Aku masih di kantor hingga sore. Banyak sekali pekerjaan yang tertumpuk akibat cuti selama sepekan kemarin. Zahra, seperti biasa, selalu berbaik hati menemaniku. Sore ini yang harus kuselesaikan adalah laporan presentasi yang berisi interpretasi dari psikotes beberapa klien usia sekolah.
Sebenarnya biasanya, usia sekolah ini bagian Zahra. Tapi karena kemarin Zahra sangat penuh dan over slot, Pak Ruslam meminta dilimpahkan padaku. Dan sekarang, ujung-ujungnya Zahra juga yang membantuku.
"Besok kalau aku punya anak, anakku bakalan aku kasih tau, mamanya punya sahabat yang baik banget. Mau repot-repot lembur buat bantuin pekerjaan yang belum kelar." Kataku di sela-sela mengetik di laptop.
"Uuu….manis sekali." Kata Zahra menanggapiku, masih sambil sibuk mencemili keripik tempe, salah satu oleh-oleh ku dari Yogyakarta kemarin.
"Eh, Ra. Aku butuh pertimbangan kamu nih." Tanyaku lagi, aku sengaja terus mengajak Zahra mengobrol agar tidak bosan.
"Iya, tentang apa?"
"Klien aku." Aku masih sambil terus mengetik.
"Alana dan Ghulam?"
"Kok kamu tahu?"
"Itu kan yang paling fenomenal di lembaga ini."
"Masak sih, orang-orang kantor beranggapan begitu juga?"
"Iyalah..sejak Alana menitipkan anak mereka kepada konselor, bertengkar heboh di ruang konseling, sampai kasus nggak kelar-kelar. Semua kenal, Biv. Mereka paling intens hubungi kamu."
"Tapi kamu salut nggak sama perjuangan mereka buat pertahankan rumah tangga."
"Itu sih yang keren, mereka tetap berjuang meskipun kamu sendiri pun tidak tahu kan, bagaimana ujung dari kasus ini? Padahal mereka dah habis banyak lho." Zahra menutup kalimatnya dengan mengeringkan sebelah matanya padaku, dia bermaksud menggoda karena memang bayaran Ala di lembaga adalah tinggi sekali. Sehingga otomatis persenan masuk dalam hajiku juga tinggi. Aku hanya tertawa. "Eh mau minta pertimbangan apa tadi?" Tambah Zahra, kami tertawa karena sama-sama lupa esensi dari pertanyaanku.
"Aku perlu nggak memperdalami kasus ini sampai ke orangtua mereka. Aku mencurigai Ghulam terjebak inner child. Dia memiliki luka masa lalu yang belum selesai."
"Perlu sih, kalau indikasinya seperti itu."
"Tapi masalahnya, mereka belum deal untuk melibatkan orangtua dalam masalah ini. Sepertinya Ghulam sangat membenci ayahnya dan tak mau berhubungan lagi."
"Berarti mereka harus disadarkan."
"Nah, itu PR sekali.
Aku melirik jam di layar laptop, sudah menunjukkan pukul lima sore. Sepertinya harus kucukupkan lembur sore ini, dan harus kubawa pulang saja. Tidak enak dengan Zahra menunggu terlalu lama.
***
"Biv aku sudah memikirkan untuk memberikan kontak ayah mertuaku padamu." Kata Ala dalam percakapan kami lewat telepon.
"Okay, aku tunggu ya." Jawabku. Dalam hati aku bersyukur tak perlu menghabiskan waktu menjelaskan kepada mereka, pentingnya pendapat ayah Ghulam. "Ngomong-ngomong, kenapa kamu jadi berubah pikiran?"
"Tadi sore kami bertengkar lagi." Suara Ala terdengar menghela nafas dari seberang telepon.
"Untuk masalah apa?" Tanyaku. Jujur aku tidak kaget dengan pengakuan Alana, mereka sudah biasa bertengkar.
"Seperti yang kamu katakan, aku harus mendorong Ghulam bekerja. Ghulam butuh itu. Aku bermaksud memotivasinya, aku memintanya mendaftar kelas bisnis. Padahal niatku agar diabtermotivasi, Biv. Tapi dia mungki salah persepsi, dia marah-marah tidak jelas, memakiku dan berkata buruk tentang ku."
"Apa yang dia katakan?"
"Tolong jangan memaksaku melakukan hal yang aku tidak suka." Ala menirukan suara Ghulam dengan nada marah yang dibuat-buat. "Aku bilang, Biv." Kata Ala lagi meneruskan ceritanya, "aku hanya ingin kamu memiliki semangat lagi berkarya." Tambah Ala.
"Aku tidak kehilangan semangatku. Aku hanya butuh waktu. Nada suaranya meninggi Biv mengatakan itu. Oke, aku minta maaf, kataku. Tapi dia justru bilang, atau kamu merasa hebat karena sudah punya bisnis yang berkembang?
Jujur, Biv. Sakit hatiku dibilang begitu, padahal niatku tulus menolong suamiku. Aku aku acuh kan saja dia, tidak usah kupedulikan. Aku juga ingin melihatnya bahagia. Aku kasihan dia seperti tidak punya daya. Terutama ketika harus bertemu orang lain, dia jadi seperti minder.
Kami saling berbantahan dan akhirnya aku berlarian ke kamar dan membanting pintuku dan menguncinya rapat hingga saat ini."
Aku diam, mencerna setiap kalimat yang diceritakan Ala. Aku seperti paham bagaimana maksud Ala dan bagaimana perasaan Ghulam menghadapi itu.
"Apakah aku salah, Biv?" Tanya Ala lagi.
"Tidak sepenuhnya salah, dan tidak pula sepenuhnya benar."
"Itulah mengapa aku kemarin mengatakan padamu mengapa harus sangat berhati-hati membahas masalah ini di hadapan Ghulam. Ini sangat sensitif, salah sedikit bisa membuat jiwa Ghulam sebagai laki-laki terguncang.
"Lalu bagaimana lagi caranya, Biv?"
"Laki-laki terkadang tidak mau ditolong oleh siapapun, dia ingin membuktikan kepada orang lain bahwa dia berdaya menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan tangannya sendiri, bukan orang lain sekalipun itu istrinya."
"Jadi, aku harus membiarkannya saja?"
"Untuk sementara ini, menururutku iya."
"Oke, baiklah Biv. Aku akan meminta maaf. Terimakasih banyak, maaf sudah menganggumu malam-malam begini."
Begitu kututup telepon dari Ala, suara ibu dari meja makan memanggilku. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, waktunya makan malam.
Ibu sudah siap di kursi beliau, di depannya juga sudah tersaji berbagai macam makanan. Ada sepiring capcay, fuyunghuy, kwetiau goreng dan kerupuk udang. Luar biasa, seperti restoran China pindah ke rumah.
***
Pagi tadi Ghulam menelpon hendak bertemu, aku terlanjur meng-iyakan, tapi aku lupa jadwalku hari ini sudah penuh. Jadi sebagai permintaan maaf, aku menawarinya bertemu di luar jam kerja. Dan ternyata dia mau.
Jadilah sore ini, setelah pulang kantor, aku sudah duduk manis di orange cafe. Lagi-lagi di cafe ini karena memang paling banyak kelebihanannya, selain dekat dari kantor dan searah jalan pulang, cafe ini banyak pilihan menu, cemilan enak, tentunya murah meriah. Kondisi cafe juga tidak terlalu ramai, jadi lebih tenang untuk sebuah sesi konseling.
Sekarang pukul empat sore, maksimal dua jam kami akan melakukan sesi konseling di cafe. Sebenarnya ini kurang ideal, jika ketahuan Pak Ruslam, aku pasti kena tegur, tapi bagiku yang penting esensinya. Aku mendapat data yang kucari dan klienku nyaman.
Ghulam belum datang, tapi dia baru menelpon katanya sudah dekat dan mimintaku memesan minum terlebih dulu. Baik, telah kupesan kopi pandan brown sugar panas dua gelas dan sepiring samosa. Baru saja aku menyerahkan buku menu pada penjaga cafe, aku lihat Ghulam datang dari arah pintu.
"Maaf, Biv. Kavya meminta ikut, jadi aku sempat merayunya terlebih dahulu." Kata Ghulam begitu duduk di hadapanku. Kali ini penampilan Ghulam alim sekali, apakah mungkin karena hari sudah sore. Dia memakai baju Koko dengan lengan tiga perempat dan celana kain. Untung dia tidak memakai peci, bisa disangka pengajian nanti.
"Tidak apa-apa, aku belum lama kok." Jawabku singkat.
"Aku minta maaf padamu jika kemarin aku merasa kamu terlalu menyeleweng dalam bertanya. Ya, aku baru tahu semua data yang kamu peroleh dariku bisa menjadi sumber tindak lanjutmu kemudian dalam membantu kami."
"Kamu tahu itu dari mana?" Tanyaku.
"Ala yang bilang. Dia memarahiku karena meremehkan mu, dan menurutku dia benar. Kamu lebih tahu bagaimana caranya."
"Berarti kamu mengizinkanku bertemu ayahmu?" Tanyaku. Ghulam menoleh dan menatapku tajam ketika mendengar itu. Pertanyaan yang sungguh kusesali kemudian karena terlalu dini kutanyakan. Ghulam tetap tidak menjawab dan terus menatapku dan ini membuatku takut. "Baik, tidak masalah jika kamu belum siap." Tambahku untuk menenangkan nya.
"Bukan belum siap, Biv. Tapi aku tidak mau."
"Oke, tidak apa-apa. Tapi izinkan aku menanyakan hal lain." Kataku mengalihkan pembicaraan.
Ghulam mengangguk. "Silakan." Katanya.
Pesanan kami datang, aroma kopi pandan dan gula aren segera menyeruak di atas meja kami.
"Maaf aku memesankan untukmu kopi ini."
"Aku suka kopi apa saja."
Kami menyeruput kopi milik kami sebelum lanjut bicara.
"Jelaskan padaku, hal apa yang paling kamu takutkan." Tanyaku, kuletakkan kembali cangkir kopi ke atas meja.
"Kehilangan Kavya."
"Bukan kehilangan Alana?"
"Kehilangan Alana juga."
"Jadi kehilangan Alana ketakutanmu nomer dua?
"Tidak seperti itu, mereka bukan kah satu paket."
"Oke, baiklah. Dan apa hal yang paling membuatmu bersemangat saat ini."
Ghulam diam sejenak, lalu menggeleng. "Aku tidak tahu, Biv. Dulu, bekerja dan segala hal yang berurusan dengan pekerjaan membuatku bersemangat. Sekarang aku tidak punya."
"Apakah kamu ingin bekerja di tempat itu lagi?" Tanyaku. Ghulam menggeleng.
"Tidak, Biv. Ada Farisha di sana, aku menghormati dia dan menjaga perasaan istriku. Sekalipun aku merasa kami tidak pernah memiliki hubungan spesial, tapi istriku dan Farisha menganggapnya demikian."
"Apakah kau ingin bekerja di bidang yang sama di tempat yang lain?"
"Itu yang masih kucari, di kota ini ada dua lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang yang sama. Tapi sayang, dua lembaga ini sudah menjadi rival. Sehingga tidak mungkin aku melamar di sana, itu memalukan sekali bagiku."
"Maaf, kalau boleh tahu, apa dulu background pendidikanmu?" Tanyaku.
"Aku sarjana kesejahteraan sosial."
"Jadi, kamu berharap bekerja di kota lain?"
"Ya, di LSMku ada cabang di kota lain, lumayan cukup jauh dari sini. Tentu memang tidak sebesar kantor lamaku. Tapi dari sanalah satu2 tempat aku ingin bekerja."
"Ala tahu tentang ini?"
"Dia tahu, dan dia menolak ketika harus membiarkanku setiap hari harus pulang pergi sejauh seratus kilometer. Ini benar-benar dilematis, Biv."
"Ceritakan padaku seperti apa tempatmu bekerja waktu itu."
"Jadi, Biv. Lembagaku itu sudah bertaraf nasional, salah satua cabang yang terbesar dan terbaik ya di kota ini. Sehingga kantorku sering menjadi kantor percontohan lembaga lain. Kami sering diminta kantor pusat untuk membina kantor-kantor cabang di sekitar kami.
Dana yang masuk ke dalam lembaga cukup besar, Biv. Sehingga bisa dibilang lembaga pemerintah pun sering mengajak kami bekerja sama. Sumber dana itu dari luar negeri, ya katakanlah organisasi internasional lah."
Aku melihat sinar mata yang menyala ketika Ghulam menceritakan itu. Terlihat sekali ia sangat mencintai pekerjaannya. Inilah mengapa ia sulit move-on pada pekerjaan lain. Dia sudah menjadi pimpinan di tempat yang ia cintai.
"Apakah kamu bisa mendirikan lembaga seperti itu sendiri?"
"Itu cita-citaku, Biv. Tapi tentu kan ada tahapan menuju kesana. Aku butuh dana besar untuk melakukan itu."
"Aku doakan semoga cita-cita itu tercapai suatu saat nanti."
"Terimakasih, Biv. Aku juga berharap demikian."
"Apakah Ala tahu cita-cita ini?" Tanyaku, Ghulam menggeleng.
"Dia tidak tahu, aku tidak memberi tahu karena aku tidak ingin ada orang yang meremehkan cita-citaku. Ala pasti akan meremehkannya. Karena menurutnya pekerjaan yang paling hebat adalah pengusaha. Seperti dia." Ghulam mengakhiri kalimatnya dengan nada seperti mencibir, aku ingin tertawa melihatnya, tapi kutahan. Kelihatan sekali sepasang sejoli ini sedang berkompetisi. Pantas lah Ghulam selalu menolak mentah-mentah nasehat Ala, karena dia tidak ingin terlihat lemah di mata kompetitornya.
"Oke, apa harapanmu tentang hubungan kalian."
"Aku tidak berharap banyak. Aku ingin pernikahan kami tanpa pertengkaran."
"Jadi, menurutmu pertengkaran itu sangat buruk?"
"Ya, aku selalu menyesal setelah bertengkar. Aku yakin Ala juga. Karena kami sering saling berteriak, seperti tidak ada kasih sayang di hati kami. Dan lagi, aku sedih melihat Kavya ketakutan melihat kami bertengkar."
"Apa arti Kavya dalam hidupmu?"
"Dia, dia segalanya. Dia adalah satu-satunya alasan aku ingin bertahan dengan Alana ketika kami bertengkar hebat. Dia anak yang spesial, dia kurang sempurna di mata orang-orang, tapi dia sangat istimewa di hatiku."
Kulihat raut wajah Ghulam menjadi penuh emosi ketika menceritakan Kavya.
"Dulu beberapa bulan setelah dia lahir, saat kami tahu dia down syndrome. Aku shock berat. Aku menolak kenyataan, aku sempat membenci bayi mungil itu. Aku sempat tidak ingin menatapnya. Setiap kali Ala memintaku menggendong, aku selalu menolak dan mencari Alasan.
Ketika Alana meminta agar kami membawa bayi mungil itu ke dokter spesialis, aku menolak. Saat itu keuangan kami sedang di bawah, Biv. Aku sedang merintis, Ala hanya seroang penjahit waktu itu. Aku sayang dengan uangnya untuk ke dokter spesialis anak kan mahal.
Ala menjual perhiasannya dan pergi ke dokter sendirian dengan naik angkot membawa bayi berusia enam bulan. Ini yang sangat kusesalkan seumur hidupku. Mengapa dulu aku tidak memperjuangkan anakku?
Baru ketika sekitar usia hampir dua tahun, aku mulai mencintai Kavya. Jadi selama itu aku menolaknya, Biv. Dia pun baru mulai mau denganku saat usianya sudah hampir empat tahun. Selama itu, Alana dan Mak Semi yang merawatnya.
Seiring dia tumbuh, cintaku padanya juga ikut tumbuh. Dia membawa kebahagiaan pada kami, membuat kami tertawa, membuat kami semangat bekerja, membuat kami seperti punya tujuan hidup.
Itulah kenapa saat aku dan Ala marahan dan dia membawa Kavya, maka aku akan panik ketakutan."
Ghulam mengakhiri kata-katanya, dia mengambil cangkir kopi lalu menyesapnya perlahan.
"Kalau aku boleh tahu, menurutmu apakah yang menyebabkan semua masalah rumah tanggamu. Apa yang menyebabkan kalian bertengkar? Apa yang membuat kedamaian sekarang sulit datang ke dalam pernikahan kalian?"
"Aku juga sering memikirkan ini, Biv. Ketika aku sedang sendiri dan banyak melamun. Aku sering berpikir dalam-dalam, apa akar masalah dari semua ini? Dan kukira, karena keegoisan kami. Kami sulit mengalah, kami saling menyalahkan, kami sibuk dengan urusan masing-masing.
Maka itulah kami membutuhkan kamu, Biv. Untuk menuntun kami ke jalan yang benar. Sekarang gantian aku yang bertanya, Biv." Ghulam menatapku serius. Aku hanya memberi kode dengan anggukan.
"Langkah apa yang harus kami tempuh selanjutnya?"
"Kau mau tahu?" Tanyaku. Ghulam mengangguk.
"Menyelesaikan segala urusan di masa lalu yang belum selesai." Kataku.
"Maksudmu?" Tanya Ghulam.
"Mengobati luka masa lalu jika ada. Karena luka jiwa tetaplah menjadi luka, dia akan menimbulkan penyakit mental yang lain jika tidak disembuhkan. Mungkin secara langsung kita tidak menyadari, karena hanya jiwa kita yang merasakannya."
"Bagaimana caranya, Biv?" Tanya Ghulam lagi.
"Pertama, ikhlaskan semua kejadian yang menjadi beban masa lalumu. Maafkan semua kesalahan ayahmu." Aku berterus terang. Ghulam menolehku, memberiku tatapan tidak suka. Dia tiba-tiba berdiri.
"Maaf, Biv. Jika itu caranya, aku belum bisa." Tanpa berpamit, Ghulam berjalan pergi meninggalkanku.
Aku melihatnya berjalan menjauh, bahkan aku bisa melihatnya masuk mobil dari jendela kaca yang besar. Ghulam tampak marah. Inilah akar masalah besar itu, hati Ghulam yang masih terluka dengan masa lalu.
Aku melirik jam di layar handphone, pukul lima kurang lima. Sudah sore, saatnya pulang. Segera kuhabiskan sisa kopiku. Dan meminta penjaga cafe untuk membungkus saja samosa yang kupesan karena sama sekali tidak tersentuh, lumayan bisa jadi oleh-oleh untuk ibu.