Ibu memelukku erat sebelum aku berangkat. Tadi aku sempat menangis di depan beliau karena tidak tega harus meninggalkan beliau sepekan ke depan. Tapi beliau justru menggoda, "Ngapain nangis! Ibu nanti bakalan banyak jalan-jalan dan acara di luar kok!" Kata ibu menghapus air mata di pipiku.
Setelah perpisahan mengharu biru dengan ibu, aku pun berangkat. Diantar Sely tetanggaku, kebetulan ibu tidak bisa bawa mobil dan kami hanya mempunyai kendaraan satu yaitu mobil sehingga mau tidak mau jika perlu ada yang mengantar, kami minta tolong tetangga sebelah rumah yang bisa menyetir.
Kami berangkat menggunakan bus Hizi Corp. karena pergi beramai-ramai, selain Hizi untuk Indonesia, juga ada beberapa relawan yang direkrut Kaizan. Total sekitar sembilan belas orang berangkat ke Yogyakarta. Sebelum berangkat, kami melakukan upacara keberangkatan yang dipimpin oleh Pak Wayan langsung.
Di Yogyakarta, kami menyewa sebuah rumah, kami tidak menginap di hotel dengan tujuan agar lebih menyatu dengan masyarakat sekitar. Hizi Untuk Indonesia memang mirip seperti KKN atau kuliah kerja nyata saat mahasiswa. Bedanya, Hizi untuk Indonesia memiliki dana besar sehingga mampu membuat kegiatan kemasyarakatan yang besar pula manfaat dan dampaknya.
Sore hari, kami sampai rumah sewaan. Tim kami menyewa dua rumah besar yang jaraknya lumayan dekat. Dua rumah besar itu, yang satu kami jadikan basecamp. Jadi panitia inti atau panitia kecil, tinggal dalam satu rumah.
Hari pertama, Kaizan belum ikut, dia masih memiliki urusan mendesak di kantor yang harus diselesaikan. Rencananya dia akan menyusul di hari kedua. Jadi segala urusan di hari pertama menjadi tanggungjawabku. Agak ciut sih aku sebenarnya harus memimpin belasan orang, tapi sebelum berangkat tentunya Kaizan sudah mem-briefing-ku dan memotivasi sehingga aku cukup memiliki keberanian.
Untuk keperluan makan, kami sudah bekerjasama dengan katering setempat untuk mengirimkan nasi kotak di setiap jam makan. Jadi tidak pusing masak seperti ketika KKN.
Seperti biasa, aku sekamar dengan Siska dan Rindani. Memang hanya kami lah perempuan dalam panitia kecil. Jadi kami memilih satu kamar agar mudah berkoordinasi.
Kamar kami terdiri dari satu ranjang ukuran besar dan satu kasur ukuran single yang terletak di lantai. Begitu aku mengeluarkan isi tas, teman-temanku itu terkejut melihat barang bawaan ku yang banyak bukan main yang terdiri dari bahan makanan, minuman, makanan mentah, hingga makanan jadi.
"Waah dijamin nggak kelaperan nih kalau sekamar sama Bivi." Goda Siska. Kami tertawa bersama.
Sampai malam semua terkendali, hari pertama aku bertugas memastikan semua anggota tim mendapat tempat yang nyaman dan aman. Agar besok bisa mulai berkegiatan dengan baik. Agenda besok adalah prosesi pembukaan. Jika Kaizan belum datang hingga jadwal prosesi, maka aku yang akan menyampaikan sambutan.
Inilah salah satu tantangan ku. Aku terbiasa bicara di depan audience, tapi aku belum pernah berbicara di depan warga desa yang jumlahnya ratusan. Aku khawatir mereka tidak paham atau tidak mengerti yang aku maksud. Jadi sepanjang malam aku berdoa semoga Kaizan sudah datang sebelum prosesi pembukaan berlangsung.
Dan Allah mendengar doaku, Kaizan sudah datang selepas subuh. Dengan mengendarai mobil bersama salah satu sopir perusahaan. Saking senangnya melihat Kaizan datang, aku berlarian menyambutnya.
"Zan, Alhamdulillah aku senang banget kamu sudah datang." Kataku.
"Cieee." Teman-teman laki-laki yang kebetulan di ruang tamu rumah sewaan langsung menggodaku. Kaizan hanya tersenyum.
"Maksudku, aku tidak perlu memberi sambutan. Jujur, aku tidak siap berbicara di depan masyarakat." Kataku menjelaskan.
"Ooooh." Teman-temanku kompak ber-oh ria membuatku jadi kikuk dan segera kabur.
Pukul delapan semua tim sudah siap di tempat. Undangan yang terdiri pejabat setempat, tokoh masyarakat juga sudah hadir. Dan acara pertama kami di mulai.
Pembukaan itu, banyak sekali hadiahnya. Diantaranya adalah nama kegiatan kami, yaitu 'pasar bahagia' warga kurang mampu yang kami undang bebas berbelanja di warung yang sudah kami kontrak.
Inilah agenda pertama kami. Hingga sore, kami masih di lapangan tempat pasar bahagia berlangsung. Tidak lupa seluruh tempat acara penuh dengan atribut Hizi Corp. Memang tujuan kami adalah sosial dan promosi.
Hari ketiga, kami beralih ke desa sebelah. Menggelar acara yang sama. Tentunya antusiasme masyarakat sudah mulai besar karena mereka sudah tahu acara pertama kemarin. Menghadapi membludaknya masyarakat yang datang, bahkan warga yang tidak kami undang, kami sedikit hectik. Ada beberapa hal yang berjalan tidak sesuai rencana.
Dalam hal ini, aku bersyukur semua masih berjalan aman terkendali. Aku lihat, Kaizan juga menikmati acara meskipun aku tahu, jiwa perfeksionis nya pasti bergejolak.
Hari keempat kami melakukan kunjungan-kunjungan di berbagai panti jompo dan Pantia asuhan. Malamnya, kami menyiapkan berbagai macam paket bingkisan cinta yang terdiri dari sembako dan produk hizi bersama relawan.
Hari kelima kami pindah ke kecamatan lain. Mengadakan berbagai macam perlombaan rakyat seperti balap karung, makan kerupuk, panjat pinang dengan semua peserta mendapat hadiah paket bingkisan dan pemenang mendapat sejumlah uang yang cukup besar nilainya.
Malam hari keenam, Kaizan mengajak kami semua keluar dan berkumpul di salah satu angkringan di dekat rumah sewaan. Baru kali itu aku makan diangkringan, memesan kopi pahit karena hanya itu minuman yang disediakan dan nyemil tempe mendoan serta pisang goreng.
Hari keenam, kami penutupan bersama pejabat dan tokoh masyarakat setempat. Acara penutupan adalah hiburan dan pengajian. Tanpa kami undang, banyak sekali masyarakat yang hadir, termasuk banyak penjual makanan tradisional yang ikut buka lapak di sekitar tempat acara, menjadi seperti pasar malam dadakan.
Setelah acara penutupan, aku, Siska, dan Rindani berjalan-jalan mencari makanan yang enak dan unik. Aku memesan nasi liwet di salah satu lapak, Siska memesan sate kelinci, dan Rindani memesan gudeg berkuah. Kami makan di bawah pohon, dan menakjubkan rasanya enak sekali. Saat kami sedang makan, Kaizan lewat.
"Zan, kamu nggak pengen gabung kita?" Teriak Siska. Kaizan celingukan mencari sumber suara yang memanggilnya.
"Eh, kalian sedang apa di situ?" Kaizan berjalan mendekat kami. Dia memberikan kami pandangan yang aneh, mungkin karena melihat kami jongkok makan di bawah pohon. Anak Hizi lain mana ada yang seperti kami.
"Makan, bosen soalnya sama nasi kotak." Jawab Rindani santai, sambil menyiapkan gudeg kuah dengan nikmatnya.
Kaizan tersenyum, lalu menggeleng dan berlalu.
"Kaizan mana level makan di sini." Seloroh Siska.
Setelah selesai makan, kami memesan teh hangat di salah satu lapak. Tapi betapa kagetnya kami ketika yang datang adalah teh dalam plastik, aku belum pernah minum teh hangat dalam plastik, kalau es teh pernah.
Malamnya, kami bercengkrama di kamar lama sekali. Kami saling menceritakan keluarga dan hidup masing-masing. Pada saat itulah aku baru tahu, Siska masih bersaudara jauh dengan Kaizan.
"Jadi kalian sodaraan?" Tanya Rindani, rupanya dia juga baru tahu.
"Semacam kakeknya Kaizan itu punya saudara, lha itu kakek aku. Eh tapi jangan salah ya, aku masuk ke Hizi jalur rekruitmen, nggak kayak Bivi." Kata Siska sambil menggodaku. Kami semua tertawa.
"Eh terus gimana itu kabarnya tunangan Kaizan. Kamu tau dong, kan masih sodara?" Tanya Rindani, aku segera ikut memasang telinga baik-baik karena pertanyaan Rindani menarik.
"Eh dulu emang kamu diundang, Sis? Waktu lamaran." Tanyaku ikut nimbrung.
"Eh, diundang dong! Tapi aku nggak dateng sih." Jawab Siska.
"Yaah." Kataku dan Rindani kompak.
"Kayak apa tunangannya pun aku juga belum tahu, kata mamaku cantik banget keturunan Cina ya?" Entah kenapa ketika Siska memuji tunangan Kaizan, hatiku terasa teriris, ada perasaan tidak rela di sana. Sempurna sekali tunangan Kaizan, cantik, pintar, kaya raya. Membuatku semakin merasa menjadi angsa buruk rupa.
"Mereka dikenalkan apa pacaran sih?" Tanya Rindani.
"Dikenalkan lah, denger-denger sih, sih Avyne itu alim anaknya. Pemeluk nasrani yang taat. Hidupnya nggak main-main."
"Hah! Jadi mereka beda agama?" Tanyaku spontan.
"Kamu baru tahu?" Rindani malah bertanya balik, aku mengangguk. Kok bisa ya, Kaizan mau menikah beda agama. Dulu waktu aku lihat di medsos Kaizan, ibunya memakai hijab. Tentunya mereka penganut Islam yang taat, tapi kok bisa? Aku jadi bertanya-tanya.
"Eh meskipun beda agama, tapi kelihatan banget mereka saling cinta. Kamu lihat nggak di medsos si Ine?" Kalimat Siska terdengar sangat menyayat di hati. Bahkan demi mendengar itu, jantung berdetak lebih keras, aku dan Rindani menggeleng.
"Aku nggak tau media sosialnya." Jawabku loyo.
"Aku ikuti sih, tapi diprivasi yah, dan nggak diterima juga aku follow." Mendengar kata-kata Rindani, Siska dan Rindani tertawa, tapi aku tidak, hatiku terasa berat untuk tertawa, aku hanya pura-pura tertawa.
"Eh tapi kamu kok di accept sih, Sis? Kok Rinda enggak, emang tahu kamu sama Kaizan masih sodara?" Tanyaku mengalihkan perhatian agar tidak ketahuan aku pura-pura tertawa.
"Eh iya juga ya?" Tambah Rindani.
"Enggak tahu, aku di follow balik juga." Jawab Siska dengan nada sombong.
Siska dan Rindani terus membicarakan Kaizan. Dan aku, aku memilih izin untuk segera tidur dengan alasan pusing mengantuk. Tapi lagi-lagi, aku hanya pura-pura tidur, aku mendengar semuanya dari balik selimutku.
"Eh emang ayahnya Avyne punya saham juga di Hizi?" Tanya Rindani.
"Punya dong! Meskipun Pak Wayan CEO, tapi ada beberapa orang pemilik saham terbesar, salah satunya ayah dan ibu si Ine itu. Aku tahu ini dari mamaku juga." Jawab Siska.
"Waah ada peluang Kaizan CEO masa depan dong ya."
"Iya banget."
CEO masa depan? Kaizan sangat memiliki kemampuan untuk itu, ditunjuang dengan hubungan dekatnya dengan Pak Wayan dan hubungan dengan Avyne, pasti jalannya sangat mulus menjadi pimpinan masa depan Hizi Corp. Dengan begitu semakin terbentang jauh mimpiku bersanding dengannya. Hah? Memangnya aku berani bermimpi seperti itu?
Ketika Rindani dan Siska sudah berhenti bercerita, mungkin mereka lelah, dan mereka sudah larut dalam dengkuran, pikiranku masih melalang buana.
Mengapa aku menyukai Kaizan dengan hati. Aku tahu banyak perempuan yang menyukainya, tapi pasti sekedar kagum, tapi yang kurasakan tidak sekedar kagum. Aku sakit hati mendengar kabarnya dengan orang lain, ada perasaan tidak rela. Diam-diam, aku merindukannya ketika kami lama tak bertemu, dan aku selalu kagum akan segala tindak tanduknya. Satu lagi, ketika ada Kaizan, aku merasa nyaman dan semua akan berjalan dengan baik.
Ya Allah, aku tidak atau belum pernah benar-benar suka dengan orang. Tapi mengapa sekalinya Kau buat aku suka dengan orang, orang itu harus Yang sesempurna Kaizan. Aku seperti sedang berhalusinasi ketima mengharapkannya.
Karena lama tidak bisa tidur, akhirnya aku memutuskan keluar kamar. Ketika aku baru membuka pintu kamar, tatapan Kaizan langsung menyambutku. Ia menoleh ketika aku membuka pintu kamar. Rupanya Kaizan sedang mengerjakan sesuatu di ruang tengah, ia duduk bersila di karpet dengan menghadap laptopnya di meja.
"Belum tidur? Belum ngantuk?" Tanya Kaizan. Aku menggeleng.
"Enggak bisa tidur, mau bikin mie instan." Jawabku asal. Padahal saat di kamar hendak keluar, aku tidak ada niatan bikin mie instan.
"Kamu punya berapa mie instan?" Tanya Kaizan.
"Ada banyak, ibu bawain banyak. Mau?" Tanyaku.
"Mau. Bikinin ya?" Jawabnya, aku mengangguk. Aku berjalan kembali untuk mengambil dua cup mie instan dan berjalan ke dapur untuk memasak air.
Tidak sampai sepuluh menit mie itu siap. Segera kubawa ke ruang tengah tempat Kaizan masih duduk kusyu menghadap laptop.
"Ini." Kataku sambil menyerahkan cup mie kepada Kaizan. Aroma mie instan menguat dari asapnya yang sedap. Aroma ini sangat kurindukan karena aku hanya diperbolehkan ibu makan mie instan cup ketika sedang bepergian.
"Makasih ya." Kaizan tersenyum menerima cup mie itu.
Kami makan berdua, sejenak Kaizan menggeser laptopnya agar bisa leluasa makan.
"Kok kamu prepare banget sih bawa mie juga?"
"Ibuku yang siapin. Aku sebenarnya malas, tapi aku tidak bisa menolak ibu."
Ketika mendengarku berkata begitu, Kaizan otomatis menoleh. Dia menatapku sedikit lebih lama, entah karena apa. Sejurus kemudian, dia mengalihkan pembicaraan.
Kami berbicara hingga mie dalam cup itu tersisa hanya kuahnya yang sebenarnya ingin kuseruput seperti yang dilakukan Kaizan, tapi karena di hadapanku ada Kaizan, aku malu.
Pukul setengah dua belas, aku izin masuk kamar. Aku tidak boleh berduaan dengan tunangan orang lain berlama-lama, nanti bisa semakin parah perasaan ku. Meskipun begitu, aku tetap lega bisa makan mie instan berdua dengan Kaizan.
Untuk kali ini, aku sangat bersyukur aku menurut nasehat ibu untuk membawa mie instan. Aku jadi memiliki alasan untuk makan mie berdua dengan Kaizan.