Hari ini adalah hari Sabtu, nanti malam adalah waktu dimana aku diundang untuk makan malam bersama pemilik perusahaan besar Hizi Corp. di rumah mereka bersama Kaizan, partner kerja yang sialnya diam-diam aku sukai, dan dia sudah memiliki tunangan.
Sejak subuh aku sudah takut menghadapi malam nanti. Takut terlihat norak, takut terlihat paling berbeda, takut memalukan, takut salah bicara, dan ketakutan-ketakutan yang lain. Dan satu lagi, aku juga takut bertemu Kaizan.
"Ibu, aku tidak usah berangkat saja." Kataku sambil berjalan mendekati ibu di dapur. Ibu sedang memasak sop ayam untuk makan siang nanti, tadi makan pagi, kami sudah sarapan nasi uduk dari tetangga yang sedang syukuran.
"Memang kenapa?" Ibu menjawab sambil terus mengiris kentang, tanpa menolehku.
"Jujur, Bivi takut, Bu." Jawabku.
"Takut apa?"
"Takut Bivi terlihat memalukan."
"Sejak kapan anak ibu rendah diri?" Ibu akhirnya menolehku.
Aku memang bukan tipikal perempuan yang gampang rendah diri. Sejak kecil aku golongan anak pintar di antara teman sepermainanku. Waktu kuliah juga, aku berprestasi dan aktif di organisasi mahasiswa. Aku tidak pernah merasa minder. Tapi entah kenapa, saat harus datang makan malam bersama Kaizan di rumah seorang petinggi perusahaan, aku merasa takut.
Biasanya, aku juga berhadapan dengan petinggi perusahaan lain. Tapi sebatas di lingkup ruang kerja. Atau bertemu pejabat tinggi, itupun di dalam kantor dalam suasana resmi. Dan sekarang, aku harus makan malam santai, aku takut tidak bisa bicara apapun hingga merasa terkucilkan. Apalagi di sana ada Kaizan.
"Nggak tahu, Bu. Rasanya aku mengkhawatirkan banyak hal."
"Ibu terserah kamu. Kalau kamu tidak nyaman berangkat, ya tidak usah berangkat. Tapi ada konsekuensinya, bisa jadi Pak Wayan tidak akan mengundang kamu kedua kalinya. Dan bisa jadi juga, dia mengundang kamu makan malam untuk menawari sebuah proyek kerjasama yang lain."
"Ah, Ibu. Itusih ibu malah bikin Bivi makin bingung."
Ibu tertawa sambil menuangkan irisan kentang wortel dan buncis ke dalam panci. Aroma kaldu ayam segera menyeruak di seluruh dapur.
Aku berjalan keluar dapur menuju kulkas untuk mencari sesuatu yang dingin. Karena bicara dengan ibu, kali ini tidak membuat kebingunganku hilang. Aku mengambil sekotak dessert box coklat, aku butuh lebih banyak coklat untuk mengundang oksitosin, agar mengurai ketegangan di kepalaku.
"Kalau kamu meminta saran ibu, saran ibu kamu datang. Datang karena kamu diundang dan menghargai orang yang mengundang. Kalau kamu takut, maka ketakutan itu harus kamu kalahkan. Ibu yakin, kamu bisa menaklukkan dan menguasai dirimu sendiri."
Ibu duduk di sebelahku, mungkin beliau sudah selesai urusan per-sop ayam-an, aku masih sibuk dengan dessert box coklat yang lumer favoritku. Aku segera menoleh ketika ibu berkata begitu. Ada suatu kekuatan keyakinan dari kalimat dan raut muka ibu yang membuatku yakin, aku harus berangkat.
Jadilah, mulai sore sehabis kami istirahat siang, aku dan ibu sibuk memilih outfit apa yang aku pakai untuk acara nanti malam.
"Kasual apa formal ya, Bu?" Kataku sambil mengeluarkan beberapa baju. "Apa resmi seperti pakai gaun, tapi aku takut berlebihan sih." Aku mengomel dan bingung sendiri. Ibu ikut memilah-milah deretan baju di lemari bajuku.
"Kayaknya rok di bawah lutut dan blouse ini aja bagus." Kata ibu mengambil sebuah blouse berwarna tosca, "warnanya juga cerah, nggak murung tapi nggak norak juga."
Aku melihat sebentar baju yang dipilih ibu, aku belum klik. "Ditaruh sini aja dulu, Bu. Nanti kita seleksi lagi." Kataku sambil meletakkan baju itu di atas kasur.
"Apa kamu pakai kulot dengan atasan blazer?"
"Terlalu formal nggak sih, Bu?"
"Iya juga ya." Ibu mengembalikan blazer warne cream ke dalam lemari.
"Kayaknya dress ini bagus juga, Biv. Lumayan kelihatan anggun." Ibu memperlihatkan dress lengan panjang dengan panjang sekitar sepuluh centimeter di bawah lutut. Dress itu hadiah dari Zahra, bagus memang, dan mahal. Aku tahu harganya karena Zahra yang meminta memilih sendiri di antar pilihan baju-baju yang mahal semua. Harga satu jutaan bagiku untuk baju adalah mahal, sekalipun aku mampu beli, tapi sayang uangnya.
"Ini pakai belt tambah cantik kayaknya." Ibu masih membolak-balik dress itu.
Dress itu memang cantik, berwarna pink salem favoritku, dengan corak bunga kecil warna senada yang membuatnya terlihat sangat cantik. Dengan kerah yang sedikit lebih tinggi membuat leher nampak lebih jenjang. Dan di bagian lengan sedikit menggembung seperti balon, tapi sedikit saja tidak berlebihan. Sangat cantik dan kalem.
"Iya, Bu. Kayaknya ini yang paling masuk. Ya udah Bivi pakai ini saja." Kataku. Diantara pilihan-pilihan tadi, memang dress ini yang terlihat sopan dan anggun.
Jujur, sebenarnya aku tak perlu pusing jika aku pergi makan malam dengan Pak Wayan saja, masalahnya di sana ada Kaizan juga. Entah kenapa aku jadi takut terlihat jelek.
"Pakai sedikit make up ya nanti."
"Hah, ngapain Bu?" Aku kaget dengan pernyataan ibu. Aku tipikal perempuan yang pergi hanya memakai pelembab bedak dan lipstik. Ke kantor atau kemana pun hanya seperti itu. Kadang kalau ke nikahan baru memakai make-up tipis.
"Ya, biar terlihat seger dan lebih formal."
Setelah mengatakan itu, ibu keluar kamar karena ingat belum menyiram tanaman, sedari pagi beliau sibuk di dapur.
Aku sudah mandi sore dan melamun di depan cermin. Pikiranku dipenuhi banyak hal, aku pun ragu apakah jadi berangkat atau tidak. Aku memikirkan, siapa saja yang akan makan malam nanti. Tidak mungkin cuma kami bertiga. Apakah anak istri Pak Wayan juga bergabung? Jangan-jangan ada keluarga Avyne? Segera kutepis pikiran yang mulai macam-macam.
Selepas sholat magrib, aku segera make up sedikit. Sedikit yang kumaksud adalah dengan tambahan aku memakai BB cream, blush-on, maskara dan pensil alis. Tidak sampai sepuluh menit selesai.
Sekarang giliran bingung memilih sepatu. Apakah hak tinggi, wedges, flat shoes atau sandal perempuan biasa. Akhirnya pilihanku jatuh pada flat shoes. Sebelum keluar aku ingin mentertawai diri sendiri karena mengapa aku seheboh ini, seperti sedang mempersiapkan kencan pertama saja.
"Bu, aku berangkat?" Ibu sedang membaca Al-Qur'an di sofa ruang tamu, langsung tersenyum begitu melihatku.
"Kamu cantik sekali." Kata ibu membuatku tersenyum malu. Ibu sering memujiku, pintar, rajin, penyayang, atau hal lain tapi hampir tidak pernah memuji fisik.
Pukul sembilan belas kurang sepuluh menit aku sudah memasuki perumahan tempat rumah Pak Wayan berada. Aku menepikan mobil sembarangan. Kurang sepuluh menit waktu yang dijanjikan. Apakah aku harus datang terlalu awal, atau nanti saja tepat waktu. Kulihat di google map, jarak rumah Pak Wayan tinggal lima ratus meter lagi.
Akhirnya kuputuskan menunggu di depan rumah beliau saja. Kulihat mobil Kaizan sudah berada di depan halaman rumah Pak Wayan, tentunya dia selalu ontime. Ya sudah aku masuk saja.
Dengan detak jantung yang semakin berantakan, kujalankan mobil memasuki rumah Pak Wayan. Tidak seperti bayanganku, ku kira rumah konglomerat akan besar sekali. Tapi rumah Pak Wayan tidak begitu besar, biasa saja seperti rumah kebanyak di perumahan elit ini. Hanya halamannya yang cukup luas.
Terlihat berjajar beberapa mobil yang sudah terparkir rapi di halaman. Entah itu mobil Pak Wayan sendiri atau mobil tamu aku tidak tahu. Bagitu mobilku berhenti, seorang laki-laki mendekat.
"Selamat datang Nona Bivi. Anda sudah ditunggu." Laki-laki itu berkata begitu ramah dan membukakan pintu mobil. Sungguh saat itu aku sudah merasa seperti tuang Putri, aku hanya bisa mengangguk ramah menanggapinya.
Laki-laki tadi mengantarkan aku masuk rumah, dia berjalan dengan cukup cepat dan cekatan. Kami melewati ruang tamu yang tidak begitu luas tapi sangat terlihat glamour bernuansa emas. Aku sempat melirik sebuah foto keluarga yang berbingkai cukup besar terpajang di dinding. Ada Pak Wayan, seorang perempuan yang mungkin istrinya, dan tiga orang laki-laki, dua orang perempuan, dua orang anak kecil, mungkin cucu beliau.
Begitu sampai di meja makan, terlihat semua sudah duduk manis. Pak Wayan dan istrinya berdiri menyambutku. Bahkan istrinya mengajakku cipika cipiki. "Selamat datang, Nak." Kata beliau, istri Pak Wayan masih sangat cantik dan muda.
"Duduklah Nak Bivi." Kata Pak Wayan mempersilakan ku, aku mengangguk.
Tempat duduk yang tersisa tinggal di sebelah Kaizan, sebenarnya tersisa dua, tapi mana mungkin aku pilih yang paling jauh dari orang-orang. Selain Pak Wayan dan istrinya, juga Kaizan. Ada dua orang laki-laki dan satu perempuan yang bergabung bersama kami.
"Kau mau makan apa, Nak?" Tanya istri Pak Wayan, aku menatap beliau tidak mengerti karena bingung, memang ini di restoran bisa pilih menu sendiri.
Sejenak kemudian, seorang berpakaian koki datang mendekat, ia menyodori sebuah buku menu. Rupanya dia datang dari arah dapur di sebelah tempat kami makan. Dapur yang sangat cantik dan bersih, perabotannya seperti baru semua. Ada dua orang lain yang sedang sibuk mempersiapkan makanan di sana.
"Tenderloin steik." Kataku, menu itu yang pertama kulihat di buku menu, aku tak mau terlalu lama menghabiskan waktu membolak-balik buku menu, sungkan.
"Baik, minumnya." Koki itu membukakan lembar yang berisi daftar minuman.
"Lemon tea." Jawabku cepat.
"Apakah kamu kesulitan menemukan rumah kami?" Tanya Pak Wayan,
"Tidak, Pak. Sangat mudah menemukannya."
"Jadi kamu adalah seorang psikolog?" Tanya istrinya, semua orang di meja diam mendengarkan dua orang tua ini saling bertanya.
"Iya, benar Ibu. Selain sebagai karyawan Hizi, saya juga bekerja di sebuah lembaga psikologi."
"Kamu konsultan pernikahan, benar?" Tambah istri Pak Wayan lagi. Aku terkejut, bagaimana dia tahu? Aku mengangguk.
"Benar." Jawabku.
Beberapa saat kemudian, koki-koki sibuk mengantar makanan dan minuman. Ku kira, makananku bakal yang paling akhir siap, karena aku datang terakhir di meja makan. Tapi ternyata semua datang bersamaan.
Kami makan tanpa mengobrol, semua kusyy dengan makanan di piring masing-masing. Mungkin ini sudah menjadi tradisi di rumah ini. Padahal kalau di rumah, ketika di meja makan bersama ibu, kami tiga puluh persen makan, dan tujuh puluh persen mengobrol.
Ketika piring-piring mulai bersih. Terlihat beberapa orang mulai mengobrol. Kaizan mengobrol dengan laki-laki berkaos hitam. Ohya aku lupa, mereka semua berpakaian santai. Aku bersyukur memakai dress yang sedikit lebih santai juga.
"Bivi, perkenalkan itu Albert anak bungsuku. Dia memegang salah satu cabang Hizi di kota sebelah, dan itu Yulia istrinya, mereka sudah memiliki dua orang putri kembar yang lucu, tapi mereka sudah tidur kau pasti suka melihatnya.
Yang itu Andrew, anak bungsuku. Dia masih kuliah di Singapura, tapi dia sedang libur sekarang." Pak Wayan memperkenalkan anggota keluarganya. Jadi yang kaos hitam lengan panjang tadi adalah Andrew. Dia tampak seumuran denganku. Aku mengangguk kepada mereka semua.
"Sebenarnya ada satu lagi, my middle love, satu-satunya putriku. Dia ikut suaminya, sekarang mereka tinggal di Bali, mengurus bisnis di sana."
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. Mau bertanya balik, aku takut salah bicara. Akhirnya sepanjang percakapan kami, aku hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.
Pukul sembilan aku pamit untuk pulang, Kaizan juga berpamit. Tampak Kaizan sudah sangat akrab dengan keluarga ini, mungkin dia sudah sering diundang kesini.
"Kamu cantik, apakah kamu sudah punya pacar?" Istri Pak Wayan berkata sambil berbisik di dekatku. Pak Wayan, istrinya, dan Andrew mengantar kami ke depan.
Aku berhenti berjalan, beliau juga. Aku lalu menggeleng, "belum, Bu." Jawabku.
"Masak sih?" Istri Pak Wayan berkata sedikit keras, Pak Wayan dan Kaizan yang berjalan di depan sampai menoleh, beliau lalu memberikan isyarat meminta maaf lalu tertawa kecil, kami kembali berjalan menyusul para laki-laki.
Kami berpisah, saling mengucapkan terimakasih. Istri Pak Wayan memelukku hangat, seolah kami sudah lama kenal.
Aku dan Kaizan masuk ke mobil kami masing-masing, ada perasaan lega yang menjalari hatiku begitu aku masuk mobil, mungkin rasa syukur makan malam ini terlalui.
Aku mulai menjalankan mobilku, tapi baru berjalan beberapa meter, dan masih di halaman rumah Pak Wayan, terdengar suatu ledakan keras sekali. Aku terkaget karena mobilku sedikit terguncang, rupanya ban mobilu melitus.
Aku segera keluar mengecek, ban mobil kiri depan tampak benar-benar kempes. Ah sial, batinku. Mengapa harus di sini. Kaizan dan yang lain mendekatiku.
"Ban mobilku meletus." Kataku, aku bingung. Sebenarnya aku bisa mengganti dan mendongkrak ban mobil, tapi tidak dengan memakai dress cantik seperti ini.
"Tenang saja, Nak. Tinggalkan saja mobilmu. Besok akan kuminta orang untuk mengantar ke rumahku setelah mengganti bannya. Malam ini, biar Andrew yang mengantar."
Aku langsung menoleh Andrew, dia mengangguk. "Saya saja Pak, biar Bivi bersama saya." Kaizan menyela.
"Terimakasih, kalian tidak perlu repot-repot, saya bisa pulang naik taksi " Jawabku.
"Jangan, Nak. Ini sudah malam, bahaya." Kata Istri Pak Wayan. "Kau bisa memilih, biar Andrew anakku yang mengantar atau pulang bersama Kaizan."
Aku berpikir sejenak. "Saya tidak mungkin pulang berduaan dengan tunangan orang lain, biar Kak Andrew yang mengantar saya."
Pak dan Bu Wayan tertawa, mereka mengkode Andrew segera mengambil mobil. Kaizan pun pamit untuk pulang terlebih dahulu.
Menggunakan mobil Lexus warna hitam, Andrew mengantarkan aku pulang. Aku mengucapkan terimakasih sekali lagi sebelum naik ke atas mobil mewah itu.