Ibu masih belum tidur ketika aku masuk rumah, beliau sedang menonton film di laptopku, di ruang tamu. Senyum segera terkembang di wajahnya begitu melihat aku datang.
"Bagaimana makan malamnya?" Tanya ibu, bergeser duduk untuk memberiku tempat.
"Huftt..." Aku pura-pura lemas dan terduduk di samping ibu, ibu tertawa. "Ada apa?" Kata beliau.
"Ibu tau, Andrew menyewa sebuah rooftoop di atas hotel bintang lima hanya untuk makan berdua denganku." Kataku masih sambil berlagak lemas. Ibu ternganga mendengar pernyataanku, "masak sih!?" Kata beliau. Aku mengangguk.
"Ibu pernah lihat makan malam romantis candle light dinner, dengan privat room dan iringan musik pribadi. Seperti itu, Bu. Aku heran mengapa Andrew mau berkorban seperti itu."
"Ibu tidak tahu, tapi ibu kira dia mencoba mencari perhatianmu. Bagaimana perasaan kamu hari ini?"
"Bivi senang, hari ini menyenangkan, tapi perasaan Bivi untuk Andrew masih biasa saja. Tapi Bivi suka, Andrew baik sekali."
"Tidak apa-apa, biarkan semua mengalir seperti air. Eh, itu bingkisan dari Kaizan tadi."
Aku segera terbangun melihat goodiebag besar masih teronggok di atas meja. Segera meraih dan membukanya. Jadi goodie bag tadi isinya adalah sebuah plakat terimakasih, lalu sepaket produk Hizi yang terdiri dari aneka olahan sarden, sossis, kerupuk ikan, dan nugget. Eh satu lagi, ada kartu ucapan terimakasih.
Aku tidak heran dengan sistem Hizi dalam menghargai karyawan, tapi yang ku heran, Hizi tentu memiliki banyak juru antar barang. Mengapa Kaizan yang harus mengantarkan kesini.
"Mungkin dia sekalian mampir." Kata ibu.
"Memang rumahnya mana?" Tanyaku pada ibu, ibu mengangkat bahu. "Ya, ibu mana tahu." Jawab ibu.
***
Pagi ini aku dikejutkan oleh keberadaan sosok laki-laki yang duduk manis di sofa lobi ketika aku datang. Beliau tersenyum manis ketika melihatku. Ya, laki-laki itu adalah Pak Sadetil. Tanpa memberi kabar, tanpa membuat perjanjian, beliau langsung saja datang ke kantor, padahal pukul sembilan, aku ada janji dengan klien.
"Bapak!" Kataku terkejut begitu melihat beliau. Pak Sadetil justru terkekeh melihatku. "Kenapa Bapak tidak menelfon dulu?" Lanjutku.
"Bapak pun, baru terpikir untuk datang kesini tadi subuh. Apakah kau sibuk?"
"Sebentar." Kataku, lalu berlari sebentar menuju meja Laila, kuminta Laila untuk menjadwal ulang pertemuan dengan klien karena pagi ini aku ada tamu.
"Mari Pak, masuk ke ruangan saya." Kataku, Pak Sadetil berdiri dan berjalan membuntuti ku.
"Bapak sudah sarapan?" Tanyaku begitu beliau duduk di sofa. Pak Sadetil segera membuka tasnya dan mengeluarkan kotak makan dan menunjukkan isinya yang kosong. "Sudah, tadi dibawakan bekal sama ibu." Aku tersenyum mendengarnya, manis sekali.
"Kemarin, rekan yang memberitahu Ghulam tentang kedatangan istrinya di rumah, datang menemuiku. Dia minta maaf, dia tidak tahu permasalahan mereka. Aku paham, tidak semua orang memang tahu masalah kita.
Dia lalu mengatakan jika Ghulam sampai sekarang masih menganggur. Ya, aku sudah tahu itu. Aku ingin membantunya memberi modal, aku punya cukup tabungan untuk membuka usaha. Tapi Bapak tahu, dia pasti menolak."
Pak Sadetil menghela nafas. Aku tahu, dia kemari ingin menemukan solusi. Aku masih diam, aku bingung harus mengatakan apa.
"Kemarin dia kesini memarahiku, Pak. Dia mengolok-olokku terlalu mencampuri urusan mereka. Saya bisa maklum, tapi saya juga tidak tahu harus menyarankan apa lagi. Saya seperti masih gamang untuk mengambil keputusan berani, semua akan sia-sia memang jika tidak ada kemauan sendiri dari dasar hati Ghulam."
Pak Sadetil mengangguk-angguk mendengar perkataanku. "Bapak minta maaf, kamu harus terkena imbasnya."
"Tidak apa, Pak. Sekarang, justru giliran saya yang ingin tanya kepada Bapak, apa yang selanjutnya harus kita lakukan? Atau apakah kita harus menunggu lagi sedikit lebih lama?"
"Atas nama anakku, aku sungguh tidak enak padamu, Nak." Pak Sadetil minta maaf lagi, giliran aku yang mengangguk-angguk. "Aku kasihan melihatmu, aku tahu ini pekerjaanmu, tapi menghadapi masalah ini secara berulang tentu membuatmu muak. Kamu memang harus tegas." Tambah beliau.
"Tegas?" Tanyaku.
"Iya, ini jika tidak ditegasi, akan berlarut-larut. Kamu harus tegas, jika mereka mau lanjut maka menurut denganmu. Jika tidak mau menurut, maka berhenti meminta tolong kepadamu."
Aku mengangguk-angguk, aku sudah terpikirkan ini sejak lama, masalah yang dialami Ala dan Ghulam berlarut-larut dan berulang. Mereka tidak konsisten dan tidak mau menurut padaku. Tapi aku selalu khawatir mereka akhirnya menyerah. Banyak klienku yang berujung pada perceraian, dan menurutku itu memang terbaik untuk mereka. Tapi untuk Ghulam dan Ala, aku belum melihat sisi baik dari perceraian bagi mereka.
"Saya hanya khawatir mereka menyerah lalu berpisah, Pak. Saya terlanjur menyukai kisah mereka, perjuangan mereka. Saya jatuh cinta pada Kavya, gadis kecil itu pantas mendapatkan cinta yang utuh. Selama ini saya kurang tegas karena saya khawatir itu."
Pak Sadetil menatapku lebih lama, ia seperti sedang menjangkau apa yang ada dalam pikiranku. "Kamu memang malaikat untuk hubungan mereka, Nak." Kata beliau selanjutnya, aku tersenyum. "Lakukan apa yang menurutmu benar."
Setelah itu, aku dan Pak Sadetil hanya diam, kami seperti kehabisan bahan pembicaraan. Aku sungkan dan bingung juga, beliau jauh-jauh kemari seperti tidak mendapat hasil apa-apa.
"Bapak, selain Bivi harus tegas kepada mereka, adakah saran lain yang mungkin bisa saya lakukan?"
"Kita tunggu saja hati Ghulam terketuk. Bapak hanya bisa berdoa. Justru yang Bapak khawatirkan adalah kamu dan Alana. Semoga kalian terus diberi kesabaran menghadapi putraku." Setelah berkata begitu, pak Sadetil berdiri hendak pergi.
"Bapak mau kemana?" Tanyaku.
"Pulang." Jawab beliau enteng.
"Tapi jauh-jauh Bapak hanya sebentar di sini?"
"Paling tidak, Tuhan sudah lihat usaha Bapak untuk menebus kesalahan. Dengan begitu semoga Yang Di Atas berkenan menunjukkan jalan keluarnya segera. Bapak kesini karena ini ikhtiyar Bapak."
Pak Sadetil lalu berpamit, aku mengantarnya ke depan sampai ke mobilnya. "Salam untuk Bu Ulaimi." Kataku, Pak Sadetil melambaikan tangan.
Belum ada tiga puluh menit sejak Pak Sadetil pergi dari sini, panggilan telepon dari Ala masuk ke handphoneku.
"Biv…!!! Huhuhu hiks hiks." Aku terkejut, suara Alana dari seberang terdengar sedang menangis terisak-isak.
"Iya, Ala. Apa yang terjadi?" Tanyaku ikut gugup.
"Kavya Biv...Kavya kritis."
"Hah??" Jantungku berdetak cepat, tiba-tiba aku merasa kekhawatiran yang sangat di dalam hatiku. "Sekarang kalian dimana?"
"Rumah Sakit Insan Medika."
Aku segera izin Pak Ruslam untuk perg ke rumah sakiti. Sebelumnya, tak lupa kuminta Laila untuk membatalkan semua jadwalku hari ini. Aku menyetir dengan perasaan was-was. Aku tahu, Kavya dan Alana bukan siapa-siapa. Mereka hanya klien yang kukenal tiga bulan lalu, tapi mengapa aku sangat khawatir, secara naluri aku takut terjadi apa-apa dengan gadis kecil itu.
Rumah sakit yang disebutkan Alana tadi lumayan jauh, kira-kira hampir dua puluh kilometer, tapi memang, rumah sakit terkenal paling lengkap meskipun harganya lumayan mahal. Dalam perjalanan, aku teringat untuk menelpon Pak Sadetil, beliau pasti belum jauh.
Aku segera menelepon Ala ketika sampai rumah sakit, tapi tidak diangkat, mungkin dia kerepotan atau terlalu panik. Akhirnya kuputuskan menuju resepsionis.
"Pasien atas nama Kavya Ghulam sudah dirujuk ke rumah sakit provinsi, dokter dan alat medis di sini kurang mendukung karena pasien terluka cukup parah."
Aku ternganga mendengar jawaban resepsionis itu. Aku belum tahu Kavya sakit apa, atau terluka karena apa. Tapi jika dirujuk ke rumah sakit provinsi itu artinya sakitnya benar-benar serius. Kutelpon Ala lagi, masih belum juga diangkat.
Aku menelpon Pak Sadetil lagi, mengabarkan berita yang kudapat dari resepsionis, beliau bilang, akan langsung menyusul ke rumah sakit provinsi, tapi menjemput Bu Ulaimi terlebih dahulu.
Akhirnya dengan gontai, aku berjalan ke tempat parkir, aku memutuskan untuk pulang saja. Aku berjalan melalui koridor yang cukup ramai, namun aku melihat sosok yang tak asing di mataku, sedang terduduk lesu di bangku ruang tunggu pasien. Ya, aku ingat, itu adalah Mak Semi. Dia sedang mengobrol bersama seorang perempuan. Aku segera mendekati mereka.
"Mak, bagaimana kondisi Kavya? Resepsionis bilang Kavya dirujuk ke rumah sakit provinsi?" Aku berkata dengan kalimat carut marut, Mak Semi terbengong melihatku, dia seperti spaneng.
"Mbak Bivi? Eh...iya Ning Kavya kondisinya buruk, pendarahan di kepala. Butuh segera dioperasi. Ini tadi Ibu dan Bapak yang mengantar. Ibu naik ambulan menemani neng Kavya, sedang Bapak naik mobil."
Mendengar pernyataan Mak Semi kakiku ikut lemas. Aku duduk di samping perempuan paruh baya itu, sesekali beliau tampak berlinangan air mata. Aku merangkulnya dari samping.
"Saya pamit dulu ya, Mak." Perempuan yang tadi mengobrol dengan Mak Semi berdiri. Mak Semi hanya mengangguk.
"Ini siapa?" Tanyaku.
"Saya Wulan, terapis Kavya di sekolah. Tadi saya turut mengantar ke rumah sakit karena Kavya kecelakaan di depan sekolah."
"Ha?" Kataku kaget, "jadi mereka kecelakaan?"
"Bukan mereka, melainkan hanya Kavya. Kebetulan hari ini yang mengajar Kavya. Setelah selesai belajar, saya antar keluar sekolah menemui mama papanya. Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, tapi ketika hendak masuk ke dalam sekolah, kulihat mereka bertengkar, seperti beradu argumen entah tentang apa. Dan belum sampai lima menit, kecelakaan itu terjadi. Aku tidak tahu bagaimana kronologinya, karena saat itu aku sudah di dalam kelas. Tapi kukira, sepertinya Kavya lari ke jalan dan orangtuanya tidak sadar sehingga gadis itu tertabrak motor yang sedang melintas dan melaju dengan kencang."
Aku semakin lemas mendengar pernyataannya gurunya Kavya. Jadi Kavya kecelakaan saat orantuanya bertengkar. Ini salah satu yang kukhawatirkan, mereka menjadi abai karena terlalu egois.
Guru Kavya tadi akhirnya jadi pulang, aku menawarinya untuk pulang bersamaku, tapi dia tidak mau. Tinggallah aku dan Mak Semi yang masih terduduk lemas.
"Ayo, Mak! Kuantar pulang." Kataku.
"Apa yang bisa kulakukan di rumah, Neng? Tidak ada siapa-siapa, tidak ada Neng Kavya, bapak atau ibu. Rasanya Mak nggak pengen pulang." Mak Semi menangis lagi, kuelus-elus pundaknya, ia semakin tergugu.
"Tapi Mak butuh istirahat, butuh mandi, makan dan yang lain. Sekarang, mari saya antar." Kataku lagi, Mak masih menggeleng.
"Neng Kavya itu sudah kuanggap cucuku sendiri. Dia sering tidur dalam pelukanku, makan kusuapi, mandi kumandikan, aku temannya bermain. Sekarang, dia terbujur kesakitan mengeluarkan banyak sekali darah. Neng, semoga Neng Kavya bertahan."
Aku mengangguk, Mak Semi seperti shock berat. Dia terus berbicara tentang Kavya, pandangannya menerawang. Orang-orang di sekitar kami mengamati. Tapi beliau tidak peduli, tetap tergugu dengan keras mengekspresikan kesedihan.
"Ibu sudah kubilang, biar saya yang jemput. Ibu dan Bapak dari pagi sedang tidak akur, mereka terus mempertengkarkan banyak hal. Aku tidak ingin neng Kavya melihat pertengkaran terus menerus, saya menawari untuk menjemput naik ojek. Tapi mereka berdua menolak. Melihat mereka berangkat sambil bertengkar, firasat Mak sudah tidak enak. Ternyata kejadian. Mak hanya bisa menyesal."
Aku kasihan melihat Mak Semi yang terus meratap-ratap. Akhirnya kutawari lagi untuk kuantar pulang, setelah kukatakan bahwa Mak harus kuat dan sehat, nanti kalau Kavya sembuh pasti bakalan melelahkan jagain dia, Mak harus kuat demi Kavya. Mak Semi langsung berdiri setelah itu.
Beliau kuantar pulang ke rumah, tapi sebelum beliau turun, justru bertanya dengan kendaraan apa bisa sampai di rumah sakit provinsi. Aku tidak yakin Mak Semi akan berangkat sendiri kesana, akhirnya aku bilang tidak tahu, kuminta dia menanyakan sendiri pada Alana.