#68 Selamat ulang tahun, Biv!

2088 Kata
Hari ini Sabtu, seharusnya, inilah hari dimana aku bisa bangun sianga dan rebahan sepanjang hari. Tapi semalam Pak Ruslam menelpon, kami mendapat proyek dadakan, yang cukup besar, dan sayang untuk ditolak. Jadilah kami masuk kerja di hari Sabtu yang mendung ini. Kemarin, karena hari ini ulang tahunku, aku berencana mengajak ibu makan di luar, berdua saja, tidak mengajak atau mengundang siapa-siapa. Tapi malah begini agendanya. Proyek besar kami, kebetulan adalah sebuah perusahaan multi nasional, yaitu sebuah kerjasama perekrutan karyawan secara besar-besaran. Tapi aku heran, kenapa semendadak ini. Padahal biasanya selalu ada briefing dengan partner sehari sebelum test. "Ra, ini bercanda bukan sih?" Kataku pada Zahra, tadi dia yang menjemputku karena sama sepertiku, dia juga malas berangkat. "Apanya?" Zahra balik bertanya. "Psikotest perekrutan perusahaan besar kok dadakan, emang tahu bulat." Kataku kesal. "Kenapa kesel banget kamu." Zahra menyelidik. Aku manyun. Salah hal yang membuat kesal adalah, tidak ada yang istimewa di hari ulang tahu. Ya, ibu tidak mengucap apapun tadi pagi. Zahra juga tidak menyinggung-nyinggunh tentang itu. Apakah mereka semua lupa? Aku sih tidak apa-apa, aku tidak ingin dirayakan atau ada acara tiup lilin. Tapi rasanya ya tetap nelangsa jika tidak ada yang ingat, merasa tidak istimewa, merasa sepele. Kami sampai kantor dan kantor sepi sekali. Perasaanku mulai tidak enak. "Kok belum ada yang datang?" Keluhku lagi. Zahra tidak memedulikan ku, dia tetap melenggang turun. Laila sudah di dalam. Laila ini memang karyawan teladan. Dia datang sebelum semua datang, dia pulang ketika semua sudah pulang. Jadi aku pun tak heran dia di kantor sepagi ini di hari libur. "La, pada belum datang?" Tanyaku pada Laila, kepalanya mendongak dari layar laptop di depannya. Zahra tidak banyak tanya, dia langsung duduk di sofa lobi. Laila melihat ke arah Zahra sebentar, lalu menggeleng. "Ra, ngapain yuk, biar nggak bosen." Aku bermaksud mengajak Zahra keluar mencari cemilan atau berjalan ke Indomaret untuk membeli es krim. Tapi Zahra menggeleng. Aku menghela nafas dan duduk di sebelahnya, lalu ikut-ikutan Zahra, tenggelam dalam keasyikan bermain handphone. Sepuluh menit menunggu, aku bertanya lagi pada Laila. "La, katanya diminta kumpul jam delapan, kok udah lebih masih pada belum datang, ini dibohongi apa gimana?" Kataku, Laila mengangkat bahu. Sampai pukul setengah sembilan, pantatku sudah panas duduk menunggu dan jenuh melanda. Aku meminta Laila menelpon Pak Ruslam tapi dia tidak mau malah menyuruhku menunggu. Zahra juga memintaku sabar. Akhirnya aku sendiri yang menelpon Pak Ruslam. "Haloo, Pak. Ini kamu sudah standby di lobi, sekarang bapak ada dimana?" "Standby untuk apa ya Mbak Bivi?" Sial, Pak Ruslam malah tanya kenapa aku menunggu, bukan kah beliau tadi malam menelponku. Aku menghela nafas, mencoba untuk sabar menghadapi orangtua. "Bapak tadi malam menghubungi saya untuk ikut tim perekrutan di perusahaan partner?" "Oh, ya ampun, Mbak Bivi! Bapak lupa tidak memberi tahu jika agenda perekrutan itu ditunda pekan depan." "Apa?" Aku dongkol sekali, aku segera menutup telepon begitu Pak Ruslam selesai berbasa-basi meminta maaf dan lain sebagainya. Aku ceritakan pada Zahra hasil teleponku dengan Pak Ruslam. "Ohya? Oh yaudah kita pulang aja yukk." Ajak Zahra enteng, aneh sekali dia tidak mengomel seperti biasanya. Zahra lagi-lagi begitu sangat sabar menghadapi kekesalan-kekesalanku hari ini. Aku heran, apakah dia kerasukan. "Cari cake yuk! Pengen ngemil nih." Kata Zahra tiba-tiba belok ke toko kue bahkan sebelum mendapat persetujuan dariku. Aku mengikuti Zahra masuk ke toko kue dengan tidak bersemangat. Hari ini ulangtahunku, apakah Zahra ingin membelikan ku kue ulang tahun. Apalagi display paling depan toko ini adalah kue tart yang besar dan cantik. Tapi ternyata Zahra melewati bagian kue tart, dia menuju kue-kue basah favoritnya. Aku segera membuang jauh harapan dalam hati untuk mendapat kejutan kue ulangtahun. "Kamu mau apa, Biv?" Tanya Zahra yang melihatku diam saja mematung tidak memilih. Aku menggeleng. Zahra masih saja terus sibuk mengambili kue dengan penjapit dan menaruhnya pada baki yang sudah hampir penuh. Ada pastel, sossis solo, kue lumpur, brownies kukus, muffin, dan banyak yang lain. Sesudah puas membeli, Zahra mengajak memakan kue itu di sana. Jadi di toko kue juga disediakan tempat untuk menikmati kue secara langsung. Aku menurut saja. Aku mengambil sepotong brownies kukus dan menikmatinya. Sepulang dari toko kue, Zahra memintaku menemaninya untuk potong rambut. Aku segera menolak karena aku baru saja dari salon beberapa hari lalu bersama Alana. Tapi dia sedikit memaksa. "Kamu bisa jalan-jalan lihat-lihat sepatu atau tas kan di sana. Ayo dong, Biv. Mumpung keluar bareng nih, aku juga mau minta saran sama kamu model rambut pilihan aku." Akhirnya aku mengiyakan, toh aku memang tidak punya alasan lain selain hanya malas saja dan sedang tidak mood. Memang salan favorit kami terletak di dalam mall dan bersebelahan dengan toko sepatu favorit kami juga. Zahra benar, aku bisa window shopping untuk mengusir jenuh. Aku jenuh sekali menunggu Zahra, ternyata treatment yang dia lakukan banyak sekali. Aku sudah menghabiskan waktu berjam-jam di toko sepatu, tapi dia tetap belum selesai. Bahkan aku sempat ketiduran di kursi saking jenuhnya. Melihatku hampir mati kebosanan, Zahra masih cengengesan dan melambaikan tangan. Aku dongkol sekali, di hari ulang tahunku, rasanya aku menghabiskan waktu dengan sia-sia dan tidak berarti. Pukul dua siang, Zahra baru selesai. Aku sudah sulit tersenyum, bibirku manyun dan perutku lapar. Zahra tanpa rasa berdosa cengengesan memperlihatkan rambut barunya. "Bagus nggak?" Katanya, aku hanya bisa membalas dengan memberikan senyum kecut. "Jangan marah dong, Biv." Zahra merayuku, memegang lenganku. Aku tidak peduli dan terus jalan. "Aku laper, pokoknya harus makan enak habis ini." Kataku. "Siapp!" Aku dan Zahra makan steik favorit kami, tentu Zahra yang mentraktir. Dia yang membuatku menunggu harus membayar sebagai tanggung jawab, haha. Baru setelah makan kenyang, perutku penuh, kerongkonganku segar karena menum es. Moodku membaik. Pukul setengah empat, kami keluar dari mall. "Tolong jangan mampir kemana-mana lagi, aku mau pulang." Aku memberi Zahra ultimatum begitu masuk mobil. Dia memberi tanda hormat dengan mimik muka menyebalkan. "Biv, sorry banget, kita mampir minimarket bentar ya, aku mau beli minyak." "Beli minyak?" "Iya titipin Bi Idah tadi." Aku merasa aneh dan memilih tidak ikut turun. Aku menunggu Zahra di mobil sambil berpikir, sejak kapan Zahra ikut campur urusan dapur sampai mau membeli minyak. Ternyata Zahra lama sekali di dalam mini market itu, aku yang awalnya malas turun, akhirnya turun mobil juga. Zahra ternyata tidak hanya membeli minyak, dia juga sibuk memilih barang lain seperti sabun, shampo, snack dan yang lain. Sejak kapan dia belanja kebutuhan di minimarket, aneh sekali, batinku. Akhirnya, kami sampai depan rumah pukul lima sore. Sungguh hari yang sia-sia, batinku. "Kamu langsung pulang aja, ya." Kataku pada Zahra begitu mobil menepi di depan. "Tapi aku pengen ketemu ibu, nih." Jawabnya, dia sudah mengikutiku turun. "Tapi nanti ngobrol sama ibu, aku mau tidur soalnya." Kataku terus ngeloyor masuk. "Siapp." Zahra berlarian mengikutiku. Pintu rumah tertutulp dan gelap, apakah ibu pergi? Kuketuk-ketuk pintu dan mengucap salam, ibu tidak menjawab, perasaanku mulai tidak enak, kucoba buka pintu, ternyata tidak dikunci. Aku dan Zahra saling menoleh. "Kok gelap, Biv?" Tanya Zahra, aku menggeleng. Baru beberapa langkah masuk rumah. "Surprise!!!!" Lampu menyala, Ibu dan Andrew keluar dari ruang tengah membawa kue tart dan bernyanya "happy birthday to you, happy birthday to you." Bersama sambil bertepuk tangan. Di dinding ruang tamu terdapat dekorasi bertuliskan Bivi 27 dan di atas meja, sudah tertumpuk kado-kado, kue tart yang lain, dan nasi tumpeng. Aku lebih ternganga lagi ketika ada Pak Ruslam dan Laila yang ikut datang. Ini hal gila, batinku. Bisa bisanya orangtua datang ke acara surprise seperti ini. Aku benar-benar tidak menduga semua ini. Sebelum masuk rumah aku sedang bad mood. Sekarang, bibirku tidak bisa berhenti menyungging senyum. Setelah selesai lagi happy birthday, Andrew yang membawa kue mendekat, mendorong kue ke arahku agar aku berdoa lalu meniup lilin. Aku menutup mata sedikit lama, membaca doa dalam hati dengan cepat, dan segera membuka mata lalu meniup lilin. Potongan kue pertama kuberikan pada ibu, selanjutnya pada Zahra. Yang ketiga kuberikan pada Pak Ruslam, tapi Pak Ruslam menolak. "Yang ketiga untuk Nak Andrew dong, dia yang merancang surprise ini." Aku terkejut dengan apa yang dikatakan kepala lembagaku ini, aku memang sudah menduga, karena mana mungkin ibu bisa mengkoordinir hingga Pak Ruslam datang ke rumah. Akhirnya, potongan ketiga kuberika pada Andrew, aku sedikit malu karena di sana ada orangtua. Cieeee, mereka semua menggodaku, aku semakin tidak enak. Acara dilanjutkan makan tumpeng bersama. Aku dan ibu mengambilkan nasi tumpeng dan lelauknya ke atas piring. Kami semua makan dengan duduk di sofa ruang tamu yang berbentuk sudut. Bercerita, tertawa sambil menyantap nasi tumpeng hingga lahap. Pukul delapan, Pak Ruslam izin pulang terlebih dahulu. Aku dan ibu kebingungan, harus dikasih oleh-oleh apa nih biar pantas, akhirnya ibu masuk ke dalam rumah untuk mengeluarkan puding yang beliau buat tadi pagi dari kulkas. "Untuk oleh-oleh nyonya, Pak." Kata ibu sambil menyerahkan puding yang sudah di tata di atas mika. "Jadi bukan buat saya?" Tanya Pak Ruslam, kami semua tertawa. Kami pun mengantar Pak Ruslam hingga teras. Kami pun masuk rumah, ibu menawari untuk memesankan pizza agar semakin semarak, tapi semua menolak karena sudah kenyang. Kami lalu masuk rumah, meneruskan keseruan mengobrol, dan bernyanyi sambil main gitar. Aku bahagia sekali dengan ulang tahunku kali ini. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, giliran Laila yang pamit pulang. Aku memesankan taksi karena Laila terbiasa bepergian menggunakan ojek online.Setelah Laila pergi, Andrew dan Zahra juga hendak pamit karena memang sudah malam. Aku dan ibu mengantar Andrew menuju mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari rumah karena takut ketahuan aku dan gagal surprise nya. Setelah mengantar Andrew, aku dan ibu berjalan beriringan ke rumah. Tapi, sesampainya kami di rumah, sebuah mobil sudah terparkir di depan pagar. Mobil Kaizan? Batinku. "Itu mobil Kaizan, Bu." Kataku mempercepat langkah, mendekati mobil itu. Benar, Kaizan keluar dari dalam mobilnya. Dia menenteng sebuah tas kertas yang jelas terlihat berisi kado. "Selamat ulang tahun, Biv. Maaf telat datangnya." Kata Kaizan menyerahkan sambil menyerahkan tas kertas tadi "Kamu tahu dari mana aku ulang tahun?" Tanyaku, kuterima tas kado itu dengan ragu. "Andrew. Dia mengajakku untuk memberi surprise padamu tapi aku tidak bisa tadi. Maaf ya." "Nggak papa, masuk yuk." Kataku. Kaizan menggeleng. "Sudah malam, aku langsung pulang saja." Kaizan mengangguk padaku dan pada ibu, lalu memberi salam dan masuk mobil. Mobilnya melaju dan menghilang di belokan depan. Aku dan ibu, masih mematung memandanginya. Hanya lima menit Kaizan datang, menyisakan banyak tanda tanya di otakku. Mengaoa Andrew mengajaknya untuk memberi surprise? Apakah karena Andrew tahunya dia temanku? Lalu kenapa dia repot-repot datang ke rumah hanya untuk mengantar kado? "Ayo masuk!" Tepukan tangan ibu di pundak, membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk dan kami masuk. Sekarang, di ruang tamu hanya tersisa potongan kue yang masih banyak dan gelas-gelas kosong. Juga kado-kado yang aku tidak tahu dari siapa saja. Tahun ini, rekor ulang tahun mendapatkan kado banyak. Sebelumnya, paling hanya ibu dan Zahra. Ibu memintaku istirahat, tapi aku tetap membantu ibu beres-beres. "Jadi, sejak kapan ibu bersekongkol dengan Andrew?" Tanyaku sambil menata gelas kotor di atas baki. "Tadi malam, baru tadi malam, terus ibu menyarankan untuk mengajak Zahra juga, dan Zahralah yang menyuruh Andrew untuk mengajak Pak Ruslam." Ibu tertawa kecil. "Andrew baik ya Bu." Kataku, ibu mengangguk. "Iya, ibu melihat ketulusan di wajahnya." Jawab ibu. Kami selesai bersih-bersih lalu segera masuk kamar masing-masing. Ibu membantuku membawa kado-kado ke dalam kamar. Rencananya memang, aku akan membukanya malam ini, aku penasaran apa isinya. Setelah cuci muka dan berganti piyama, aku bersila di atas karpet dan menghadap kado-kado itu dan siap membukanya. Kado pertama yang kubuka dari Pak Ruslam. Astaga, aku malu sekali di beri kado kepala lembaga, ini benar-benar merepotkan. Kado dari Pak Ruslam berisi sebuah buku agenda, yang cantik sekali berwarna ungu muda. Pasti ini istri beliau yang memilihkan, batinku. Kado kedua, dari Laila. Laila juga membuatku tidak enak. Laila bukan orang yang mampu, dia hidup masih berkekurangan, ia sudah punya suami dan dua orang anak di usianya yang masih dua puluh lima. Dan hari ini, dia datang kesini membawa kado berisi sweater rajut yang sangat cantik berwarna mustard. Dan hati aku berjanji akan membalasnya suatu saat nanti. Aku membuka dengan cepat kado-kado selanjutnya. Dari Zahra berisi tas, astaga! Tas mahal seharga lima jutaan. Anak itu memang kadang tidak berpikir dulu ketika memberi, dia sangat ringan tangan. Kado selanjutnya, dari ibu. Sebuah dress yang cantik sekali berwarna peach. Lalu kado dari Kaizan, sebuah baju tidur berbahan satin yang halus. Dan dari Andrew, sebuah jam tangan. Astaga! Ini juga jam tangan mahal. Aku menggeleng tidak percaya, aku kenal merek jam tangan itu karena pernah menabung untuk membelinya, tapi kupikir-pikir sayang uangnya mending untuk investasi di bidang lain. Aku selesai menbuka kado-kado itu, kumasukkan ke dalam lemari, kertas kado kubuang keluar dan merebah di kasur. Hari ini sungguh berwarna. Terimakasih Tuhan atas dua puluh tujuh tahun ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN