambil makanan sendiri secara prasmanan, para tamu VIP yang terdiri dari petinggi dan keluarga Hizi Corp. dilayani oleh pramusaji. Andrew memintaku untuk memesan dan dia ikut dengan pesananku. Masakan yang di sini, hampir sama dengan menu makan malam di rumah Pak Wayan waktu itu. Dan aku memilih steik, seperti biasa. Di saat menikmati makanan dan mengobrol dengan Andrew, aku tidak sengaja melihat ke arah Kaizan. Dan sialnya, dia sedang melihat ke arahku. Aku segera membuang pandangan sambil merutuk dalam hati. "Sekarang sudah tidak malu lagi, kan?" Tanya Andrew, aku menggeleng. "Aku seharusnya makan di luar sana, bukan di sini, teman-temanku makan di sana." Aku menunjuk ke arah luar dengan daguku. Andrew tersenyum. "Okay, selepas makan silakan kesana. Tapi aku tetap di sini ya, tidak ada yang aku kenal di sana." Jawab Andrew, aku mengangguk. Benar, setelah makan aku keluar dari batas VIP tadi, aku mencari teman-temanku di Hizi Untuk Indonesia dulu. Dari jauh, aku melihat Raka dan Siska dan beberapa teman kami yang lain, aku melambai ke arah mereka, tapi mereka tidak melihat, akhirnya aku berjalan kesana. "Hai semua!" Kataku begitu sampai meja mereka. "Bivi!!!" Mereka terkejut melihatku. Dan betapa lebih terkejutnya aku, ada Kaizan diantara mereka. Hah??? Sejak kapan dia beranjak dari kursinya tadi dan pindah kesini. Kenapa dia mesti mengikutiku. "Kamu datang juga, Biv?" Raka masih saja dengan karakter ceplas-ceplos nya, bertanya dengan jujur, aku hanya bisa mengangguk. "Tentu saja dia datang, dia kan kekasih putra mahkota Hizi Corp." Kalimat itu yang diucapkan oleh Kaizan, bagai petir di siang bolong bagiku, sangat menyentakku dan menyakitkan. Karena kenyataannya, aku dan Andrew tidak berpacaran yang artinya Kaizan sengaja mempermalukan ku di depan teman-teman. Aku menatapnya tidak suka, tapi dia tidak berani menatapku. "Ohya?" Tanya Siska, "waah selamat ya.." Siska reflek memegang dan mengguncang tanganku. Aku melepaskannya. "Aku permisi ke toilet dulu." Kataku. Aku berjalan ke toilet dengan perasaan kacau. Aku sebal sekali dengan Kaizan, apa mau dia sebenarnya? Kenapa dia terus membayang-bayangi ku dan mencampuri urusanku. Segala kekagumanku pada Kaizan, lenyap sudah. Aku sangat kecewa dengan tingkah lakunya hari ini. Aku masuk toilet sedikit lama, bukan hanya mengecek penampilanku, tapi juga menangkan hatiku. Aku tidak boleh terlihat emosi atau bersungut-sungut. Aku menarik dan membuang nafas dalam-dalam dan berulang sebagai bentuk pendinginan. Aku keluar dari toilet dengan perasaan sedikit lebih lega, habis ini aku berniat untuk mengajak Andrew pulang, aku tidak nyaman berada di sini. Tapi baru saja aku keluar dari toilet, di belokan menuju hall, sebuah tangan menarikku, dan berlari seperti menyeret langkahku agar mengikutinya. Aku panik, berusaha melepaskan tanganku dari genggaman tangan orang itu. "Lepas!" Kataku, kami masih sambil berjalan karena jika tak mengikutinya berjalan, aku akan terjatuh. Orang itu menggenggam ku sangat erat. Dia berhenti ketika sudah jauh dari hall, di depan jendela hotel diketinggian entah lantai berapa, yang jelas pemdangan lampu kota sangat terlihat jelas. Indah, tapi tidak untuk dinikmati saat ini. "Kaizan?" Aku kaget ketika orang itu berbalik dan menghadapku. Dia meletakkan jari telunjuknya di bibir memintaku agar tidak ribut. "Apa mau kamu?" Tanyaku, seketika perasaanku tidak enak. "Aku tidak akan menyakitimu apapun, aku hanya ingin bilang, Andrew bukan orang baik untuk kamu. Dia orang baik, tapi tidak untuk kamu." Dia berkata begitu dengan tegas lalu bergegas berjalan pergi, bahkan ia pergi dengan setengah berlari meninggalkan aku sendiri di sana. Aku terbengong dengan semua kejadian itu, aku berbalik badan menghadap dinding kaca. Menatap kerlap-kerlip lampu kota yang indah. Ya Tuhan, apa yang Kaizan katakan? Apa dia mengatakan itu karena iri? Atau cemburu? Tapi kenapa? Aku berjalan gontai dengan pikiran yang penuh kembali menuju hall. Jantungku masih berdegup-degup, cengkeraman tangan Kaizan masih terasa di tanganku. Dia niat sekali melakukan itu, apa maksudnya? Aku kembali ke dalam hall, menuju tempat VIP, Andrew masih asyik mengobrol dengan rekan semeja kami tadi. Begitu melihatku datang dia segera tanya, "kenapa?" Mungkin karena melihat ekspresiku masih gugup, pucat, atau entah bagaimana. Yang jelas, perasaanku tidak bisa biasa saja. "Pulang, yuk!" Kataku lirih. "Kenapa?" Tanya Andrew. "Maaf, aku tidak nyaman. Atau aku izin pulang dulu naik taksi kalau kamu masih ingin di sini." Kataku, kurasai wajahku panas, menahan sedih atau menahan marah. "Baik, kita pulang sekarang." Andrew berdiri, berpamitan dengan rekannya, aku pun mengangguk pada mereka. Lalu Andrew berdiri dan meraih tanganku dalam genggamannya. Kami berjalan beriringan. Ketika berbalik badan, sekilas kulihat Kaizan sudah duduk di kursinya tadi, dia mengantar kami dengan pandangan tajam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN