#64 Hari yang Berat

1238 Kata
Aku keluar ruangan Kaizan dengan perasaan sangat kesal, segera kembali menuju ruang bagian kepegawaian untuk menyerahkan surat. Dalam hati aku masih merutuk, kenapa Kaizan semenyebalkan itu padaku, dia pikir aku pengangguran yang tidak ada urusan yang harus kukerjakan? "Ini mbak, ternyata surat itu dia simpan." Kataku sambil menyerahkan surat kepada staff kepegawaian, dia tersenyum menerimanya. "Saya cek dulu ya." Staff perempuan itu segera mengecek segala nomer pegawai, apakah aku masih memiliki tanggung jawab yang harus kuselesaikan di perusahaan ini atau tidak, apakah aku terikat kontrak yang tidak memperkenankan pengunduran diri atau tidak. Tidak sampai sepuluh menit, hasil konfirmasi keluar. "Ini kak, pengunduran diri telah disetujui. Setelah ini, kakak silahkan menghubungi bagian keuangan pegawai, kakak akan menerima hak kakak." "Iya, terimakasih." Aku hampir saja berbalik meninggalkan meja staff kepegawaian itu, tapi dia bertanya, "Eh kak, maaf. Kalau boleh tahu, untuk Pak Kaizan menahan surat kakak?" "Aku juga tidak tahu." Aku hanya bisa mengangkat bahu sambil menggeleng karena aku sendiri tidak tahu. Setelah dari ruang kepegawaian itu, aku langsung menuju mobil dengan perasaan sedikit lega. Aku tidak mampir ke bagian keuangan seperti instruksi staff tadi, aku ikhlaskan saja hakku, aku sudah mendapat banyak dari Hizi, batinku. Saat aku berjalan menuju mobil, aku berpapasan dengan Rindani yang sedang berjalan menuju masjid. "Biv!" Dia melambaikan tangan dan berlarian ke arahku. "Bagiamana?" Tanyanya saat kami sudah dekat. "Selesai. Tugasku di sini sudah rampung, Rin." Jawabku. "Sampai ketemu lagi ya, Biv." Aku dan Rindani berpelukan di pinggir jalan, orang yang lalu lalang di sekitar kami memperhatikan. Kami tidak peduli. Aku masuk mobil, menyalakan mesin, dan menjalankan mobil dengan hati yang basah. Kejengkelanku terhadap Kaizan tertutupi keharuan bertemu dengan Rindani barusan. Bagaimana pun, bekerja di Hizi dalam waktu hampir tiga bulan terakhir ini menyisakan banyak kenangan. Banyak keseruang, banyak pembelajaran, banyak pengalaman yang tak terlupakan, terutama bersama tim kecil. Ahh semua itu akan menjadi kenangan mulai sekarang. Aku terus melaju meninggalkan Hizi Corp. di belakangku. Baru beberapa meter keluar dari gerbang Hizi, handphone di tasku berbunyi. Aku abaikan panggilan pertama, jika penting pasti menelpon lagi, batinku. Panggilan kedua, aku baru menepikan mobil untuk mengangkat. Ternyata Bu Ulaimi yang menelpon. "Selamat sore, Ibu." Kataku begitu telepon tersambung. "Selamat sore, Nak. Maaf menganggu jam kerjamu." Suara lembu sekali khas Bu Ulaimi menyambut. "Saya sudah pulang kok, Bu. Ini di jalan, tepatnya di tepi jalan. Ibu, apakabar." "Ibu dan Bapak sehat, Nak. Semoga kamu dan ibu juga sehat ya. Ibu mau tanya, Nak." "Tanya apa, Bu?" "Apakah Nak Ala kemarin ketahuan Nak Ghulam? Salah seorang teman Nak Ghulam bercerita ke Bapak kalau dia memberi tahunya kalau istrinya di sini. Bagaimana keadaan mereka, Nak? Bapak dan ibu di sini jadi khawatir." Aku diam sebentar, menyusun kalimat yang hendak kukatakan. Karena hubungan Ghulam dan Ala memang tidak sedang baik-baik saja, jangankan mereka, hubunga Ghulam denganku pun juga buruk. "Iya, Bu. Keadaan sedang tidak baik-baik saja. Tapi, Bapak Ibu tidak perlu khawatir, insyaallah semua segera membaik." Kataku berusaha menenangkan, meskipun aku sendiri belum ada ide bagaimana cara membaikkan Ala dan Ghulam. "Ini kata Bapak, apakah kami perlu kesana lagi untuk menjelaskan?" "Belum, Bu. Untuk sekarang belum perlu, jika Bapak Ibu kesini khawatirnya malah memperburuk keadaan. Maaf ya, Bu." Kami berbincang beberapa hal setelah itu, lalu Bu Ulaimi menutup teleponnya. Ya Tuhan, ternyata hari ini, hari yang berat bagiku, membuat perasaanku campur aduk. Sampai di rumah, hari sudah mulai gelap, adzan magrib sayup-sayup terdengar dari masjid yang lumayan jauh dari rumah. Aku terkejut, sudah ada Andrew bersama ibu duduk di teras. Kenapa laki-laki itu rajin sekali datang ke rumah, batinku. Padahal, perasaanku sedang kacau, aku ingin langsung merebah di kasur dan tidur. Dari dalam mobil, kulihat Andrew dan ibu asyik mengobrol, mereka terlihat akrab. Di depan mereka terdapat kotak-kotak kue, mungkin terang bulan ata martabak telor, mungkin Ghulam yang membawa. "Assalamualaikum." Kataku begitu baik ke teras, ibu dan Andrew kompak menjawab. "Kamu kelihatan lesu banget, Biv." Kata ibu. Aku mengangguk. "Hari ini, hari yang berat buat Bivi, Bu. Bivi masuk dulu ya." Kataku, aku sekilas melirik Andrew, dia sedang memperhatikan aku dan ibu bercakap-cakap. "Eh, kan ada Andrew!" Jawab ibu. "Tidak apa, Bu. Mungkin Bivi capek." Andrew segera menyahut. Sebenarnya aku tidak enak hati, tapi apa daya, jiwa ragaku juga sedang capek. "Maaf, ya." Kataku pada Andrew, dia mengacungkan jempol. Saat melihat senyumnya aku benar-benar tidak enak, dia sudah datang kesini jauh-jauh, tapi malah tak kutemui. Tapi aku terlanjur mengatakan kalau aku capek, mana mungkin aku meralat ucapanku? Aku masuk ke dalam rumah dan ibu masih menemani Andrew. Aku segera mengambil air wudhu, sholat magrib dan tak sadarkan diri setelah itu. Baru pukul sembilan malam aku terbangun, dalam kondisi masih memakai mukenah. Perutku terasa panas, aku ingat belum makan malam. Aku keluar untuk mencari sesuatu di dapur, tapi ternyata ibu masih belum tidur. Beliau sedang menonton televisi. "Lapar?" Tanya ibu begitu melihatku keluar kamar, aku mengangguk. "Ada terang bulan dan martabak dari Andrew, enak lho! Toppingnya melimpah. Ibu angetin dulu ya." Ibu segera bangkit. Aku bisa sendiri menghangatkan makanan, tapi ibu selalu membantuku. Dan beliau senang melakukannya. Dulu, aku pernah menawari beliau untuk mempekerjakan satu saja asisten rumah tangga, tapi beliau menolak, katanya "terus ibu nanti ngapain dong kalau semuanya dikerjakan asisten? Jadilah tetap ibu yang mengerjakan semua. Tapi untuk pekerjaan berat, seperti membersihkan tandon air, menggosok kamar mandi, mencabuti rumput belakang rumah, kami mengundang seseorang untuk datang sepekan sekali. "Enak kan?" Kata ibu setelah aku menggigit sepotong terang bulan. Aku mengangguk. "Bu, tadi Bivi tidak enak lho dengan Andrew. Tapi hati dan pikiran Bivi sedang capek sekali tadi." "Tidak apa-apa, dia kelihatannya kan juga tidak apa-apa. Ibu tahu kamu kelihatan capek banget, sampai tadi waktu ibu tengok kamar kamu, kamu ketiduran di atas sajadah kan?" "Ohya? Ibu tadi ke kamar?" Setelah habis sepotong terang bulan, aku beralih pada sepotong martabak telur yang tidak kalah enak, walaupun tidak fresh tadi masih sangat enak, isian dagingnya melimpah. "Kira-kira Andrew marah tidak ya. Masak anak direktur dicuekin kayak gitu." Kataku lagi. Jujur, aku sebenarnya juga masih kepikiran Andrew, ingin minta maaf. "Dia laki-laki yang baik, dia sopan, pasti dia pengertian juga." "Tapi apa ya Bu maksudnya, kok dia sering kemari?" "Apa mungkin dia menaruh rasa padamu?" Tanya ibu, aku menggeleng. "Aku tidak mau terlalu berharap, Bu. Aku tahu siapa aku dan siapa dia. Kami berbeda, dia bisa saja mendapatkan gadis yang jauh-jauh lebih dariku. Ku anggap kedekatan kami hanyalah bonus." "Tapi bagaimana kalau dia tulus? Kata ibu lagi, aku menatap mata ibu lekat-lekat. Waktu dengan Kaizan, ibu selalu mewanti-wanti aku hati-hati, mengapa sekarang ibu mendorong-dorong perasaanku. Apakah ibu suka dengan Andrew? "Mengapa kamu menatap ibu seperti itu?" Tanya ibu. "Kamu ingin tanya mengapa ibu kok sepertinya mendukung kalian? Karena ibu ingin hati kamu beralih dari Kaizan. Mengharap Kaizan itu menanam kesakitan, ibu ingin kamu menyudahinya." Ibu memegang lenganku, aku tahu, ibu diam-diam pasti juga berharap aku segera memiliki pasangan. Aku tersenyum melihat ibu. Aku kembali masuk ke kamar setelah melahap sepotong terang bulan, martabak, dan segelas s**u hangat. Entah mengapa, aku jadi terpikir untuk meminta maaf pada Andrew, aku meraih handphone, lalu berpikir sebentar. "Andrew, aku benar-benar minta maaf untuk tadi, aku tidak seharusnya mengabaikan seorang tamu susah-susah datang dari jauh, sekali lagi aku minta maaf, semoga kamu mengerti." Begitu aku klik tombol kirim di handphone, beberapa saat kemudian kulihat tanda bahwa Andrew mengetik. Aku menunggu sejenak. "Aku maafkan, tapi syaratnya besok makan malam bareng ya, hehe." Balasan Andrew justru tak terduga, dia malah mengajakku makan malam, huftt aku menghela nafas lega. "Siap!" Balasku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN