#65 Makan Malam

2040 Kata
"Semalam kami bertengkar lagi, padahal aku hanya menanyakan apa yang dia bicarakan denganmu. Setelah semua pengorbanan dab perjuanganmu untuk kami, aku hanya tidak ingin dia berbuat buruk padamu. Tapi dia memakiku, dia menuduhku lancang, bahkan dia mengatakan aku tak menghormatinya lagi. Kami bertengkar di dapur, dia membanting piring-piring tak bersalah, aku juga membanting, tapi alat dapur yang anti pecah. Aku hanya ingin meluapkan emosi, bukan merusak barang, seperti dia." Baru pukul delapan lebih sedikit, aku sudah dihadapkan pemandangan mengharu biru cerita Alana sesengukan menangis. Aku diam saja mengamatinya, aku bingung harus menanggapi bagaimana, karena jujur, aku sendiri lelah dengan kasus ini. Mereka kuberi tahu jalan keluar tidak mau, hanya terus berputar-putar dalam labirin yang sama. Kemarin, suaminya mengolok-olokku, sekarang istrinya menangis di depan mengharap solusi. Meskipun aku tulus menolong mereka, tapi aku tetaplah manusia biasa yang bisa jengah dan muak dengan semua ini. Melihat Ala masih saja menangis, akhirnya aku berdiri, kurentangkan tanganku, kutawari dia pelukan. Ala berdiri menyambut tawaranku. Kami berpelukan, dia masih terus menangis. "Maaf, Ala." Kataku, "aku tidak tahu apa yang harus kukatakan lagi padamu." Kuelus rambut perempuan itu, rambutnya halus dan wangi. Aku tahu, meskipun dalam masalah, Ala tipe orang yang masih tetap merawat diri. Dia melepaskan pelukanku setalah aku mengatakan itu. "Aku paham, Biv. Aku tahu kamu pasti lelah juga menghadapi kami. Apalagi kemarin Ghulam datang pasti memarahimu, bahkan mungkin dia berkata kasar padamu. Aku minta maaf atas nama Ghulam, Biv." Ala mengahapku, mata kamu beradu, dia memegang tanganku dengan raut mengharap belas kasihan. Aku mengangguk. "Aku kesini hanya untuk bercerita, Biv. Karena aku malu hendak meminta nasehatku, paling-paling nasehatku tidak kami lakukan." "Biv, maukah kau menemaniku jalan-jalan?" Akhirnya setelah saling diam beberapa saat, Ala berkata demikian. "Apa?" Kataku memastikan apa yang kudengar. Ala mengangguk. "Kalau diizinkan, maukah kamu menemaniku jalan-jalan, Biv. Otakku sudah panas, bahkan tadi pagi aku memarahi Kavya karena dia tidak mau makan, padahal itu hal biasa, tapi dia kumarahi hingga menangis. Sebenarnya, aku tidak marah pada Kavya, aku marah pada diriku sendiri tapi kulampiaskan pada anak tak berdosa itu." Dengan meminta izin Pak Ruslam atas alasan treatment klien, akhirnya aku dan Alana keluar. Alana menyetir untukku, kami memutar musik karaoke di mobil, dan kami bernyanyi bersama. Tujuan pertama kami adalah salon, Ala mentraktirku perawatan sepuasnya, sekehendakku. Aku pilih creambath dan facial. Biasanya aku melakukan ini bersama ibu, tapi sejak sibuk di Hizi, kami hampir tidak pernah lagi. Setelah puas memanjakan diri di salon, Ala mengajakku belanja. Kami belanja baju, sepatu, aksesoris, dan printilan-printilan lucu. Kami ketawa-ketiwi, sejenak melupakan masalah yang bergumul. Begitu puas belanja terbitlah lapar. Akhirnya kami berkeliling food court di mall untuk menjajaki jajanan enak dan menjadi moodbooster. Kami mencicipi banyak sekali makanan, ada jajanan Indonesia seperti seblak, baso aci, dan donat. Juga jajanan korea, dan fast food. Sebenarnya setelah itu Alana masih ingin mengajak nonton film. Tapi aku tak menyanggupinya karena sudah hampir pukul tiga sore. Aku hari ini ada janji dengan Andrew untuk makan malam. Jadi aku butuh waktu untuk persiapan di rumah. Akhirnya, Ala mengantarkanku kembali ke kantor karena mobilku masih di sana. Hari ini, kami benar-benar bersenang-senang. Perasaanku lebih ringan, aku yakin Ala juga. Sebenarnya sebelumnua aku ingin menyarankan Ala untuk mengambil liburan. Tapi ternyata cara singkat seperti ini cukup melegakan juga. "Terimakasih, Biv. Aku merasa lebih baik sekarang." Kata Ala ketika aku hendak turun. "Aku juga terimakasih karena telah kau traktir macam-macam." Jawabku. "Itu tidak sebanding dengan apa yang berikan untuk keluargaku." Kata Ala. "Aku minta maaf, kalian belum bisa menemukan jalan keluar." "Ku mohon Biv, jangan membahas itu sekarang, aku ingin pulang ke rumah dengan bahagia." "Siapp.." aku memberikan tanda hormat pada Ala lalu turun dari mobilnya. Aku melambaikan tangan ke arah Ala dan sedetik kemudian, Ala berlalu. Waktu menunjukkan pukul empat lebih seperempat, aku masih memiliki sedikit waktu untu bersantai sebelum pergi bersama Andrew nanti malam pukul tujuh. *** Jadi, pergi bersama Andrew kali ini, aku memakai baju baru. Baru saja kubeli langsung kusetrika dan kuberi parfum agar tak tercium bau baju baru. Sedikit norak, tapi memang aku jarang sekali punya baju santai. Bajuku rata-rata hanya terdiri tiga: baju kerja, baju rumah, dan baju pesta. Aku jarang main, kalaupun keluar dengan ibu atau Zahra, aku hanya pakai celana jeans dan kaos. Hari ini aku memakai rok panjang sepuluh sentimeter di bawah lutut, dan blouse lengan panjang. Aku membatin sendiri, seperti style Alana, hehe sedikit banyak memang dia menginspirasiku tentang penampilan. Selepas magrib, aku sudah siap. Ibu di kamarku turut exited. Jujur, sebenarnya perasaanku biasa saja. Tapi, aku memang sedang berupaya menerima Andrew dengan baik. Barangkali lama kelamaan aku jadi nyaman dengan dia, siapa tahu Andrew orang yang tulus. "Kamu cantik banget, Biv. Kelihatan beda." Aku jadi malu dipuji ibu begitu. Aku memang hampir tidak pernah makeup yang proper. Biasanya hanya lipstik pensil alis dan pelembab. Kali ini, aku sengaja menambahkan bulu mata, kontak lens, dan blush-on. Bahkan rambutku juga kucatok dulu. Wajar jika ibu bilang beda. "Norak ya, Bu?" Tanyaku, ibu cepat-cepat menggeleng. "Sama sekali enggak, cantik banget, berkelas." Ibu masih menatapku dengan takjub, aku jadi tertawa dibuatnya. Tott! Suara klakson berbunyi. Itu Andrew batinku, aku dan ibu saling menatap. Ibu mengerlingkan sebelah matanya kepadaku, lagi-lagi aku hanya bisa tertawa. Kami berjalan ke depan, tapi sedikit aneh ketika yang berhenti di depan pagar bukan mobil Lexus milik Andrew. Melainkan mobil Nissan Juke, itu seperti mobil Kaizan? "Andrew bawa mobil lain ya?" Tanya ibu, aku menggeleng, perasaanku mulai tidak enak. Aku dan ibu segera berjalan keluar. Dan benar, Kaizan sudah berdiri di depan pagar. Dia berdiri sambil membawa sesuatu, seperti goodie bagyang cukup besar. Ibu segera membuka pintu. Ohya, ibu belum tahu dan belum pernah bertemu Kaizan, makanya ibu bersikap biasa saja. "Mau cari siapa, Mas?" Tanya ibu membuka pagar. Kaizan hanya menatapku. "Itu Kaizan, Ibu." Kataku. Ibu menoleh kepadaku, bingung. "Saya hanya ingin mengantar ini." Kaizan menyerahkan goodie bag besar yang penuh dengan sesuatu. "Apa ini?" Kataku sambil menerimanya. "Itu hak kamu dari kantor, tapi tidak kamu ambil. Saya langsung ya, Bivi, Ibu." Kaizan menganggukkan kepala, berpamit. "Tidak duduk dulu?" Kata ibu. "Tidak usah, Bu. Terimakasih." Kata Kaizan, lalu masuk mobil, melaju, dan menghilang di belokan depan. Aku dan ibu terpaku menatap mobil itu hingga pergi tidak terlihat lagi. Sampai-sampai kami tak menyadari mobil Andrew sudah di belakang kami. "Hai, sudah siap?" Tanya Andrew, setelah salim dan menyapa ibu. Aku mengangguk. "Ibu, titip ini ya." Kataku menyerahkan bungkusan Kaizan tadi. Andrew mengamati, goodie bag tadi memang ada tulisan Hizi Corp. lengkap dengan simbolnya. "Apa itu?" Tanya Andrew. "Bingkisan dari kantor, entah isinya apa aku belum lihat. Kaizan baru saja dari sini mengantarkannya." Jawabku santai. "Kaizan yang mengantarkan?" Andrew mengernyit seperti menemukan hal aneh. Aku dan ibu saling tatap, lalu mengangguk. Tak berlama-lama, kami pun berangkat. Seperti biasa, Andrew selalu menawari ibu untuk bergabung bersama kami. Dan tentu saja ibu menolak. "Kita akan makan malam dimana?" Tanyaku memecah kediaman kami. Entah, Andrew belum bicara apapun sejak mulai menjalankan mobil, biasanya dia banyak sekali bicara. "Emmm coba tebak." Jawabnya. Aku menggeleng. "Nggak ada ide." Jawabku. "Yaudah tunggu nanti ya, kamu akan tahu sendiri." Aku memanyunkan bibir mendengar jawabannya, Andrew tertawa melihatku. Ternyata tak seperti makan siang di gubug tempo hari. Kali ini tujuan kami cukup dekat, tidak sampai seperempat jam, kami sampai tempat tujuan. Yaitu sebuah hotel, tepatnya restoran hotel bintang lima. Restoran hotel itu terdiri dari dua lantai, di ketinggian lantai delapan dan di rooftop lantai sembilan. Andrew membawaku di rooftop. Tapi di sana sangat sepi, hanya kami berdua, padahal di lantai bawahnya tadi sangat ramai, aku membatin, apakah orang-orang tidak ingin menikmati makan malam sambil melihat bintang dan pemandangan malam kerlap kerlip lampu kota. Begitu kami datang dan duduk, waiters tidak datang untuk membawakan buku menu. Namun langsung menuangkan minuman merah merona dari sebuah botol besar, aku mengernyit melihatnya. "Ini bukan alkohol kok." Kata Andrew melihat ekspresiku, aku mengangguk. Makan dengan cara seperti ini, sebenarnya sungguh asing bagiku. Aku terbiasa makan di lesehan menggunakan tangan, tapi tak apa, sesekali seperti ini juga lebih baik. Setelah minuman, datang waiters yang lain menyajikan hidangan, berupa steik. Yah, seperti steik pada umumnya, yang beda ada di sausnya, sausnya wana putih, kukira itu seperti s**u. Tanpa banyak cakap, Andrew segera mengajakku mulai makan. Kami makan dalam senyap. Tapi tidak bisa kupungkiri, Sepoi angin dan pemandangan di atas sini sangat indah. "Pemandangan di sini indah ya." Kataku. "Iya, makanya aku ajak kamu kesini." Jawab Andrew. "Tapi kenapa orang-orang yang di bawah tidak ingin kesini ya?" Tanyaku polos. Andrew tertawa. Aku mengernyitkan alis, aku bingung mengapa dia tertawa. "Kenapa?" Tanyaku masih tidak mengerti. "Ya, karena aku menyewa rooftop ini. Jadi hana kita yang bisa menempatinya." Demi mendengar jawaban Andrew, mataku sampai terbelalak dan bibirku melongo. Aku menggeleng tidak percaya. Apa maksud dia menyewa tempat semahal ini untuk makan malam denganku? "Kenapa?" Tanya Andrew. "Kamu gila ya." Jawabku. "Kalau aku gila, kamu bisa obatin dong, kamu kan psikolog?" Andrew masih saja cengengesan, aku menggeleng masih tidak percaya. "Kamu habis berapa duit menyewa tempat ini?" Saking shock-nya, aku terlalu jujur mengatakan itu. Andrew tertawa lagi. "Kenapa? Kamu mau ikut iuran?" Asli! Anak ini pintar sekali bercanda. Dalam kepanikanku sekaligus tidak enak hati jika dia menghabiskan biaya besar untuk makan malam denganku, dia santai sekali. Kami selesai makan steik, steik tadi ukurannya kecil, hanya setapak tangan anak kecil, aku juga belum kenyang. Begitu melihat kami selesai, pelayan segera mendekat untuk mengambil piring kotor. Setelah itu, ada lagi pelayan yang mendekat, menyajika hidangan kedua. Hidangan kedua seperti sepotong ikan salmon yang masih segar, hanya sedikit terbakar di bagian atasnya. Di dekat sepotong ikan itu terdapat olesan saus berwarna hijau. Aku tidak tahu nama makanan itu. Andrew segera mulai makan, aku mengikutinya. Saat kami makan hidangan kedua ini, seseorang datang dengan memainkan biola, dia berdiri dan terus memainkan biola di dekat kami. Sungguh saat itu, rasanya aku ingin terbang karena merasa istimewa. Aku semakin bertanya-tanya mengapa Andrew memperlakukanku seperti ini. Apakah aku perlu tanya padanya? "Enak nggak?" Tanya Andrew. Aku hanya mengangguk, dia tersenyum melihatku. Usia makan salmon, datanglah hidangan ketiga. Yaitu makanan bulat kecil seperti bakso dengan saus warna coklat. Setelah kucicipin, rasanya seperti bakso urat, tapi berlipat-lipat komposisi dagingnnya. Rasanya enak sekali, sausnya juga enak. Baru hidangan yang ketiga, hidangan yang paling aku suka, yaitu dessert. Dessert pertama berupa segelas kecil cake coklat yang meleleh, lumer di mulut, coklatnya sangat terasa seperti coklat Belgia. Tapi sayang hanya sedikit porsinya, dessert kedua, sebuah cup kecil berisi seperti jagung dan keju. Ini seperti jasuka (jagung s**u keju) yang biasanya aku beli di pinggir jalan tapi versi sultannya. Desset ketiga, sebuah pudding buah. Seperti campuran antara kiwi, apel, dan buah plum. Rasanya segar tapi juga masih memiliki cita rasa s**u yang kuat. Semua kusuka, sayang porsi dessert-nya hanya kecil, batinku. Kami selesai makan, mas-mas pemain biola meminta kami untuk request dimainkan irama musik apa. "River flows on you." Jawab Andrew, sejenak kemudian suasana menjadi begitu syahdu. Antara desir angin, gesekan biola, dan irama yang merdu. Makan malam usai. Waktu menunjukkan pukul sembilan. Andrew menawariku untuk pulang atau mau kemana lagi, aku jawab aku mau pulang karena sudah malam, dia mengangguk. Dan jadilah kami pulang dari restoran hotel itu dengan hati yang penuh, terutama aku. Aku belum pernah makan malam model begini seumur-umur. Begitu kami turun daria tangga rooftop menuju lantai bawahnya, semua mata memandang ke arahku, aku menjadi pusat perhatian. Mereka seolah mengatakan, oh ini yang nyewa rooftop? Pada saat itu, aku baru merasa salah kostum. Apakah outfitku ini terlalu biasa untuk makan malam seromantis tadi? Ah biarkan saja, padahal aku sudah berusaha tampil berbeda. Pukul sembilan seperempat, Andrew sudah menepikan mobil di depan gerbang rumah. Belum sampai aku turun, dia turun duluan, lalu membukakan pintu untukku, padahal tadi dan kemarin-kemarin tidak begitu. "Aku bisa membukanya sendiri." Kataku tertawa geli oleh tingkahnya, dia hanya tersenyum manis. Kulihat ke dalam rumah, ibu sepertinya sudah di dalam dan enggan keluar. "Salam untuk ibu." Kata Andrew, aku mengangguk. "Terimakasih untuk makan malam tadi." Kataku, lalu tersenyum. Andrew juga tersenyum. "Aku pergi dulu ya, sampai jumpa!" Andrew melambaikan tangan lalu berjalan masuk ke dalam mobil. Ia melambaikan tangan sekali lagi, sebelum akhirnya menjalankan mobilnya. Aku hanya bisa balas melambai dan terus mengamati mobil itu hingga menghilang di belokan depan. Setelah mobil Andrew menghilang dari pandanganku, aku melangkah masuk rumah dengan hati yang penuh dan perasaan yang tidak menentu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN