"Biv, ini warning sih, jangan sampai kamu terjebak perasaan." Zahra diharapanku, berkata dengan raut muka serius. Jika sudah begitu, dia berarti memang sedang tidak main-main. Bubur ayam masih separuh di piring dan segelas teh manis di hadapannya pun masih belum dia sentuh lagi. Setelah aku bercerita tentang peristiwa mie instan di rumah sewaan malam itu, nasehat ibu, kemarin yang aku dan Kaizan tidak sengaja masuk ruang sekretariat bersama sampai desas desus dari Rindani tentang perkataan Siska jika ada yang melihatku makan berduaan Kaizan, sepertinya Zahra sudah tidak berselera makan.
"Menurutku, aku sudah hati-hati, Ra. Aku tidak pernah berharap apa-apa. Kami tidak mengirim pesan apapun kecuali pekerjaan, tidak pernah mengobrol selain masalah pekerjaan. Hanya sekali, waktu di cafe yang bertemu denganmu, itu saja. Ini sebuah kebetulan, Ra. Apa aku salah?" Aku ikut tidak berselera.
"Iya, sih. Dalam beberapa hal memang semua itu terjadi kebetulan. Bukan rencanamu, Biv. Tapi aku ingin tahu, gimana perasaan kamu sebenarnya?"
"Aku tidak tahu, Ra." Kataku sambil menggeleng. "Aku memang masih tetap mengagumi Kaizan seperti awal kita bertemu, tapi jujur, aku sudah tidak berharap karena tahu kenyataan bahwa dia sudah akan menikah dengan orang lain."
Di sini, sebenarnya aku sedikit berbohong. Karena masih ada sedikit celah di hatiku yang berharap bahwa pada akhirnya, akulah yang akan bersama Kaizan. Tapi, mana mungkin aku terlalu jujur pada Zahra, pada ibu pun ini tak mungkin kuceritakan. Aku menyadari, ini memalukan berharap pada tunangan orang lain, meskipun secara diam-diam.
Selanjutnya, kami menghabiskan bubur dengan keheningan. Sepertinya Zahra sedang memarahiku. Dia selalu mendiamkan ku ketika marah, ketika aku melakukan sesuatu yang dia nilai buruk.
"Ra, kamu marah?" Tanyaku begitu selesai menghabiskan bubur ayam. Zahra mengangguk.
"Aku tidak ingin kamu jadi orang ketiga, Biv. Jangan merusak hubungan orang lain." Katanya dengan nada datar.
"Aku hanya makan mie instan, Ra."
"Tapi berduaan tengah malam dengan orang yang kamu suka."
"Dia tidak tahu kalau aku suka."
"Bagaimana kalau dia tahu?"
Aku menghela nafas panjang, lalu memegang lengan Zahra. "Katakan padaku, Ra. Apa yang harus aku lakukan kedepannya. Apakah aku harus resign dari Hizi agar tidak bertemu Kaizan lagi?" Tanyaku serius, kutatap mata Zahra dengan sungguh-sungguh. Zahra menggeleng, "entahlah, Biv. Aku tidak tahu." Jawabnya, lalu berdiri dan pergi meninggalkanku di dapur kantor sendirian. Baru kusadari, segelas penuh teh manis Zahra belum dia sentuh sama sekali.
Sampai siang, menyelesaikan banyak urusan, memberikan psikotest, bertemu klien, membuat laporan hasil psikotest, aku masih terus kepikiran tentang isi percakapanku dengan Zahra pagi tadi. Kalau Zahra sudah marah, berarti ini peringatan. Apalagi ibu, malam itu juga menasehatiku.
Mengapa semua jadi serba salah begini. Apakah begini dampak dari memiliki perasaan? Aku berpikir, mengapa aku tidak jatuh cinta dengan orang lain saja.
Di saat hatiku sedang gamang, pikiranku sedang keruh. Handphone ku berdering. Kaizan, nama itu muncul di layar handphoneku yang menyala. Astaga, kenapa harus dia di saat seperti ini? Akhirnya kumatikan penggilannya. Aku tidak peduli itu penting atau tidak, mendesak atau tidak, hatiku sedang tidak karuan.
Orang-orang terdekatku memberi ultimatum, agar aku menjauhi Kaizan. Aku pikir, selama Kaizan tidak tahu bagaimana perasaanku, itu tidak masalah. Tapi rupanya aku salah.
Beberapa detik kemudian, Kaizan mengirim pesan. "Biv, Pak Wayan mengajak bertemu."
Hanya sebaris kalimat. Tapi membuat segala pertahananku runtuh. Aku harus membalas apa? Jika berhubungan dengan Pak Wayan, ini pasti bukan urusan sepele. Pak Wayan mengajak bertemu masak aku harus menolak? Ya Tuhaaan.
Kututup lagi pesan Kaizan. Aku tahu, dia pasti sebal karena tahu pesan yang penting hanya dibaca, tidak dibalas. Tapi aku butuh waktu untuk membalas. Aku sedang berpikir, apakah aku tetap berangkat setelah dua orang terdekat menegurku.
Setelah hampir setengah jam berpikir, akhirnya kuputuskan. Bismillah, kujawab nanti sore bagaimana setelah aku pulang kantor. Dengan cepat Kaizan menjawab oke. Maafkan aku, Zan. Urusan denganmu sebenarnya urusan pekerjaan, aku saja yang terbawa perasaan.
***
Sampai jam pulang kantor, Zahra tak menegurku. Diabjuga tak mampir ke ruang kerjaku untuk say goodbye seperti biasa, padahal dia pulang lebih dulu sebelum aku. Ya, Zahra sedang memberiku pelajaran. Yang sore ini juga, pelajaran itu telah akan aku langgar.
Aku berangkat ke kantor Hizi dengan tidak bersemangat. Aku sudah izin ibu untuk pulang telat karena menemui Pak Wayan bersama Kaizan, dan ibu mengizinkan. Itu salah satu hal yang membuatku akhirnya tenang.
"Aku menunggu di lobi utama. Kita menghadap Pak Wayan sama-sama." Pesan dari Kaizan. Cukup kubalas dengan emotikon jempol.
Kaizan sedang duduk dan sibuk dengan layar handphonenya ketika aku datang, kondisi kantor masih lumayan ramai. Karyaman Hizi pulang pukul setengah lima, sedang lembagaku jam pulang kantor pukul setengah empat.
"Ayo!" Kataku begitu Kaizan melihat aku datang. Dia langsung berdiri. Dan berjalan menuju lift, aku membuntutinya dari belakang. Lagi-lagi dadaku berdetak tidak karuan. Aku memohon pada diriku berkali-kali agar berlaku tenang, tapi aku gagal.
Suatu bentuk kesialan atau keberuntungan, lift yang kami masuki sedang kosong. Hanya terisi kami berdua, dari lantai dasar menuju lantai sepuluh tempat ruang kerjan Pak Wayan. Sepanjang pergerakan lift naik dari satu lantai ke lantai berikutnya, aku berdoa agar tidak bertemu dengan orang yang kukenal, apalagi Rindani atau Siska.
Aku lega sampai hendak berhenti di lantai sepuluh, tidak ada orang yang masuk. Tapi entah suatu kesialan atau keberuntungan, Rindani dan Siska sekaligus berdiri di depan pintu lift lantai sepuluh. Mereka tepat di depan kami dan melihat jelas kami keluar berdua dari lift.
"Hai, Rin, Sis." Aku menyapa mereka terlebih dulu.
"Ada agenda apa?" Rindani bertanya sambil menunjuk kami bergantian. Siska diam saja melihat kami secara bergantian.
"Kami hendak bertemu Pak Wayan, beliau memanggil kami." Jawabku, Rindani dan Siska lalu segera berjalan masuk lift yang sudah hendak menutup pintunya.
Ya Tuhan, kenapa skenarionya harus bertemu mereka. Hal ini akan memperumit desas desus yang beredar. Aku pasrah saja.
Di ruang kerjanya, rupanya Pak Wayan sudah menunggu kami. Aku sama sekali tidak punya ide mengapa pak direktur ini memanggil kami secara pribadi.
"Selamat datang, Bivi dan Kaizan. Terimakasih sudah memenuhi panggilan bapak." Beliau dengan ramah mempersilakan kami duduk. Ini kali kedua aku berada di ruang kerja orang paling penting di perusahaan ini. "Saya berterimakasih secara pribadi, untuk terselenggaranya Hizi Untuk Indonesia yang sukses di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Aku minta maaf tidak bisa meninjau secara langsung. Tapi aku bisa tahu, acara itu berlangsung sukses, dengan bukti beberapa kolegaku memberikan dukungan dan ucapan selamat, sekarang masyakarat lebih banyak lagi yang mengenal Hizi, dan mendapat kebaikan dari Hizi."
Pak Wayan terus bicara banyak hal, beliau berterimakasih, memuji kinerja kami, bercerita tentang harapan-harapan kepada Hizi untuk Indonesia kedepannya, dan lain-lain. Terakhir, cukup mengagetkanku.
"Sebagai ucapan terimakasih, izinkan aku secara pribadi mengundang kalian berdua untuk makan malam bersama di rumah kami."
Aku terkejut bukan buatan. Makan malam di rumah bapak direktur? Mimpi apa aku semalam mendapat tawaran ini. Aku hanya seorang karyawan freelance yang baru bergabung. Ya Tuhan, rencana apa lagi ini?
"Malam Minggu ini ya?" Tanya beliau lagi, Kaizan sudah mengangguk menyanggupi, tapi aku masih bingung harus merespon bagaimana. "Bagaimana Nak Biv? Bisa?" Pak Wayan bertanya lagi, akhirnya aku mengangguk. Beliau tertawa puas. "Dan ini, sedikit hadiah untuk kalian." Tambah Pak Wayan sambil menyodorkan dua amplop coklat tebal ke hadapan kami.
"Tidak, Pak. Ini terlalu berlebihan." Kataku segera menolak, kusodorkan kembali amplop itu ke tempat semua di dekat beliau. "Apa yang sudah diberikan Hizi sebagai penghargaan terhadap saya pribadi sudah lebih dari cukup." Tambahku. Pak Wayan terkekeh melihatku.
"Ini sudah biasa Nak Bivi, tanyalah Kaizan, karyawan-karyawan yang berprestasi akan mendapat penghargaan dariku, ini sebagai ucapan terimakasih ku, Nak. Biasa saja."
Akhirnya aku diam saja, menurut. Kulihat Kaizan juga diam saja tidak protes, mungkin dia sudah sering menemukan moment seperti ini. Aku yang baru pertama kali, wajar bila kaget.
Selang beberapa menit kemudian, Pak Wayan menyuruh kami keluar karena ada tamu yang hendak menemui beliau. Tentu saja dengan senang hati kami menurut.
"Apakah memang benar seperti ini?" Tanyaku begitu kami sudah berada di luar. Kaizan mengangguk. Dia bersikap biasa sekali. Berarti hal ini memang sudah biasa.
"Itulah mengapa, karyawan Hizi berlomba-lomba berprestasi, karena bonusnya tidak main-main." Jawab Kaizan.
Kami berjalan beriringan menuju lantai bawah. Sesampainya lantai bawah, kami berpisah di lobi. Kaizan tidak keluar, dia menuju sisi lorong yang lain, entah untuk urusan apa. Dan aku, karena sudah tidak ada urusan, maka aku segera keluar menuju tempat parkir.
Sesampainya di rumah, kuserahkan amplop itu kepada ibu. "Apa ini?" Tanya beliau.
"Hadiah dari Pak Wayan, Bu. Katanya atas kinerja kami. Itu bonus, Bu." Jawabku.
"Banyak sekali, Nak."
"Tadi Bivi menolak, Bivi pikir ini berlebihan. Tapi Pak Wayan bilang ini sudah biasa. Kaizan menerima, jadi aku ikut menerimanya."
Ibu mengeluarkan uang dari amplop itu, lalu mengatakan, "ini setara gaji kamu satu bulan, Biv."
"Uang itu buat ibu. Terserah ibu pakai buat apa. Ohya, dan malam Minggu nanti, Pak Wayan mengundang kami makan malam di rumahnya. Dan aku, tidak ada alasan menolaknya, Bu."
"Tidak apa-apa, datanglah. Sambutlah niat baik beliau." Kata ibu, aku mengangguk.