#72 Kejelasan

1413 Kata
"Kamu ngapain kesini?" Kataku pada Andrew, aku duduk di sampingnya, dia malah tersenyum kutanya begitu. "Kan sudah kubilang, tidak dijawab berarti iya." Jawabnya santai. Kuberi dia lirikan tajam, Andrew justru menutup mata dengan tangannya seperti saat kita silau. "Yaudah tunggu bentar." Aku berdiri lalu kembali ke ruang kerja untuk mengambil tas. Zahra sudah berdiri di depan pintu ruang kerjaku ketika aku kembali. "Sudah selesai?" Tanyanya, aku mengangguk dan berlalu masuk. "Makan burger yuk!" Zahra membuntuti ku. "Maaf banget ya, Ra. Aku barusan banget makan burger." Jawabku sambil berkemas. "Ohya, sama siapa?" Tanya Zahra. "Andrew?" Tanyanya lagi, aku mengangguk. "Yaudah mie ayam aja yuk" Zahra masih berusaha mengejarku. "Sorry, aku dah dijemput." Kataku menyatukan tangan meminta maaf. "Sama Andrew?" Tanya Zahra, aku mengangguk. "Baik… baik, aku dah nomer dua." Katanya lalu berjalan keluar ruang kerjaku. Aku cuma bisa memberi senyum dan acungan tangan tanda minta maaf. Waktu menunjukkan pukul setengah empat saat mobil Andrew berjalan meninggalkan kantor, kami hanya keluar untuk makan sebentar, nanti Andrew mengantar aku ke kantor lagi karena mobilku kutinggal di sana. Kami pergi ke mobil truk yang menjual bakso Aci di pinggir danau. Tempatnya tidak jauh dari kantor, hanya tiga kilometer. Kukira Andrew orangnya serba yang sehat-sehat. Ternyata dia juga penyuka micin. Saat dekat dengan Andrew, kini hatiku kulepaskan bebas. Bebas berharap, bebas membayangkan, bebas berkeliaran dimana pun, tidak seperti ketika sedang bersama Kaizan, hatiku selalu kukekang, kutekan rapat-rapat. "Ndrew, kapan kamu balik ke Singapura?" Tanyaku mencari topik pembicaraan. "Ngarep banget aku segera balik?" Kata Andrew sambil menyeruput kuah baso. "Ya, nanti biar dibikinin rempeyek kacang sama ibu." Jawabku asal, padahal aku belum minta persetujuan ibu. "Aku sebenernya dalam waktu dekat ada urusan yang sangat mendesak, bukan urusan kuliah, tapi bisnis, mau iku?" "Nawar-nawarin kayak ngajakin pergi ke mall aja." Jawabku. "Ini serius." Katanya, ngomongnya serius tapi sambil berkelakar. "Semua kamu yang bayarin?" "Iya dong, yang ajakin aku." "Tapi aku pasti nggak diijinin sama ibu." "Kenapa?" "Ya karena kita nggak ada hubungan apa-apa, maksudku hubungan yang resmi. Di keluarga kami, masih memegang erat nilai itu." Andrew menghentikan aktivitas makannya ketika aku berbicara begitu. Aku sebenarnya tidak enak mengatakan itu, kok seolah aku minta kejelasan hubungan, tapi itu sudah terlanjur kuucapkan. Tapi memang benar, kenyataannya demikian. "Aku paham, sih." Jawab Andrew kemudian, lalu meneruskan makan. Kami sibuk dengan mangkok kami masing-masing. Entah kenapa setelah membahas tema tadi, kecanggungan datang melingkupi kami. Kami tidak lama-lama makan baso aci, setelah itu Andrew mengantarkanku ke kantor. Kantorku sudah sepi, di halamannya hanya tersisa mobil kantor, mobilku dan mobil Pak Ruslam. "Makasih ya traktiran bakso acinya." Kata Andrew ketika aku hendak turun. Tadi memang aku yang membayar, tentu setelah perdebatan dan aku memaksa. Meskipun dia kaya raya, aku tidak enak dibayari terus. Aku bukan siapa-siapanya. "Sama-sama. Jangan lupa oleh-oleh dari Singapura." Jawabku santai. "Masih Minggu depan kok, kita masih bisa bertemu lagi kan?" Tanya Andrew. "Untuk apa?" Jawabku spontan, aku bingung juga dengan apa yang terjadi di antara kami. Dia sering mendatangiku ke rumah, ke kantor, menjemput ku, mengajakku makan, memberi surprise dan hadiah mewah di ulang tahunku, hingga bertemu rekan bisnis. Tapi tidak ada status apa-apa diantara kami. Diam-diam, hatiku mulai minta kejelasan. "Emmm pengen aja, kalau boleh sih." Jawab Andrew, aku tahu dia terlihat bingung menjawab. "Oh, iya nanti kabar-kabar lagi aja." Jawabku mencoba menetralkan kecanggungan. Aku turun dari mobil, lalu melambaikan tangan ke arah Andrew, dan dia berlalu. Aku pun segera masuk ke mobil dan melaju pulang. Ibu sedang di halaman menyirami anggrek -anggreknya ketika aku datang. Beliau segera sigap membuka pagar ketika melihatku datang. "Ibu, sudah mau magrib masih sibuk aja." Kataku. "Nanggung nih." Jawab ibu, meneruskan pekerjaannya. Setelah salim pada ibu, aku berlalu masuk. Aku segera mandi dan berganti pakaian untuk sholat magrib. Selesai sholat, aku keluar kamar untuk menemui ibu yang ternyata sudah duduk manis di kursi makan. "Makan yuk." Kata ibu begitu melihatku. "Iya, Bu. Tapi sedikit saja ya, tadi Bivi sudah jajan." "Jajan tekwan? "Bukan, bakso aci." "Tumben, sama siapa? "Andrew." Ibu mengambilkanku secentong nasi dan ikan nila bakar. Ikan bakar ini salah satu favoritku, bumbu pedas manis racikan ibu hampir sama persis dengan di restoran seafood favorit kami. Kalau tadi tidak jajan bakso aci, pasti nadiku tiga centong. "Bu, tadi Andrew bilang ingin mengajakku ke Singapura." Kataku, ibu langsung menoleh kaget. "Buat apa?" Tanya ibu. "Urusan bisnis." Jawabku. "Terus?" "Terus, kutolak, Bu. Kami bukan siapa-siapa. Sekalipun dia yang bayar, aku tidak mau nanti ada fitnah." Ibu mengangguk mendengar jawabku. "Kamu benar, Sayang. Ibu juga tidak akan mengizinkan. Kecuali kalian sudah menikah." Uhuk. Aku terbatuk secara spontan, ibu tertawa. "Aku merasa aneh dengan pertemanan di antara aku dan Andrew, Bu. Dia sering mendatangiku ke rumah, ke kantor, menjemputku, mengajakku makan, memberiku surprise dan hadiah mewah di ulang tahunku, hingga bertemu rekan bisnis. Tapi tidak ada status apa-apa diantara kami. Mungkin ini terlalu cepat untuk kupertanyakan, tapi jujur hatiku mulai tak nyaman. Menurut ibu bagaimana?" Pembicaraan kami di meja makan malam ini menjadi serius, kami makan dengan pelan-pelan sambil menikmati apa yang kami bicarakan. "Kamu benar, ibu juga berpikir sama, ibu juga merasa tidak enak ketika ditanya tetangga. Itu pacar Mbak Bivi ya yang jemput? Kalau cuma teman, kok sering banget datang. Ibu sih tidak apa-apa, tapi budaya kita masih budaya timur, sayang. Ibu tidak melarang kamu dekat dengan siapapun, tapi ini terlalu sering dan terlalu dekat." Kata ibu. "Lalu, aku harus apa, Bu? Masak iya aku minta kejelasan?" "Tentu tidak, tapi mungkin semacam membatasi diri. Hanya menyeleksi yang benar-benar perlu untuk ketemu, atau benar-benar butuh untuk pergi berdua." "Ibu benar, ide bagus, Bu." Jawabku. Kami meneruskan makan dengan lahap, sambil terus membicarakan banyak hal. Terakhir, tiba-tiba ibu berbicara sebuah pesan yang selalu menyentil. "Biv, pesan ibu masih sama, seperti yang ibu katakan ketika kamu mulai suka pada Kaizan dulu. Andrew belum tentu jodoh kamu, kalian belum tentu menikah. Dia perhatian, belum tentu dia cinta dan serius sama kamu. Kalau pun dia suka, orangtuanya juga belum tentu setuju mengingat dia anak orang kaya raya. Jadi, pesan ibu, jangan letakkan hati sebelum waktunya ya, Nak." Aku mengangguk mendengar petuah ibu, ibu benar sekali. Andrew sama sekali belum memberiku kepastian apapun, bahkan dia juga tidak memberiku harapan, kalau ada harapan, itu karena aku sendiri yang berharap. Jadi, aku juga harus mengendalikan perasaanku. Setelah selesai makan dan mencuci peralatan, aku pamit pada ibu untuk ke kamar awal. Biasanya, aku masih menemani ibu menonton televisi. Tapi entah, aku malas sekali ingin rebahan. Aku merebah di kasur dengan pikiran macam-macam. Salah satunya sibuk dengan pertanyaan, mengapa aku seringkali menemui ketidakjelasan seperti ini? Saat aku tengah asyik melamun, sebuah pesan mendarat di handphone ku. Rupanya dari Rindani. "Hai Biv!" Tulis Rindani, aku rindu sekali pada gadis itu, rindu cerita-cerita dengan dia. "Halo, Rin. Apa kabar?" "Aku baik, semua sehat, ibu juga. Semoga kamu dan ibu kamu sehat ya." "Aamiin, terimakasih Rin." "Biv, aku mau ngomong sama kamu." "Apa?" "Kemarin, Kaizan mengantarkanku pulang karena kami kemalaman usai rapat. Dan di mobil, tak kusangka, dia menanyakan mu. Dia menanyakan kabarmu, menanyakan apa hubunganmu dengan anak pak Wayan. Aku heran, Biv. Mengapa dia menanyakan semua itu. Sebenarnya aku tidak ingin cerita ini padamu, tapi aku penasaran." Kututup handphone ku sebentar untuk mencerna kata-kata yang ditulis Rindani. Mengapa Kaizan masih saja tidak jelas seperti itu? Apa dia berniat tidak tulus dengan tunangannya? Aku pun akhirnya duduk, masih belum kubalas juga pesan Rindani karena bingung harus membalas bagaimana. "Tidak usah dipikir, Biv. Mungkin Kaizan hanya iseng mencari-cari pembicaraan." Rindani mengirim pesan lagi, mungkin karena pesan tadi tak kunjung kubalas. Kalau Kaizan iseng, ngapain dia harus iseng perihal aku, mengapa dia masih saja penasaran dengan hubunganku dengan Andrew. Mengapa dia tak tanyakan sendiri pada Andrew. Bukan kah mereka berteman? Aku jadi ingat percakapanku dengan Andrew di kedai baso Aci tadi sore. Bahwa Kaizan baru saja dikirim ke Australia oleh Hizi Corp. untuk sebuah proyek kerjasama. Itu pasti karena prestasi Kaizan yang sangat memberi keuntungan bagi Hizi, dia sempurna sekali. Dan, Australia bagian mana? Apakah Sydney seperti tempat Avyne kekasihnya, berarti mereka baru saja bertemu dong. Ah, itu bukan urusanku. Kumatikan handphone ku tanpa membalas pesan Rindani terlebih dulu. Aku tadi dibikin pusing oleh perasaanku terhadap Andrew yang entah bagaimana kejelasannya. Sekarang, bertambah lagi hal yang mau tak mau juga tetap kupusingkan, yaitu tentang Kaizan. Mengapa Tuhan mengirim dua laki-laki dengan ketidakjelasan yang sama. Yang satu tidak jelas tapi jelas mendekatiku, yang satu juga tidak jelas tapi memberi kode-kode yang membuatku berpikir dan dia sudah memiliki tunangan. Huftt benar kata ibu, aku memang harus memegang hatiku sendiri agar tak terombang-ambing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN