Pagi ini aku ada janji dengan Ghulam, full dengan Ghulam selama jam kerja. Aku sudah siap-siap minuman dan makanan ringan sebelum dia datang. Aku tau, sesi kali ini beda, lebih sensitif dan akan membutuhkan waktu yang panjang. Jadi, dari bangun tidur tadi, aku sudah mempersiapkan mental, jika saja kemungkinan buruk terjadi, seperti Ghulam marah-marah atau meminta menghentikan proses konseling, maka aku sudah siap mental.
"La, nanti tolong jangan mendistrak proses konseling dengan apapun ya, aku ada sesi intensif dengan Pak Ghulam." Kataku pada Laila, dia mengangguk.
"Baik, Mbak." Jawabnya.
Aku juga meminta Zahra untuk menggangguku dengan datang ke ruang kerja dan memasak tanda jangan diganggu di depan pintu. Selain itu, aku mematikan juga handphone. Memang beginilah jika mengadakan sesi konseling intensif.
Aku janjian dengan Ghulam pukul sembilan, tapi pukul sembilan kurang seperempat dia sudah datang. Akhirnya, sesi konseling dimulai lebih awal.
"Apakah kamu sudah siap?" Tanyaku pada Ghulam begitu ia duduk. Dia mengangguk.
"Apakah aku boleh minum dulu?" Dia balik bertanya, aku mengangguk.
"Silakan."
Ghulam mengambil segelas air mineral yang kusiapkan di atas meja, dia menghabiskan seluruh isi gelas dalam satu kali teguk. Kemudia dia mengangguk padaku, memberikan tanda bahwa dia sudah siap.
"Sebelumnya, izinkan aku menjelaskan terlebih dahulu, apa itu inner child." Kataku sambil memperbaiki posisi duduk, Ghulam juga ikut memperbaiki.
"Jadi inner child itu semacam bayangan kejadian pada masa lalu terutama masa anak-anak, yang masih melekat hingga saat ini dan berpengaruh pada kesejahteraan hidup kamu saat ini.
Inner child menjadi masalah ketika keberadaanya sangat mengganggu fungsi kehidupan kamu. Misalnya, sering membuatmu muram, tidak bahagia, emosional, tidak damai, bermasalah dengan orang lain, atau dalam kasus yang kronis bisa membuatmu terus-menerus merasa cemas hingga depresi.
Apa penyebab dari inner child ini? Secara umum penyebabnya adalah peristiwa yang kurang menyenangkan yang menggoncang secara fisik maupun psikis. Bisa berupa perlakuan tidak menyenangkan, kekerasan, bentakan, bullying dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana cara menyembuhkannya? Cara menyembuhkannya bukan seperti sakit fisik yang tinggal minum obat lalu selesai. Tapi, mungkin kita nanti akan memanggil memori jangka panjang yang membuatmu kurang nyaman, nanti tugas kita adalah berjuang menyelesaikannya dan menerimanya sebagai pengalaman yang pasti ada hikmahnya."
Selesai aku menjelaskan pengantar, Ghulam tampak menghela nafas panjang, dia seperti berancang-ancang untuk menghadapi kesulitan.
"Tidak perlu tegang atau khawatir Ghulam, santai saja." Aku tersenyum menenangkan, dia juga tersenyum tapi senyum yang diupayakan.
"Tolong ceritakan padaku, apa peristiwa di masa lalu, atau perilaku ayah yang sangat membekas di pikiranmu."
Aku to the points seperti ini karena sebelumnya aku sudah memulai sesi intensif untuk menggali kasus, saat itu aku sudah menemukan fakta bahwa Ghulam terdapat luka masa lalu dari ayahnya. Ghulam sebentar, mungkin berpikir untuk menjawab pertanyaanku. Dia berpikir hingga memejamkan mata, aku menunggunya dengan sabar. Dia memejamkan mata cukup lama, sejenak dia membuka mata, lalu tersedu-sedu. Jika dia perempuan, aku pasti langsung berdiri untuk merangkulnya, tapi karena Ghulam laki-laki, aku hanya mengambilkan tisu dan menyodorkan ke arahnya.
"Maafkan aku, Biv. Aku belum bisa bicara." Katanya sambil terisak-isak. Aku mengangguk.
"Menangislah dulu sampai kau puas dan siap." Jawabku.
Ghulam masih menangis, tergugu dan terisak-isak. "Hatiku sakit Biv, sampai sekarang mengingat ini masih sakit. Hatiku sakit melihat ayah meminta uang pada ibu dengan marah-marah. Melihat ayah tidak bekerja hingga kami serba kekurangan apapun, hingga akhirnya ibu dan adikku meregang nyawa." Ghulam masih menangis setelah mengatakan itu. Ketika melihat laki-laki semenangis itu, pasti itu karena sesuatu yang benar menggoncang hatinya.
Hampir setengah jam Ghulam menangis, dan aku hanya menatapnya, membiarkan dia sampai puas. Ketika dia berhenti, kutawari dia minum atau ingin ke kamar mandi. Ghulam mengambil segelas lagi air mineral. Setelah itu, dia menghela nafas panjang.
"Terimakasih, Biv. Terimakasih sudah membiarkan aku menangis tanpa bertanya atau tanpa tatapan mata mengejek."
"Perasaanmu itu bukan sesuatu yang buruk, Ghulam. Itulah rasa, itulah yang memang kamu rasakan. Kamu harus ikhlas menerima bahwa kamu merasakan itu. Sebagai laki-laki, kamu boleh menangis, sedih, terluka, kecewa, sakit hati, dan yang lainnya. Semua perasaan itu tidak boleh kamu tepis, harus kamu peluk sebagai bagian dari dirimu."
Ghulam menatapku lama, dia seperti sedang memastikan apakah yang kukatakan adalah kebenaran.
"Kamu bilang apa, Biv?" Tanyanya memastikan.
"Kamu boleh merasakan semua itu, sekarang terimalah semua perasaanmu yang manusiawi itu. Bahkan, kamu boleh membenci ayahmu."
"Apa?"
"Iya, itu respon natural dari tubuhmu, itu emosimu, itu perasaanmu."
Ghulam tampak mengangguk-angguk. Lalu dia menghela nafas panjang.
"Sekarang, terimalah semua perasaan itu dalam dirimu. Dan bersyukurlah kamu normal sebagai manusia untuk merasakan itu." Kataku. Ghulam diam, lalu tersenyum mengangguk.
"Terimakasih, Biv. Sudah menerima perasaanku ini normal. Bukan menghakimi bahwa aku jahat." Katanya setelah itu, aku tersenyum.
"Belum selesai." Kataku.
"Lalu apa lagi, Biv?" Ghulam memperbaiki duduknya.
"Kamu sudah menerima perasaan itu dengan tangan terbuka?" Tanyaku, Ghulam mengangguk. "Sekarang, carilah seribu alasan mengapa kau harus berbaik sangka kepada ayahmu."
Ghulam tampak tidak mengerti dengan maksud ucapanku. Dia mengernyitkan dahi, menata duduknya lagi.
"Misalnya seperti ini, ayahku bukan tidak bekerja, dia hanya bekerja sesuai keinginannya tapi belum dibukakan Rizki dari Tuhan dari arah sana, itu ujian keluarga kami." Kataku memberi contoh, Ghulam lagi-lagi mengangguk.
Dia memejamkan mata lalu menunduk, lalu mendongakkan kepala ke atas dengan mata masih tertutup, begitu terus selama beberapa saat. Aku tersenyum melihat Ghulam kali ini, dia kooperatif sekali. Dia melakukan itu selama hampir sepuluh menit.
"Kamu menemukannya?" Tanyaku begitu ia membuka mata, Ghulam mengangguk. "Katakan padaku." Lanjutku.
"Ayahku, manusia biasa sepertiku. Waktu itu dia masih semuda aku sekarang. Mungkin dia bingung apa yang harus ia lakukan, sama seperti kebingunganku yang sekarang." Jawab Ghulam, aku tersenyum mendengar jawabannya.
"Kamu bisa menemukan kebaikan yang lain?" Kataku, Ghulam mengangguk.
"Ayahku, ayahku seniman yang hebat. Dia, aku tahu dia ingin menjadi orang besar untuk kami, tapi belum waktunya dia menjadi orang besar, takdir berkata lain."
Aku mengangguk mendengar satu lagi jawaban Ghulam. Kulihat, dia benar-benar serius mencari kebaikan ayahnya.
"Ada lagi?" Kataku, Ghulam masih saja mengangguk.
"Ayah, aku tahu ayah sudah menyesalinya kini. Dia berusaha datang dan meminta maaf padaku." Mata Ghulam tampak berkaca-kaca lagi, tapi dia segera menarik nafas untuk mengendalikan agar tidak sampai menangis.
"Jadi sekarang, apakah kau sudah memaafkan ayahmu?" Tanyaku, kutatap mata Ghulam sungguh-sungguh, dia masih menggeleng.
"Aku tidak tahu, Biv." Katanya.
"Apa yang masih mengganjal di hatimu?" Tanyaku.
"Aku ingin ibu dan adikku."
"Kamu belum ikhlas dengan kepergian mereka?" Tanyaku lagi, Ghulam menggeleng.
"Masa kecil hingga mudaku lebih berat tanpa ibu. Aku seperti hidup sendiri." Ghulam menerawang ke arah jendela.
"Apa lagi yang masih berat dari melepas mereka?" Tanyaku sengaja menggali lebih dalam agar Ghulam mengeluarkan semuanya.
"Kadang, kemarin-kemarin saat aku sedang sukses pada karirku, uangku banyak, aku ingin ibu melihatnya, aku ingin mengajak ibu jalan-jalan, aku ingin membelikan baju adikku. Pasti saat dia susiamu, Biv. Eh dua tahun diatasmu. Dia pasti sedang senang-senangnya berdandan. Aku ingin membelikan tas, sepatu, seperti biasanya Aku memilihkan untuk Ala." Ghulam tersenyum mengenang semua itu. Aku ikut tersenyum. "Indah sekali jika dibayangkan, Biv." Tambahnya.
"Pasti mereka juga bangga melihatmu dari sana." Kataku.
"Apakah mereka bangga melihat sekarang aku tidak bekerja?" Tanya Ghulam, aku menggeleng.
"Tapi mereka percaya anak laki-laki dan kakak mereka akan bangkit lagi. Akan berdaya lagi. Akan damai hidupnya."
"Kamu percaya hal-hal seperti itu, Biv?"
"Sangat percaya." Jawabku.
"Apakah ibu sedih ketika melihatku memusuhi ayah?"
"Barangkali iya."
"Jadi aku selama ini membuat ibu sedih."
"Kamu masih punya waktu untuk membuat beliau bangga dan bahagia. Kesempatan itu masih ada."
Ghulam mengangguk dengan kencang mendengar perkataanku. Dia bahkan sampai mengepalkan tangannya, begitu emosional.
"Aku akan baikan dengan ayah, Biv. Jadilah perantaranya." Kata Ghulam mantap. Aku tersenyum mengangguk.
"Ibumu akan bangga jika tahu ini." Kataku.
"Tapi masalahku dengan Ala?"
"Kita akan selesaikan satu-satu, aku akan membantu kalian secara pelan-pelan. Tapi tahap ini harus kita lalui dengan sabar."
Ghulam lagi-lagi hanya mengangguk. Kami saling bertatapan cukup lama. Dia seperti sedang mencari sesuatu.
"Biv, apakah Alana akan memaafkanku?"
"Dia pasti akan memaafkanmu, Alana berhati lembut dan penyayang."
"Tapi Kavya, Setelah kesalahanku membuat Kavya celaka. Aku benar-benar terpukul karena ini. Aku hampir tidak tidur Biv malam itu, aku menangis sendirian setelah menelponmu. Aku merasa gagal sebagai ayahnya."
"Semua akan ada hikmahnya, Ghulam. Semoga hikmah itu membawa kebaikan dalam keluargamu." Kataku. "Sekarang, maukah kau telepon ayahmu." Tanyaku.
Ghulam kaget dengan pertanyaanku, dia diam untuk berpikir sebentar. Lalu mengangguk pelan-pelan. "Aku takut, Biv." Katanya kemudian.
"Kamu belum siap?" Tanyaku lagi, Ghulam menggeleng. "Akan aku coba, Biv." Katanya kemudian.
"Aku tidak memaksa, hanya lakukan ketika kamu siap."
"Aku siap, Biv." Ghulam menjawab mantap, aku mengangguk.