#71 Dijemput

1023 Kata
Kuraih handphone untuk menelpon Pak Sadetil. Entah kenapa aku ikut merasa grogi. Sudah berpuluh tahun bapak dan anak tidak menjalin kontak, sekarang aku hendak menghubungkan mereka. Dadaku ikut berdegup-degup. Panggilan pertama tidak diangkat, "mungkin beliau sedang sibuk." Kata Ghulam. "Kita coba lagi ya." Kataku, Ghulam mengangguk. Panggilan kedua langsung diangkat pada nada sambung pertama. "Halo Nak Biv." Suara renyah khas Pak Sadetil segera terhubung. "Bapak apakah sedang sibuk?" Tanyaku. "Bapak sedang mengajar ini, ada apa ya?" Aku meneleh Ghulam sebentar, kesempatan seperti ini belum tentu datang dua kali, batinku. "Saya bersama Ghulam, Pak. Dia mau bicara dengan Bapak." "Ohya? Baik-baik tunggu lima menit, Bapak akan menutup kelas, nanti Bapak telepon." Pak Sadetil memutus teleponnya karena hendak menutup kelas. Tadi aku berbicara dengan mode loud speaker, jadi Ghulam mendengar semua. Dia harusnya juga melihat, betapa berartinya dia di mata ayahnya yang sampai menutup kelas demi menelpon anaknya. Tidak sampai lima menit, panggilan dari Pak Sadetil masuk. "Nak.." Suara dari seberang begitu telepon terhubung. "Iya, Pak." Jawabku. "Berikan teleponnya pada putraku." Kata Pak Sadetil, aku menoleh pada Ghulam, dia mengangguk. "Halo Ayah." Kata Ghulam lirih. "Nak…" Suara Pak Sadetil bergetar, seperti menahan haru atau tangis. "Terimakasih sudah mau menelpon Ayah." Lanjutnya, lalu pecahlah tangis beliau, tangis yang terdengar cukup keras, sampai terisak-isak. Ghulam juga menitikkan air mata, tangis dalam diam. "Maafkan Ghulam." Hanya itu kata yang terucap dari bibir Ghulam, air mata terus menetes di pipinya. "Tidak Nak, ayah yang harus minta maaf." Pak Sadetil terdengar masih terisak. Aku menyimak saja pembicaraan bapak dan anak ini. "Ghulam sudah maafkan ayah, sekarang Ghulam yang meminta maaf. Ghulam meminta maaf karena terlalu lama tenggelam dalam kebencian terhadap Ayah. Sekarang Ghulam sadar, semua itu tidak menyelesaikan masalah, justru melebarkan masalah dan mengundang masalah. Sekarang Ghulam sudah mengikhlaskan semua, Ghulam ingin kita kembali menjadi keluarga." Terdengar suara tangisan Pak Sadetil yang masih terisak-isak. Beliau sepertinya tak mampu berkata-kata. Semakin lama, aku dan Ghulam justru hanya mendengar tangisan tergugu. Ghulam menoleh ke arahku, bingung. "Biarkan beliau selesai menangis." Kataku pada Ghulam lirih, dia mengangguk. "Nak…" akhirnya suara Pak Sadetil muncul, dia mungkin sudah bisa menguasai diri. "Iya ayah." Jawab Ghulam. "Apakah cucuku sudah sembuh?" "Dia masih di rumah sakit provinsi." "Besok ayo kita kesana, besok kita bertemu, ayah ingin memeluk kalian semua bersama." "Baik ayah." Percakapan berhenti di sana. Ghulam menyudahi teleponnya, karena bagaimanapun bagi dua orang yang baru saja berseteru, tidak mudah mencari topik pembicaraan. Pukul dua siang, sesi konseling berakhir, Ghulam pamit hendak pulang. Tapi sebelum pulang dia berkata. "Biv, jika kemudian keluargaku kembali utuh. Hidup bahagia seperti dulu kala, maka kamulah pahlawan keluarga kami. Aku bersaksi tentang itu." Ghulam berkata begitu lalu pergi, aku hanya diam bingung menjawab apa. Aku mengaktifkan kembali handphone ku sesaat setelah Ghulam pergi. Ada beberapa panggilan masuk, salah satunya dari Andrew. Setelah mengecek pesan, ternyata laki-laki itu juga mengirim pesan. "nanti aku jemput ya." tulisannya pada pesan pertama. Pada pesan kedua, setelah kemudian sekian lama tidak ku balas, dia mengirim pesan lagi, "tidak dijawab berarti iya". Aku hanya bisa menggeleng melihat tingkah laki-laki itu. Andrew mulai mendapat tempat tersendiri di hatiku. Sekarang, semakin dia sering mengajakku bertemu, semakin luas tempatnya di hatiku. Aku belum benar-benar mencintainya, tapi aku suka ketika bertemu dengannya dan nyaman bersamanya. Seperti kali ini, untuk apa dia menjemputku. Toh, aku bawa mobil sendiri, kita mungkin hanya beriringan pergi ke suatu tempat, untuk atau yang lain. Tapi itu sudah cukup menyenangkan. Aku keluar dari ruang kerja menuju dapur untuk mengambil minuman segar dan mengembalikan Snack yang tadi tidak tersentuh. Tapi ternyata di dapur sudah ada Pak Malik yang sedang menikmati secangkir kopi. "Itu, pacarmu sudah di depan." katanya begitu melihatku. Aku mengabaikannya, segera menuju kulkas untuk menyelesaikan tujuan ku ke dapur dan cepat-cepat keluar dari sana. Aku segera berjalan ke lobi untuk memastikan apakah benar yang dikatakan Pak Malik. Dan ternyata, benar adanya. Andrew sedang duduk di sofa lobi, sibuk mematut layar handphonenya. Dan entah bagaimana caranya, ia sadar aku mengamatinya dari jauh. Dia melambaikan tangan ke arahku, dan entah mengapa, aku jadi salah tingkah. Aku merasa pendekatan yang telah dilakukan Andrew entah itu tulus atau tidak, entah dengan perasaan atau tidak, atau dia hanya main-main, tapi lama-lama hangat juga hatiku menerimanya. ibu pernah bilang, aku harus mengontrol hatiku, tapi hatiku menghangat begitu saja atas perlakuan Andrew. Sebagian hatiku memang ragu, namun sebagian hatiku yang lain terasa getar semangat dan keyakinannya. Ah dijalani saja, toh kami belum alam saling dekat dan mengenal. Mengenai pandangan, pikiran, dan tanggapan orang lain, itu bukan di bawah kendali kita bukan? Bukan kah aku sudah mendapat semua pelajaran ini sejak di bangku kuliah. Kadang-kadang kita memang butuh bersikap cuek. Tidak peduli, hanya peduli pada apa yang dikatakan hati dan dipikirkan otak. Toh, Andrew dari keluarga baik-baik, dia tidak pernah berbuat kurang ajar, akhlaknya juga baik, baik dengan ibuku, dia sangat sopan dan tidak menjanjikan macam-macam. Mengapa aku harus takut padanya? Cinta memang terkadang tak tumbuh serta merta, ia bisa saja datang dari keraguanmu. Keraguan yang terus kamu bersamai sehingga benih-benih itu tumbuh. Jika aku dan Andry memang ditakdirkan saling cinta, maka mungkin saat ini kesabaran harus kuutamakan untuk merawat benih itu. Aku tidak boleh gegabah, hal itu hanya akan mengacaukan pertumbuhan perasaan ku nantinya. Lagi pula, aku butuh Andrew untuk melarikan perasaan ku yang salah tempat pada Kaizan. Kaizan bukan orang yang tepat untu menaruh rasa. Aku kesulitan beralih darinya jika tidak ada Andrew. Mungkin Tuhan mengirim Andrew untuk memudahkan ku. Aku yang harus tetap berterima kasih. Bukan mengeluh bukan menuntut. Jika Andrew tahu dia sebagai pelarian perasaanku, apakah dia masih mau dekat denganku. Tentunya tidak! Tapi aku juga tidak melarikan perasaanku, aku membiarkannya tumbuh sendiri. Karena melarikan hanya akan membuat lelah. Usiaku sudah dua puluh enam tahun, tapi aku tidak terburu-buru, aku tidak sedang dikejar apapun, aku harus menikmati semua proses ini. Karena bisa jadi, ada banyak pelajaran berharga untuk bekal masa depanku nanti. Aku memang konselor pernikahan, tapi aku selalu membantu klien menyelesaikan masalah lewat jalur teori, karena aku memang belum punya pengalaman. Mungkin, dengan membuatku mengalami banyak hal, Tuhan ingin aku mempunyai pengalaman, agar suatu saat berkat pengalamanku ini, aku bisa banyak bermanfaat dan membantu orang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN