#67 Penyesalan

1446 Kata
Aku menemani Mak Semi di rumah Ala sampai malam, sebenarnya jika tidak kasihan ibu sendiri di rumah, aku ingin sekali menginap. Perempuan yang kata Ala sudah menemaninya berpuluh tahun itu, masih saja terus menangis. Beliau tidak mau kuminta makan, bahkan minum air putih pun tidak selera. "Mak, Bivi mohon maaf, Bivi harus pulang karena ibu Bivi sendiri di rumah. Tapi, sebelum Bivi pulang, tolong Mak makan atau minum s**u dulu. Bivi tidak mungkin meninggalkan Mak dalam keadaan lemas tak berdaya. Mak harus kuat, siapa yang nanti akan menjaga Kavya kalau dia sudah pulih kalau Mak sakit." Setelah mendengar perkataan itu, ia mau makan beberapa sendok makanan dan minum segelas s**u. Yang membuatku lebih tenang lagi, beliau sudah berhenti menangis. Mungkin lelah juga sepanjang hari menangis. Setelah itu, aku pulang dengan perasaan lebih lega. Di mobil, tak lupa aku menelpon Ala terlebih dulu, aku ingin tahu bagaimana kabar Kavya. Tapi tetap tidak diangkat, bahkan handphonenya non aktif. Aku terpikir untuk menelpon Ghulam, tapi kuurungkan karena hatiku juga masih dongkol padanya. Sesampainya di rumah, setelah kuceritakan semua pada ibu, ibu tak kuasa menahan tangis. "Jadi bagaimana kondisi gadis kecil itu sekarang?" Kata ibu sambil mengusap air mata. Aku menggeleng, sampai saat ini aku belum tahu. Baru, malamnya sekitar pukul sepuluh. Ketika aku hendak mematikan lampu untuk tidur. Handphoneku bergetar, panggilan dari Alana. Aku secepat kilat mengangkatnya. "Halo, Ala!" "Biv, kau menelponku sepuluh kali?" "Bagaimana keadaan Kavya?" "Operasinya berhasil, Biv. Aku sangat lega, aku sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk bertemu anakku. Tapi kata dokter, mungkin kita akan menemukan Kavya yang berbeda setelah ini, dia mengalami cedera kepala yang cukup serius. Dia mungkin saja bisa kehilangan memori jangka panjangnya." Aku ternganga mendengar pernyataan Alana "kita akan menemukan Kavya yang berbeda?" Kavya sudah spesial sebelum dia mengalami cedera, akan seperti apa lagi dia nanti, kasihan sekali gadis malang itu. "Tadi Mak Semi menelponku, katanya kau menemaninya sampai hampir magrib, bahkan kau mengambilkan makan dan membuatkan s**u untuknya. Terima kasih, Biv. Aku berhutang sangat banyak padamu." "Iya, kulihat tadi dia sangat shock, dia terus menangis." "Dia sangat tulus "Ya, aku melihatnya. "Doakan Kavya segera siuman ya, Biv. Aku ingin segera mendengar celotehnya." "Aku tidak berhenti mendoakannya sejak tadi pagi. Bagaimana dengan Ghulam?" "Ya, dia di sini bersamaku, tapi kami tidak saling menyapa, kami tidak saling bicara. Dia diam, aku juga diam." Ala diam sebentar setelah mengatakan itu, dia seperti sedang mengatur nafas. Lanjutnya, "Biv, kecelakaan yang terjadi pada Kavya adalah kesalahan kami." Tangis Ala meledak begitu mengatakan kalimat itu. "Semua itu terjadi karena Allah sudah mengaturnya demikian, Ala." Kataku menenangkan. "Tidak, Biv. Kami bertengkar di depan sekolah. Tidak tepat di depan sekolah, memang tidak ada yang memperhatikan. Tapi kami lalai mengawasi Kavya, kami sibuk berdebat, sampai kami tidak tahu Kavya menyebrang. Kavya menyebrang karena ingin membeli es krim, aku sempat dengar dia merengek sambil menunjuk tukang es krim keliling yang sedang berhenti di seberang jalan. Kami baru sadar diri setelah suara tabrakan keras terjadi. Putri kami satu-satunya Biv, hampir lepas dari genggaman kami." Ala terisak-isak. Aku ikut menitikkan air mata dan merasakan bagaimana perihnya misal aku yang mengalami dan melihat semua itu. "Semua pasti ada hikmahnya, Ala. Tidak ada guna merutuki diri. Sekarang, kamu boleh sedih, tapi harus tetap bersyukur ya, karena Allah masih menjaga putrimu. Semoga dia pulih seperti sedia kala dengan segera." Ala masih terdengar terisak-isak, jelas sekali karena ini sudah malam dan hening. "Tadi pagi, Pak Sadetil ke kantor." Kataku memecah keheningan. "Ohya? Beliau tadi juga kesini, tapi hanya di depan rumah sakit. Aku kasihan melihat beliau dan istrinya yang takut-takut bahkan ingin menjenguk cucunya sendiri. Mereka menelponku, aku menemui mereka, mereka memberiku dukungan, lalu kuminta mereka pulang. Di saat seperti ini, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, Biv. Aku hanya mengikuti kata hati." "Kamu sudah melakukan hal yang tepat, Al. Kamu dan Ghulam memang butuh waktu untuk tenggelam dalam keheningan berdua. Untuk saling berpikir, untuk saling mengevaluasi diri masing-masing." "Terimakasih, Biv. Allah memang mengirimkan kamu untuk menjadi malaikat penolongku." Ala tertawa kecil. "Ah, kamu berlebihan, Ala. Aku hanya melakukan apa yang menjadi tugasku." Kataku. "Jangan berhenti ya, Biv." "Jangan berhenti apa?" "Jangan lelah menemani kami melalui semua ini. Dukunganmu sangat berarti untuk kami." Jika kami saat ini sedang bertemu secara langsung, pasti kami akan berpelukan setelah mengatakan itu. Aku jadi teringat saran Pak Sadetil untuk memberi ketegasan pada mereka. Aku memang perlu tegas, tapi inilah yang membuatku berat memberi ketegasan pada mereka. Hati tertaut pada mereka. Proses konseling sebenarnya tidak boleh seperti ini, ini kurang efektif karena aku sudah menggunakan perasaan dan hatiku sehingga sulit bersikap objektif. Tapi bagaimana lagi, aku hanya mengikuti hati. Ala menutup teleponnya setelah itu. Aku sedikit merasa lega karena telah mendengar kabarnya. Sekarang aku bisa tidur dengan lebih nyenyak, batinku. Aku mematikan handphone dan lampu kamar, menyalakan lampu tidur, lalu terlelap hingga pagi. *** Pekerjaanku menumpuk dampak dari kemarin aku izin seharian. Bahkan aku meminta tolong Zahra, saat dia kosong untuk membantuku di ruang kerja untuk menyelesaikan analisis tes psikologi yang dikejar deadline. "Mbak." Ketika aku dan Zahra sedang sibuk tenggelam dalam tumbukan dokumen, Laila datang mengetuk pintu. "Iya, La." Jawabku masih sambil mengetik. "Ada Pak Ghulam di depan. Apakah kalian sudah ada janji?" Kata Laila. Aku menggeleng. Kali ini aku sangat sibuk, aku bahkan tidak tahu apakah bisa istirahat makan siang atau tidak. Tapi aku tahu, Ghulam sedang butuh aku, aku yakin, dia dalam kondisi yang kalut. Meskipun masih dongkol karena perkataannya tempo hari, aku tetap kasihan atas apa yang menimpa mereka. "Baik, suruh masuk." Kataku akhirnya. Zahra menolehku dan mengernyitkan dahinya, dia tidak mengerti, setelah apa yang dilakukan Ghulam, mengapa aku masih mau membantunya, apalagi kami sedang sibuk. Zahra pun berdiri, lalu keluar dari ruang kerjaku. Mungkin dia jadi malas membantuku karena ini. Ghulam masuk ke ruanganku dengan muka yang benar-benar suram. Wajahnya berminyak dan rambutnya berantakan. Persis seperti ketika ia ditinggal pergi Alana waktu itu. Dia berdiri di depan mejaku, mungkin karena aku belum menyuruhnya duduk. "Duduklah." Kataku, lalu Ghulam duduk. Dia benar-benar menunggu perintahku. "Ada apa?" Kataku selanjutnya. "Aku ingin meminta maaf padamu." Katanya datar dan tanpa ekspresi. "Aku sudah memaafkan. Aku memaafkanmu demi Kavya dan Alana." "Aku baru saja diberi pelajaran oleh Tuhan, tentang akibat jika aku terlalu mengagungkan egoku. Dan aku tidak menyangka, akibat itu sefatal ini, Biv. Aku nyaris kehilangan putriku." Aku menyimak Ghulam dengan baik, aku diam di depannya, kusaksikan ia bicara dengan nada yang datar. Tanpa semangat dan tanpa ekspresi. Aku tidak menginterupsi apa-apa, kuminta dia melanjutkan perkataannya. "Kami bertengkar ketika Kavya mengalami kecelakaan itu." "Ya, Ala sudah menceritakannya." "Kami bertengkar karena aku tahu, Ala memakai gelang dari ibu sambungku. Dan Kavya memakai cincin kecil darinya juga. Aku tidak suka melihat itu." "Darimana kau tahu tentang itu?" "Kavya yang bilang padaku?" Aku mengernyitkan alis mendengar perkataan Ghulam. Padahal Kavya anak spesial yang mengalami gangguan bicara. Mana mungkin bisa mengadu tentang ini. "Bagaimana cara Kavya mengatakan itu?" "Nenek, dia mampu menyebut nenek. Dia menyebutkan dengan sangat jelas, seperti saat mengucapkan mama dan papa. Aku tidak suka itu, Biv. Aku dan Ala terus memperdebatkan ini, dan pertengkaran kami melebar kemana-mana." "Jadi sekarang, kamu sadar itu salah?" Tanyaku, Ghulam mengangguk. "Aku ingin memperbaiki semuanya, Biv. Aku takut kehilangan anakku. Tuhan hampir mengambilnya kemarin, ini cara-Nya menegurku. Apa yang harus aku lakukan, Biv?" "Kamu benar-benar menyesal?" Tanyaku lagi, Ghulam juga mengangguk lagi. "Tapi sejujurnya, aku malu jika harus berhadapan dengan kedua orangtuaku." "Apakah kau sudah memaafkan mereka?" "Mungkin." "Kenapa mungkin." "Aku tidak tahu, Biv. Hatiku masih marah jika ingat masa lalu dengan ayahku. Aku tak ingin mengingatnya. Tapi jujur, kali ini aku ingin meminta maaf dan memaafkannya." "Baik, jika begitu, semoga aku bisa membantumu." Kataku. "Bagaimana caranya?" "Mengalirkan rasa, memberi jalan pada emosi di hatimu yang tersumbat kebencian, mengikhlaskan semua yang telah terjadi." "Aku tidak paham, Biv." "Kamu bisa mengatakannya, kamu bisa menulis surat, atau merekam menggunakan audio. Kamu ungkapkan semua yang kamu rasanya, semuanya dari hal paling sepele sekalipun. Ungkapkan semua dengan jujur tanpa ada yang kau tutup-tutupi. Besok, kamu bisa menyerahkan semua itu padaku." "Jadi, aku tidak menghadap ayahku secara langsung?" "Nanti akan ada saatnya begitu, sekarang belum dulu." Hufft...Ghulam menghela nafas, dan menyandarkan punggungnya di kursi. Dia sepertinya lega tidak harus bertemu orangtuanya segera. "Baiklah, Biv. Nanti aku akan menuliskan semua perasaanku. Aku akan mengungkapkan semuanya dengan jujur. Mungkin selama ini, aku juga kelelahan memikul semua perasaan ini." Aku mengangguk mendengar Ghulam bicara, sambil berdoa, semoga dia memang begitu adanya sesuai yang ia katakan, semoga perkataannya konsekuen. Ghulam lalu pamit pulang setelah itu, dia berjalan dengan loyo keluar ruanganku. Aku kasihan melihatnya. Aku yakin, banyak sekali yang bergumul di pikirannya. Luka hati di masa lalu, penyesalan, tentang harapan dan pekerjaan, tentang Alana dan putri mereka. Ahh semoga dia memang sudah mulai berubah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN