Pagi ini, aku ada jadwal bertemu dengan Ghulam. Sudah kusiapkan mental sedemikian rupa sejak semalam Ala menghubungi. Karena pastinya Ghulam akan marah besar, pasti dia mengira aku lancang atas ideku menyambungkan kembali keluarganya dengan ayahnya.
"Selama memperjuangkan kebaikan, kamu tidak usah takut. Jika dia tidak terima, berarti dia sendiri yang rugi, karena menolak pertolongan."
Kata-kata dari ibu terus menggema di pikiranku. Aku tidak perlu takut, yang ku khawatirkan cuman satu, hubungan mereka semakin buruk karena ini. Ini memang resiko, tapi aku akan bertanggung jawab menyelesaikannya.
Kepalaku berdenyut-denyut, ingat hari ini banyak hal yang harus diselesaikan, hal lain yang harus kuselesaikan adalah menuntaskan perkara pengunduran diri. Aku akan konfirmasi ulang tentang suratku kepada Kaizan. Aku tak mau menanyainya lewat telepon, nanti dia bisa mengelak, menurut saran Rindani aku harus menemuinya secara langsung, aku jadilah nanti sore setelah jam kantor aku harus buru-buru ke Hizi Corp.
Tok..tok.. suara pintu ruang kerjaku diketuk, Laila muncul dari balik pintu. "Pak Ghulam, Mbak." Katanya.
"Suruh dia kemari." Jawabku, aku menarik nafas dalam-dalam menata hati.
Ghulam masuk ke ruang kerjaku dengan wajah datar. Bahkan dia tidak membalas ketika aku melemparkan senyum begitu melihat ia datang. Pertanda kurang baik, batinku.
"Apa kabar?" Tanyaku.
"Aku sedang tidak ingin berbasa-basi, Biv." Jawab Ghulam ketus. Aku pernah diketusin klien, tapi kali ini lebih menyeramkan, karena Ghulam meskipun ada masalah biasanya tetap ramah padaku. Orang yang biasanya ramah kemudian ketus, akan sangat menyeramkan.
"Oh, maaf. Aku siap mendengarkan apa yang ingin kau sampaikan." Kataku dengan hati-hati, sekilas kulirik wajahnya, masih saja datar.
"Kamu sudah melewati batas mu, Biv. Kamu sudah terlalu jauh ikut campur ke dalam urusanku. Bahkan kamu seolah berhak mengatur hidup kami sesuai dengan keinginanmu." Ghulam berbicara penuh emosi, terlihat dari rahangnya yang mengeras, mukanya memerah, dan nafasnya yang memburu. Aku sangat takut dia akan menyerangku, aku berkali-kali menarik nafas untuk menenangkan diri.
"Bolehkan aku menjelaskan?" Kataku baik-baik.
"Jangan memotong, aku belum selesai bicara."
Rasanya ngilu sekali di hatiku, dimarahi oleh klien yang selama ini selalu kubela dan kuutamakan. Tapi aku bersyukur, meskipun marah, Ghulam masih berupaya menahan diri, dia tidak bicara dengan nada tinggi.
"Iya, silakan." Jawabku akhirnya.
"Kamu merasa semua ini hanya masalah sepele, kamu mengatakan begitu karena kamu tidak mengalaminya. Tidak merasakan sakitnya. Hidupmu selalu lurus, mudah, dan bahagia. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan ibu dan adik karena ayah kandungmu sendiri."
Rahan Ghulam gemeletuk ketika mengatakan itu, ia seperti sedang sekuat tenaga menahan emosi.
"Aku tahu niatmu baik, tapi caramu salah. Aku tahu kamu profesional, tapi bagiku seorang profesional tidak akan melewati batas hak asasi orang lain, terutama kliennya. Kamu boleh suka, aku juga boleh. Sekarang, bukan membaik, hubunganku dengan orangtuaku tetap sama, dan hubunganku dengan istriku memburuk, kau puas?"
Kali ini aku menangis, air mataku tidak bisa kutahan. Aku memang tidak terbiasa dengan situasi dimarahi. Apalagi perihal profesionalitas, dan dipersalahkan atas memburuknya hubungan klien. Ini seperti harga diri bagiku, padahal ini yang ku perjuangkan.
Aku tahu aku salah, aku memang tak seharusnya selancang itu menentukan bahwa Ala harus bertemu dengan Pak Sadetil, tapi aku tidak ada cara lain. Aku melihat kebahagiaan keduanya di sana. Kebahagiaan seorang ayah melihat menantu, dan kakek dengan cucunya.
Aku memang bersalah pada Ghulam, ini menyalahi kode etik profesi ku, ini melanggar hak Ghulam, ini tidak adil baginya karena kami sembunyi-sembunyi di belakang Ghulam. Kami tidak berterus-terang, kami kurang sabar menunggu Ghulam melunak. Aku tidak ada pilihan lain.
"Maaf." Kata itu yang hanya mampu keluar dari bibirku. "Aku memang salah, tapi tolong beri kesempatan aku menjelaskan."
"Ya, kau rasa aku ada penyakit masa lalu, Biv. Yang hanya bisa disembuhkan oleh ayahku. Kamu hanya tahu teori, Biv. Karena kamu tidak mengalaminya."
Ghulam masih berlanjut menyalahkanku, aku mengigit bibir, hatiku sangat sakit disalah-salahkan seperti ini. Huftt, aku harus kuat, aku harus sabar, ini memang resiko pekerjaanku. Aku biarkan Ghulam terus bicara, mungkin dengan begitu dia akan lega, aku bersyukur aku masih bisa untuk tidak larut emosi meski hatiku juga sakit karena seperti diperolok.
Saat kemudian aku hanya diam mendengarkan, dan mungkin juga lelah terus bicara, akhirnya Ghulam diam juga. Dia menatap mataku, aku masih berkaca-kaca, tapi aku tak membalasnya apapun.
"Kalau kamu sudah selesai, maka izinkan aku ganti yang bicara." Kataku, kutunggu beberapa saat dia tidak merespon, hanya diam, diam saja bagiku sama dengan mau mendengarkan.
"Aku memang hanya belajar teori, tapi yang berteori itu bukan sembarang orang. Mereka para ahli yang meneliti banyak kasus psikologis selama bertahun-tahun. Kalau kamu kira ini omong kosong, terserah, itu hak kamu, tapi yang harus kamu tahu adalah menyelesaikan masalah itu lebih mudah jika kamu tahu ilmunya.
Selama ini aku sudah berusaha, aku menolak banyak klien, aku fokus pada kasus kalian, mengapa? Karena aku peduli dengan Alana dan aku sayang Kavya. Aku tahu, kamu dan Alana saling sayang, kalian pantas memperjuangkan keharmonisan. Kalian pantas memiliki rumah tangga dengan hubungan yang manis penuh kasih sayang.
Jika kemudian kamu membenciku karena aku mencoba mengorek masa lalu, aku minta maaf, sangat minta maaf, terutama jika kamu tersinggung karena ini. Aku sama sekali tidak berniat menghakimi kamu. Aku memang tidak merasakan jadi kamu, dan tidak pernah merasakan karena aku sejak kecil sudah tidak punya ayah.
Aku akhirnya mempertemukan Alana dan Pak Sadetil bukan asal memutuskan. Aku sudah bertemu dengan beliau sebelumnya, aku ke rumahnya, aku menyetir sendiri kesana dan mencari di daerah yang tidak aku kenal. Aku tidak menceritakan ini untuk menarik simpati kamu, buat apa? Tapi aku ingin kamu tahu, aku juga berjuang untuk menyatukan rumah tangga kalian menjadi harmonis lagi.
Ayah kamu mungkin salah, tapi dia manusia yang bisa berubah. Aku, Ala, kamu, juga bisa salah kan? Bisa melakukan kesalahan-kesalahan yang fatal kan? Kamu mungkin saja menyakiti Kavya? Tapi apakah Kavya akan seumur hidup membencimu?
Sekarang, untuk apa aku mengungkit masa lalu? Tidak ada manfaatnya kecuali jika kita ingin menyembuhkan luka yang pernah ada di sana. Luka hati kamu bukan penyakit, tapi sesuatu yang memang harus sembuh.
Sekarang, karena semua sudah terlanjur basah. Aku serahkan semua sama kamu. Kamu mau melanjutkan konseling denganku atau memutuskan kerjasama diantara kita, aku benar-benar tidak berhak mengatur apapun. Tapi jika denganku, aku mohon maaf, harus sesuai dengan arahan yang aku katakan.
Proses ini sudah cukup lama, kita harus tegas. Jika kita mempertaruhkan ego, mungkin berat, karena kita selalu terlalu mencintai diri sendiri. Tapi jika kita mempertimbangkan kebaikan bersama, sesulit apapun, akan kita lalui, ego akan kita kalahkan."
Aku berbicara dengan nada yang tegas dan penuh emosi, air mataku bercucuran sambil mengatakan itu. Ghulam di hadapanku menunduk, tidak menatapku. Dia baru menatapku ketika aku berhenti bicara. Aku mengusap air mata dengan tissu dan tidak peduli respon Ghulam.
"Baik, aku minta maaf."
Setelah mengatakan itu Ghulam pergi, tanpa berpamitan, tanpa mengatakan apapun. Aku sudah tidak peduli lagi. Hatiku sakit, aku sedang emosi, bahkan aku masih menangis sesenggukan beberapa saat setelah Ghulam pergi.
Begitu tenang, aku segera ke dapur kantor mengambil minum. Sialnya, aku bertemu Pak Malik saat mataku masih sembab. Dia tampak mengamatimu terus, mungkin dalam hati bertanya-tanya, mengapa aku menangis?
"Kamu putus sama pacar kamu?" Seloroh Pak Malik. Aku menolehnya tajam, kuberi dia tatapan marah, Pak Malik buru-buru melipir melihat responku begitu. Tapi berkat pak Malik, perasaanku lebih baik, aku justru ingin tertawa melihatnya ketakutan.
Setelah minum segelas penuh air putih dingin, aku pergi ke ruang Zahra, dia sedang menghadap laptopnya, dan langsung berhenti ketika melihat aku datang.
"Ghulam marah sama kamu?" Tanya Zahra begitu aku duduk di depan mejanya. Aku mengangguk.
"Baru kali ini aku diolok-olok klien, Ra. Ternyata rasanya sakit banget." Zahra berdiri lalu datang memelukku.
"Ini memang bagian dari profesi kita, Biv. Dan kamu harus ikhlas. Gimana, masih pengen bantuin Ghulam dan Alana?" Tanya Zahra lagi, aku mengangguk.
"Aku masih berharap Ghulam berubah setelah ini."
Saat aku asyik mengobrol dengan Zahra, handphone di tanganku bergetar. Telepon dari Alana.
"Halo, Biv." Suara Ala tampak terburu-buru.
"Iya, Ala." Jawabku tenang.
"Apakah Ghulam memarahimu?" Tanya Alana, aku hanya diam. "Aku minta maaf Biv, untuk ini. Padahal yang kamu lakukan untuk kebaikan kami." Tambahnya.
"Tidak masalah, ini bagian dari profesi ku, aku tidak apa-apa." Jawabku.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan, Biv? Sampai sekarang, kami masih saling diam."
"Tetap perlakukan suamimu dengan baik, jangan dulu membahas masalah tentang ayahnya, dan juga masalah tentang aku. Bangun hubungan baik untuk mengembalikan komunikasi kalian."
Setelah aku berkata panjang lebar, dab Alana mengiyakan, ia menutup teleponnya. Aku pun segera kembali ke ruanganku untuk jadwal bertemu klien selanjutnya.
***
Pulang kantor pukul setengah empat, aku sebenarnya malas sekali harus ke Hizi. Aku malas bertemu Kaizan, tapi untuk kejelasan statusku, aku harus menemuinya.
Hari ini ada rapat Hizi untuk Indonesia, tapi pukul setengah tujuh malam, jadi aku bisa tak perlu ikut jika suratku sudah approved.
Sesampainya di kantor Hizi Corp. lagi-lagi aku langsung menuju ruang staff kepegawaian. Kali ini aku bertemu dengan staff baru, maksudku bukan yang kutemui kemarin. Kali ini seorang perempuan muda, yang sepertinya masih magang karena memakai seragam hitam putih khas anak magang.
"Selamat sore, saya mengirimkan surat pengunduran diri, atas nama Bivisyani. Saya ingin melihat perkembangan, apakah surat saya sudah disetujui."
"Sebentar saya cek ya Kak." Kata staff itu, ia mengecek beberapa dokumen dan file di komputer, sejenak kemudian. "Kapan kakak mengirimkan surat itu kemari?"
"Sekitar lima hari lalu, tapi aku tidak mengirimkan surat itu langsung kesini. Aku menitipkannya pada kepala bagianku, Hizi untuk Indonesia, yaitu Kaizan."
"Oh, pak Kaizan." Staff itu mengecek lagi. "Tapi mohon maaf surat kakak belum sampai di sini."
"Jadi apa yang harus saya lakukan?" Tanyaku.
"Mengkonfirmasi kepada Bapak Kaizan terlebih dahulu."
Entah kenapa saat ini, aku kesal sekali dengan Kaizan, aku merasa seperti sedang dipermainkan. Apa sih mau dia? Apa sengaja mempersulit aku? Dia kan sudah punya tunangan, kenapa dia harus menghalangi ku berhenti bekerja di sini? Apakah dia sengaja mempermainkan perasaanku.
Aku berjalan menuju ruang kerja Kaizan dengan hati bergemuruh. Aku kesal sekali ingin memarahinya. Sepanjang perjalanan menuju kesana sudah kusiapkan bahan untuk mengomelinya. Tapi, begitu sampai di depan ruang kerjanya, hatiku berdetak tak karuan, aku takut untuk masuk, aku sempat ragu dan ingin putar balik, tapi tujuanku tidak akan kelar jika ini tidak segera kuselesaikan. Akhirnya, aku menarik nafas panjang dan mengembuskan dalam-dalam, lalu mengetuk pintu.
"Masuk!" Kata Kaizan dari dalam.
Dia kaget ketika melihatku datang, dan langsung berdiri. "Kamu di sini?" Tanyanya, aku diam saja mengatur nafas yang mulai tersengal-sengal. "Duduklah." Tambahnya lagi, aku menggeleng.
"Aku tidak kesini untuk berbasa-basi." Kataku.
"Lalu?"
"Aku ingin mengkonfirmasi, dimana surat pengunduran diriku? Mengapa bagian kepegawaian belum menerimanya?" Suaraku bergetar, Kaizan diam menatapku.
"Kamu marah?" Dia justru menanyakan perasaanku.
"Aku tidak marah, hanya kesal. Mengapa seorang pimpinan bermain-main dengan surat pengunduran diri karyawannya, seolah aku sedang bercanda." Jawabku tegas. Baru kali ini kurasai energi keberanian menghadapi Kaizan mengaliri jiwaku.
"Aku hanya belum rela kamu keluar dari tim kita."
Splasssh. Pernyataan ku seperti petir di siang bolong. Aku terkejut sekali mendengarnya. Aku tidak menyangka Kaizan akan mengatakannya dengan lugas.
"Apa maksudmu? Jangan bicara yang tidak-tidak."
"Aku serius."
"Perkataan seperti itu tidak pantas diucapkan oleh seorang yang sudah memiliki tunangan."
Entah kenapa mengatakan itu hatiku panas sekali. Aku ingin bilang, kenapa kamu tidak rela aku pergi kalau kamu sudah ada yang memiliki? Tapi semua perkataan itu hanya berhenti di hatiku. Aku tak kuasa mengatakannya. Kaizan hanya diam saja tidak merespon perkataanku. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Sekarang mana suratku?" Kataku setelah menunggu beberapa saat, tapi Kaizan tak kunjung bicara.
Kaizan mengambil suratku dari lacinya, dan menyerahkan padaku. Aku mengambilnya, dan segera berlalu pergi. Kaizan hanya menatapku pergi tanpa berkata apapun. Aku berjalan keluar ruang kerjanya dengan perasaan campur aduk. Aku merasa dipermainkan, hatiku sakit, aku kecewa. Entah kenapa, hari ini aku dibuat sakit hati oleh banyak hal.