#46 Balada Mie Instan Cup

1409 Kata
Hari terakhir di Yogyakarta, sudah tidak ada agenda kerja. Kami hari ini murni akan pendinginan otak alias rekreasi. Setelah packing semua barang dan memasukkannya ke atas pick up. Kami pun meluncur ke pantai Parangtritis. Saat itulah, mulai dari perjalanan ke pantai, saat di pantai, hingga perjalanan pulang, pertama kali kurasakan keakraban diantara kami, tim Hizi untuk Indonesi. Terutama tim panitia inti. Kami benar-benar berteman bebas, membahas apa saja, bermain lepas, tanpa ada beban, pikiran, dan pembicaraan tentang pekerjaan. Pukul empat sore, kami sudah perjalanan pulang. Saat itu, rasanya menggelora sekali perjalanan pulang. Aku segera mengirim pesan kepada ibu, agar ibu bersiap-siap meminta Sely tetangga kami untuk menjemputmu di kantor. Ibu bersorak senang sekali. Aah ibu, ibu mungkin sudah sangat merindukanku. Pukul setengah sepuluh, mobil yang kami tumpangi menepi di halaman kantor Hizi Corp. Begitu turun dari mobil, aku sudah melihat ibuku. Aku langsung berlarian menuju ibu tanpa menghiraukan barang bawaan ku yang masih di mobil. Kupeluk ibu erat-erat seperti anak SD baru pulang berkemah. Ibu juga membalas pelukanku dengan erat. "Ibu sama Sely?" Tanyaku begitu ibu melepas pelukannya, ibu mengangguk. Baru kusadari, ibu mengusap pipinya menghapy air mata, ibuku menangis. "Ah ibu, jangan menangis." Tambahku sambil mengusap air mata di pipi ibu. Ibu menggeleng. "Ibu hanya terharu." Kata ibu, "ayo cepat ambil barang bawaan kamu, sudah malam." Tambah beliau. Aku segera kembali ke mobil elf yang kami tumpangi tadi, menuju bagasi untuk mengambil ransel dan tas jinjing besarku. Temanku rata-rata hanya membawa satu tas. Aku membawa tiga tas, tas ransel berisi laptop dan baju, tas jinjing berisi berbagai makanan, dan tas selempang kecil, yang biasa kubawa kemana-mana. "Ibu, aku berangkat dengan tas penuh makanan, aku pulang juga membawa banyak oleh-oleh." Kataku. Aku yang menyetir mobil, Sely duduk di bangku belakang bersama ibu yang menemaninya. Kami sampai rumah pukul sepuluh, kami berterimakasih pada Sely dan memberinya beberapa bungkus bakpia jogja dan kue yangko mochi. Aku sengaja membeli oleh-oleh lumayan banyak, agar ibu bisa membagikannya kepada teman-teman beliau di pengajian. Seperti jugaanku, ibu senang sekali melihat oleh-oleh itu, dan sudah mendaftar siapa saja yang akan diberi. "Ibu bikinkan coklat hangat mau? Kamu kelihatan kedinginan." Tanya ibu, tapi belum sampai kujawab, beliau sudah langsung berjalan menuju dapur. Hari sudah malam, tapi aku masih ingin mengobrol dengan ibu, jadi kami masih berlama-lama di meja makan untuk mencicipi bakpis kha Yogyakarta dan coklat hangat bikinan ibu. "Bagaimana pekerjaan kamu? Lancar?" Tanya ibu. "Bakpianya paling enak yang isinya kacang hijau kupas ya, yang coklat dan keju ibu kurang suka." Tambah beliau tiba-tiba. "Lancar, Bu. Bukan seperti sedang bekerja, tapi seperti sedang rekreasi. Bivi menikmati sekali." "Syukurlah, ibu senang mendengarnya." "Bu, terimakasih ya sudah mempersiapkan macan-macam hal untuk kubawa kemarin." Kataku, ibu mengernyitkan dahi mendengarku berkata demikian. "Tumben kamu bilang begitu, biasanya kan kamu banyak protes. Yang bawaan berat lah, yang nggak kemakan lah, yang malu sama teman-teman lah." Ledek ibu. "Iya, karena kemarin bermanfaat sekali, Bu. Terutama mie instan cupnya." "Sebermanfaat itu?" Ibu semakin heran dengan pernyataan ku. Aku mengangguk. "Dengan mie instan itu, aku jadi memiliki alasan makan berdua saja dengan Kaizan." Kataku berhati-hati sambil melihat respon ibu. Dan yang kutemukan dari raut muka ibu adalah sebuah ketidaksetujuan. "Bivi makan berdua dengan Kaizan?" Tanya ibu. "Iya." Jawabku sambil mengangguk. "Kami hanya makan, Bu. Itupun di ruang tengah rumah sewaan." Aku mencoba membela diri. "Bukan masalah itu. Bivi tahu kan dia sudah mempunyai tunangan?" "Iya, tapi Bivi tidak bermaksud apa-apa, tidak bermaksud menggoda atau merebut dia dari tunangannya. Kami murni hanya makan." "Apakah Bivi masih mengharapkan Kaizan?' Tanya ibu, kali ini aku hanya bisa terdiam. Dalam hati, memang aku masih mengharapkan Kaizan diam-diam. "Dari keterdiaman kamu, ibu sudah bisa menyimpulkan. Ada sesuatu di hati kamu untuk Kaizan. Ibu tahu, segala sesuatu bisa saja terjadi, tapi kemungkinan nya kecil. Dan hati kamu, kalau tidak dijaga, bisa patah hati berkeping-keping, itu kemungkinannya lebih besar. Maaf, Sayang. Bukan ibu ingin mematikan harapan kamu. Tapi ibu hanya khawatir, kamu akan sakit di belakang. Perasaan tidak bisa kamu kontrol, tapi tindakan yang akan kamu lakukan ketika memiliki perasa itu adalah murni keputusan kamu. Ibu tahu, Biv. Sulit bagi kamu menyukai seseorang. Tapi ibu yakin, Allah memiliki rencana luar biasa indah di balik ini semua. Jangan bermain-main dengan perasaan, Sayang. Itu sangat menyakitkan." Ibu menatapku dengan tatapan sedalam samudra, benar-benar dalam. Tak terasa air mataku menetes dibuatnya. Semua yang dikatakan ibu adalah kebenaran, aku tidak bisa menyangkalnya. "Maafkan Bivi, Bu, berulang kali ibu menasehati tapi Bivi tetap bandel. Bivi juga bingung dengan perasaan ini." Aku berkata seperti itu sambil menangis. Ibu berdiri mendekatiku, duduk di sampingku, merangkul lenganku dan mengelus pundakku. "Tidak apa-apa, begitulah perasaan. Kita nikmati saja naik turun gelombang nya. Jika saat ini kamu berjuang menjaga hatimu, nikmati saja dengan sabar. Suatu saat kamu akan memanen bunga-bunga indah dari kesabaran yang kamu tanam, percayalah." "Iya, ibu benar. Bivi akan lebih hati-hati lagi." Jawabku. "Yasudah, sekarang sudah malam, tidur yuk." Ajak ibu, aku mengangguk. Ibu merapikan gelas-gelas bekas coklat ke tempat cuci dan sisa bakpia dalam kotak ke dalam kulkas. Ibu izin ke kamar dulu, dan aku masih belum beranjak dari tempat aku duduk. Kepalaku dipenuhi banyak hal, salah satunya, aku malu pada ibu. Ibu sudah berulangkali menasehati ku agar menjaga hati dari Kaizan. Sudah jelas-jelas Kaizan sudah ada yang memiliki. Apakah aku mau merusak hubungan mereka? Memang siapa aku? Aku berjalan ke kamar dengan masih membawa banyak pertanyaan. Mencuci muka, gosok gigi, dan berganti baju, hingga merebahkan diri di kasur dan menarik selimut masih dengan pertanyaan-pertanyaan di kepala. Jam dinding menunjukkan angka sebelah lebih tiga puluh. Tapi aku belum mengantuk. Selain karena tadi di perjalanan aku sempat tertidur di mobil, aku masih kepikiran percakapan dengan ibu. Akhirnya aku memutuskan membuka handphone. Membuka media sosial, mencari nama Avyne Valerie. Itulah nama tunangan Kaizan. Benar kata Rindani, akun media sosial perempuan itu di kunci, tapi bisa kulihat, ia begitu banyak yang mengikuti. Dari foto profilnya yang close-up, kulihat dia perempuan yang cantik dan pintar. Aku berpikir, aku follow atau tidak ya. Ah kenapa aku harus mem-follow, tapi di sisi lain aku juga penasaran. Akhirnya, aku follow juga. Tapi nanti kalau tidak di accept bagaimana? Ah bodo amat, dia juga tidak kenal aku. Tapi begitu terkejutnya aku, tidak sampai lima menit, Avyne menerima permintaan mengikuti ku. Sekarang aku bisa membuka media sosialnya dan melihat semua foto-fotonya. Sejenak aku berpikir, mengapa Rindani tidak di accept? Ah mungkin kelewatan. Dengan rasa penasaran, aku pun terus meng-scroll ke bawah, melihat foto-foto Avyne tunangan Kaizan. Sebagian besar feed media sosial nya berisi kegiatan nya melakukan berbagai kegiatan sosial, kuliah, dan kebersamaan dengan teman-temannya. Tidak ada yang sendiri. Evyne perempuan yang sopan dalam berpakaian, terlihat dia tidak pernah memakai pakaian di atas lutut. Bahkan dia seperti tidak pernah mem-posting foto dirinya menggunakan baju dengan lengan di atas siku. Hampir semua bajunya lengan panjang. Padahal dia kuliah di Sydney yang tentunya kental dengan budaya barat. Dari media sosialnya bisa kulihat, Avyne bukan gadis sembarangan. Tapi entah mengetahui kenyataan semua kelebihan perempuan itu membuat hatiku teriris-iris. Aku semakin terlihat seperti kurcaci di banding dia. Kaizan pantas mendapatkannya, mereka berdua serasi. Hufttt...kututup handphone ku, aku haru saja berjanji pada ibu untuk menjaga hati mengapa aku stalking media sosial perempuan itu, bukan kah hanya akan menambah sakit hati. Tapi aku terlanjur mem-follow, setelah ini aku pasti bisa melihat setiap dia update apapun. Duh, aku menyesali kebodohanku. Aku coba mengalihkan pikiran, tapi pikiranku kembali kesana karena banyak pertanyaan yang berkeliaran dan belum menemukan jawabannya. Salah satunya adalah mengapa Kaizan dan Avyne kompak tidak mempublish status mereka. Mengapa mereka menyembunyikannya? Aku terdiam berpikir segala kemungkinan, apakah mereka belum yakin dengan hubungan yang mereka jalani? Apakah mereka terpaksa menjalani hubungan? Bukankah kata Siska mereka dikenalkan? Atau jangan-jangan mereka tidak mencintai satu sama lain? Hus...huss..huss...kupukul kepalaku sendiri atas pikiran konyol ini. Ya Allah, sulit sekali menjaga hati dan pikiran ini. Aku menarik selimut dan menenggelamkan seluruh tubuhku di bawahnya, berharap segera terlelap namun tak kunjung mengantuk juga. Begitu aku hendak tertidur, handphone di sebelah tanganku justru bergetar. Pesan dari Alana. Aku sudah memberi tahu klienku jika aku cuti satu pekan, rupanya Alana tahu, lusa aku sudah masuk kantor lagi. "Hallo, Biv. Maaf meganggu istirahat mu malam ini. Aku ingin membuat jadwal bertemu denganmu, semoga hari Senin aku menjadi yang pertama bisa bertemu denganmu. Tolong balas ketika kamu sudah bangun ya." Pukul dua belas, ku tutup lagi pesan Alana karena sudah sangat malam. Kumatikan handphone ku, dan kutaruh di meja sisi ranjang. Kupaksa mataku untuk merem, tidak peduli ngantuk atau tidak, nanti pasti ketiduran sendiri, pikirku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN