#69 Hari Minggu

1264 Kata
"Biv, Alhamdulillah, Kavya sudah siuman tadi malam. Dia sudah menbuka mata, dia sudah mau makan dan minum, meskipun dia belum mau bicara apapun, tapi aku tetap bersyukur." Pagi-pagi setelah malam surprise itu, Alana menelponku. Aku baru saja bangun tidur, dan malas sekali untuk bangun. Aku segera terduduk demi mendengar kabar tentang Kavya, kemarin seharian, aku hampir terlupakan masalah Kavya perkara ulang tahun. "Aku senang mendengarnya, Al." Kataku menyemangatinya. "Kamu yang sabar dengan prosesnya ya, insyaAllah Kavya akan pulih seperti sedia kala." "Terimakasih, Biv. Biv, sampai sekarang, aku dan Ghulam belum saling bicara. Kemarin, dia seharian tidak di rumah sakit. Mak Semi bilang, dia pulang. Apakah dia menemuimu?" "Iya, Ala. Dia menemuiku untuk meminta maaf dan menyatakan penyesalan." "Syukurlah Biv, inilah salah satu hikmah peristiwa yang menimpa Kavya." "Kami juga membuat jadwal bertemu besok, dia akhirnya menyetujui untuk innerchild healing. Untuk menyembuhkan luka pengasuhan di masa kecilnya." "Ohya? Aku senang sekali mendengarnya, ini berita paling baik setelah sium Kavya tadi malam." "Iya, tapi bersabarlah, ini mungkin membutuhkan proses yang tidak singkat." "Aku pasti akan bersabar, Biv. Terimakasih infonya." Alana menutup teleponnya. Lagi-lagi di hari libur, aku gagal untuk tidur sampai siang. Karena setelah terbangun seperti ini, aku tidak bisa tidur lagi kecuali ketika nanti hari sudah siang. Aku keluar kamar menuju dapur untuk melihat ibu. Dari kecil, aku pasti pertama kali mencari mencari ibu dulu, memastikan ibuku hari ini masih ada untukku. Di dapur, ibu sedang memasak nasi goreng, bagitu masuk dapur aroma bawang bombai semerbak harum. "Sudah bangu? Katanya mau bangun siang?" Tanya ibu begitu melihatku. Aku menggeleng. "Nggak jadi, dikacaukan telepon dari Alana mengabarkan kalau Kavya sudah siuman." Jawabku sambil mencicip nasi goreng yang sudah ditata di piring. "Wah syukurlah." Kami melanjutkan ngobrol di meja makan. Membahas banyak hal, mulai tentang Alana sampai tentang acara surprise tadi malam. Aku bercerita pada ibu tentang isi kado, tentang pikiranku terhadap kado itu, juga tentang rencana pertemuan besok bersama Ghulam. *** Matahari sudah sepenggalah naik, aku menemani ibu mencabuti rumput di halaman belakang. Mencabuti rumput merupakan salah satu kesenangan ibu, jadi aku membantu bukan karena aku juga senang melakukannya, tapi karena ingin melihat ibu senang. Tapi baru setengah jam jongkok mencabuti rumput di bawah bunga, di sebelah pot, di dinding pagar, pinggangku sudah pegal-pegal, aku menemukan berbagai alasan untuk segera mengakhirinya. "Bivi haus, ambil minum dulu ya, Bu. Ibu diambilkan nggak?" Kataku pada ibu, beliau menggeleng. Kalau ibu mah, berjam-jam bersama rumput-rumput juga betah. Selepas mengambil air dingin di kulkas, tak lupa aku rebahan sebentar di sofa ruang tengah sambil mengecek handphone. Aku terkejut ketika menemukan lima panggilan tak terjawab dari Andrew. Ada apa anak ini? Batinku. Kemudian kutelpon balik. "Hai Biv! Aku di depan." Katanya begitu telepon tersambung. "Ohya? Sudah lama? Maaf tadi baru berkebun sama ibu di belakang." "Emmm kira-kira setengah jam." "Hah? Udah lama dong? Yaudah tunggu seperempat jam lagi ya." Aku segera menutup telepon tanpa menunggu persetujuan dari Andrew. Mana mungkin aku ke depan untuk menemuinya sedang badanku bau rumput dan mukaku belepotan keringat campur tanah. Aku mandi dengan cepat, memakai pelembab wajah dan lipbalm dalam sekejap. Sepuluh menit, tidak sampai seperempat jam, aku sudah berjalan ke depan untuk membuka pagar. Kulambaikan tangan ke arah mobil Andrew setelah membuka pagar, memberi dia kode untuk turun. "Kenapa sih nggak pernah bilang dulu kalau mau datang." Kataku menggerutu begitu dia duduk di kursi teras. Andrew justru cengengesan. "Emang kalau bilang dulu, kamu mau kasih penyambutan kayak apa?" Jawabku santai. "Ya paling enggak, kamu nggak bakal nungguin kayak barusan." "Aku nggak apa-apa kok." Andrew tertawa. "Mau ikut aku nggak?" "Kemana?" Tanyaku. "Ketemu partner bisnis." Aku berpikir sebentar, dan sepertinya hari Minggu begini, lebih seru keluar rumah berkumpul dengan orang yang sedang transaksi bisnis daripada di rumah mencabuti rumput. "Aku tanya ibu dulu ya." Jawabku, Andrew mengacungkan jempolnya. Aku hampir membuka pintu rumah dan bertepatan ibu juga membuka pintu hendak keluar. "Ooh ada tamu, pantesan katanya ambil minum kok nggak kembali." Andrew mengangguk kepada ibu, ibu membalasnya. "Saya ingin mengajak Bivi, Bu. Jika ibu mengizinkan." "Mau kemana?" Ibu berjalan ke arah Andrew, lalu duduk di kursi teras juga. Aku masih mematung berdiri di depan pintu. "Bertemu salah satu kolega." Andrew menjawab sopan. "Di caffe tidak jauh dari sini." Ibu menoleh ke arahku, "ibu terserah Bivi saja." Kata ibu, Andrew tersenyum kemudian menolehku. Jadilah Minggu siang, aku tetap keluar. Hari ini Andrew berpakaian sedikit resmi. Dia memakai kemeja lengan pendek dimasukkan dan celana kain, meskipun ia juga masih memakai sneakers. Aku menyesuaikan, memakai blouse lengan panjang dan rok selutut, tak lupa juga sepatu kets. Kami bertemu di caffe widjoyo, hanya limaratus meter dari rumahku. Ketika kami datang, kolega yang dimaksud Andrew sudah datang. Ternyata seorang perempuan muda. "Ini pacar kamu?" Kata perempuan itu begitu kami duduk di hadapannya. Aku dan Andrew saling menoleh, aku tidak menjawab karena bukan aku yang ditanya, tapi Andrew juga tidak mau menjawab. Akhirnya pertanyaan itu berakhir tanpa jawaban. "Kak Bela sudah lama? Ohya kenalin, ini Bivi." Andrew mengalihkan pembicaraan. Aku mengangguk pada Kak Bela. Yang bernama Bela mungkin usianya tiga puluhan tahun, atau seusia Alana. Dia cantik, berambut pirang dan sekilas kulihat, semua yang melekat pada dirinya branded semua. Aku jadi terlihat seperti perempuan cupu di sana. "Baru kok, kita to the points ya. Hello Bivi, salam kenal." Selanjutnya mereka membicarakan tentang urusan pekerjaan. Jadi Kak Bella ini merupakan seorang pengusaha tas dan sepatu kulit, dia meminta Andrew untuk menghubungkan kepada pasar yang ada di Singapura, kerjasama seperti ini sebenarnya sudah berkali-kali dilakukan, namun karena produk baru dari usaha Kak Bela, maka perlu koordinasi secara langsung dengan Andrew. Sebelumnya, aku tidak tahu kalau Andrew memiliki sebuah usaha makelar di Singapura. Ku kira sejauh ini, Andrew masih bergantung dengan Bapaknya, tapi kali ini melihatnya secara langsung melakukan negosiasi bisnis, sedikit banyak membuatku diam-diam kagum. Laki-laki memang ketika serius bekerja dan fokus pada apa yang ia kerjakan akan terlihat jauh lebih karismatik. Kulihat cengengesan Andrew seperti hilang seketika. Pertemuan dengan Kak Bela tidak memakan waktu lama. Cukup empat puluh menit, meeting Andrew selesai. Kak Bela mengajak kami untuk makan dulu, tapi Andrew menolak. "Kak Bela itu janda, Biv. Mantan suaminya sering neror siapapun yang pernah dekat dengan dia. Aku pernah jadi bahan teror, ditelpon, dimarahin, diolok-olok di media sosial. Ya kan, jadi malas kalau begitu. Makanya tadi aku ngajak kamu. Biar nggak cuman ketemu berdua doang. Apalagi kerjasama dengan Kak Bela profitnya gede. Jadi sayang kalau nggak diambil." Andrew menjelaskan panjang lebar. "Jadi aku dimanfaatin?" Kataku pura-pura tak suka. Andrew melepas setir mobil untuk menyatukan tangan sebagai kode minta maaf. "Yaudah sekarang kamu mau ditraktir makan apa?" "Emm...yaudah burger deh." Aku dan Andrew tertawa, aku tidak beneran marah kok, aku senang ikut dia meeting tadi, perempuan yang bernama Kak Bela tadi sangat menginspirasi. Pintar, cantik, dan pekerja keras. Terlepas dari hubungan asmaranya yang kurang beruntung. Kami makan burger di sebuah kedai favoritku karena ini adalah usulku. Siang-siang kami makan banyak sekali aneka macam burger, pizza, kebab, dan banyak minuman dingin. Perutku sampai penuh nyaris tak bisa bergerak. "Kamu kemarin ajak Kaizan untuk ikut surprise aku?" Tanyaku setelah kami kembali ke mobil, dalam perjalanan pulang. "Iya, kenapa? Nggak boleh ya." "Ya, aku kurang suka, kan dia sudah punya tunangan." "Oh, maaf ya, aku pikir ini kan cuman surprise, jadi aku ajak kenalan kamu, aku nggak punya ide ajak siapa lagi, aku nggak banyak kenal teman kamu." "Iya, nggak papa. Aku takut jadi fitnah aja kalau ajak Kaizan." "Tenang aja, Avyne bukan tipe cemburuan kok, dia perempuan yang sangat independen dan smart." Mendengar Andrew memuji kekasih Kaizan, entah kenapa rasanya hatiku sakit. Andrew banyak bicara hal lain setelah itu. Tapi aku sudah tidak mood untuk bicara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN