Kebencian Ghulam kepada ayahnya begitu besar, itulah mengapa pengaruh kebencian itupun menjadi begitu besar pula pada jiwanya. Selama ini, Ghulam tumbuh dengan membawa luka batin yang belum sembuh.
Aku tidak tahu di sebelum pernikahan, karena dataku tentang itu masih sedikit. Namun setelah kehidupan pernikahan, dan dihadapkan permasalah yang cukup kompleks, luka batin itu sangat mempengaruhi segala aspek kehidupannya.
Ia menjadi mudah sekali marah, ia menjadi begitu keras, ia sulit mengontrol emosi, ia bisa menjadi begitu dingin, menjadi egois, bahkan ia menjadi sulit bahagia atas kebahagiaan yang dicapai istrinya sendiri. Ini bukan masalah sepele lagi, luka batin masa lalu Ghulam harus disembuhkan jika ingin kehidupan saat ini kembali berjalan harmonis.
Dan Alana, istrinya. Dia yang banyak mendapat dampak itu. Ia juga menjadi tertular efek buruk emosional suaminya. Ia menjadi mudah marah, sering murung dan sulit menjadi bahagia. Kasihan sekali dia.
Aku melihat-lihat lagi catatanku tentang perjalanan konseling dengan mereka. Rasa-rasanya sudah tarik ulur dengan masalah yang sama. Sebenarnya aku sudah mulai menangkap benang merah atas masalah mereka, tapi benang merah itu licin sehingga sulit kupertahankan.
Tugasku selanjutnya ada dua, memperdalami Pak Sadetil atau ayah dari Ghulam, dan melakukan inner child healing. Aku membutuhkan orang lain untuk yang trauma healing ini. Mungkin aku butuh Pak Ruslam atau psikolog yang lebih senior lainnya.
Hari ini, ada jadwal kosong. Pukul satu sampai tiga sore. Karena pukul tiga aku harus segera cabut dari lembaga untuk rapat evaluasi dengan tim Hizi.
Aku masih menimbang-nimbang, kira-kira bisakah masalah Ghulam ini selesai dengan tanpa melibatkan ayahnya. Tapi aku butuh keterangan pihak kedua. Kita tidak bisa menyimpulkan masalah dua orang hanya atas sudut pandang salah satunya saja, bisa tidak adil. Akhirnya, aku mengirim pesan kepada Ala.
"Apakah kamu bisa ke kantor?"
Secepat kilat Alana menjawab, mungkin dia sedang memegang handphone.
"Bisa, Biv. Pukul berapa?" Balasnya.
"Pukul satu ya, sampai pukul tiga." Jawabku.
"Siapp."
Pagi sampai siang aku ada dinas luar, menjadi narasumber di salah satu forum keluarga asuhan dinas pengendalian penduduk. Seperti biasa, rata2 hadirin terkaget ketika yang datang psikologinya masih sangat muda.
Aku balik ke kantor dengan membawa nasi kotak konsumsi acara tadi dan kuberikan pada Laila karena aku sudah membawa bekal dari ibu. Hari ini ibu memasak sayur nangka bumbu kare, enak sekali masakan ibu yang itu, hingga aku tak mau melewatkannya.
Tepat saat jam istirahat habis, Alana datang. Kukira dia memang sengaja datang tepat waktu agar maksimal bisa berdiskusi denganku.
Kali ini, Ala datang tampak lebih fresh dengan model rambut yang baru. Mungkin dia baru perawatan dari salon. Dia mengenakan rok di bawah lutut, tanktop dan sebuah outer yang oversize.
"Aku tidak terlalu awal, kan?" Tanyanya begitu duduk di depanku.
"Kamu tepat waktu sekali." Jawabku. "Aku suka." Tambahku lagi. Ala tertawa kecil.
"Apakah hari ini kita akan membahas Ghulam?" Tanya Ala, dia menyisir rambutnya dengan jari tangan.
"Ya, tepat sekali. Apakah dia bercerita sesuatu?"
"Dia tidak bercerita banyak. Tapi dia pulang dalam keadaan muka kusut, kupikir pasti terjadi sesuatu ketika sesi konseling."
"Mungkin dia marah padaku." Kataku.
"Ohya? Karena apa? Bisa-bisanya dia marah pada konselornya?"
"Baik, izinkan aku menceritakan semua dari awal." Kataku, Ala merapatkan kursi ya, bersiap mendengarkanku. "Aku menemukan suatu yang tidak beres dari cara Ghulam menjalani kehidupan. Dia seperti sedang terganggu fungsi kehidupannya sehingga banyak hal tidak berjalan dengan baik.
Maksudku, dia tidak seharusnya mudah marah dalam masalah kecil, dia emosional, dia sulit menjadi bahagia, bahkan aku lihat dia begitu iri dengan pencapaianmu, padahal kamu adalah istrinya.
Dan setelah aku gali. Salah satu penyebab besarnya menurut analisisku adalah dia masih menyimpan luka batin masa lalu. Dia masih memiliki luka di masa lalu yang belum sembuh. Ya, luka yang ia dapat dari perlakuan ayahnya.
Sebenarnya tahap ini bisa saja menjadi mudah, meskipun tetap akan membutuhkan waktu lama. Tapi, Ghulam membuatnya menjadi rumit. Dia sama sekali tidak mau berhubungan lagi dengan ayahnya. Padahal itu salah satu kunci kedamaian hatinya.
Tentu aku tidak memintanya menjalin hubungan baik, aku hanya meminta dia memaafkan ayahnya, atau mengikhlaskan segala kejadian di masa lalu. Ini tahap pertama untuk inner child healing. Tapi dari awal, dia sudah menolak tegas. Dia tidak mau, bahkan dia marah.
Aku bingung, Ala. Bagaimana ujung dari permasalahan kita ini. Jadi ibaratnya seperti ini, Ghulam sedang sakit mentalnya, tapi dia menolak untuk sembuh. Dan ini sangat berdampak pada keharmonisan hubungan kalian."
Aku mengakhiri kalimatku, Alana menatapku dalam-dalam. Mungkin dia sedang mencerna kalimatku. Ala lalu menghela nafas dalam.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan, Biv?"
"Bisakah aku menghubungi ayah Ghulam dengan diam-diam?" Tanyaku pelan-pelan, nada suaraku setengah berbisik agar untuk meyakinkan Alana aku sedang serius.
Ala menarik badannya, dan bersandar pada sandaran kursi. "Kalau ketahuan bisa habis kita, Biv?" Katanya kemudian.
"Jangan sampai ketahuan." Kataku, Ala diam saja menatapku seperti tidak yakin aku mengatakan itu. "Apakah ini terlalu beresiko?" Tambahku kemudian. Ala mengangguk.
"Apakah kita tidak bisa menyelesaikannya tanpa melibatkan ayah Ghulam?" Tanya Alana. Kini aku yang menggeleng, "aku tidak tahu." Jawabku.
Kami sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing. Aku tadi berpikir frontal karena ingin cepat mencari solusi. Asal, jangan sampai Ghulam tahu. Atau dia boleh tahu di akhir. Ini salah juga sebenarnya, percuma kalau Ghulam tidak ikhlas, tidak akan memberi banyak dampak baik. Tapi aku juga tidak punya pilihan lain.
Handphone Ala berdering, ia meminta izin untuk keluar sebentar mengangkat telepon.
"Maaf, Biv. Anak butik menelpon adalah hal mendesak dan aku harus kesana. Maafkan aku, kita bisa menyambung pembicaraan ini besok, kan?" Kata Alana sekembalinya dari luar untuk menelpon. Aku hanya mengangguk menatapnya keluar dari ruangan.
Huftt...masalah ini tetap belum menemukan titik temu. Ibaratnya aku sudah menemukan titik temu tapi jalan menuju kesana harus melewati labirin yang berlorong-lorong dan menyesatkan.
Waktu masih menunjukkan pukul dua lebih sepuluh, aku masih memiliki cukup waktu untuk merebah di sofa dan berselancar di dunia Maya.
***
Jarang-jarang aku sampai di kantor Hizi awal waktu seperti ini. Biasanya, aku selalu terburu-buru masuk kantor karena sudah mepet jam rapat. Hari ini aku berjalan santai menuju sekertariat Hizi Untuk Indonesia di lantai lima dengan baik tangga.
Tapi entah beruntung atau sial, di belokan tangga kedua, aku bertemu Kaizan. Dia datang dari arah ruang kerjanya. Tidak bisa kusembunyikan rasa kagetku. Entah kenapa sejak kejadian mie instan cup malam itu dan cerita ibu, aku menjadi salah tingkah lagi ketika bertemu Kaizan. Padahal akhir-akhir ini sebelum kejadian itu, aku sudah bisa bersikap biasa.
"Hai, Biv!" Kaizan menyapaku terlebih dahulu. Dan balasan konyolku adalah hanya dengan mengangguk sopan, seperti ketika kalian bertemu dosen. Sial, jangan-jangan aku terlihat sangat canggung.
Setelah itu, mau tidak mau, aku hanya membuntutinya menuju ruang sekretariat. Tanpa bicara apapun.
Ketika kami masuk bersama-sama, ruangan sekertariat sudah cukup banyak orang, mereka semua menoleh ke arah kami. Seperti bertanya-tanya, kok bisa masuk barengan?
Aku duduk di sebelah Rindani, seperti biasa. Dia langsung berbisik, "kok bisa barengan?" Aku diam saja tidak merespon, hanya menolehnya mengatakan nanti saja aku jelaskan.
Rapat evaluasi sore itu berjalan seperti biasa. Hanya, tumben kali ini Kaizan banyak menolerir kesalahan-kesalahan. Salah satu termasuk kesalahan yang kuperbuat. Hari kedua, aku mendapat tugas menemani salah satu tamu perempuan yang merupakan tokoh masyarakat. Tapi karena aku sedang sibuk membantu di registrasi, aku sampai lupa menjemput tamu itu dari tempat parkir. Ketika Tamu itu datang dan petugas parkir mencariku tidak ketemu, akhirnya tamu itu masuk sendiri tanpa disambut.
Apakah Kaizan lupa tentang hal itu sehingga tidak dia evaluasi. Aku diam saja pura-pura lupa juga. Kan tidak lucu kalau aku harus pengakuan dosa.
Pukul enam tepat, rapat selesai. Aku buru-buru menuju tempat parkir karena ada janji dengan ibu mau pergi menjenguk salah seorang rekan ibu yang baru saja kecelakaan.
Tapi saat aku baru saja hendak melajukan mobil keluar tempat parkir, aku lihat Rindani berjalan sendiri dalam gerimis. Aku jadi tidak tega jika tidak mengantarnya, baiklah tidak apa-apa, ibu pasti maklum aku telat sedikit.
"Ayo, naik!" Kataku setengah berteriak, kubuka jendela mobil dan kulongokkan kepala.
"Nggak usah, Biv. Kemalaman nanti kamu." Kata Rindani masih sambil terus berjalan. Mobil kujalankan mengiringinya.
"Udah, ayo!"
Akhirnya Rindani naik. Aku selalu senang mengantar Rindani. Kami selalu memiliki percakapan seru di dalam mobil. Rumah Rindani juga masih bisa dikatakan searah dengan jalan pulang, meskipun sedikit lebih jauh.
"Ada berita lho tentang kamu dan Kaizan." Kata Rindani tiba-tiba, setelag beberapa saat kami saling diam.
"Berita apa?" Kataku.
"Ada yang lihat kamu makan berduaan dengan Kaizan malam-malam. Emang bener?"
"Hah? Masak sih? Siapa yang bilang?"
"Bener apa enggak?" Desak Rindani
"Iya bener sih."
"Biv."
"Tunggu-tunggu aku jelasin dulu." Aku segera memotong perkataan Rindani khawatir dia salah sangka. "Kamu tau nggak waktu malam terakhir kita bicara banyak tentang Kaizan dengan Siska." Tambahku.
"Tapi kan perasaan waktu itu kamu udah tidur?"
"Emmm…" Aku bingung menjawab, aku lupa waktu itu pura-pura tidur di depan Rindani dan Siska. "Jadi aku bangun lagi."
"Kamu grogi, Biv? Aku nggak sedang menghakimi kamu lho?" Rindani tertawa kecil. Aku juga sengaja ikut tertawa agar terlihat santai. Lalu menggeleng.
"Ya gimana, emang waktu itu aku makan berdua Kaizan." Kataku lebih santai. "Awalnya aku mau ke dapur bikin mie instan, dan dia bilang minta dibikinin juga. Ya masak aku menolak. Tapi kan kita murni hanya makan, Rin. Kalau kamu di posisi aku, pasti juga akan makan bareng."
"Iya, sih. Aku paham. Tapi orang lain yang melihat belum tentu paham. Bisa salah paham."
"Wah, aku jadi nggak enak nih. Apalagi tadi kami masuk barengan."
"Tadi kebetulan?" Tanya Rindani.
"Iya." Kataku sambil mengangguk. "Kalau nggak kebetulan, masak iya aku nungguin Kaizan keluar ruangan. Atau Kaizan jemput aku, kan tidak mungkin juga."
"Iya, sih. Tapi sadar nggak tadi tatapan anak-anak gimana?"
"Ngerasa sih. Tapi ya mau gimana lagi. Yang penting kan memang diantara kami tidak ada apa-apa."
"Yakin tidak ada apa-apa?" Rindani menggodaku. Dia mengeringkan sebelah matanya.
"Woy! Yakinlah."
Kami tertawa bersama. Gerimis di depan kami semakin rapat. Aku bersyukur tadi bisa mengantarkan Rindani, karena biasanya dia juga naik ojek motor.
Sampailah kami di depan gang menuju rumah Rindani, tempat dimana aku baisa menurunkan dia. Rindani pamit dan mengucap terima kasih.
"Biv, makasih ya." Katanya.
"Eh, Rin."
"Iya?"
"Siapa yang bilang berita tadi sama kamu?"
"Siska."
"Hah?"
"Sudah..sudah nggak usah dipikirin."
Rindani berlalu, menutup pintu mobil, mengembangkan payungnya dan berjalan memasuki gang menembus gerimis. Giliran aku sendirian di mobil, melajukan mobil kesayangan dengan pikiran penuh.
Siska tahu darimana? Malam itu waktu aku dan Kaizan makan mie instan berdua, suasana sudah sepi, tidak ada yang melihat. Apakah ada yang mengintip?
Aku terus kepikiran hal itu. Siska adalah saudara Kaizan, bagaimana kalau dia melapor pada keluarga Kaizan. Apakah mereka akan melabrakku? Apakah mereka mengira aku mendekati Kaizan? Ya Allah bagaimana ini?
Aku tidak menyangka mie instan bekal ibu bisa menjadi penyebab banyak hal. Aku sedikit menyesal mengapa aku secara spontan bilang mau bikin mie saat Kaizan tanya malam itu, padahal waktu di kamar aku tidak berniat bikin mie.
Hufttt tenanglah, Biv. Ini sudah menjadi bagian dari perjalanan perasaanmu. Bismillah, nikmati saja. Tapi ingat, jadikan pelajaran, lebih hati-hati lagi membaw hati di depan Kaizan.
Saat asyik sibuk dengan pikiran, handphone ku berdering. Dari ibu.
"Iya, Bu?" Kataku begitu telepon tersambung.
"Sampai mana?"
"Sudah dekat kok, Bu. Tunggu ya."