Sebagai balas dendam setelah sepekan kutinggal sendiri di rumah. Minggu kemarin, ibu benar-benar melarang ku keluar rumah. Beliau ingin quality time denganku katanya. Tapi tidak dilarang pun, aku memang tak ingin kemana-mana.
Sejak bangun, kami pergi jogging berdua di lapangan dekat rumah, selepas itu kami makan nasi pecel di penjual dalam mobil pick up di pinggir lapangan juga. Untuk makan dua porsi nasi pecel lauk tempe tahu dan rempeyek bersanding dengan dua teh manis hangat, kami hanya menghabiskan dua puluh ribu.
Selepas itu, aku membantu ibu merawat tanaman beliau. Mencabuti rumput, menyemprot anti jamur, menyiram, bahkan mengelap daun-daun. Lumayan melelahkan karena tanaman ibu jumlahnya sangat banyak.
Setelah itu kami mandi dan bersiap masak bersama di dapur. Ibu mengajakku memasak steik. Kebetulan kami punya simpanan daging di freezer. Tentu saja bagianku adalah mengupas bawang dan mengiris-iris apapun yang butuh diiris. Sisanya aku hanya melihat ibu memasak.
Selesai masak, kami makan bersama. Semua yang kami masak siang itu, langsung kami habiskan semua, hingga perut kami penuh. Kami lanjut tidur siang. Sorenya, ibu mengajakku ke rumah tetangga-tetangga kami untuk mengantar oleh-oleh yang kemarin aku bawa.
Malam hari, kami malas keluar dan enggan masak, akhirnya kami pesan makan malam lewat ojek online. Ibu memintaku memesankan bakmi Jawa, tidak lupa di tambah beli martabak manis dan telor serta wedang ronde. Seperti biasa, kami makan di teras rumah. Semakin syahdu kemudian ketika perlahan gerimis rintik-rintik turun dari langit.
Dan sekarang, pagi-pagi di hari Senin, suasana masih gerimis, aku sudah di kantor. Aku ada janji dengan Ala pukul setengah sembilan. Sebenarnya dia meminta pukul delapan, tapi aku tidak Aku tidak mau, Aku tidak pernah menerima klien pukul delapan, apalagi sesudah cuti selama satu pekan. Banyak yang perlu ku persiapkan, ruanganku perlu kutata, dan aku tidak suka terburu-buru.
Aku tahu alasan Ala meminta pukul delapan karena dia ingin lebih berlama-lama mengobrol denganku, pukul sepuluh dia harus sudah di sekolah Kavya untuk menjemput putri kecilnya itu. Jika sesi dimulai pukul setengah sembilan berarti dia hanya punya waktu satu setengah jam berbicara denganku. Tapi menurutku, satu setengah jam pun juga sudah cukup.
Pukul delapan lebih seperempat, Laila sudah menghubungiku klienku itu sudah datang, tapi tentu saja tetap aku suruh menunggu sesuai jadwal.
Benar, ruanganku kotor sekali. Aku datang di kantor pukul setengah delapan hingga pukul delapan aku masih berkutat menata ini dan itu. Kesalahanku kemarin, aku tidak meninggalkan kantor dalam keadaan bersih dan rapi.
Tepat pukul setengah sembilan kurang lima, aku siap. Aku segera menghubungi Laila melalui telepon kabel untuk menyuruh Alana masuk.
Ala masuk dengan anggun seperti biasa, dia selalu berjalan seperti sedang berada di catwalk. Hari ini dia memakai dress bercorak abstrak panjang yang membuatnya terlihat lebih anggun lagi. Bagian perut ia pasang belt yang besar dan cantik membuat telihat lebih langsing.
"Hai Biv, apakah aku terkesan membuatmu buru-buru?" Tanya Ala begitu masuk ruanganku.
"Kau selalu begitu, kan?" Kataku sambil tertawa, Ala juga.
"Apakah kita akan konseling intensif hari ini?" Tanya Alana lagi.
"Tergantung."
"Tergantung apa?"
"Jika kamu bisa maka kita lanjut, tapi akan membutuhkan waktu lebih lama. Ghulam saja kemarin sebenarnya belum selesai." Jawabku santai.
"Ghulam mengeluhkan tentang pertanyaan-pertanyaan yang katanya tidak ada hubungan dengan masalah kami."
Aku tersenyum mendengar perkataan Ala. Memang rata-rata klien yang sampai pada tahap konseling intensif sering berpikir seperti itu, jadi aku tidak kaget.
"Aku hanya sedang mencari akar dari masalah rumah tangga yang kalian hadapi."
"Ya, aku paham itu, Biv. Maafkan suamiku jika kemarin dia tidak sopan."
"Aku benar-benar tidak masalah dengan itu." Kataku.
"Kamu menemukan apa dari segala pengalaman masa lalu Ghulam?" Tanya Ala.
"Itu nanti saja, Ala. Semua masih teka-teki, aku butuh lebih banyak data."
"Oke, sekarang giliran ku." Tanya Ala. Aku mengangguk, "baik aku siap." Tambahnya.
"Ala ceritakan bagaimana masa kecilmu?"
"Emm...Seperti anak-anak kecil yang lain pada umumnya. Sekolah, bermain, bertengkar, makan, tidur." Jawab Ala.
"Tidak ada yang berkesan dari masa kecilmu?"
"Aku kira tidak, Biv."
"Lalu bagaimana orangtua mendidikmu?"
"Mereka sangat memanjakan aku, Biv. Aku anak perempuan satu-satunya. Aku bertiga dengan kakak-kakak laki-lakiku. Mereka semua menyayaangiku, mereka semua menjagaku jika ada anak lain usil denganku, besoknya anak itu pasti tidak masuk sekolah karena mendapat pelajaran dari kakakku.
Aku tidak meminta begitu, Biv. Tapi begitulah mereka memperlakukanku. Sehingga pernah, dulu aku ada masalah dengan Ghulam. Kedua kakakku meneror Ghulam." Alana menutup perkataan nya dengan tawa kecil.
"Ohya? Apa yang mereka lakukan?" Tanyaku.
"Mereka datang ke sekolah, mencari Ghulam dan bertanya-tanya kepada semua temanku, Ghulam ketakutan bersembunyi di kamar mandi. Waktu itu aku kasihan sekali dengan Ghulam. Aku bela dia." Alana tertawa mengenang itu.
"Apa perasaanmu waktu itu?" Tanyaku tanpa menanggapi tertawaan Alana.
"Aku sedih, Biv. Aku menangis ketakutan dan khawatir pada Ghulam. Aku memarahi kakak-kakakku. Tapi aku beruntung, Biv. Mereka semua menyayangiku."
"Iya, Al. Kamu sangat beruntung." Jawabku.
"Tapi itu dulu, Biv. Sekarang semua berubah, kakak-kakakku sudah sibuk dengan keluarga mereka, aku tidak enak sedikit-sedikit bercerita kepada bapak ibuku. Mereka sering berpikir berlebihan tentangku. Tinggal aku dan Ghulam bersama masalah-masalah kami."
"Apakah orangtuamu sering mencampuri urusan rumah tangga kalian?"
"Tidak, Biv. Mereka mungkin lelah karena aku selalu mengatakan semua baik-baik saja. Ada atau tidak masalah dalam pernikahan kami. Aku tidak mau membuat mereka kepikiran. Seperti kemarin itu, selain itu, mereka akan menyalahkan Ghulam dan membelaku, tanpa melihat siapa yang salah."
Sejauh ini, aku tidak menemukan hal janggal dalam masa lalu Alana. Dia hidup lurus dan banyak mendapatkan cinta. Tapi terkadang justru cinta yang dia dapatkan berlebihan. Mungkin ini hal yang menantang bagi Ghulam harus memiliki keluarga besar seperti keluarga Ala. Akhirnya aku memutuskan untuk menggali informasi tentang Ghulam dari Ala.
"Ohya, Ala. Aku ingin tanya sedikit pendapatmu tentang hubungan Ghulam dengan orangtuanya."
"Orangtua Ghulam sudah tidak lengkap, Biv. Ayahnya sudah menikah lagi ketika dia masih muda. Dan dia tida menyukai ayahnya. Kami tidak pernah mengunjunginya, bahkan mereka tidak mengenal Kavya.
Aku sering mencoba menghubungi Pak Sadetil, ayah Ghulam untuk menjalin silaturahmi tapi Ghulam memarahiku. Akhirnya, daripada kami ada masalah, aku lebih memilih menuruti maunya.
Tapi menurutku, Kavya perlu mengenal kakeknya. Setiap orang bisa berubah, siapa tahu, jika dulu pernah memperlakukan kita dengan buruk, siapa tahu sekarang sudah berubah. Iya kan, Biv?"
"Maaf, Al. Aku kira salah satu hal yang membuat ketidaksamaan dalam hidup Ghulam adalah belum adanya penerimaan terhadap masa lalunya. Dia masih menyimpan dendam."
"Iya, aku sering berpikir begitu. Tapi kembali lagi, Biv. Aku enggan membahas itu karena kami akan bertengkar setelahnya. Tanpa membahas itu saja kami sudah sering bertengkar, apalagi ditambah membahas itu, akan dobel pertengkaran kami."
"Boleh kah aku meminta alamat atau kontak orangtua Ghulam?" Tanyaku. Aku belum berpikir kapan atau bagaimana caraku menemui mereka, tapi aku yakin suatu saat akan butuh itu.
Ala tampak diam sebentar, sepertinya sedang berpikir untuk memberikannya padaku.
"Apakah kamu keberatan?" Tanyaku. Ala menggeleng.
"Bukan, Biv. Bukan begitu maksudku, hanya kami tidak pernah melibatkan orangtua dalam masalah kami."
"Bagaimana kalau mereka bisa membantu kalian?"
"Apa itu mungkin?"
"Segala kemungkinan bisa saja terjadi, Ala. Tugas kita berusaha membuka segala pintu jalan keluar, bukan?" Kataku, Ala mengangguk, tapi raut mukanya masih ragu. "Tidak apa-apa jika kamu masih ragu, aku tidak memaksa. Tapi aku berharap, kamu bisa menghubungkan ku dengan orangtua Ghulam, terutama ayahnya." Tambahku lagi.
"Iya, Biv. Tunggu aku siap ya." Jawab Alana.
"Baiklah, izinkan aku bertanya hal lain. Apakah sampai sekarang orangtuamu belum menerima Ghulam dengan tulus sebagai menantu? Maaf untuk pertanyaan ini."
"Kamu benar, Biv. Mereka menerima Ghulam sebagai suamiku karena agar melihatku bahagia. Mereka belum menerima Ghulam dengan tangan terbuka. Jadi, ketika ada masalah denganku, mereka akan cenderung menyerang Ghulam.
Aku juga heran mengapa begitu cara mereka mencintaiku. Seperti terlalu overprotektif. Itulah kenapa aku sempat tak direstui menikah dengan Ghulam. Tapi aku selalu meyakinkan mereka, aku bahagia bersama Ghulam. Dan aku, ingin membuktikan perkataanku benar, Biv."
"Kamu pasti bisa membuktikannya. Kalian akan menemukan jalan keluar dari segala kebuntuan ini."
"Aku sangat percaya itu, Biv. Aku tidak mungkin bertahan dan berjuang hingga sekarang jika aku tidak percaya itu."
"Ohya, aku ingin tanya satu hal lagi. Apakah Ghulam sudah bekerja sekarang?" Tanyaku. Ala terdiam, dia mengalihkan pandangannya menuju jendela kaca dan menerawang keluar.
"Belum, Biv. Seribu kali kuminta dia membantu Bisnisku, dia tak pernah mau. Kutawari lowongan-lowongan pekerjaan, tidak pernah ada yang cocok. Dia masih memiliki tabungan dan kuberi saran untuk membuka usaha, dia setuju tapi sampai sekarang masih bingung dan belum kunjung memulai apapun.
Dia seharian hanya mengurusi hobinya, mengasuh burung-burung peliharaan, mencuci mobil, bermain bersama Kavyay. Itu saja. Aku sih tidak masalah jika satu-satunya pemasukan rumah kami hanya berasal dariku. Tapi aku tak mau melihatnya seperti tidak mempunyai daya dan semangat."
"Iya, itu bisa menimbulkan tekanan yang lain, yang memperbesar masalah kalian. Saranku, Ghulam memang harus bekerja, entah memulai usaha atau apapun."
"Jadi apa yang harus aku lakukan, Biv?" Tanya Ala.
"Dorong dia tanpa membuatnya merasa sedang didorong."
"Itu yang sulit, Biv. Kami selalu membahas itu dengan petengkaran karena aku lelah menyarankan, tidak pernah dianggap."
"Dia juga lelah diarahkan. Laki-laki akan jatuh harga dirinya jika terlalu sering diarahkan perempuan."
"Tapi dia seperti tidak ada ide untuk pekerjaan, aku merasa harus mengarahkan."
"Itu yang harus kamu tahan, Ala."
"Kamu benar, Biv. Aku harus belajar lagi untuk itu. Maaf, Biv. Sudah hampir pukul sepuluh, aku khawatir Kavya menunggu terlalu lama. Bisakah kita lanjutkan sisi konseling ini di lain waktu."
Aku mengangguk menyetujui permintaan Alana. Sejenak kemudian, dia pamit meninggalkan ruang kerjaku. Dari percakapanku dengan Alana pagi ini, aku bisa mengambil sedikit kesimpulan baru. Tekanan dari keluarga Alana membuat Ghulam merasa terpojok. Pantaslah kemarin dia sangat berat saat hendak menjemput Ala dan Kavya di rumah mertuanya. Ghulam sudah menyimpan traumatis tentang keluarga Alana sejak lama.
Ghulam..Ghulam betapa memprihatinkan nya hidupmu.