"Biv, hari ini dokter sudah mengizinkan Kavya untuk dipindahkan ke rumah sakit kota. Jadi besok, kami sudah pindah ke rumah sakit kota. Kondisinya memang belum seutuhnya pulih, dia masih sesekali muntah dan nafsu makannya sedang sulit, jadi dia sangat bergantung pada infus. Tapi, kata dokter perkembangannya cukup bagus sehingga cukup untuk perawatan di rumah sakit kota.
Aku membawa Kavya pulang, Pak Sedetil dan istrinya membantuku bermacam hal. Terus diakhir pertemuan kami, beliau bilang jika Ghulam sudah meminta maaf padanya. Aku kaget, Biv. Sangat kaget! Benarkah itu?
Jika iya, maka aku sangat berterimakasih padamu. Ku yakin, pasti dia memintamu untuk menghubungkan mereka. Jujur, sampai sekarang, aku belum baikan dengan Ghulam. Tapi, jika memang dia sudah baiknya dengan ayahnya, maka tak apa jika aku yang harus minta maaf duluan."
Aku membaca pesan Ala pagi-pagi, ketika baru bangun dan sholat subuh. Pesan itu dikirimkan semalam, sekitar pukul setengah sebelas, saat aku sudah mematikan handphone. Aku lega karena kabar Kavya yang semakin membaik, namun juga kaget ternyata Ala dan Ghulam belum baikan. Aku sama sekali tidak ingat untuk mengabari Alana tentang sesi intensif bersama Ghulam kemarin. Pikitanku terlanjur sibuk dengan Andrew.
"Syukurlah, Ala. Aku ikut senang mendengar kabar ini. Nanti tolong segera kabari jika kalian sudah di rumah sakit kota, aku ingin menjenguk Kavya.
Tentang Ghulam, iya Ala, kami kemarin selepas melakukan sesi intensif, sepertinya sesi itu akan berlanjut hari ini. Jika kalian sudah baikan, itu akan lebih baik."
Kukirimkan pesan balasan pada Alana, lalu kuletakkan handphone di atas kasur dan beranjak untuk mandi.
Aku ada sesi dengan Ghulam lagi, tapi bukan sesi intensif kali ini. Ya, sesi lanjutan. Sesi kemarin sebenarnya belum selesai, namun waktu keburu habis. Memang, sesi seperti ini selalu membutuhkan waktu lebih lama.
Setelah makan bubur ayam bersama ibu, aku segera pamit untuk bersiap ke kantor. Memang, kalau ada jadwal pagi bertemu klien, dan ruang kerja belum kukondisikan, jadilah aku harus berangkat dengan sedikit terburu-buru. Bahkan aku lupa tidak membawa botol minum yang berisi infused water nanas dan daun mint yang dibuatkan ibu.
Seperti yang pernah kuceritakan, ruang kerja adalah tanggung jawab sendiri. Bukan tanggung jawab petugas kebersihan. Jadilah segala bentuk kerapian, kebersihan dan tatanan ruang kerjaku selalu menjadi bahan kehebohanku di pagi hari.
Yang menyebalkan, Zahra selalu datang lebih pagi, dan duduk di sofa ruang kerjaku, sambil mengomentari caraku menyapu, kerapian rak dokumen, atau tumpukan buku yang sering tercecer penataannya.
"Hey, itu bawah meja nyapu kurang bersih!"
"Rak belum dilap ya?"
"Bisa nyapu nggak sih? Arahnya kok gitu?"
Zahra terus berseloroh mengomentari ku.
"Bisa diem nggak sih?" Kataku bete, dia tertawa.
"Ra, apa pandangan mu, lihat aku sama Andrew?" Aku duduk di sebelah Zahra setelah selesai menyapu.
"Bagus, memang kenapa?" Tanya Zahra.
"Orang kantor nggak ada yang nanya status hubungan kami?" Aku balik bertanya.
"Nanya, sih."
"Terus kamu jawab gimana?"
"Udah pacaran."
"APA????"
Aku menepok dahi mendengar jawaban Zahra. Dia memang teman yang asyik, tapi kadang dia kelewat ngeselin, seperti saat ini, bagaimana kalau suara-suara tentang hubungan kami sampai terdengar Andrew, atau keluarganya, atau orang-orang Hizi Corp. Zahraaa!!!!
"Terus gimana, masak diralat?" Kata Zahra ketika melihatku melipat tangan lalu memasang ekspresi manyun.
"Ra, kamu bikin posisiku semakin tidak enak, ih!" Aku berdiri lalu pergi keluar, meninggalkan Zahra sendiri di ruang kerjaku. Zahra berlarian membuntuti ku.
Tapi sampai di depan pintu, Ghulam sudah berdiri tegak di sana. Aku berhenti melangkah, Zahra melaluinya.
"Silakan masuk!" Kataku pada Ghulam, dia mengangguk lalu berjalan masuk. "Bagaimana perasaanmu?" Tanyaku begitu ia duduk.
"Aku cukup lega, hari ini Kavya akan dirujuk ke rumah sakit kota. Jadi, aku dan Ala bisa bergantian menjaganya."
"Aku ikut senang mendengarnya." Jawabku. "Apakah kalian sudah baikan?" Tanyaku lagi.
"Kami, kami sudah saling berbicara. Tadi pagi Alana menelpon, memberitahukan kabar baik itu. Tapi kami masih canggung."
"Ya, itu wajar." Jawabku. "Jadi hari ini, kita akan melanjutkan sesi intensif yang kemarin." Kataku kemudian, Ghulam mengangguk.
"Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Ghulam
"Kamu cukup perlu menjawab apa yang kutanyakan, dan menyimakku baik-baik." Jawabku. Ghulam mengangguk.
"Ini sesi lanjutan, jadi sebelumnya aku ingin menanyakan, apakah perasaanmu masih sama? Apakah ketenangan hatimu, keikhlasan hatimu kepada ayahmu masih bertahan hingga sekarang?"
Ghulam diam sebentar, dia tampak berpikir. Aku mulai ragu ketika dia tidak kunjung bicara. Apakah dia berubah pikiran?
"Semalam, aku tidak bisa tidur. Aku berpikir macam-macam. Aku, aku takut hubungan dengan ayahku kembali memburuk dan kami kembali bertengkar. Aku sangat terusik dengan ini, Biv. Aku tidak bisa tidur dibuatnya."
"Jadi, ini sebuah prose Ghulam, mengikhlaskan bukan berarti kemudahan. Kamu mungkin sakit, tapi hatimu rela melepaskan, kamu melapangkan jalannya perasaan mu. Kamu menghargai apa yang kau rasakan, dan mencari-cari hikmahnya."
"Jadi, perasaan ini akan terus datang dan pergi, Biv?"
"Bisa jadi, tapi semakin lama, hatimu akan hafal dengan mantra keikhlasan, akan mengenali hikmah, dan akan mencintai proses ini sekaligus mensyukurinya."
"Baiklah, Biv. Kukira semua akan ringan setelah ini, ternyata masih perlu berjuang."
Aku mengangguk, aku tahu, Ghulam pun kadang masih akan merasakan sedikit kebencian dengan Ayahnya, tapi tak sebear dulu, dan tak akan banyak mempengaruhi kehidupannya. Itulah inner child healing.
"Sekarang, tulislah di atas kertas ini, apa yang membuatmu kecewa, marah, terluka, sedih, dan perasaan-perasaan yang lain. Kita akan berdamai dengan semua itu, bukan hanya tentang ayahmu tapi semua kemelut di hatimu."
Ghulam menerima kertas yang kusodorkan bersamaan dengan bolpoinnya. Dia berpikir sejenak lebih lama, lalu menuliskan satu demi satu larik, dia menulis sekitar dua puluh menit. Lalu, ia menyerahkan kertas itu padaku. Saat k****a, tulisan itu berisi:
# aku sedih sekarang tidak memiliki pekerjaan
# aku tidak suka istriku lebih baik segalanya dariku
# aku tidak suka dengan mertuaku
# aku menyesal setelah bertengkar dengan istriku
# aku malu ketika harus mencari atau mendapat pekerjaan atas belas kasihan orang
# aku sangat takut kehilangan putriku
Masih berlarik-larik tulisan yang ditulis Ghulam, semuanya hampir merupakan sebuah perasaan yang sebelumnya sudah kuduga ia rasakan. Tujuanku sekarang adalah, dia mengidentifikasi perasaan itu.
"Terimakasih sudah menuliskannya." Kataku begitu selesai membaca. Ghulam mengangguk.
"Tolong jadikan itu sebuah rahasia."
"Tentu." Kataku. "Sekarang, apakah kamu menolak atau menerima semua perasaan yang kamu tulis di sini." Lanjutku, sambil mengangkat kertas itu.
"Belum, Biv."
"Bagian yang mana?"
"Apakah kita harus menerima semua perasaan itu?" Ghulam balik bertanya. Aku mengangguk.
"Ya," jawabku, "perasaan ini adalah emosi yang memang kita rasakan, ketika kita menekannya, dia akan mungkin akan muncul dalam bentuk lain. Seperti sebuah kesedihan, kemarahan, kemurungan, atau yang lainnya. Kita harus menerimanya, dan berdamai dengannya." Lanjutku.
"Aku belum bisa menerima jika aku tidak suka dengan keberhasilan Alana. Dan aku membenci perasaan itu."
"Kenapa kau membencinya?"
"Karena aku seperti seorang suami yang gagal, sekaligus suami yang buruk karena iri dengki dengan istrinya. Dua hal itu bertentangan dalam pikiranku."
"Bolehkah aku menyempaikan sebuah penelitian ilmiah?" Kataku lalu mengambil sebuah buku dari dalam tas. Buku tema relationship karya John Gray. Ghulam mengangguk dan terus memperhatikanku ketika mengambil buku itu.
"Dalam buku ini," lanjutku. "Seorang profesor psikologi mengatakan, jika laki-laki secara alamiah memang memiliki karakter maskulin, hal ini salah satunya karena ia dominan hormon testosteron, hormon laki-laki. Perempuan juga punya hormon ini, tapi jumlahnya sangat sedikit, sekitar sepersepuluh nya dari laki-laki.
Hormon inilah yang membentuk karakter laki-laki menjadi pribadi yang mandiri, fokus, memiliki jiwa kompetitif yang tinggi, menjunjung tinggi harga diri, kuat, dan yang lain.
Karakter yang kami miliki itu khas laki-laki, Ghulam. Kamu wajar memilikinya. Tapi, kamu hanya perlu mengendalikannya agar tidak berlebihan. Kamu harus mengimbangi dengan ke-khas-an feminin dari dalam dirimu, yaitu empati, yaitu simpati. Kamu harus bangun simpatimu pada Alana.
Istrimu, Alana, dia perempuan yang sangat baik. Dia tidak menuntutmu menjadi apapun. Jika kamu merasa terbebani, itu karena bayang-bayang egomu sendiri.
Saat ini mungkin kamu sedang dalam posisi kurang menguntungkan, Alana sedang jaya. Tapi kalian itu satu, kesuksesan salah satu diantara kalian, kesuksesan bersama. Suatu hari, bisa saja kamu kembali yang lebih sukses daripada Alana."
Ghulam diam saja menyimakku. Dia mengangguk-angguk, tapi tetap tak mengeluarkan responnya.
"Kamu benar, Biv. Aku hanya meerasa bersaing dengan egoku sendiri. Karena Alana tidak pernah menganggapmu pesaingnya."
"Dia juga ingin kamu maju, Ghulam. Dia berusaha agar kamu bangkit. Meskipun mungkin caranya kurang kamu sukai."
Ghulam lagi-lagi hanya mengangguk. "Aku salah, Biv. Memang selama ini aku hanya dikuasai egoku. Tapi sekarang aku harus bagaimana?"
"Semua sudah terjadi, tapi kita selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki. Ketika nanti kalian baikan, jika Ala mulai menawarkan bantuan, dan kamu tidak suka, kamu boleh menolaknya, kamu tidak perlu memaksa diri menerimanya. Tapi katakan baik-baik, katakan apa yang kamu rasakan.
"Aku mengerti, Biv. Terimakasih untuk masukannya, sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan."
"Oke, sekarang sudah cukup tentang itu. Apakah masih ada yang mengganjal perasaanmu?" Tanyaku, Ghulam diam, seperti sedang berpikir atau mencari-cari.
"Terimakasih, Biv. Sepertinya, aku bisa menerima semuanya. Memang sekarang saatnya aku berjuang mengalahkan egoku sendiri. Tapi, satu yang aku takutkan."
"Apa itu?"
"Aku kembali kehilangan kendali diriku kala semua sudah baik-baik saja."
"Semoga saja tidak." Kataku mencoba menenangkan Ghulam, padahal dalam hati, aku juga tidak yakin.
"Sudah dulu ya, Biv." Kata Ghulam, dia tiba-tiba saja berdiri. "Kata Ala tadi, kira-kira mereka akan sampai rumah sakit pukul dua belas, dan aku ingin sampai di sana lebih dahulu sebelum mereka. Nanti perkara kapan aku akan bertemu dengan ayahku, akan aku kabari lagi." Ghulam segera melangkah pergi setelah mengatakan itu. Aku mengangguk menjawab salamnya.
Seperginya Ghulam, aku segera keluar mencari Zahra menuju ruang kerjanya. Ternyata dia masih bertemu dengan klien. Huftt...ada-ada saja ulah Zahra tadi. Jadi, seluruh isi kantor ini menyangka jika Andrew adalah kekasihku, padahal bukan. Bagaimana kalau ini sampai di telinga Andrew, akan sangat memalukan.
Aku menunggu setengah jam hingga akhirnya klien Zahra keluar. Aku segera cepat masuk ke ruangannya sebelum klien berikutnya masuk. Zahra melongo melihatku masuk tanpa permisi.
"Sekarang tanggung jawab, kamu harus kasih pengertian ke semua orang di kantor ini, jika Andrew bukan pacarku." Kataku memberikan ultimatum kepada Zahra
"Jadi kamu nggak pengen punya pacar Andrew?" Dia justru bertanya.
"Bukannya gitu."
"Jadi pengen?"
"Zahra!!" Aku mendatanginya lalu kegelitiki sahabatku itu, dia menyebalkan sekali. Dia berteriak minta ampun agar aku berhenti, aku tidak berhenti.
"Oke...oke, aku bakal klarifikasi, aku bakal klarifikasi karena disuruh Bivi."
"Nggak usah bilang disuruh. Hih!?"
Aku pergi meninggalkan Zahra dengan jengkel, Zahra justru tertawa melihatku. Kadang persahabatan dengan Zahra semenyebalkan itu.
Aku kembali ke ruang kerja dan mengecek handphone, ada dua pesan masuk. Satu, dari Alana.
"Biv, kami sudah di rumah sakit kota." Tulis Ala. Kubalas dengan emotikon jempol.
Yang selanjutnya, adalah pesan dari Andrew.
"Halo, Biv. Pulang kantor cari pempek Palembang, yuk."
Aku membatin sendiri, Andrew tetap tak merasa aku butuh kepastian, apakah dia menikmati hubungan yang seperti ini? Aku jadi bertanya-tanya dalam hati, bagaimana ujung cerita kami ini nanti, bagaimana kalau aku terlanjur nyaman dengan Andrew, dan dia berakhir bukan denganku? Ahh…
"Oke, tapi aku mau jenguk klienku dulu di rumah sakit kota." Balasku pada Andrew.
"Siapp." Jawabnya dengan cepat.
Tapi di sisi lain, aku berpikir, mengapa harus pusing dengan status kami, toh kami baru saja dekat. Biar waktu terus berjalan yang membuktikan. Segala sesuatu yang tak pasti terus bergulir itu wajar, jadi dinikmati saja.