Kemarin, setelah Ghulam pergi dari ruang kerjaku. Zahra datang untuk mengantarkan ku menemui Pak Ruslam. Zahra sungguh sahabat terbaikku, aku yang ketakutan, dia yang membantuku memaksa diri menghadapi ketakutan itu.
Dengan mudah Pak Ruslam berkata iya ketika aku izin tidak masuk kantor selama satu pekan.
"Ini selama satu pekan, Pak." Kuulangi lagi penjelasan ku.
"Iya, tadi kamu sudah bilang begitu, kan?" Kata Pak Ruslam merasa bingung.
"Jadi boleh, Pak?" Aku sudah mau melompat ketika menanyakan itu. Zahra menyikutku, kutahu kodenya, ngapain aku tanya begitu nanti Pak Ruslam berubah pikiran.
"Iya." Jawab beliau mantap.
Aku dan Zahra melompat-lompat berpelukan di ruang kerja Pak Kepala lembaga. Beliau mengernyitkan dahi tidak mengerti melihat tingkah kami.
"Tuh kan! Ketakutan itu adalah hal yang kamu buat sendiri. Kenyataannya tidak semenyeramkan itu, kan?" Kata Zahra ketika kami sudah keluar dari ruang Pak Ruslam.
"Iya, iya ibu psikolog, anda andalan deh pokoknya." Kataku sambil merangkul Zahra dari samping. Kami berjalan beriringan dan entah kebetulan atau disengaja. Tiba-tiba Pak Malik menghadang.
"Ada urusan apa ke ruangan Pak kepala?" Tanyanya secara langsung kepada kami, kami terkaget dengan sigap langsung terdiam, saling menoleh, lalu melewati Pak Malik tanpa menjawab pertanyaan dari beliau.
"Hey! Anak-anak muda tidak sopan!" Pak Malik berteriak sewot melihat kami mengabaikannya, beliau tampak masih mengomel sesuatu kalimat yang sudah tidak kami dengar. Kami hanya cekikikan melihat kekonyolan Pak Malik yang selalu sitik dengan orang lain.
***
Karena malam ini ibu ada arisan RT, aku meminta Zahra menemaniku belanja kebutuhan yang akan kubawa pergi ke Yogyakarta selama satu pekan. Tentunya dengan membawa catatan dari ibu. Ibu tahu, kalau aku yang pergi berbelanja pasti hanya yang ringan-ringan yang kubeli. Dan ibu, sudah siap-siap menambahi.
"Gila sih ini, mulai dari sabun mandi sampai buah-buahan ada. Banyak banget yang dibawa?" Zahra duduk mengomel setelah membaca daftar belanjaan ibu, dia duduk di kursi penumpang di sebelahku yang sedang menyetir.
"Ya, biasalah, ibuku. Beliau kan paling takut anak semata wayangnya kelaparan." Jawabku sambil tertawa kecil.
"Pop mie, milo, lima packs roti sobek sari roti." Tawa Zahra meledak. "Ibu kamu pikir, kamu pergi kemping. Kan di sana dah disiapkan makanan juga, kan?" Tambah Zahra.
"Ibuku tuh selalu kayak gitu, Zahraaa." Jawabku santai. Ini memang pertama kalinya aku mengajak Zahra belanja dengan daftar belanjaan dari ibuku. Kami sering belanja, tapi belanja sesuka hati yang kami ingin saja.
"Tapi kamu enak, Biv, diurusin, aku jadi iri." Zahra melipat kertas daftar belanjaan dan menyelipkan kembali ke dalam tasku di bangku belakang.
"Kan, kamu juga diurusi sama mama kamu."
"Bukan mama yang urusin aku sih sebenarnya, tapi uangnya."
"Disyukurin aja kan, mama sehat, masih bisa kerja, dapat uang banyak meskipun beliau tidak muda lagi." Jawabku.
Jalanan Jumat malam tampak padat merayap. Bagi sebagian orang, hari libur memang dimulai dari Jumat sore.
"Iya, Biv. Kamu bener, harus tetap disyukuri apapun itu. Sekalipun ya...kadang-kadang pengen juga lihat orang lain diperhatikan mama mereka. Kayak kamu gini." Suara Zahra tiba-tiba melow. Ketika Zahra sudah berubah melow begitu, biasanya aku baru notice, berarti dia sedang benar-benar tersentuh emosinya.
Kuelus-elus pundak nya sambil tetap menyetir. Dia tersenyum menoleh, baru kusadari ternyata Zahra menitikkan air mata.
Zahra adalah temanku yang paling ceria dan apa adanya. Dia periang dan sering usil. Kami dulu masuk ke lembaga sama-sama sehingga kami cukup dekat selama empat tahun terakhir ini.
Usia Zahra dua tahun diatasku, tapi kami seperti seumuran karena dia memiliki wajah imut dan perawakan mungil. Ibunya seorang kontaktor sukses, ayahnya anggota dewan. Zahra benar-benar bergelimpangan harta. Sebenarnya, jika dia anak manja, bisa saja dia tidak usah bekerja, lalu santai-santai saja menikmati harta orangtuanya. Tapi itu bukan tipe Zahra, dia gadis mungil pekerja keras dan pintar.
Zahra sering bercerita bahwa ia kerap kesepian. Dia sebenarnya dua bersaudara dengan kakaknya. Tapi kakaknya sudah menikah dan menit kehidupan sendiri. Jadi sekarang dia ibarat anak tunggal dan seperti sebatang kara karena mama papanya sibuk mengurus pekerjaan.
"Kamu pernah nggak, Ra. Ngomong sama mama kamu, apa yang kamu rasain. Apa yang kamu pengen." Kataku sambil terus menatap jalan.
"Dulu pernah, tapi aku trauma mengatakan itu, Biv. Aku sudah mencurahkan perasaan dengan sepenuh hati, sering-sering mama menanggapi ku sambil mengecek handphone, atau memasang wajah lelah dan mengantuk. Aku jadi sakit hati sendiri. Karena itu, lebih baik aku adaptasi dengan kesepian."
Beberapa kali, aku pernah diajak Zahra menginap di rumahnya. Rumah itu besar sekali seperti rumah di sinetron, yang memiliki pagar besar dan tinggi, tiang-tiang tinggi, jendela kaca yang besar sekali, halaman yang luas dan kolam renang.
Kalau orang baru mengenal Zahra, pasti tidak menyangka dia anak konglomerat. Karena mana mungkin ada anak konglomerat bekerja di lembaga psikologi yang terletak di kota kecil.
Apalagi Zahra orangnya sederhana sekali. Dia tida pernah menampakkan kalau dia anak orang kaya. Dulu, aku pun terkaget ketika diajak ke rumahnya pertama kali.
"Eh ini rumah kamu, apa rumah majikan kamu?" Kataku polos waktu itu, Zahra ngakak sejadi-jadinya.
"Terserah deh, rumah majikan aku juga boleh." Jawabnya santai.
Ya, begitulah Zahra temanku. Ketika menginap di rumahku yang sederhana pun, dia tidak canggung. Itulah kenapa aku sangat menyayanginya.
"Emang bisnis mama belum bisa auto pilot ya, Ra?" Tanyaku hati-hati.
"Bisa lah, mana ada bisnis besar yang tidak auto pilot, mana cukup ditangani sendiri. Tapi mama itu, perfectionist soal pekerjaan, beliau mana tega melepas sesuatu tanpa pengawasannya. Sama seperti papa, papa juga perfeksionis, mereka kompak." Jawab Zahra dengan suara sedikit lebih tenang, nadanya sudah mulai kembali ceria.
"Ra, nanti nggak sayang apa perusahaan itu jatuh ke tangan orang?"
"Kan ada kakak ipar aku yang sekarang sudah mulai dikader papa. Kalau aku sih, pengenkumembangun perusahaanku sendiri. Aku mau bangun biro konsultan psikologi kelas nasional. Kamu mau gabung nggak?"
Kami tertawa bersama, kalimat terakhir Zahra itu menandakan bahwa moodnya sudah kembali. Itu karakter Zahra jika tengil seperti itu.
"Mauu dong!" Jawabku kencang.
"Makanya, jangan nyuruh aku jadi pengusaha perumahan, nanti aku nggak bisa goler-goler sama kamu."
Kami kembali tertawa. Dari dulu, cita-cita Zahra memang memiliki biro konsultan psikologi sendiri. Sebenarnya, dengan previllage dia sekarang, mudah sekali mendirikan biro. Namun, bukan Zahra jika dia bergantung pada hasil kerja keras orang lain. Baginya, itu bukan kesuksesan, kata dia sukses itu yang kamu raih dengan perjuangan. Jujur, diam-diam aku sering kagum pada Zahra.
Kamipun akhirnya sampai di supermarket, maksudku sampai di mall yang kami tuju. Supermarket langganan ku terletak di dalam mall.
Sepanjang belanja, Zahra banyak tertawa cekikikan melihat daftar belanja yang disusun ibuku. Ada nugget ayam, hingga pop corn siap masak. "Emang beneran ini dibawa ke Yogyakarta? Kamu wisata apa kerja sih?" Zahra tertawa, aku juga.
"Sudaah nurut aja." Kataku sambil berlalu mendorong troli belanja.
Tidak sampai sejam, kami sudah keluar dari parkiran mall. Kalau dengan ibu, jangan harap. Kami pasti muter-muter dulu di bagian buah, daging, ikan, snack kiloan, segala macam tepung, hingga peralatan dapur.
Kali ini, kami tidak makan di food court mall, kami ingin makan tekwan langganan kami. Jadi, kami belanja buru-buru agar bisa makan tekwan tanpa pulang malam.
"Ra, kamu belum pengen nikah?" Kataku sambil menyeruput kuah tekwan.
"Sudah dong, masak belum. Umurku udah dua lapan woy!" Jawab Zahra santai.
"Lalu ngapain nggak nikah-nikah. Calon dah ada, dana nggak kekurangan, emang nunggu apalagi?"
"Nunggu restu."
"Mama kamu?"
"Mama aku mah oke oke aja, mamanya Mirza."
"Belum lolos jadi calon mantu yang baik?"
"Eh, enak aja! Udah dong!"
"Terus?"
"Mamanya Mirza pengen mantu dari orang biasa, dan aku menurut beliau adalah alien. Puas!" Jawab Zahra sewot, mendengar jawabannya aku justru tertawa.
Zahra memang menjalin hubungan dengan Mirza sudah cukup lama. Seingatku, sejak pertama kali kami kenal sebagai pekerja baru di lembaga, mereka sudah berpacaran.
Aku sebenarnya sudah tahu masalah mereka terkendala restu orangtua Mirza, ibu Mirza adalah jenis ibu-ibu yang khawatir anaknya laki-laki didepak dari keluarga kaya raya macam keluarga Zahra. Padahal aku sendiri tahu kenyataannya. Mungkin mereka hanya butuh waktu saja.
Aku dan Zahra menghabiskan semangkuk tekwan dengan cepat, dan meneguk es teh manis dengan segera karena waktu sudah menunjuk pukul sembilan. Kami bisa kena omel ibu kalau terlambat. Apalagi aku harus mengantar Zahra terlebih dahulu.