#43 Masa Lalu Ghulam

2086 Kata
"Ra, gimana?" "Kalau kamu nggak meminta izin secara langsung, kamu nggak bakalan tahu bakalan dikasih izin apa enggak, Biv." Kata Zahra, mungkin dia geram karena aku terus gamang seharian di depannya. "Masalahnya, aku takut, Ra. Aku nggak enak, sungkan aja. Kayak aku nggak mentingin pekerjaan di lembaga." "Kenyataannya kayak gitu apa enggak?" "Ya nggak lah." "Kalau enggak ngapain takut? Takut Pak Malik?" Seharian ini aku memang gamang, akhir pekan ini, tim Hizi Untuk Indonesia harus sudah sampai di Yogyakarta. Paling tidak, kami membutuhkan waktu satu Minggu untuk menyelesaikan serangkaian acara. Mulai dari persiapan, hari H acara, hingga penutupan. Hari ini adalah hari Selasa dan aku juga belum berani untuk meminta izin Pak Ruslam. Zahra geram melihatku terus mengeluh, dia terus memberi saran dan solusi tapi tetap tak kunjung kulakukan. Memang sepertinya aku harus nekat. "Sudah, sini aku antar." Zahra menggamit tanganku, menuntunku dengan paksa menuju ruangan Pak Ruslam. Beruntung baru saja aku dan Zahra melangkah keluar ruang kerjaku, Ghulam sudah di depan pintu. Hari ini aku memang ada janji dengan Ghulam. Aku menghela nafas lega, dan memberikan senyum kemenangan kepada Zahra. Kusuruh Ghulam masuk dan di kursi depan meja kerja. Hari ini, penampilan Ghulam lebih segar daripada kemarin, terutama juga dari kapan hari yang compang-camping. Hari ini dia terlihat segar dan bugar. Paling tidak, sekalipun masalah mereka masih berkeliaran, selama masih ada Ala di rumahnya, ia akan tetap terawat. Aku izin ke dapur untuk mengambilkannya minum, karena sesi konseling ini akan berlangsung cukup lama, aku biasanya mengambilkan minuman dan snack untuk klienku. Aku menemukan kopi s**u instan siap minum dalam kemasan botol, segera kuambil dua untuk Ghulam. "Sebelumnya, aku ingin mengatakan. Mungkin percakapan kita hari ini berlangsung berbeda dari biasanya." Kataku membuka percakapan sambil menyerahkan botol kopi kepada Ghulam. Ghulam mengangguk-angguk menerimanya. "Satu lagi. Mungkin aku akan menanyakan hal sangat pribadi, atau masa lalu. Aku berharap, kamu akan menjawabnya dengan apa adanya. Tapi jika kamu keberatan, kamu boleh mengatakan jika kamu tidak ingin menceritakannya." Ghulam mengangguk-angguk lagi mendengar penjelasanku. Lalu dia menata duduknya. "Aku ingin tahu bagaimana kamu menghabiskan waktu kecil." Kataku, dahi Ghulam mengernyit mendengar perkataanku. "Bagaimana ayah ibumu membesarkanmu, bagaimana sekolahmu, teman-temanmu di masa lalu. Aku ingin tahu semua itu." Tambahku lagi. Dia baru mengangguk setelah itu. "Aku tidak begitu mengingat masa kecilku, ku kira tidak ada yang berkesan. Yah seperti kehidupan masa kecil orang lain." Jawab Ghulam santai. "Kamu di sekolah anak yang pintar?" Tanyaku. "Hahaha." Ghulam tertawa, "tidak begitu, aku bukan anak yang pintar, tapi aku juga tidak bodoh, aku hanya tidak mau duduk. Yah seperti teman laki-laki mu di kelas SD dulu." "Kau pernah juara kelas?" Tanyaku lagi, Ghulam menggeleng. "Tidak pernah. Eh tapi aku pernah juara lari." Jawabnya lalu tertawa lagi. Mungkin baginya mengenang masalalu adalah hal yang lucu. Dia terus saja tertawa ketika selesai menjawab pertanyaanku. "Apakah kau menyukai teman-temanmu?" Tanyaku lagi. "Mmmm….tidak ada yang berkesan, kami bermain bola, bermain karet gelang, kelereng, aku tidak ingat apakah menyukai temanku atau memusuhi mereka waktu itu." Aku mengangguk mendengarnya, sesekali kucatat hal kupikir penting untuk kujadikan bahan pertimbangan. "Apakah gurumu ada yang galak?" "Biv, pertanyaan macam apa ini? Apa hubungannya guru SD dengan pernikahanku?" Ghulam terkekeh sambil mengatakan itu. Inilah jawaban yang sering keluar dari mulut klienku saat sesi konseling mendalam. Ketika kutanya berbagai hal tentang masa lalu mereka, mereka selalu berpikir aku sedang iseng atau mengerjai mereka. Mereka pikir aku sedang mengulur waktu agar sesi konseling berjalan lama agar bayaranku semakin tinggi. Karena bagi mereka tidak ada hubungannya masa kecil, teman kecil mereka, saudara mereka, guru mereka, pola asuh orangtua mereka di masa lalu dengan masalah yang mereka hadapi saat ini. Padahal aku sedang mencari sambungan masalah itu, darimana akar masalah yang sedang mereka hadapi saat ini. Bisa jadi, masalah masa lalu yang belum selesai dan berdampak hingga mereka dewasa saat ini. Aku tersenyum mendengar perkataan Ghulam, aku tidak tersinggung karena respon seperti itu sudah sering kutemui. "Ceritakan saja." Kataku. "Baiklah." "Guruku adalah guru sekolah di desa pada umumnya, mereka galak sering menghukum, tapi mereka sangat kami hormati, mereka yang membuat kami bisa melanjutkan kuliah hingga perguruan tinggi di kota dan membuatku bisa bertemu dengan istriku, paling tidak, itu sambungannya yang paling nyata, Biv." Ghulam menutup kalimatnya dengan terkekeh, dia memang sedang berupaya menggodaku, dan aku hanya menghela nafas berupaya tetap tenang. "Okay, baiklah. Apakah kau punya saudara?" "Iya, Biv. Aku memiliki seorang adik perempuan. Tapi dia sudah meninggal ketika kami masih kecil." Ghulam memasang wajah sedih ketika menjawab demikian. "Aku minta maaf untuk menanyakan ini, apakah kamu sangat menyayanginya?" Ghulam terdiam menunduk. "Tolong jangan tanyakan ini lagi, Biv." Ketika Ghulam mengatakan demikian, aku semakin yakin ada sesuatu dengan masa kecil Ghulam, dengan adiknya atau dengan keluarga. Tapi karena ia menolak menjawab, akhirnya kualihkan dengan pertanyaan lain. "Bagaimana ayah dan ibumu mengasuhmu?" "Ayahku seorang seniman, beliau pelukis dan pengrajin patung. Orang-orang melihatnya keren. Tapi aku sama sekali tidak memandang demikian. Ayah kasar pada ibu. Ayah minta dilayani ibu dalam segala hal, mengambilkan minum, makanan, mencucikan baju, bahkan ketika ia hendak melukis, ibu yang harus mempersiapkan segala peralatannya." Aku menyimak Ghulam dan mulai tertarik dengan cerita masa lalu yang ia kisahkan. Aku catat beberapa hal yang menarik dan ingin kuperdalami. "Apakah ibumu bekerja?" "Ya, beliau seorang pekerja keras. Beliau bekerja dari pagi hingga petang di kebun teh, ibuku seorang pemetik teh, Biv. Itulah rata-rata pekerjaan perempuan di desa kami." "Apa yang kamu lakukan sepulang sekolah?" "Menjaga adik, bermain bersama adik menunggu ibu kami pulang." "Kalian bermain di rumah atau bersama teman yang lain?" Aku sedikit demi sedikit mulai terus menanyakan perihal adik dengan pertanyaan yang lain. Hal yang sebelumnya sensitif bagi Ghulam, tapi kukira di sanalah akar permasalahannya. "Kami bermain di kebun teh, Biv. Berlarian di antara deretan tanaman teh yang hijau dengan sesama teman-teman kami yang juga anak seorang pemetik daun teh." "Maaf, Ghulam. Apakah ayah dan ibu masih ada hingga saat ini?" Ghulam terdiam. Dia seperti memanggil kesedihan dari dalam pikirannya. Ya, pertanyaanku telah membuatnya sedih. Tapi aku ingin dia mengatakan semuanya. "Ayah masih hidup, dan dia sudah tak peduli lagi dengan hidupku. Ibu, ibuku sudah tiada bersama adiku." "Mereka meninggal bersama?" "Ya, mereka kecelakaan bertiga bersama ayahku. Tapi nahas, ayahku selamat, ibuku dan adikku tidak." "Pasti ayahmu juga sangat terpukul karena itu." "Aku tidak tahu, tapi kenyataannya, dia sudah memiliki istri lagi setahun kemudian." "Mengapa tadi kamu bilang ayahmu sudah tidak peduli dengan hidupmu?" "Ayahku tidak tahu hidupku yang sekarang. Dia tidak tahu, kami sudah berkecukupan, sebelumnya, saat kami susah seperti yang pernah kuceritakan padamu, dia sama sekali tidak peduli. Karena dia tidak peduli, aku pun malas mengunjunginya." "Apakah Ala bersikap sama sepertimu?" "Tentu saja tidak, Ala tidak merasakan luka masa kecil yang kurasakan. Setiap lebaran dia mengajak mengunjungi ayah, terutama ketika kami sudah mapan. Tapi aku tidak mau." "Luka masa kecil?" "Itu masa lalu, Biv." "Apakah kamu sudah memaafkannya?" "Entahlah, aku sudah tak memikirkannya." "Kalau boleh tahu, luka seperti apa itu?" "Luka yang tidak hanya satu. Banyak sekali peristiwa menyakitkan." "Boleh kah aku mengetahui nya." Ghulam menghela nafas panjang, lalu mulai bercerita. "Ayahku hanya seorang pelukis, Biv. Pekerjaannya sehari-hari berkhayal dan menghabiskan waktu di depan kanvas. Aku sebenarnya, tidak masalah dengan itu, menjadi sangat bermasalah ketika lukisan-lukisan hasil karya ayahku tak laku-laku dan uang gaji ibuku sudah habis. Kami tak punya lagi uang untuk membeli beras dan obat adikku." "Maaf, menyela. Jadi adikku sakit?" "Adikku sudah sakit sejak dia bayi. Adikku sakit asma karena ayahku perokok. Dulu, kami tidak tahu penyebabnya, tapi setelah aku sekolah hingga SMA, aku jadi tahu, menghirup asap rokok menyebabkan penyakit asma." "Baik, silakan lanjutkan cerita yang tadi." "Yang mana?" "Yang gaji ibu habis untuk beli beras." "Oh itu. Ayah selalu marah-marah ketika ibu meminta uang. Bahkan, ayah kerap menampar ibu di depan kami. Padahal hanya karena meminta uang membeli lauk untuk kamis. Dari sana hatiku sakit sekali, Biv. Aku pernah membela ibu dengan memarahi ayah. Tapi ibu justru memarahiku. Dari sana pun, aku berpikir, andai ayah punya pekerjaan lain. Aku pernah pulang sekolah dengan menangis di sepanjang jalan hingga sampai rumah. Sampai rumah ibu bertanya mengapa aku menangis, kujawab, aku diolok temanku karena ayahku pekerjaannya adalah pelukis, kata teman-teman pelukis itu hanya bermain bukan bekerja, jadi tidak menghasilkan uang. Ketika itu, ayah mendengar kata-kataku. Beliau marah besar, beliau menyeretku keluar dan mengurungku di kamar mandi kami yang terletak di luar rumah. Aku kedinginan, ketakutan, lapar dan masih memakai seragam sekolah. Aku dikurung sampai malam, kalau tidak karena ibukku terus menangis di depan pintu kamar mandi, mungkin aku akan dikurung hingga subuh atau hingga aku mati kelaparan. Itu hanya sebagian contoh luka masa laluku, Biv. Ada banyak yang tidak bisa kuceritakan." "Aku ikut sedih mendengarnya. Apakah Ala tahu tentang semua cerita ini?" "Dia tahu semuanya sejak kami belum menikah. Ala tahu betul aku sangat membenci ayahku." "Tapi, apakah yang menyekolahkan mu hingga kuliah adalah ayahmu?" "Bukan, Biv. Untuk itu mengapa aku tidak mencari ayah, karena ayah tidak berjasa apapun dalam hidupku. Waktu itu, hingga ibu dan adikku meninggal, aku duduk di kelas enam. Untunglah uang sekolah baru saja dibayar ibu hingga akhir tahun ajaran, jadi aku bisa sekolah sampai lulus tanpa perlu memikirkan uang sekolah. Ibuku, sekalipun bukan orang punya, beliau selalu mengutamakan membayar sekolah. Kata beliau, uang sekolah harus segera dibayar karena ada hak bapak ibu guru di sana, harus segera ditunaikan agar ilmuku berkah. Lalu ketika aku hendak mendaftar SMP, ayah menikah lagi. Beliau punya uang untuk menikah lagi tapi tak cukup untuk menyekolahkan ku. Aku berhenti satu tahun, hingga aku mendapat beasiswa dari kabupaten. Beasiswa itulah yang menyekolahkan aku hingga lulus SMA. Sebenarnya, selepas ayah menikah lagi, kerakter beliau mulai berubah, beliau mulai peduli denganku, menanyakan sekolahku, apakah aku punya uang saku, berapa nilaiku, tapi aku terlanjur membencinya. Ibu sambung ku sebenarnya baik, setiap hari masakan beliaulah yang aku makan. Beliau selalu memastikan aku sarapan sebelum berangkat sekolah. Jadi, aku pun tidak ikut membencinya seperti membenci ayahku." Ghulam meneguk kopinya, mungkin hingga setengah botol, banyak bicara dari tadi kukira dia sangat kehausan. Tapi setelah itu tanpa kutanya dia langsung bercerita. "Ketika aku SMA, aku sudah mulai bekerja, Biv. Aku membantu di warung makan milik tetangga, warung yang buka dua puluh empat jam, hingga aku bisa kerja di sana dari jam dua siang hingga jam sepuluh malam. Dari bekerja itulah, aku bisa membeli motor, yang akhirnya kujual untuk mendaftar kuliah. Aku juga kuliah sambil bekerja, aku biaya sendiri, Biv. Saat itu, kehidupan ayah sudah lebih baik. Beliau mampu membangun galeri lukis, membuka kelas melukis dan lukisannya laku keras. Tapi lagi-lagi, aku terlanjur sakit hati, terutama karena dipikiranku, ayahlah yang menyebabkan ibu dan adikku meninggal. Aku tak mau menerima uang sepeserpun dari ayah. Bahkan ketika aku dalam kondisi tidak punya uang sama sekali, aku tidak mau menerima uang pemberian darinya. Haram bagiku, Biv." "Sampai sekarang, apakah kamu masih membenci ayah?" Tanyaku begitu Ghulam selesai bicara. Dia menggeleng. "Aku tidak tahu, mungkin sudah karena lama sekali tak mengingat dan bersangkutan dengan hal itu. Aku bahkan lupa masih memiliki ayah. Aku juga tidak memberinya alamatku atau nomor teleponku. Aku tidak ingin terusik, dan Ala juga tidak pernah mengusiknya karena sebelumnya, aku selalu marah ketika dia mulai membahas-bahas tentang ayah. Mungkin setelah itu dia enggan." "Baik, kita cukupkan pembicaraan tentang ayahmu. Sekarang aku ingin tahu tentang ibumu." "Tadi sudah aku ceritakan, Biv." "Maaf, maksudku kisah tentang ibu yang berkesan, dan mungkin tidak bersangkut paut dengan ayahmu." "Ibu, semua berkesan, Biv. Bagaimana beliau menyiapkan makanan untuk kami, mengajari kami mengaji, menceritakan dongeng-dongenng dahulu kala sebelum kami tidur. Ibuku seperti sempurna, Biv. Beliau melayani ayah dengan sangat baik meskipun setelah lelah bekerja dan mengurusi kami. Beliau adalah orang yang tidak tahu apa itu mengeluh. Ya, kami tidak pernah mendengar ibu mengeluh. Sekalipun sakit, kadangkala ibu hanya tiba-tiba tidak bangun dari kasur begitu saja. Dan itupun sangat singkat, beliau pasti berusaha segera sembuh. Sayangnya, sekarang saat aku sudah punya banyak hal, aku kemana-mana membawa mobil, aku bisa membelikan apapun yang ibu minta, ibu sudah lama tiada. Ibu tidak melihatku sukses." "Kupikir, ibumu benar-benar ibu yang sempurna." "Benar sekali, Biv. Bahkan terkadang aku berpikir mengapa Alana tidak berperilaku seperti ibuku." Ghulam terkekeh mengakhiri kalimatnya. Tanpa terasa, aku sudah memiliki memiliki coretan yang banyak di buku catatanku. Banyak juga hal yang sudah kugarisbawahi, yang akan kuperdalami nanti. "Kukira, sesi kali kita cukupkan dulu." Kataku. Ghulam mengangguk, lalu pamit pergi. Aku menghela nafas begitu Ghulam pergi, ternyata kasus Alana dan Ghulam bisa sedalam ini. Banyak sekali PR yang harus aku lakukan kedepannya. Aku menutup buku catatan. Kemudian mataku menyapu sosok perempuan berdiri melongokkan kepala di depan pintu. Itu Zahra. "Ayo!" Katanya sambil mengeringkan mata. Aku tersenyum lalu berdiri menghampirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN